NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selarasnya detak jantung

Baskara meraih kedua bahu Lara, memastikan gadis itu merasakan keyakinannya. "Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri di depan saya. Saya tidak melihat asisten yang merepotkan. Saya melihat perempuan yang tangguh, yang punya hati tulus, yang sanggup membuat saya—yang kaku ini—merasakan hal yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya."

​"Saya tidak butuh seseorang yang 'setara' secara status, Lara. Saya butuh kamu. Kamu yang apa adanya," tegas Baskara. "Jadi, tolong... berhenti berpikir kalau kamu adalah beban. Karena bagi saya, menjaga kamu adalah kehormatan tertinggi."

​Lara tertegun. Kata-kata Baskara perlahan meruntuhkan dinding pertahanan yang ia bangun karena rasa minder. Di mata Baskara, ia tidak melihat rasa kasihan, melainkan penghargaan yang begitu tulus.

Lara akhirnya mengangkat wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Baskara yang sedari tadi menunggunya dengan sabar. Ia menarik napas panjang, membiarkan pertahanannya runtuh sepenuhnya. Kejujuran yang selama ini ia pendam dalam diam kini merayap naik ke ujung lidahnya.

​"Kak..." suara Lara bergetar, namun kali ini bukan karena takut. "Aku sadar, selama ini aku selalu berusaha mencari alasan untuk menjauh, karena aku takut kecewa. Tapi, aku nggak bisa bohong lagi."

​Lara meremas jari-jarinya sendiri, mencoba mencari kekuatan. "Setiap kali Kakak menjemputku, setiap kali Kakak berdiri di depanku untuk melindungiku, bahkan saat Kakak cuma diam di depan pintu kamarku semalam... hatiku nggak bisa tenang. Ada rasa aman yang belum pernah aku rasain sebelumnya, dan itu cuma ada kalau aku bareng Kakak."

​Setetes air mata kembali jatuh, namun kali ini dibarengi dengan senyum tipis yang tulus. "Aku juga suka sama Kakak. Semakin lama, perasaan ini makin nggak bisa aku bohongi. Aku selalu nunggu notifikasi dari Kakak, dan aku selalu merasa kangen bahkan saat kita baru aja pisah di gerbang kampus."

​Mendengar pengakuan itu, beban yang selama ini menghimpit dada Baskara seolah terangkat. Senyum kemenangan yang paling tulus muncul di wajahnya. Ia tidak lagi menahan diri; Baskara membawa Lara ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif.

​Lara menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Baskara, menghirup aroma parfum maskulin yang kini menjadi aroma favoritnya. Di pelukan itu, rasa minder dan ketakutannya perlahan memudar, digantikan oleh keyakinan bahwa ia tidak lagi sendirian menghadapi dunia kampus yang keras.

​"Terima kasih sudah jujur, Lara," bisik Baskara tepat di samping telinganya. "Mulai sekarang, jangan pernah merasa kecil lagi. Kamu punya saya, dan saya nggak akan membiarkan siapa pun menyentuh milik saya."

Lara perlahan melepaskan pelukannya, meski jemarinya masih bertaut dengan tangan Baskara. Ia menatap wajah pria di hadapannya dengan tatapan memohon yang sangat tulus. Ada satu kekhawatiran yang masih mengganjal di benaknya: hiruk-pikuk dunia kampus dan pandangan orang-orang terhadap sang idola.

​"Tapi Kak..." Lara menjeda kalimatnya, menggigit bibir bawahnya ragu. "Boleh aku minta satu hal? Aku ingin hubungan ini tetap menjadi rahasia kita berdua dulu. Maksudku, hanya kita, keluarga, dan mungkin sahabat terdekat yang tahu."

​Baskara menaikkan sebelah alisnya, menunggu penjelasan lebih lanjut.

​"Aku belum siap kalau harus jadi pusat perhatian satu kampus, apalagi setelah kejadian dengan Kak Manda tadi," lanjut Lara pelan. "Aku ingin kita menjalani ini dengan tenang tanpa ada campur tangan orang lain atau gosip yang aneh-aneh. Aku ingin mengenal Kakak lebih dalam sebagai 'Baskara tetanggaku', bukan cuma sebagai 'Baskara sang Ketua Panitia'."

​Baskara terdiam sejenak, menatap Lara yang tampak sangat serius dengan permintaannya. Ia tahu, bagi gadis se-polos Lara, menghadapi tekanan publik kampus bisa sangat melelahkan. Ia pun mengangguk perlahan, lalu mengusap rambut Lara dengan penuh kasih sayang.

​"Kalau itu yang membuatmu merasa nyaman dan aman, saya setuju," jawab Baskara mantap. "Saya tidak butuh pengakuan dari seluruh kampus untuk membuktikan bahwa kamu milik saya. Cukup saya, kamu, dan Tuhan yang tahu betapa berartinya kamu bagi saya."

​Baskara memberikan senyum miringnya yang khas. "Tapi ingat satu hal, Lara. Meskipun di depan orang lain kita bersikap biasa saja, di mata saya, kamu tetap prioritas nomor satu. Saya akan tetap menjagamu dari jauh, dengan cara saya sendiri."

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!