NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 - Dua Wajah

Pagi di Akademi Arvandor selalu dimulai dengan ritme yang sama, tetapi suasananya tidak pernah benar-benar identik dari hari ke hari. Suara langkah kaki menyusuri koridor batu bercampur dengan percakapan yang saling bersahutan, menciptakan kesan hidup yang terus bergerak tanpa henti. Para murid berjalan dari satu gedung ke gedung lain dengan tujuan masing-masing, sebagian membawa buku catatan yang penuh coretan, sebagian lain menggenggam senjata latihan dengan sikap serius. Sejak pengumuman Kelas Elite, arah langkah mereka menjadi lebih jelas, dan cara mereka memandang sekitar juga berubah menjadi lebih tajam.

Di antara keramaian itu, Alverion Dastan bergerak tanpa menarik perhatian. Ia berjalan dengan langkah yang santai, bahunya rileks, dan ekspresinya tetap tenang seolah tidak ada beban yang perlu dipikirkan. Tidak ada yang memperhatikannya secara khusus, dan bagi kebanyakan orang, ia masih terlihat seperti murid biasa yang kebetulan lolos seleksi. Wajahnya tidak menonjol di antara yang lain, dan itulah yang membuatnya tetap berada di posisi yang ia inginkan.

“Alverion.”

Suara itu datang dari samping, cukup jelas untuk memotong alur pikirannya tanpa terasa mengganggu.

Kaelion Vareth menyamakan langkah dengannya, matanya sekilas mengamati sebelum kembali menatap ke depan. Sikapnya santai, tetapi perhatian yang ia berikan tidak pernah benar-benar hilang.

“Kelas Elite mulai hari ini. Kamu siap?”

Alverion mengangguk kecil tanpa mengubah ekspresi. Ia tidak mempercepat langkah, juga tidak memperlambat, seolah pertanyaan itu tidak membawa tekanan tambahan.

“Seperti biasa saja.”

Kaelion terkekeh pelan, jelas tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban itu. Ia melirik beberapa murid lain yang berjalan lebih cepat di depan mereka, wajah-wajah tegang yang berusaha menyembunyikan kegugupan.

“Kamu ini aneh. Orang lain tegang, kamu malah terlihat seperti tidak peduli.”

Alverion tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap ke depan, melewati halaman luas yang mulai dipenuhi murid-murid yang menuju aula utama. Ia memahami maksud Kaelion, tetapi tidak merasa perlu menjelaskan apa pun.

Ia peduli.

Hanya saja, ia memilih cara yang berbeda untuk menunjukkannya.

Begitu memasuki aula pelatihan khusus Kelas Elite, perbedaan suasana langsung terasa tanpa perlu waktu lama untuk menyesuaikan diri. Ruangan itu jauh lebih luas dibanding area latihan biasa, dengan lantai yang lebih rapi dan alat latihan yang tersusun dengan jarak teratur. Setiap bagian tampak dirancang untuk efisiensi, tanpa elemen yang tidak diperlukan.

Energi di udara terasa lebih padat, bukan karena sesuatu yang terlihat, tetapi karena kehadiran dua puluh murid yang semuanya berada di atas rata-rata. Tekanan itu tidak memaksa, tetapi cukup untuk membuat siapa pun yang masuk menyadari bahwa standar di tempat ini berbeda.

Instruktur utama sudah berdiri di depan sebelum semua murid berkumpul sepenuhnya. Ia tidak bergerak banyak, tetapi kehadirannya cukup untuk membuat suasana tetap terjaga.

“Mulai hari ini, kalian bukan lagi murid biasa,” katanya dengan suara yang tidak keras, tetapi jelas terdengar di seluruh ruangan. “Setiap gerakan kalian akan diawasi, dan setiap kesalahan akan terlihat tanpa perlu dicari.”

Beberapa murid secara refleks menegakkan tubuh mereka. Ada yang mencoba menyembunyikan kegugupan, ada juga yang justru terlihat semakin bersemangat dengan tekanan itu.

Alverion berdiri di barisan tengah, memilih posisi yang tidak terlalu menonjol tetapi juga tidak terpinggirkan. Ia bisa melihat ke depan dengan jelas, sekaligus tidak terlalu mudah diperhatikan oleh instruktur.

“Latihan pertama adalah kontrol energi,” lanjut instruktur itu tanpa jeda panjang.

Beberapa murid langsung menunjukkan reaksi antusias, karena ini adalah salah satu aspek yang paling mudah digunakan untuk menunjukkan kemampuan. Cara seseorang mengendalikan energi sering kali menjadi indikator seberapa jauh ia berkembang.

Alverion melangkah maju ketika gilirannya tiba, mengikuti alur tanpa terburu-buru. Ia mengangkat tangannya, membiarkan energi mengalir dengan ritme yang stabil. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, cukup untuk menunjukkan bahwa ia memiliki kendali yang baik.

Namun ia menahan intensitasnya.

Ia tahu batas yang harus ia tampilkan, dan ia tidak melewatinya.

Hasil yang muncul berada di atas rata-rata, cukup untuk dianggap layak, tetapi tidak cukup untuk menarik perhatian lebih. Instruktur hanya mengangguk tanpa komentar tambahan, sementara beberapa murid lain menunjukkan hasil yang lebih mencolok dengan ekspresi bangga.

Alverion mundur ke posisinya, menjaga ekspresi tetap netral. Ia tidak melihat ke sekeliling, tetapi ia bisa merasakan perbandingan yang terjadi tanpa perlu memperhatikannya secara langsung.

Setelah sesi pagi berakhir, para murid diberi waktu istirahat singkat sebelum latihan berikutnya. Suasana langsung berubah menjadi lebih santai, meskipun percakapan yang muncul tetap berkisar pada latihan yang baru saja dilakukan.

Alverion berjalan ke bagian belakang aula, memilih sudut yang tidak terlalu ramai. Ia duduk dengan punggung bersandar pada dinding, menutup matanya sejenak sambil mengatur napasnya.

Di dalam dirinya, aliran energi bergerak dengan cara yang berbeda dari yang ia tampilkan sebelumnya. Lebih cepat, lebih halus, dan lebih responsif terhadap setiap perubahan kecil dalam tubuhnya. Ia memusatkan perhatian pada detail itu, mengendalikan setiap bagian tanpa membiarkannya meluap.

Langkah kaki terdengar mendekat, cukup ringan tetapi terarah.

Alverion membuka matanya.

Seorang gadis berdiri beberapa langkah darinya, rambut hitam panjangnya jatuh rapi dengan sedikit gelombang di ujung. Tatapannya tajam, tidak agresif, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia memperhatikan lebih dari sekadar hal yang terlihat.

Lysera Virel.

Salah satu murid dengan hasil paling mencolok saat seleksi.

“Kamu selalu memilih tempat sepi,” katanya dengan nada datar.

Alverion berdiri perlahan, tidak menunjukkan sikap defensif. Ia hanya menyesuaikan posisi agar tidak terlihat terlalu santai di hadapan seseorang seperti Lysera.

“Lebih mudah berpikir.”

Lysera menatapnya beberapa detik tanpa berkedip, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan. Ekspresinya tidak berubah, tetapi ada ketelitian dalam cara ia mengamati.

“Kamu aneh.”

Alverion tidak menanggapi dengan emosi. Ia sudah mendengar hal serupa lebih dari sekali, dan tidak ada alasan untuk mempermasalahkannya.

Lysera melanjutkan tanpa memberi jeda panjang.

“Di latihan tadi, kamu menahan diri.”

Kalimat itu langsung mengarah ke inti tanpa berputar. Tidak ada tuduhan, tetapi juga tidak ada keraguan dalam cara ia mengatakannya.

“Menurutmu begitu?”

Alverion menjawab dengan nada yang tetap tenang, tidak menyangkal, tetapi juga tidak mengiyakan.

Lysera mengangkat bahu sedikit, seolah tidak merasa perlu memperdebatkan hal itu.

“Aku hanya mengamati.”

Ia berbalik, berjalan pergi tanpa menunggu respon lebih lanjut. Namun sebelum benar-benar menjauh, langkahnya terhenti sesaat.

“Berhati-hatilah. Orang yang terlalu pandai menyembunyikan sesuatu biasanya menarik perhatian yang salah.”

Alverion tidak menjawab, tetapi kata-kata itu tetap tinggal di pikirannya bahkan setelah Lysera menghilang dari pandangan.

Latihan sore dimulai dengan intensitas yang berbeda dari pagi. Fokusnya tidak lagi pada kemampuan dasar, tetapi pada bagaimana setiap murid bereaksi di bawah tekanan. Instruktur menggunakan berbagai cara untuk memancing respons, mulai dari serangan mendadak hingga situasi yang memaksa keputusan cepat.

Beberapa murid mulai kehilangan kendali, baik karena terlalu terburu-buru maupun karena ragu dalam mengambil langkah. Perbedaan kemampuan terlihat lebih jelas, bukan hanya dari kekuatan, tetapi dari cara mereka mengelola emosi.

Alverion berdiri di tengah lapangan, menghadapi seorang instruktur pembantu yang bertugas mengujinya. Sikap instruktur itu santai, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia tidak akan menahan diri.

“Serang,” perintahnya singkat.

Alverion melangkah maju, menjaga ritme gerakannya tetap stabil. Ia tidak terburu-buru, tetapi juga tidak lambat, memilih jalur yang paling efisien untuk mendekat.

Instruktur itu menangkis serangan pertama dengan mudah, lalu membalas dengan tekanan yang lebih besar. Gerakannya cepat, cukup untuk memaksa reaksi insting.

Alverion mundur setengah langkah, menjaga jarak sambil membaca arah serangan berikutnya.

“Lebih cepat,” kata instruktur itu.

Serangan berikutnya datang dengan intensitas yang meningkat, memaksa tubuh untuk bereaksi lebih cepat. Refleks Alverion merespons, tetapi ia menahan dorongan untuk melampaui batas yang ia tentukan.

Ia memilih cukup.

Menghindar, menangkis, dan membalas dengan perhitungan yang matang tanpa menunjukkan kecepatan penuh yang sebenarnya bisa ia capai.

Pertarungan berlangsung beberapa menit, cukup lama untuk menguji konsistensi tanpa memberi ruang bagi kesalahan besar. Keringat mulai muncul di pelipisnya, tetapi napasnya tetap teratur.

Instruktur itu akhirnya menghentikan serangan, menatap Alverion dengan ekspresi yang sedikit berubah.

“Kamu punya kontrol yang baik,” katanya setelah jeda singkat. “Tapi terasa seperti ada sesuatu yang kamu tahan.”

Alverion menunduk sedikit sebagai bentuk hormat, menjaga sikapnya tetap sesuai peran yang ia tampilkan.

“Saya masih belajar.”

Jawaban itu sederhana, tidak memberi celah untuk pertanyaan lanjutan. Instruktur itu tidak memaksa, tetapi tatapannya menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya menerima jawaban tersebut begitu saja.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang mulai terbentuk. Di luar, Alverion tetap terlihat stabil, tidak menonjol, tetapi juga tidak tertinggal. Ia berada di tengah, cukup untuk dianggap layak, tetapi tidak cukup untuk dianggap sebagai ancaman utama.

Namun di dalam, perkembangannya berjalan dengan arah yang berbeda. Setiap malam, ketika sebagian besar murid sudah kembali ke asrama, ia memilih tetap tinggal di lapangan latihan yang sepi.

Di sana, ia tidak lagi menahan diri.

Gerakannya menjadi lebih cepat, lebih tajam, dan lebih responsif terhadap setiap perubahan kecil di sekitarnya. Energi yang ia tahan sepanjang hari mengalir tanpa hambatan, tetapi tetap dalam kendali yang ketat.

Ia tidak hanya melatih kekuatan, tetapi juga presisi. Menghentikan aliran energi di titik tertentu, mengarahkannya ke bagian tubuh yang membutuhkan, dan menjaga keseimbangan antara kecepatan dan stabilitas.

Hal yang paling sulit bukan pada gerakan fisik, tetapi pada pengendalian emosi. Ia belajar menjaga pikirannya tetap jernih bahkan saat tubuhnya berada di bawah tekanan tinggi, memastikan tidak ada reaksi yang muncul tanpa alasan yang jelas.

Tatapan meremehkan dan bisikan yang masih muncul di siang hari tidak lagi memiliki pengaruh yang sama. Ia tidak mengabaikannya sepenuhnya, tetapi juga tidak membiarkannya menentukan bagaimana ia bertindak.

Suatu malam, setelah sesi latihan yang lebih panjang dari biasanya, Alverion berdiri di tengah lapangan yang gelap. Napasnya terasa lebih berat, tetapi matanya tetap fokus, mengikuti aliran energi yang ia kendalikan dengan lebih halus dari sebelumnya.

Ia mengangkat tangannya perlahan, membiarkan energi bergerak dengan ritme yang lebih teratur. Tidak ada lonjakan, tidak ada ketidakseimbangan, hanya aliran yang stabil dan bisa dikendalikan sepenuhnya.

Perkembangannya nyata.

Cepat.

Namun tetap tersembunyi.

Ia menurunkan tangannya, menarik napas panjang sebelum berbalik untuk pergi. Langkahnya baru beberapa kali ketika ia merasakan sesuatu yang tidak biasa, seperti adanya perhatian yang tidak terlihat tetapi cukup jelas untuk disadari.

Alverion berhenti tanpa menoleh, membiarkan indranya mencoba menangkap arah. Tidak ada suara, tidak ada gerakan yang bisa dijadikan petunjuk, hanya keheningan malam yang terasa lebih dalam dari biasanya.

Setelah beberapa detik, ia melanjutkan langkahnya tanpa menunjukkan perubahan. Ia tidak mencoba mencari sumbernya, karena ia tahu bahwa reaksi berlebihan justru bisa memberikan informasi yang tidak perlu.

Namun di atas salah satu atap bangunan terdekat, sebuah bayangan berdiri dalam diam. Sosok itu bersandar ringan pada pilar batu, matanya mengikuti pergerakan Alverion yang semakin menjauh tanpa kehilangan fokus.

Tatapannya tenang, tetapi penuh perhitungan yang tidak mudah ditebak. Tidak ada ekspresi berlebihan, hanya pengamatan yang dilakukan dengan kesabaran.

“Menarik,” gumamnya pelan.

Suara itu tenggelam dalam malam tanpa saksi, tetapi keputusan telah terbentuk di baliknya. Alverion Dastan tidak lagi sekadar nama di daftar murid, karena keberadaannya mulai masuk dalam perhatian seseorang yang tidak biasa, dan perhatian seperti itu jarang datang tanpa alasan yang jelas.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!