Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.
Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.
Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
POV Ghea
"Nona Ghea, hari ini trombosit sudah mulai normal, jadi bisa pulang siang ini. Silahkan keluarga bisa menghubungi administrasi dulu, kemudian nanti berkasnya bisa diserahkan ke ruang perawat." kata perawat cantik itu saat masuk.
"Baik Sus, kami segera kesana. Terima kasih."
ibuku membalas perawat itu dengan sopan.
Ibu membetulkan letak selimutku dan mencium keningku. "Ibu ke kasir dulu, kamu istirahat dulu ya."
Aku mengangguk dan ibu meninggalkan ruangan.
Sunyi. Hanya aku di ruangan ini. Ayah ada di kantor, setelah bersama ibu disini menungguku selama 6 hari, kemarin melihatku sudah membaik beliau kembali ke kantor. Aku mengerti bahwa ayah harus kembali memegang kendali perusahaannya, karena ada ribuan orang yang bergantung pada tegaknya perusahaan itu. sedangkan ibu, apapun yang terjadi aku adalah nyawanya. Beliau mendelegasikan seluruh pekerjaannya pada sekretarisnya dan mencurahkan seluruh perhatiannya untukku. Aku bersyukur memiliki mereka disini. Mereka ada saat aku terjatuh, tapi mereka juga akan melepasku untukku saat aku ingin terbang menggapai cita-citaku. Dukungan mereka membuatku bisa berada pada posisi ini, aku punya bisnisku sendiri dan secara bersamaan aku melanjutkan studiku.
Dua minggu terakhir, apotek yang kudirikan dilaporkan telah menjual Alprazolam tanpa izin medis. Walaupun pada akhirnya semua tuduhan itu tak terbukti, namun hal itu sudah cukup membuatku menghabiskan banyak waktu dan pikiran untuk membuktikan bahwa apotek dan apotekerku tak bersalah. Selain itu tugas mata kuliahku juga menyita tenagaku. Aku ingin lulus lebih cepat, sehingga aku mengambil 2 mata kuliah tambahan. Pada akhirnya minggu kemarin badanku tumbang dan demam tinggi. Tak dinyana, aku terkena DBD saat aku dibawa ke rumah sakit oleh ibu.
Pikiranku berkelana pada 3 hari yang lalu, disaat aku mendapatkan transfusi darah. Dengan golongan darah yang langka di negara ini, kemungkinan untuk mendapatkan transfusi plasma darah sangat kecil. Ayah dan ibu menghabiskan 2 hari mencari pendonor dan tidak menemukannya. Tiba-tiba rumah sakit memberitahukan bahwa PMI mendapat pendonor namun ingin identitasnya tak diketahui, hanya saja mereka memberitahuku bahwa dia berasal dari Arab Saudi. Keluarga ayah campuran Jawa-Prancis, ayah memiliki golongan darah A rhesus negatif, Ibu yang merupakan campuran Maroko-Jawa memiliki golongan darah B rhesus negatif, mereka tidak mempunyai kolega dari Arab Saudi, lalu darimana datangnya pendonor misterius itu? Bagaimana dia tahu aku sangat membutuhkan darah AB - dengan jarak yang begitu jauh? Hingga kini hal itu masih membuatku bertanya-tanya.
Pintu terbuka dan ibupun masuk menghampiriku.
"Ghea, tagihan rumah sakit sudah dibayarkan sepenuhnya dengan asuransi luar negerimu. Sebentar lagi perawat akan kemari dan mencabut selang infus."
"Asuransi luar negeri? Aku tidak pernah merasa daftar asuransi lain selain BPJS, Bu. Ibu yakin asuransi dari luar negeri?"
"Iya, benar. Dan sudah lunas semua. Sekarang tinggal menunggu pulang." Kata ibu dengan tersenyum.
Ibu membereskan barang-barangku, sedangkan pikiranku melayang ke asuransi luar negeri itu. Lagi, sekali lagi. Luar negeri. Dan aku tak pernah punya akun bank apalagi asuransi yang berlokasi di luar negeri. Lalu darimana semua berasal?
Pikiranku masih berkelana bahkan hingga saat aku sudah ada di kamarku. Hujan deras dan guntur bahkan tak mampu untuk men-distract pikiranku dari pertanyaan-pertanyaan kebetulan macam apa ini. Aku masih ingin tahu siapa dibalik pendonorku dan asuransi itu.
Aku menghembuskan nafas panjang saat tampilan layar di ponselku menunjukkan lokasi asuransi itu yang hanya memiliki kantor cabang di Jakarta saja. Bukan Yogjakarta tentunya, mereka hanya memiliki cabang di ibukota negara. Dan bagaimana mungkin namaku bisa tercantum sabagai salah satu nasabah mereka,?
Dia. Mungkinkah itu Dia? Hanya Ghani yang mungkin memiliki jangkauan luar negeri yang luas. Ayah dan Ibu mungkin ada beberapa saudara di Prancis dan Maroko, tetapi tidak sampai Arab Saudi, dan tidak seluas itu. Sejak aku menginjakkan kakiku di Yogyakarta aku tak pernah bertemu dengannya, tidak pernah ada panggilan atau pesan terkirim dariku maupun darinya. Bagaimana dia tahu aku sakit? Apakah dia ada di sekitar sini?
Aku beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju jendela kemudian membuka tirai dan daun jendela. Bau tanah basah menyeruak masuk melalui jendela, menghangatkan hatiku dibalik dinginnya hujan. Mataku mencari-cari sosok lelaki itu, barangkali aku akan menemukannya dibalik hijaunya dedaunan, diantara rumah-rumah yang menjulang, atau mungkin terselip ke dalam got pinggir jalan. Nihil. Tak ada siapapun disana. Hanya rintik hujan dan air yang mengalir di selokan yang menciptakan suasana syahdu sore hari.
Aku keluar rumah, mataku memindai barangkali melihat sosoknya. Di tengah rintik hujan kakiku berjalan tanpa tujuan, hanya berharap melihat sosoknya walaupun hanya bayangannya. Namun hingga kakiku lemas aku tak bertemu dengannya. Aku putus asa. Hatiku sakit. Kenapa dia bisa melihatku jelas, sedangkan aku bahkan tak tahu siapa dan dimana dia, aku hanya bisa merasakan perlindungannya. Aku merasa dia hantu untukku, atau malaikat? Tidak, hantu, hantu baik. Aku benci dia. Aku benci dia. Dan aku benci dia.
Aku duduk di bangku taman dalam keputusasaan dan kebencian. Rasa tak adil sangat menyelimuti jiwaku. Derasnya hujan yang turun menerpa tubuhku seolah tak mampu meluruhkan segala kegundahan dalam jiwaku. Hatiku perih. Aku sangat mengharapkan dia hadir di depan mataku, walau sekejap saja. Sepertinya aku sangat merindukannya. Sekeras apapun aku mencoba mengusirnya dari dalam hatiku, sekeras itu pula dia tertanam dalam jiwaku. Aku menangis. Satu tahun sudah, tapi kenapa harus sesulit ini untuk melupakannya?
Bajuku basah kuyup dalam derasnya hujan. Aku merasakan kepalaku mulai ringan seperti melayang. Yang aku tahu aku ingin pulang sekarang, pulang ke rumah dalam arti yang sesungguhnya, tapi badanku merasa sangat lemas, aku tak bisa berdiri. Aku ingin memanggil ojek online, tapi segera kuejek diriku sendiri. Tak ada ponsel, tak ada uang disakuku. Aku sendiri disini, bahkan ayah dan ibu tak tahu jika aku sedang keluar. Dalam benak mereka, anak gadisnya tertidur lelap dalam buaian hujan di dalam kamar yang nyaman.
Entah kenapa suasana sore itu dengan tiba-tiba mulai diselimuti kegelapan. Bintang-bintang mulai tampak beterbangan di depan mataku. Telingaku berdenging, nafaskupun mulai memendek. Tiba-tiba hujan tak lagi menerpa kepala dan tubuhku. Aku berusaha melihat dengan jelas apa yang terjadi. Sosok tubuh kekar berdiri di depanku dan menaungiku dengan sebuah payung di genggaman tangannya.
"Ghea!"
Aku mendongak untuk melihat siapa sosok itu. Harapanku, sosok dia yang akan menyelamatkanku lagi di saat titik tak berdayaku. Aku berharap dalam pelukannya sekarang, pelukan hangat yang menyelamatkan jiwaku.
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/