Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Pertemuan Pertama
Lelaki itu menoleh, menatap Razna yang masih memandang lurus ke depan. Ucapan Razna barusan terasa seperti sebuah tamparan yang telak di hatinya. Sungguh ucapan itu memberikan luka yang mendalam saat dia mengingat kejadian itu.
“Apa yang Anda katakan tadi? Apa Anda sedang menghakimiku?" ucapnya dingin, telunjuknya menunjuk ke dadanya sendiri. Bibirnya bergetar. Matanya memerah. Menahan sesuatu yang membuncah dalam hatinya.
Raznalira tersentak, nafas nya tercekat. Dia sama sekali tidak menyangka ucapannya akan didengar lelaki itu.
"Ma...maaf, bu...bukan maksudku begitu. Aku hanya..." ucapnya gugup, kata-katanya tersendat. Kepalanya menggeleng cepat seolah ingin menarik kembali ucapannya.
Razna merasa risih saat ditatap lelaki itu. Dia menunduk, tidak berani membalas tatapannya. Perasaannya berubah menjadi was-was diliputi kekhawatiran saat menyadari pria berwajah datar dan dingin itu masih terus menatapnya.
Beberapa detik Razna terdiam. Dia menelan salivanya dengan susah payah, berusaha mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan kalimatnya yang sempat terhenti. Perlahan, dia berdiri sambil menunduk.
“Ma… maaf kalau ucapanku tadi membuat Anda tersinggung. A… aku permisi,” ujar Razna pelan, merasa tidak enak hati.
Lelaki itu tidak segera menjawab. Tatapannya masih terpaku pada Razna yang hendak beranjak pergi. Namun, sebelum langkah wanita itu benar-benar menjauh, suaranya kembali terdengar lebih rendah dari sebelumnya, tak lagi dipenuhi emosi yang menekan hatinya.
“Tunggu!"
Langkah Razna terhenti. Ia menggigit bibirnya ragu, lalu perlahan menoleh, menarik nafasnya dalam-dalam. Dia berharap lelaki yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.
Lelaki itu mendekat, menunduk sejenak lalu melepaskan kaca mata hitamnya. Jemarinya yang semula mengepal kini perlahan mengendur. Napasnya terdengar berat, seolah setiap kata yang akan keluar darinya membutuhkan keberanian yang besar untuk diungkapkan.
“Aku… tidak bermaksud untuk marah pada Anda,” ucapnya lirih, suaranya nyaris seperti bisikan.
“Hanya saja… ucapanmu barusan memang sangat tepat disandangkan padaku. Sungguh ucapanmu menampar hati kecilku," ujarnya jujur.
Razna tertegun. Matanya melembut, meski keraguan masih tersisa. Dia tidak pernah berpikir kalau lelaki itu akan bereaksi seperti itu.
Lelaki itu mengangkat kepalanya, menatap Razna dengan sorot yang berbeda, tak lagi dingin sepenuhnya, melainkan menyisakan sesuatu yang rapuh.
“Maaf aku tidak terbiasa diingatkan seperti itu. Tapi aku lihat Anda cukup berani mengungkapnya tadi. Padahal kita tidak saling kenal," dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Oh ya...aku Rendra. Anda?"
Razna menatap tangan Rendra yang terulur, hendak berjabat tangan. Namun Razna hanya menangkupkan kedua tangan di depan dadanya sebagai balasan. Lalu tersenyum tipis.
"A...aku Razna," dia berhenti sejenak menghela nafasnya dalam-dalam, lalu melanjutkan, "Aku yang seharusnya minta maaf. Seharusnya aku tidak usah mengatakan apa pun tadi. Ucapanku sebenarnya bukan untuk Anda. Tapi untuk..." jelas Razna menggantungkan kalimatnya. Dia terpekur mengingat perlakuan suami yang sudah berubah belakangan ini.
"Tidak. Kamu jangan mengumbar aib suamimu ke orang lain. Apalagi pada orang yang baru dikenal. Seburuk apapun suamimu, dia adalah pakaianmu yang harus kau jaga," batinnya mengingatkan.
“Maaf… tapi aku benar-benar harus pergi. Senang berkenalan dengan Anda, Pak Rendra. Permisi," pamitnya membalikkan badannya tanpa menoleh lagi.
Untuk kali ini, ia tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Tanpa ragu, dia melangkah menjauh meninggalkan lelaki itu yang tetap berdiri di tempatnya.
Langkah Razna semakin cepat. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai hal. Dia baru menyadari bahwa sejak pulang dari rumah sakit, dirinya belum sempat pulang ke rumah. Ponselnya pun sejak tadi dalam keadaan mati. Perasaan gelisah kembali merayap.
Ia khawatir tidak bisa mengungkapkan kebenaran bahwa anaknya kini sudah tiada. Entah bagaimana respon suaminya mendengar hal itu.
Dia menggenggam tasnya dengan erat, mempercepat langkahnya tanpa menyadari bahwa dari kejauhan, sepasang mata sedang mengikutinya secara diam-diam.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya Razna tiba di rumah kediamannya.
Dari dalam rumah terdengar percakapan antara suami dan ibu mertuanya yang membuat langkah Razna terhenti, dia pun mengurungkan niatnya untuk masuk.
"Kamu jangan gegabah mengambil keputusan, Gil," ujar Ibu mengingatkan setelah mendengar bahwa anaknya ingin menikah lagi.
"Keputusan Ragil sudah bulat Bu. Dulu Ragil berharap setelah menikah dengan Razna, kehidupan perekonomian kita semakin membaik. Ragil bisa hidup enak, bahagia dan sejahtera. Tapi nyatanya? Di luar ekspektasi. Gagal semuanya. Bukannya tambah kaya malah tambah miskin hidupku,"
"Ya itu memang salah kamu. Jangan salahkan Razna dong. Coba kamu pikirkan! Kalau kamu ga malas-malasan setelah PHK waktu itu, hidup kamu akan lebih bahagia dan sejahtera. Ini kerjaan kamu cuma makan, tidur main hp terus. Pusing Ibu juga lihat kamu kayak gini. Apalagi Razna. Untungnya dia begitu kuat menghadapi kamu. Kalau istri kamu bukan Razna bisa jadi dia udah nuntut kamu, karena punya suami pemalas."
"Iiish Ibu, kenapa jadi ngebelain si Razna sih? Dia aja sampai sekarang belum pulang. Masa di rumah sakit lama banget. Ngabisin uang aja, huft!"
"Apa kamu bilang, Razna di rumah sakit? Dia melahirkan?"
Ragil menepak jidatnya. Dia merutuki kebodohannya karena sudah keceplosan kalau istrinya sedang ke rumah sakit karena melahirkan.
"Duh kalau Ibu marah gimana?" gumam Ragil dengan cemas.
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...