NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 — Tamu yang Tidak Membawa Kabar Baik

Bab 35 — Tamu yang Tidak Membawa Kabar Baik

Pagi itu mansion Moretti tidak setenang biasanya.

Tidak ada yang benar-benar berubah.

Tapi entah kenapa—

udara terasa lebih berat.

Mungkin karena semalam.

Mungkin karena Lorenzo terluka.

Atau mungkin…

karena semua orang mulai merasa ada sesuatu yang bergerak.

Amelia turun lebih pagi.

Dia tidak tidur terlalu nyenyak.

Saat masuk ruang makan—

dia berhenti.

Karena Matteo sudah duduk di sana.

Aneh.

Biasanya dia paling terakhir bangun.

Sekarang dia sudah rapi.

Bahkan sedang membaca berita.

Matteo melihat Amelia.

Lalu mengangkat tangan.

“Pagi.”

Amelia duduk.

Lalu bertanya,

“Kamu bangun cepat?”

Matteo diam sebentar.

Lalu tersenyum.

“Sesekali.”

Amelia tidak terlalu memikirkan.

Namun beberapa detik kemudian—

dia sadar.

Matteo tidak banyak bercanda.

Di ruang kerja.

Marco berdiri.

Lorenzo sedang membaca laporan.

Wajahnya tetap biasa.

Seolah semalam tidak terjadi apa-apa.

Marco melihat perban.

Lalu mengabaikan.

Dia menyerahkan dokumen.

“Kita dapat sesuatu.”

Lorenzo menerima.

Membuka.

Diam.

Beberapa halaman.

Foto.

Catatan.

Dan satu nama.

Tatapan Lorenzo berhenti.

Marco bicara pelan.

“Orang yang memantau mansion…”

Dia berhenti.

“…pernah bekerja untuk keluarga Moretti.”

Sunyi.

Lorenzo menutup map.

Tatapannya berubah.

Marco lanjut.

“Tapi datanya hilang lima tahun lalu.”

Lorenzo diam.

Lalu bertanya—

“Siapa yang akses?”

Marco menjawab cepat.

“Belum ketemu.”

Sunyi.

Lalu Lorenzo berdiri.

“Cari.”

Marco mengangguk.

Namun sebelum keluar—

dia berhenti.

Lalu berkata pelan.

“Dan satu lagi.”

Tatapan Lorenzo naik.

Marco diam beberapa detik.

Lalu berkata—

“Foto Amelia mulai muncul.”

Ruangan langsung sunyi.

Lorenzo tidak bicara.

Marco melanjutkan.

“Belum menyebar.”

Tatapannya turun.

“Tapi ada yang mulai cari identitasnya.”

Sunyi.

Lalu Lorenzo berkata singkat—

“Blok semua.”

Marco mengangguk.

Sementara itu.

Di taman.

Amelia sedang menyiram tanaman bersama Clara.

Hari cukup cerah.

Clara terlihat santai.

Namun Amelia sadar—

beberapa petugas keamanan bertambah.

Dia bertanya,

“Ada tamu?”

Clara berhenti sebentar.

Lalu tersenyum kecil.

“Tidak tahu.”

Tapi Amelia tahu.

Ada yang aneh.

Siang.

Matteo keluar sebentar.

Katanya mau ambil sesuatu.

Dan saat dia kembali—

dia tidak langsung masuk.

Dia berhenti di depan gerbang.

Tatapannya jatuh ke mobil hitam di seberang jalan.

Kaca gelap.

Mesin menyala.

Diam.

Matteo memperhatikan.

Beberapa detik.

Mobil itu pergi.

Matteo berdiri diam.

Lalu mengeluarkan ponsel.

Menelpon seseorang.

Begitu tersambung—

dia berkata singkat.

“Cari plat nomor itu.”

Lalu menutup.

Senyumnya hilang.

Sore.

Suasana kembali biasa.

Amelia sedang membaca di ruang tengah.

Lorenzo belum keluar.

Matteo masuk.

Dia duduk.

Diam.

Amelia menoleh.

“…kenapa?”

Matteo melihatnya.

Lalu tersenyum biasa lagi.

“Tidak.”

Namun beberapa detik kemudian—

dia bertanya.

“Kalau suatu hari kau disuruh pergi…”

Amelia berhenti membaca.

“…kenapa?”

Matteo mengangkat bahu.

“Cuma tanya.”

Amelia diam.

Lalu menjawab—

“Aku pergi.”

Matteo melihatnya.

“Cepat sekali jawab.”

Amelia menunduk.

Lalu berkata pelan—

“Aku memang tidak tinggal di sini selamanya.”

Sunyi.

Matteo diam.

Lalu tertawa kecil.

“Jawaban dewasa.”

Tapi entah kenapa—

dia tidak terlihat senang.

Malam.

Langit mulai gelap.

Semua terlihat normal.

Sampai—

alarm pendek terdengar.

Tidak keras.

Tapi cukup membuat suasana berubah.

Pelayan berhenti.

Petugas keamanan bergerak.

Amelia berdiri.

Jantungnya langsung tidak nyaman.

Lalu Marco masuk cepat.

Wajahnya serius.

Tatapannya langsung ke Lorenzo.

“Tamu.”

Sunyi.

Lorenzo berdiri.

“Ada janji?”

Marco diam.

Lalu menjawab—

“Tidak.”

Beberapa detik kemudian—

salah satu petugas masuk.

Menyerahkan kotak kecil.

Kotak hitam.

Tidak ada nama.

Tidak ada pengirim.

Ruangan diam.

Marco membuka perlahan.

Semua melihat.

Dan saat terbuka—

semua berhenti.

Di dalam—

ada satu foto.

Foto rumah kecil.

Rumah sederhana.

Dan Amelia langsung membeku.

Karena—

itu rumah neneknya.

Tangannya langsung dingin.

Lalu di bawah foto—

ada tulisan.

Kami tahu dia di sini.

Sunyi.

Tidak ada yang bicara.

Amelia berdiri diam.

Tatapannya tidak lepas.

Jantungnya langsung kacau.

Matteo yang berdiri dekat langsung menoleh.

Ekspresinya berubah.

Marco langsung menutup kotak.

Lorenzo tidak bergerak.

Namun suaranya berubah dingin.

“Siapa yang terima?”

Petugas menjawab cepat.

“Tidak lihat wajah.”

Sunyi.

Lalu Lorenzo berkata—

“Keluar.”

Semua langsung bergerak.

Ruangan tinggal beberapa orang.

Amelia masih diam.

Lalu pelan bertanya—

“…mereka siapa?”

Tidak ada yang jawab.

Amelia menoleh ke Lorenzo.

“Rumah itu…”

Suaranya mulai pelan.

“…nenekku sendirian.”

Sunyi.

Dan untuk pertama kalinya—

wajah Lorenzo berubah sedikit.

Amelia berdiri.

Lalu berkata—

“Aku mau pulang.”

Semua langsung diam.

Marco menoleh.

Matteo diam.

Lorenzo melihat Amelia.

Amelia menggenggam tangan.

“Aku tidak bisa tinggal kalau orang lain ikut kena.”

Sunyi.

Lalu Lorenzo berjalan mendekat.

Berhenti.

Dan berkata singkat—

“Tidak.”

Amelia menatap.

Lorenzo lanjut—

“Mereka mau kau keluar.”

Amelia langsung menjawab—

“Tapi nenekku—”

Lorenzo memotong.

“Aku urus.”

Amelia diam.

Lorenzo melihatnya.

Tatapannya tenang.

Tapi dingin.

“Tidak ada yang akan sentuh rumah itu.”

Sunyi.

Amelia diam.

Namun kali ini—

dia tidak merasa tenang.

Karena untuk pertama kalinya—

ancamannya tidak datang ke dirinya.

Tapi ke orang yang dia tinggalkan.

Dan malam itu—

tidak ada yang tidur nyenyak.

Sementara jauh di luar—

seseorang melihat foto mansion.

Lalu tersenyum.

Dan berkata pelan—

“Sekarang… pilih.”

Layar mati.

Malam terus berjalan.

Tapi tidak ada yang kembali ke kamar.

Ruang tengah yang biasanya tenang sekarang terasa terlalu sunyi.

Kotak hitam itu masih ada di meja.

Sudah ditutup.

Tapi keberadaannya cukup membuat semua orang diam.

Amelia berdiri di dekat jendela.

Tangannya dingin.

Pikirannya tidak berhenti kembali ke foto itu.

Rumah kecil.

Teras lama.

Kursi kayu.

Dan neneknya.

Sendirian.

Kalau orang-orang itu benar-benar datang…

Kalau mereka benar-benar tahu…

Amelia menggenggam tangannya lebih erat.

Lalu berkata pelan—

“Aku mau telepon.”

Semua menoleh.

Amelia menatap Lorenzo.

“Aku mau dengar suaranya.”

Sunyi.

Lorenzo diam beberapa detik.

Lalu menoleh ke Marco.

Marco langsung mengerti.

Dia mengeluarkan ponsel.

Menekan beberapa nomor.

Ruangan sunyi.

Panggilan berjalan.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tidak diangkat.

Amelia langsung menegang.

Marco mencoba lagi.

Tetap tidak diangkat.

Amelia mulai tidak tenang.

“Coba lagi.”

Marco melirik Lorenzo.

Lorenzo mengangguk kecil.

Panggilan ketiga.

Masih tidak diangkat.

Ruangan semakin sunyi.

Amelia langsung berdiri.

“Aku pulang.”

Lorenzo langsung menjawab—

“Tidak.”

Amelia menoleh.

Tatapannya mulai berubah.

“Kalau mereka benar-benar ke sana—”

Lorenzo memotong.

“Aku sudah bilang aku urus.”

Amelia langsung menjawab—

“Kalau terlambat?”

Sunyi.

Kalimat itu membuat ruangan diam.

Amelia menggigit bibir.

Lalu berkata lebih pelan—

“Aku tidak punya siapa-siapa lagi.”

Ruangan langsung tenang.

Matteo yang sedari tadi diam akhirnya berdiri.

Dia berjalan pelan.

Lalu berkata santai—

“Aku pergi.”

Semua menoleh.

Marco mengernyit.

Matteo mengangkat bahu.

“Aku cek.”

Lorenzo langsung menjawab—

“Tidak.”

Matteo menoleh.

Tatapannya santai.

“Terlalu ramai kalau kirim orangmu.”

Lorenzo diam.

Matteo lanjut.

“Aku cuma lihat.”

Sunyi.

Lalu dia melihat Amelia.

Dan tersenyum kecil.

“Kalau nenekmu marah karena lama tidak dikunjungi, aku tidak tanggung jawab.”

Amelia diam.

Matteo mengambil kunci mobil.

Namun saat berjalan—

Lorenzo bicara.

“Bawa dua orang.”

Matteo berhenti.

Lalu tersenyum.

“Siap.”

Dia pergi.

Setelah Matteo keluar—

suasana tidak membaik.

Amelia duduk.

Tidak bicara.

Clara datang membawa teh.

Tapi Amelia hanya memegang cangkir tanpa minum.

Marco juga pergi mengatur beberapa hal.

Tinggal Amelia dan Lorenzo.

Sunyi.

Cukup lama.

Lalu Amelia bicara.

“…aku bikin masalah ya.”

Lorenzo yang berdiri dekat jendela diam.

Amelia tersenyum kecil.

Tapi tidak terlihat baik.

“Dari awal aku datang…”

Dia menunduk.

“…orang terus datang.”

Sunyi.

Lalu dia tertawa kecil.

“Kalau aku pergi mungkin—”

Lorenzo langsung memotong.

“Berhenti.”

Amelia diam.

Lorenzo menoleh.

Tatapannya tenang.

Tapi suaranya lebih rendah dari biasanya.

“Jangan mulai menyalahkan diri sendiri.”

Sunyi.

Amelia diam.

Lorenzo melanjutkan.

“Kalau mereka cari alasan…”

Tatapannya kembali ke luar.

“…mereka akan cari alasan apa pun.”

Ruangan diam.

Lalu Lorenzo berkata lagi—

“Ini bukan karena kau.”

Amelia diam cukup lama.

Lalu pelan bertanya—

“…kamu yakin?”

Lorenzo tidak langsung jawab.

Namun akhirnya berkata—

“Kalau mereka berani kirim ini…”

Tatapannya turun ke kotak hitam.

“…berarti mereka memang sudah bergerak dari awal.”

Amelia diam.

Dan untuk pertama kalinya—

dia sadar.

Mungkin dia bukan penyebab.

Mungkin…

dia hanya bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Satu jam kemudian.

Ponsel Lorenzo bergetar.

Amelia langsung menoleh.

Lorenzo angkat.

Tidak bicara.

Hanya dengar.

Beberapa detik.

Lalu menjawab singkat.

“Oke.”

Telepon ditutup.

Amelia langsung berdiri.

Tatapannya penuh pertanyaan.

Lorenzo melihatnya.

Diam sebentar.

Lalu berkata—

“Tidak ada siapa-siapa.”

Amelia membeku.

Lorenzo lanjut.

“Rumah aman.”

Amelia langsung diam.

Matanya sedikit melemah.

Lorenzo berkata lagi—

“Matteo sudah sampai.”

Amelia langsung duduk lagi.

Seolah seluruh tenaganya hilang.

Dan entah kenapa—

matanya mulai panas.

Dia langsung mengalihkan wajah.

Tidak ingin terlihat.

Tapi suara kecil tetap keluar—

“…syukurlah.”

Sunyi.

Lorenzo melihat sebentar.

Lalu mengalihkan pandangan.

Tidak bilang apa-apa.

Di sisi lain.

Matteo berdiri di depan rumah nenek Amelia.

Rumah memang aman.

Lampu masih menyala.

Tapi dia tidak masuk.

Dia berdiri.

Melihat sekitar.

Lalu matanya berhenti.

Di tiang listrik depan rumah—

ada simbol kecil.

Tidak mencolok.

Tapi sengaja dibuat.

Matteo diam.

Tatapannya berubah.

Dia mengambil foto.

Lalu mengirim ke Marco.

Pesan singkat.

Mereka memang sudah datang.

Matteo melihat rumah sekali lagi.

Lalu bergumam pelan—

“…jadi bukan ancaman kosong.”

Dan untuk pertama kalinya sejak datang—

senyum santainya hilang.

Karena permainan yang tadi terasa jauh—

sekarang mulai menyentuh orang yang tidak ikut memilih masuk ke dalamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!