Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Puing - Puing Ambisi
Ledakan dari sirkuit pendingin server menciptakan kepulan asap berbau kimia yang menyengat, memenuhi ruangan bawah tanah Centrum Cybernetyki dengan kabut maut. Arga berguling di lantai, menghindari tikaman kalap Siska yang matanya kini memancarkan kegilaan murni. Di depannya, Siska berdiri dengan rambut acak-adakan, wajah cantiknya yang dulu dipuja kini berubah menjadi topeng penuh kebencian.
"Kau menghancurkannya, Arga! Kau menghancurkan triliunan dolar! Itu milikku!" pekik Siska, suaranya melengking di tengah raungan sirine kebakaran.
Namun, perhatian mereka teralih saat pintu lift berdenting terbuka. Dani melangkah keluar dari dalam asap. Separuh wajah logamnya memantulkan cahaya api dari server yang terbakar, menciptakan bayangan iblis yang mengerikan di dinding beton. Moncong senjatanya tidak lagi mengarah pada Arga, melainkan terkunci tepat pada dahi Siska.
Duar!
Siska terlempar ke belakang, bahunya bersimbah darah. Dani tidak membunuhnya seketika; dia menembak dengan presisi untuk melumpuhkan, seolah-olah kematian terlalu murah bagi wanita itu.
"Dani! Apa yang kau lakukan?!" teriak Arga, mencoba bangkit sambil memegangi rusuknya yang cedera.
"Melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang eksekutor, Arga," suara berat Dani yang terdistorsi modulator menggema. "Siska Winata hanyalah parasit yang merasa dirinya ratu. The Iron Circle tidak membutuhkan parasit. Kami butuh kestabilan, dan kau... kau baru saja memberikan kehancuran yang kami perlukan untuk memulai ulang."
Dani melangkah mendekati konsol utama yang masih berderak mengeluarkan percikan api. Dia tidak memedulikan Siska yang mengerang kesakitan di lantai. Lensa merah di matanya memindai layar yang kini dipenuhi angka nol.
"Kakekmu benar-benar jenius, Arga. Dia tahu bahwa suatu saat sistem ini akan terlalu besar untuk dikendalikan, maka dia menciptakan protokol penghapusan total ini," Dani menoleh ke arah Arga. "Tapi dia lupa satu hal. Data tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berpindah tempat."
Dani mengeluarkan sebuah perangkat pemancar kecil dari balik pelat logam di dadanya. "Seluruh aset yang kau hapus di sini sebenarnya sedang diunggah secara nirkabel ke satelit privat yang hanya bisa diakses oleh satu orang. Dan orang itu bukan kau, bukan Siska, dan bukan lagi Pak Broto."
"Siapa?" desis Arga.
"Elina," jawab Dani singkat.
Arga tersentak. Dia teringat bagaimana Elina bersikeras agar Arga memasukkan kode 00000. Elina tidak ingin menghancurkan aset itu; dia ingin memindahkannya ke dalam kontrol dirinya sendiri.
"Elina bukan lagi wanita yang kau kenal di Jakarta, Arga," Dani melanjutkan, suaranya hampir terdengar seperti rasa kasihan. "Dia adalah wadah yang sempurna. Dia memiliki empati manusia, tapi dengan kapasitas prosesor dewa. Dia memanipulasimu untuk sampai ke sini agar kau melakukan pekerjaan kotornya."
"Kau bohong!" Arga menerjang Dani, namun Dani dengan mudah menghantamkan popor senjatanya ke perut Arga, menjatuhkannya kembali.
"Lihatlah ponselmu, Arga," ucap Dani.
Arga merogoh saku celananya yang robek. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang ia kenal sebagai milik Elina di dalam mobil di luar gedung.
“Maafkan aku, Ga. Jarak di antara kita memang sudah habis, karena sekarang aku berada di tempat yang tidak bisa kau jangkau. Terima kasih telah membukakan pintu terakhir untukku. Sekarang, aku akan membereskan dunia ini dengan caraku sendiri.”
Di luar gedung, terdengar suara ledakan mobil. Arga merangkak menuju jendela kecil di lantai bawah tanah yang menghadap ke area parkir. Mobil sedan hitam yang membawa Elina meledak, namun bukan karena bom yang Arga siapkan. Itu adalah pengalihan. Di radar pemindai bangunan, sebuah sinyal udara menjauh dengan kecepatan tinggi dari atap gedung.
Elina sudah pergi. Dia tidak pernah menunggu Arga di mobil.
"Dia menggunakan protokol kakekmu untuk memerintahkan unit militer menjemputnya," Dani menurunkan senjatanya. "Sekarang, Arga, kau bebas. Tidak ada lagi aset, tidak ada lagi kejaran The Iron Circle padamu. Kau hanyalah pria tanpa apa pun, di sebuah kota asing, dengan mantan istri yang sekarat di sampingmu."
Dani berbalik menuju lift, meninggalkan Arga dalam kehampaan yang lebih menyakitkan daripada luka fisik mana pun.
"Kenapa kau membiarkanku hidup, Dani?" teriak Arga di tengah kepulan asap.
Dani berhenti sejenak sebelum pintu lift tertutup. "Karena melihatmu hidup dengan kenyataan bahwa cintamu adalah pengkhianatan terbesar... adalah hukuman yang lebih pantas daripada peluru."
Ting.
Pintu lift tertutup. Arga terduduk lemas di tengah ruangan server yang kini menjadi kuburan bagi ambisi global. Di sudut ruangan, Siska merangkak mendekatinya, wajahnya pucat karena kehilangan banyak darah.
"Arga... tolong aku..." rintih Siska, tangannya yang gemetar meraih ujung jas Arga.
Arga menatap Siska dengan pandangan kosong. Dia melihat wanita yang dulu menghancurkan hidupnya demi harta, dan kini harta itu telah menghancurkan mereka berdua. Tanpa sepatah kata pun, Arga melepaskan tangan Siska, berdiri, dan berjalan menuju tangga darurat.
Dia keluar dari gedung Centrum Cybernetyki tepat saat matahari pagi menyinari alun-alun kota Krakow. Udara dingin menyapa wajahnya, namun hatinya terasa mati. Di tangannya, dia masih menggenggam anting perak berbentuk bintang milik Elina.
Dia melihat ke arah langit biru, ke arah di mana satelit-satelit kini berada di bawah kendali wanita yang ia cintai—wanita yang kini menjadi penguasa baru di balik bayang-bayang.
Arga berjalan menyusuri jalanan Krakow yang mulai ramai. Dia tidak punya tujuan, tidak punya identitas, dan tidak punya cinta. Namun, saat dia melewati sebuah cermin toko, dia melihat pantulan dirinya sendiri. Pria itu bukan lagi seorang arsitek, bukan lagi seorang pewaris. Dia adalah pria yang telah melewati neraka dan kembali dengan tangan kosong.
Tiba-tiba, seorang pria berpakaian kasual mendekatinya di trotoar, menyodorkan sebuah amplop cokelat kecil tanpa ekspresi.
"Pesan dari Nona," ucap pria itu singkat sebelum menghilang di kerumunan.
Arga membuka amplop itu. Isinya bukan uang. Hanya selembar tiket pesawat ke Jakarta dengan nama samaran, dan sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan Elina yang sangat rapi:
"Babak baru telah dimulai di Jakarta. Aku butuh seorang musuh yang pantas untuk membuat dunia percaya pada rencanaku. Jadilah musuhku, Arga. Sampai kita bertemu di garis akhir."
Arga meremas catatan itu. Matanya yang tadinya kosong kini berkilat oleh tekad baru. Jika Elina ingin menjadi dewa di balik bayang-bayang, maka dia akan menjadi iblis yang akan menyeretnya kembali ke bumi.
"Jarak di antara kita belum berakhir, El," bisik Arga pada angin musim dingin. "Aku akan membawamu pulang, meski aku harus membakar dunia yang kau pimpin."