NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di balik gedung

Pagi itu, sinar matahari menembus kaca mobil Baskara yang melaju tenang membelah jalanan menuju kampus. Sejak kejadian di teras semalam, suasana di dalam mobil terasa berbeda; ada kenyamanan yang lebih dalam, meski sesekali masih ada kecanggungan manis yang menyelimuti mereka.

​Baskara memutar kemudi dengan lihai, mengarahkan mobilnya menuju area parkir belakang gedung fakultas yang biasanya sepi. Tempat itu menjadi "titik aman" mereka agar tidak terlalu mencolok di mata mahasiswa lain, mengingat status mereka yang baru saja resmi berpacaran.

​"Nanti pulangnya tunggu di sini lagi, ya?" ujar Baskara sambil mematikan mesin mobil. Ia menoleh ke arah Lara, menatap kekasihnya itu dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara protektif dan kagum.

​Lara mengangguk sambil merapikan tasnya. "Iya, Bas. Aku ada kelas tambahan sampai jam dua, setelah itu aku langsung ke sini."

​Saat mereka berdua turun dari mobil, Baskara sempat mengacak pelan rambut Lara sebelum mereka berjalan berdampingan. Lara tertawa kecil, berusaha menepis tangan Baskara dengan wajah merona. Mereka merasa sangat aman di sana, mengira hanya ada pepohonan dan tembok gedung tua yang menyaksikan.

​Namun, di balik pilar besar lantai dua gedung yang menghadap langsung ke parkiran, seseorang berdiri mematung.

​Amanda.

​Gadis itu memegang tali tasnya dengan kencang, matanya mengikuti setiap gerak-gerik Baskara dan Lara. Dari posisinya, ia melihat dengan jelas bagaimana cara Baskara menatap Lara—tatapan yang tidak pernah Baskara berikan kepada siapa pun sebelumnya, termasuk dirinya yang sudah lama mencoba mendekati pria kaku itu.

​"Jadi benar..." gumam Amanda pelan, suaranya tercekat. "Rumor itu bukan sekadar angin lalu."

​Amanda melihat Lara yang tampak begitu bahagia, dan Baskara yang tampak begitu... manusiawi. Selama ini, Baskara dikenal sebagai sosok yang tak tersentuh di kampus, tapi di depan Lara, tembok itu runtuh sepenuhnya.

Suasana kelas yang tadinya riuh karena kabar dosen batal hadir, perlahan berubah menjadi suara obrolan kelompok-kelompok kecil. Lara tidak bergabung dengan kerumunan itu; ia lebih memilih duduk di bangku barisan tengah, menyandarkan dagunya di satu tangan sementara tangan lainnya sibuk memegang ponsel.

​Senyum kecil tidak lepas dari bibirnya setiap kali layar ponselnya menyala, menampilkan notifikasi pesan dari Baskara.

​Di tengah ruang kelas yang berisik, bagi Lara, dunia saat ini hanya berputar di dalam kolom chat-nya bersama pria kaku yang baru saja mencium pucuk kepalanya semalam.

​Baskara: Dosen tidak datang? Baguslah, kamu jadi bisa istirahat. Jangan keluyuran, Ra.

​Lara: Ih, posesifnya mulai keluar ya? Aku cuma di kelas kok, lagi duduk tenang. Kamu sendiri kenapa bisa balas cepat? Lagi tidak ada dosen juga?

​Baskara: Aku sedang di perpustakaan, mencari referensi jurnal. Tapi pikiranku sepertinya tertinggal di parkiran tadi.

​Lara menggigit bibir bawahnya, wajahnya kembali merona. Baskara yang biasanya bicara soal logika dan angka, kini mulai mahir melontarkan kalimat-kalimat yang membuat jantung Lara tidak karuan.

Amanda berdiri dengan tangan bersedekap, menatap Lara dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin namun penuh selidik. Ia melihat ponsel Lara yang masih menyala, meski Lara dengan cepat membalikkan layarnya ke atas meja.

​"Senang ya, Ra? Dosen nggak ada, jadi bisa bebas main HP sambil senyum-senyum sendiri," sindir Amanda, suaranya cukup keras hingga beberapa mahasiswa lain menoleh.

​Lara berusaha tetap tenang. "Hanya urusan pribadi, Manda. Ada apa?"

​Amanda menarik kursi di depan Lara dan duduk berhadapan dengannya. "Urusan pribadi atau urusan 'belakang gedung'?"

​Jantung Lara seakan berhenti berdetak sejenak. Ia mencoba menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar, namun tangannya yang berada di bawah meja mulai meremas ujung roknya.

​"Aku nggak tahu maksud kamu apa," jawab Lara pelan namun tegas.

​Amanda tertawa tipis, tawa yang tidak sampai ke mata. "Oh, ayolah. Aku bukan orang bodoh. Aku lihat kamu turun dari mobil Baskara tadi pagi. Sejak kapan kamu jadi sedekat itu sama dia? Bukannya selama ini kalian selalu berdebat kalau ketemu?"

​Ponsel Lara di atas meja bergetar—pesan baru dari Baskara masuk. Cahaya notifikasi itu berkedip-kedip, seolah-olah sedang memanggil Lara untuk dibaca, tepat di depan mata Amanda yang kini sedang menuntut jawaban.

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!