NovelToon NovelToon
Janji Darah Sang Vampir

Janji Darah Sang Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: Kepahiang Martin

Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.

Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.

Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KESETIAAN YANG TAKAN PUDAR

Keesokan paginya, sinar matahari baru saja menyelinap masuk di antara celah dedaunan, menyebarkan cahaya keemasan yang hangat ke seluruh penjuru hutan. Kabut tipis yang menyelimuti tanah perlahan naik dan lenyap diterpa panasnya udara pagi. Suara burung berkicau riang bersahutan, memecah keheningan malam yang baru saja berlalu. Semua anggota kelompok sudah bangun lebih awal, membereskan sisa perkemahan, memadamkan api unggun sampai benar-benar mati, dan bersiap melanjutkan perjalanan menuju Desa Cemara yang jaraknya tinggal sedikit lagi.

Semalam berlalu dengan damai meski ada kejadian kecil yang tak disadari banyak orang. Saat berkemah, hanya Diah yang tahu betapa dingin dan tertutupnya Liam, betapa tak tergoyahkannya hati pemuda itu meski sudah didekati dan diajak bicara. Namun, rasa kagum dan rasa ingin tahu yang tumbuh di hati Diah bukannya berkurang, malah makin bertambah besar. Justru sikap Liam yang misterius, pendiam, dan tak mudah didekati itulah yang membuat Diah makin tertarik, makin penasaran, dan makin ingin mengenal sosok itu lebih dekat lagi.

Saat mereka kembali berjalan beriringan menyusuri jalan setapak yang makin lebar dan jelas jejaknya, suasana di antara mereka mulai terasa berbeda dari biasanya. Dulu, Diah adalah gadis yang paling pendiam, paling malu-malu, dan jarang sekali berbicara atau mendekat pada siapa pun, apalagi pada pemuda. Ia lebih suka berjalan di tengah barisan bersama Sari, Mira, dan Ratih, hanya diam mendengarkan atau menjawab seperlunya saja jika diajak bicara. Namun pagi ini, semuanya berubah total.

Begitu langkah kaki mereka mulai bergerak, Diah perlahan-lahan menggeser posisinya dari tengah, lalu berjalan pelan mundur ke belakang, mendekati tempat Liam selalu berada: barisan paling akhir. Teman-temannya yang melihat itu sempat saling pandang bingung, namun mereka mengira Diah hanya ingin berhati-hati berjalan di belakang karena medan yang mulai naik turun.

Namun, tak lama kemudian, mulut Diah yang biasanya tertutup rapat itu mulai terbuka.

"Liam... sepertinya jalanan di depan mulai menanjak ya? Kaki kananmu tidak apa-apa kan berjalan sejauh ini?" tanya Diah pelan, suaranya sengaja dibuat lembut dan ramah. Ia berjalan berjarak satu langkah di samping kiri Liam, matanya menatap wajah dingin itu dengan pandangan penuh perhatian.

Liam melirik sekilas saja, lalu kembali menatap jalan di depan dengan tatapan datar. "Aku baik-baik saja," jawabnya singkat, datar, dan sopan, tak ada nada tertarik atau enggan.

Biasanya, jika dijawab sesingkat itu oleh orang lain, Diah pasti akan diam kembali dan malu sendiri. Tapi hari ini berbeda. Ia seolah tak peduli dengan jawaban pendek itu, malah tersenyum kecil dan terus berjalan di samping Liam, tak mau kembali ke posisi semula.

"Syukurlah kalau begitu," sahut Diah lagi dengan nada gembira. "Kau tahu Liam... semalam aku memikirkan kejadian siang kemarin terus. Betapa hebatnya dirimu, berani dan pintar sekali mengobati luka. Kalau tidak ada kau, mungkin kami sudah kehilangan Ratih. Kami semua berhutang nyawa padamu. Kau ini diam saja, tapi ternyata kemampuanmu jauh di atas kami semua ya."

Pujian itu diucapkan Diah dengan tulus, matanya berbinar kagum menatap profil wajah Liam. Ia berharap pujian itu bisa membuat pemuda itu sedikit tersenyum atau sekadar mengucapkan terima kasih yang lebih panjang. Tapi harapannya kembali pupus. Liam hanya mengangguk pelan sekali, tak menoleh, dan tak menjawab apa-apa lagi. Ia tetap berjalan tegak, pandangannya tajam mengamati sekeliling hutan, mendeteksi setiap bau dan suara asing yang ada.

Perubahan sikap Diah ini perlahan mulai terlihat jelas oleh teman-temannya yang berjalan di depan. Sari yang berjalan di sebelah Ratih tiba-tiba menyenggol lengan temannya itu pelan, lalu melirik ke belakang dengan mata terbelalak heran.

"Eh Ratih... lihat deh ke belakang. Itu benar Diah kan yang berjalan di samping Liam?" bisik Sari pelan, takut terdengar orang lain.

Ratih menoleh sedikit, lalu matanya pun ikut membelalak tak percaya. "Iya... itu Diah. Aneh sekali ya? Biasanya dia paling diam, paling pemalu, dan paling jarang bicara sama siapa pun. Kenapa tiba-tiba dari tadi pagi dia nempel terus sama Liam? Dan lihat tuh... dia yang terus menerus ngajak bicara, nanya ini itu, padahal Liam cuma jawab seperlunya saja."

Mira yang berjalan agak di depan mendengar bisikan itu, ikut menoleh dan mengamati. Wajahnya pun tampak bingung dan heran. "Benar juga. Diah itu pendiamnya luar biasa, sampai-sampai Guru Besar pun pernah bilang dia jarang buka mulut kalau tidak disuruh. Tapi lihat sekarang... dia yang paling banyak bicara dari kami semua, dan sasarannya cuma Liam terus. Ada apa gerangan ya?"

Di depan sekali, Dika dan Jaka pun akhirnya sadar akan perubahan suasana di belakang. Jaka yang tadinya sering bermasalah dengan Liam dan sekarang makin hormat, menoleh ke belakang sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, tampak sangat heran.

"Aneh benar," gumam Jaka keras sedikit. "Diah itu gadis pendiam, sopan, dan tertutup. Tapi sejak kemarin, entah kenapa dia berubah seratus delapan puluh derajat. Lihat tuh, dari tadi berjalan, istirahat sebentar saja, dia pasti ada di samping Liam. Terus bertanya, terus bercerita, terus memuji. Padahal Liamnya sendiri seperti patung saja, diam, dingin, jawabnya sepotong-sepotong."

Dika tersenyum tipis sambil menggeleng pelan, sepertinya ia mulai mengerti apa yang terjadi. "Kau tidak mengerti ya, Jaka? Diah itu mungkin... mulai tertarik. Liam itu memang punya pesona yang aneh. Diam, dingin, misterius, tapi hebat dan bisa diandalkan. Banyak orang yang penasaran sama dia, apalagi wanita. Diah yang biasanya pendiam dan tertutup, mungkin hatinya mulai terbuka dan kagum melihat kehebatan Liam saat menyelamatkanmu... eh, maksudku menyelamatkan Ratih kemarin. Rasanya wajar saja kalau dia ingin lebih dekat dan berkenalan."

"Tapi kan aneh, Kak Dika," sanggah Sari yang kini berjalan sejajar di samping mereka. "Diah itu bukan cuma sekadar berkenalan lho. Lihat saja nanti kalau kita berhenti istirahat makan. Pasti dia duluan yang menyiapkan makanan buat Liam, duluan yang menawarkan minum, duluan yang bertanya apakah Liam butuh bantuan apa saja. Sikapnya itu... lebih dari sekadar ingin kenalan biasa. Dia cari perhatian banget sama Liam."

Benar saja dugaan mereka. Saat matahari sudah cukup tinggi dan mereka sepakat berhenti sejenak di bawah pohon besar yang rindang untuk beristirahat dan makan bekal, kebiasaan baru Diah makin terlihat nyata dan jelas.

Sari, Mira, dan Ratih sibuk membuka bungkusan makanan masing-masing dan membagikannya kepada Dika serta Jaka. Tapi Diah? Ia sama sekali tidak mendekati mereka. Begitu duduk, ia langsung duduk tepat di seberang tempat Liam duduk, berjarak cukup dekat tapi tetap sopan dan menjaga batas wajar. Ia membuka bungkus makanannya, lalu mengambil sebagian makanan kering yang masih utuh dan bersih, lalu mengulurkannya ke arah Liam dengan senyum paling ramah dan tulus.

"Liam... ini ambillah. Makanan ini masih enak dan kering. Kau pasti lelah berjalan terus menerus dari tadi. Makanlah yang banyak ya, supaya tenaganya kuat terus menjaga kami," ucap Diah lembut, matanya menatap lekat-lekat wajah pemuda itu, berusaha mencari reaksi sedikit saja.

Semua teman-temannya yang lain menahan napas menonton. Mereka makin heran dan tak percaya. Diah yang dulu bahkan malu kalau berpapasan mata dengan pemuda, sekarang berani menawarkan makanan dan bicara selembut itu.

Liam menerima makanan itu dengan sopan, mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih, namun wajahnya tetap datar dan dingin. "Terima kasih," jawabnya singkat, lalu memakannya dengan tenang dan diam, tak ada percakapan lebih lanjut.

Namun Diah tak menyerah. Ia terus saja berbicara, bercerita hal-hal sederhana tentang padepokan, tentang pelajaran bela diri, tentang alam sekitar, berusaha mencari topik apa saja yang mungkin membuat Liam mau berbicara lebih banyak. Kadang teman-temannya ikut menyahut atau bertanya, tapi Diah seolah tak mendengar, perhatian dan matanya tetap terpusat penuh hanya pada Liam seorang.

"Kau ini hebat sekali ya Liam... pandai bela diri, pandai membaca jejak, pandai mengobati pula. Apakah ada hal yang tidak kau bisa? Rasanya kau itu seperti buku tertutup ya, makin dibuka makin banyak isinya," ucap Diah sambil tertawa kecil, tertawa yang terdengar manis dan gembira.

Jaka yang duduk tak jauh dari situ menyenggol lengan Dika pelan sambil berbisik. "Lihat, Kak Dika. Sudah benar dugaanku. Diah itu jelas-jelas suka dan kagum berat sama Liam. Padahal Liamnya sendiri biasa saja, diam saja, tapi Diahnya yang makin bersemangat cari perhatian. Heran aku... biasanya gadis suka pemuda yang ramah dan banyak bicara, kok ini malah yang dingin diam disukai mati-matian."

Dika tersenyum sambil menggeleng. "Itulah pesona, Jaka. Pesona itu tidak selalu datang dari kata-kata manis. Kadang justru keheningan dan kekuatan diam itulah yang lebih menarik hati wanita. Tapi lihat juga Liam... dia itu aneh. Meski Diah baik, perhatian, cantik, dan sopan, Liam tetap sama. Tidak menjauh, tapi juga tidak mendekat. Sangat sopan, sangat hormat, tapi ada tembok tinggi yang tak bisa ditembus siapa pun di hatinya. Seolah hatinya itu sudah milik orang lain yang jauh di sana."

Benar kata Dika. Liam memang selalu bersikap sopan, santun, dan menjaga batas yang halal. Ia tidak kasar, tidak mengusir, dan menjawab seperlunya saja. Namun matanya yang hitam pekat itu, meski menatap Diah saat diajak bicara, tak pernah berbinar atau berubah. Di mata itu, tak ada tempat untuk Diah. Di mata itu, hanya ada bayangan satu wajah saja: wajah Seruni. Wajah yang jauh ribuan kilometer di sana, wajah yang telah ia janjikan seumur hidupnya.

Bagi Liam, perhatian Diah, keramahannya, dan usahanya mencari perhatian itu... ia sadar semuanya. Ia menghargai kebaikan hati Diah, menghargai rasa kagum itu. Namun baginya, itu semua sama saja seperti angin lalu yang lewat. Indah, tapi takkan pernah menetap. Takkan pernah bisa menggantikan rasa yang sudah tertanam dalam darah dan tulangnya.

Diah terus berusaha sepanjang perjalanan itu, berharap suatu saat nanti Liam akan membuka sedikit saja pintu hatinya. Sementara teman-temannya yang lain hanya saling pandang sambil tersenyum heran, makin yakin bahwa ada sesuatu yang sangat istimewa pada sosok Liam, sesuatu yang membuat siapa saja yang mengenalnya pasti akan kagum dan tertarik.

Perjalanan mereka terus berlanjut makin mendekati Desa Cemara, membawa serta rasa penasaran Diah yang makin besar, keheranan teman-teman, dan kesetiaan Liam yang tak tergoyahkan, menjaga kenangan dan janji sucinya pada gadis yang dicintainya. Di bawah langit yang sama, hati Liam tetap satu arah, tetap setia, dan tetap diam-diam mengulang janjinya: Hanya Seruni. Hanya dia selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!