NovelToon NovelToon
Kutukan Santau

Kutukan Santau

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:

---

*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti

pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*

_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Kampung itu menjadi sunyi sebelum azan subuh dan Berita Midah mati menyebar lebih cepat dari suara kentongan.

Orang pertama yang masuk ke rumah bambu itu keluar lagi dengan muka pucat, tangannya menutup mulut, Yang kedua hampir jatuh terduduk di pintu. Badan Midah memang tak seperti orang tidur tapi Kulitnya membiru tua, bibirnya menghitam, dan dari sudut mulut masih meleleh darah hitam yang sudah mengering jadi kerak dan Matanya terbuka setengah, menatap ke atap seperti masih melihat sesuatu yang belum pergi.

Matahari belum tinggi ketika jenazah Midah dimandikan. Empat orang perempuan masuk ke bilik bambu yang ditutup kain putih, Air yang dituang ke badan Midah berubah keruh cepat, seperti disedot sesuatu dari dalam. Mak Ijah yang biasanya lantang membaca selawat tapi hari itu diam dan tangannya gemetar waktu menyabuni leher Midah yang masih membiru.

“Keras,” bisiknya pada Mak Rohaya. “Macam ada batu dalam daging.”

Ketika disiram air terakhir, darah hitam dari mulut Midah meleleh lagi sedikit. Satu tetes jatuh ke lantai tanah, berbunyi _"tes"_. Semua yang ada di bilik itu serentak menahan nafas.

Setelah Jenazah dikafankan lalu dibawa ke surau untuk disembahyangkan dan Kampung hampir kosong, Sawah ditinggal, kedai ditutup dan Orang datang bukan sekadar fardhu kifayah. Mereka datang untuk melihat dengan mata sendiri, dan memastikan wajah siapa yang tidak hadir. Sebelum keranda yang berisi jenazah Midah dijalankan, didepan rumah seorang ustadz menanyakan apakah minah pernah ada sangkut paut berhutang dan jika ada yang pernah tersakiti oreh perkataan Midah, untuk dimaafkan, orang-orang mengatakan tidak berhutang.

Sitoh ada di barisan belakang dan Mukanya pucat, tapi matanya kering. Dia ikut angkat takbir, ikut membaca doa, suaranya tidak goyah.

Suaminya, Samsul tidak terlihat dan jika ada yang bertanya . “Demam,” atau kurang sehat".

Kadir di depan, duduk bersila dengan tujuh anaknya. Anak sulung wati, ayu anak Pak Kadir menatap Sitoh sekali saja....Lama?. Tak ada marah di matanya, yang ada hanya kekosongan semacam sudah tahu.

Selepas doa, jenazah dibawa ke tanah perkuburan di belakang bukit pisang. Jalan sempit, licin sebab embun, Keranda terasa berat luar biasa. Empat orang bergilir memikul, tapi tetap mengcapkan lailahailallah sampai kepemakaman

Di atas kubur, tanah yang digali saat subuh berbau busuk, macam bangkai ayam lama. Pak Imam berhenti sekejap, lalu teruskan juga.

Bau busuk itu naik lagi, lebih pekat. Beberapa orang menutup hidung dan Pak Imam membaca talqin cepat-cepat, suaranya seperti mau segera selesai. Seolah kalau terlalu lama berdiri di situ, tanah akan minta nyawa lagi.

Sitoh tetap di belakang. Jari-jarinya sudah putih menggenggam hujung selendang, Dia tak ikut membaca. Matanya tidak lepas dari batu nisan yang belum sempat dipasang. Hanya tanah merah basah yang menutup wajah Midah.

Ketika orang mulai bersurai, Sitoh baru menghela nafas panjang. Dia melangkah mundur satu langkah, dua langkah, lalu berpaling dan Langkahnya cepat untuk segera pergi dari tempat itu dan Kadir yang melihatnya,,,,,! Tapi dia tidak mengejar. proses pemakaman Midah akhirnya berjalan dengan lancar, walaupun saat proses untuk menuju tempat terakhir Midah ada sedikit hambatan.

Setelah tanah ditimbun rata, angin yang tadi kencang tiba-tiba reda, Sunyi...? orang-orang yang melihat itu merasa merinding dan setelah proses pemakaman Midah selesai, orang-orang pada langsung bubar untuk kembali kerumah masing-masing, karena malam harinya ada tahlilan untuk mendoakan Midah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!