NovelToon NovelToon
JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa

Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.

Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?

"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Langit Qinghe

Suasana di kedai minuman "Lampion Merah" itu kini berubah total. Jika sebelumnya hanya ada aroma teh pahit dan kayu tua, kini hawa dingin yang dibawa oleh kehadiran Hua Ning bertabrakan dengan aura panas dari kontrak naga Song Yuan. Lilin-lilin di dinding mulai bergetar, seolah-olah api itu sendiri takut akan energi yang sedang bergejolak di tengah ruangan.

"Kau bicara seolah kau tahu segalanya tentang pengkhianatan," Hua Ning memulai, suaranya kini lebih rendah, penuh dengan nada yang tertahan namun tajam. Ia menggeser tombak bulan sabitnya, ujung peraknya menggores lantai kayu hingga mengeluarkan suara decitan yang memilukan. "Jika klan Hua benar-benar seburuk yang kau katakan dalam batinmu, kenapa aku masih di sini? Kenapa aku harus mempertaruhkan nyawa di gerbang kota ini untuk orang-orang yang bahkan namaku saja mereka tidak tahu?"

Yuan meletakkan cangkir tehnya perlahan. Gerakannya sangat statis, namun setiap inci geraknya memancarkan kedaulatan seorang predator. "Karena kau masih memakai kacamata kuda, Gadis Tombak," jawab Yuan tanpa emosi. "Kau melihat dunia sebagai hitam dan putih, padahal duniamu—istanamu, klanmu, dan martabatmu—dibangun di atas tumpukan tulang yang dicat putih agar terlihat suci. Kau hanya butuh satu dorongan kecil untuk melihat lubang gelap di bawah kakimu."

Tiba-tiba, telinga Yuan yang tajam menangkap suara yang berbeda dari bisingnya angin malam. Suara kepakan mekanik yang ritmis. Wush... wush... wush...

"Sial, mereka lebih cepat dari dugaanku," desis Yuan. Ia berdiri mendadak, membuat kursi kayu yang didudukinya terlempar ke belakang. Ia mencengkeram Busur Kerangka Naga yang terikat di punggungnya. Busur itu seolah merespons, mengeluarkan pendaran ungu gelap yang membuat bulu kuduk Hua Ning berdiri.

"Unit Elang Pusat?" Hua Ning ikut berdiri, wajahnya menegang di bawah cahaya temaram. "Tapi kota ini masih penuh warga sipil! Anak-anak, orang tua... mereka tidak mungkin menyerang sekarang! Secara logika, kekaisaran tidak akan membantai rakyatnya sendiri hanya untuk menangkap satu orang!"

"Secara logika..." Yuan menatap ke luar jendela, ke arah langit malam yang kini mulai dihiasi kilatan api dari panah-panah pembakar yang ditembakkan dari luar tembok. "Bagi kekaisaran, warga Qinghe hanyalah kayu bakar untuk memancing naga keluar dari sarangnya. Dan akulah naga yang mereka cari. Nyawa warga ini hanyalah angka kecil dalam audit kekuasaan mereka."

BOOOM!

Ledakan besar menghantam gerbang timur kota, getarannya terasa sampai ke dalam kedai, membuat cangkir-cangkir pecah berserakan. Jeritan ketakutan warga mulai memecah kesunyian malam, bersahutan dengan deru api yang mulai melalap bangunan kayu. Di lengan Yuan, tato Ao Kuang bersinar terang, energinya meluap hingga membuat udara di sekitar mereka terasa sesak dan panas.

"Bantai mereka, Yuan-er! Biarkan Cenderawasih sombong itu melihat bagaimana keadilan yang sebenarnya ditegakkan dengan darah! Biarkan dia mencium bau daging terbakar agar dia sadar dunianya sedang runtuh!" bisik Ao Kuang, suaranya dipenuhi kelicikan yang mematikan.

"Jangan berani-berani membunuh prajurit yang sudah menjatuhkan senjata!" teriak Hua Ning sambil melompat ke arah pintu, jubah birunya berkibar liar. "Jika kau membantai mereka yang menyerah, maka kau tidak lebih baik dari monster yang kau benci!"

Yuan tidak berhenti. Ia melompat ke atas meja, lalu menerjang keluar melalui jendela lantai dua. "Prajurit yang menyerah adalah prajurit yang sedang menunggu kesempatan untuk menusukmu dari belakang saat kau lengah. Aku tidak akan memberi mereka kemewahan itu."

Yuan bergerak secepat bayangan di atas atap-atap bangunan Qinghe yang mulai membara. Di bawah sana, pasukan Unit Elang Pusat dengan zirah ringan berwarna tembaga dan pedang lengkung mulai merangsek masuk melalui celah gerbang yang hancur. Mereka tidak membedakan mana pemberontak dan mana warga; pedang mereka menebas siapa saja demi menciptakan jalur bagi pasukan inti.

Dari kejauhan, di atas tembok kota yang tinggi, seorang pria dengan jubah merah tua berdiri tegak. Ia mengamati kekacauan itu dengan tangan bersedekap, tidak terganggu oleh teriakan kematian di sekelilingnya. Di bahu zirahnya, terdapat emblem harimau yang menyeringai—sebuah tanda kedaulatan sebagai Jenderal Penakluk Kelas 3.

"Secara logika..." pria itu bergumam sambil mengelus gagang pedang giok merahnya dengan jempol. "Pertunjukan ini membosankan tanpa sedikit ejekan yang menyakitkan. Ayo kita lihat, apakah Pemanah Naga yang legendaris itu masih sehebat dulu saat kita berlatih di bawah guyuran hujan, atau dia sudah menjadi pengecut yang bersembunyi di balik rok seorang gadis tombak."

Pria itu melompat turun, sebuah terjunan maut dari ketinggian tembok kota. Ia mendarat tepat di tengah jalan utama, menciptakan lubang besar di tanah. Debu mengepul hebat, dan sebuah tawa meremehkan yang sangat akrab di telinga Song Yuan pecah di tengah dentingan senjata.

"Oi, Song Yuan! Kau masih suka merangkak di tanah seperti cacing tanah yang ketakutan? Kupikir kau sudah jadi naga, ternyata kau masihlah bocah yang cengeng!"

Langkah Yuan terhenti seketika di atas atap. Matanya menyipit tajam. Di bawah sana, berdiri sosok yang sangat ia kenal—Ming Luo. Sosok yang memegang rahasia paling memalukan dalam masa lalunya, sosok yang tahu siapa Song Yuan sebelum dunia mengenalnya sebagai Sang Penuai Nyawa.

1
HarusameName
namanya yang bener yang mana, bang?
Devilgirl: Yuan-er panggilan khusus ayah ke anaknya dalam gaya wuxia...kalau secara langsung panggilan sayang julukan
total 3 replies
Devilgirl
Hai,readers mampir sini dong!!
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!