NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Di adopsi

Waktu berjalan tanpa terasa, membawa perubahan kecil yang perlahan mengisi ruang-ruang kosong di dalam diri Marsha, hari-hari yang dulu terasa asing kini berubah menjadi sesuatu yang ia kenal. Di Maisons des enfants de la cote d'opela, tidak ada suara yang memaksanya diam, tidak ada tatapan yang membuatnya merasa tidak diinginkan. Semuanya berjalan dengan tenang teratur, hangat, dan cukup.

Marsha mulai terbiasa dengan rutinitas sederhana. Ia bangun tanpa rasa takut, makan tanpa harus menunggu diperhatikan, dan menjalani hari tanpa merasa harus menghilang dari pandangan orang lain. Untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha menjadi anak yang “tidak merepotkan”. Ia hanya menjadi dirinya sendiri.

Senyum kecil mulai sering muncul, meski tipis dan nyaris tak terlihat. Ia masih pendiam, masih menjaga jarak, namun tidak lagi sepenuhnya menutup diri. Ada bagian dalam dirinya yang perlahan pulih diam-diam, tanpa banyak suara, hingga suatu siang yang tenang, sepasang suami istri datang ke tempat itu.

Mereka tidak membawa kesan mencolok, tidak pula menunjukkan sikap terburu-buru. Langkah mereka tenang, sorot mata mereka lembut, seolah sudah terbiasa memahami tanpa harus banyak bertanya. Pria itu adalah Erlan Dominic, seorang dokter spesialis bedah yang telah lama menetap di London, sementara wanita di sampingnya, Shafira Hanazawa, memiliki ketenangan khas seorang psikolog anak peka, namun tidak menghakimi.

Awalnya, mereka hanya mengamati, hingga tanpa sengaja, perhatian Shafira tertuju pada seorang anak kecil yang duduk di sudut ruangan. Marsha. Ia tidak berusaha menarik perhatian, tidak pula mendekati siapapun, tangannya memegang sebuah buku catatan kecil yang tampak sering digunakan. Sesekali, ia menulis sesuatu dengan serius, seolah dunia di sekitarnya hanya latar yang tidak terlalu penting. “Aku ingin melihat anak itu,” ucap Shafira pelan.

Erlan mengikuti arah pandangnya, lalu mengangguk tanpa banyak komentar.

Saat pengurus mengizinkan, Shafira mendekat lebih dulu. Ia tidak langsung menyapa, melainkan duduk di dekat Marsha, memberi ruang agar anak itu tidak merasa terdesak, dari jarak dekat, Shafira memperhatikan detail yang sebelumnya samar, mata hazel yang jernih, kulit terang.

Garis wajah yang lebih condong ke barat sekilas, Marsha terlihat seperti anak Eropa, namun sesuatu terasa berbeda, pandangan Shafira lalu jatuh pada buku kecil di tangan Marsha. Tanpa sengaja, beberapa halaman terbuka, memperlihatkan tulisan-tulisan rapi dengan bahasa yang sangat ia kenal.

Bahasa Indonesia Shafira terdiam sejenak, ia sempat mengira Marsha bukan berasal dari latar yang sama dengannya, namun tulisan itu terlalu jelas untuk disalahartikan. Dengan suara lembut, ia akhirnya berbicara. “Kamu suka menulis?” Marsha sedikit terkejut, namun tidak menjauh. Ia menutup bukunya perlahan, lalu mengangguk kecil. “Iya.” suara itu pelan, namun jelas dan aksennya tidak asing.

Shafira tersenyum tipis, matanya menghangat. “Bahasa Indonesia kamu bagus.”

Marsha menatapnya, seolah tidak menyangka akan ada yang memahami. “papah aku orang Indonesia,” jawabnya singkat, tanpa ekspresi berlebihan.

Kalimat itu sederhana, namun cukup untuk menjelaskan banyak hal, Shafira tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk pelan, menghargai batas yang belum ingin dibuka.

Di sampingnya, Erlan memperhatikan tanpa menyela, namun dari sorot matanya, terlihat jelas bahwa ia juga mulai tertarik pada anak kecil itu.

Pertemuan pertama itu berjalan singkat, namun meninggalkan kesan yang tidak mudah diabaikan, mereka kembali keesokan harinya, lalu hari berikutnya dan hari-hari setelahnya.

Tanpa paksaan, tanpa tekanan, mereka hadir dengan cara yang sama tenang, konsisten, dan tidak menuntut apapun. Shafira berbicara seperlunya, kadang hanya menemani Marsha menulis atau membaca. Sementara Erlan lebih banyak diam, namun kehadirannya terasa aman, tidak mengganggu.

Marsha yang awalnya hanya menjawab seperlunya, perlahan mulai terbiasa, Ia mulai berbicara lebih panjang, mulai menatap tanpa segera mengalihkan pandangan. Bahkan sesekali, ia tanpa sadar duduk lebih dekat, hal-hal kecil yang hampir tidak terlihat namun berarti.

Hingga pada suatu sore, ketika cahaya matahari masuk lembut dari jendela, Shafira kembali duduk di hadapan Marsha. “Ada sesuatu yang ingin kami tanyakan,” ucapnya hati-hati.

Marsha menatapnya, diam. “Kalau kamu tidak keberatan… apa kamu mau pulang bersama kami?” tidak ada desakan dalam nada itu.

Marsha terdiam cukup lama, matanya tidak lagi dipenuhi harap seperti dulu, namun juga tidak kosong, ia hanya berpikir, mencoba memahami sesuatu yang belum pernah ia miliki sebelumnya kesempatan untuk memilih. “…kalau aku ikut,” ucapnya pelan, “aku… boleh tetap jadi Marsha?”

Shafira tersenyum, hangat dan tanpa ragu. “Tentu. Kamu tidak perlu berubah untuk diterima.”

Jawaban itu sederhana, namun terasa tulus dan entah mengapa cukup untuk membuat Marsha mengangguk.

Proses adopsi berjalan dengan lancar, seolah semuanya memang sudah menemukan jalannya, tidak ada hambatan berarti, tidak ada penolakan dan pada akhirnya, Marsha meninggalkan tempat itu, bukan sebagai anak yang dibuang melainkan sebagai anak yang dipilih.

Perjalanan itu membawanya ke London, kehidupan baru yang jauh dari masa lalunya.

Di sana, ia tidak perlu menjelaskan siapa dirinya, tidak perlu menyembunyikan apa pun. Ia hanya perlu menjalani hari seperti anak pada umumnya belajar, tumbuh, dan perlahan memahami arti memiliki rumah.

Dan meski jauh di dalam dirinya masih tersisa ruang yang pernah retak kali ini, ia tidak lagi berusaha menutupnya rapat-rapat, karena bersama mereka, Marsha mulai mengerti bahwa tidak semua orang datang untuk meninggalkan, ada yang datang untuk tinggal.

___

Waktu terus berjalan, namun bagi Andreas Halvard, waktu seolah berhenti di hari saat ia kehilangan putri kecilnya, setiap bulan, tanpa pernah absen, ia kembali ke Paris ke kota yang sama, jalanan yang sama dan harapan yang tak pernah benar-benar berubah, Ia menyusuri tempat-tempat yang dulu sempat mereka lewati, berdiri lebih lama di sudut-sudut yang terasa familiar, seolah dengan begitu ia bisa menemukan sesuatu yang tertinggal jejak kecil, atau mungkin keajaiban. Namun setiap kali ia kembali, kota itu tetap sama ramai dan indah.

Dan terlalu luas untuk satu nama kecil yang ia cari tanpa henti, suatu sore, langkah Andreas terhenti di sebuah bangku taman, tangannya mengepal pelan, sementara pandangannya kosong menatap ke depan. “Maafkan Papa… sayang,” lirihnya hampir tak terdengar. “Kamu di mana, Nak…” suaranya serak, tertahan oleh sesuatu yang tak lagi bisa ia sembunyikan.

Ia menghembuskan napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Apa aku harus meminta bantuan Theodore…?”

Nama itu keluar dengan ragu. “…dia punya jaringan luas. Di dunia mereka, mencari seseorang mungkin bukan hal yang mustahil.” Andreas menunduk, jemarinya saling menggenggam erat. “Asal ada uang… mereka pasti bisa membantu.”

Di sampingnya, Xabiru yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajah, tatapannya jauh lebih dewasa dari usianya, namun menyimpan kelelahan yang sama. “Ya, Ayah…” suaranya pelan, namun tegas. “Seharusnya kita memang meminta bantuan mereka.”

Ia menarik nafas sejenak, sebelum melanjutkan, “Orang seperti mereka lebih mengenal wilayah Eropa, jaringan mereka tidak terbatas seperti kita.”

Andreas tidak langsung menjawab ia hanya diam, mendengarkan, namun Xabiru belum selesai. “Ayah…” panggilnya lagi, kali ini lebih lirih. ada jeda panjang sebelum kalimat berikutnya keluar, seolah ia harus mengumpulkan keberanian yang tersisa. “Maaf kalau aku salah,” ucapnya pelan. “Tapi… aku curiga hilangnya Marsha bukan kebetulan, mamah sangat membencinya.”

Andreas menoleh perlahan…

Xabiru menunduk, rahangnya mengeras. “Aku curiga ini ada hubungannya dengan Mama.” kalimat itu jatuh pelan, namun cukup untuk membuat udara di sekitar mereka terasa berat.

Andreas tidak langsung membantah tidak juga mengiyakan, ia hanya terdiam, namun sorot matanya berubah lebih dalam, lebih gelap. Xabiru melanjutkan, suaranya nyaris seperti bisikan, “Sudah satu tahun aku di sini, Ayah. Setiap akhir pekan, aku menyisir hampir seluruh sudut kota ini… bahkan beberapa wilayah lain di Eropa bersama teman-temanku.”

Ia mengangkat wajahnya perlahan, memperlihatkan kelelahan yang selama ini ia sembunyikan.

“Tapi tidak ada hasil.” tidak ada tangisan dan tidak ada emosi yang meledak, hanya kejujuran yang terasa pahit.

Andreas menutup mata sejenak, seolah mencoba menahan sesuatu yang hampir runtuh, satu tahun dan mereka masih berada di titik yang sama, hanya penyesalan dan kemungkinan-kemungkinan yang mulai terasa semakin nyata.

Angin sore berhembus pelan di Paris, membawa dingin yang merayap tanpa terasa dan di tengah kota yang tidak pernah benar-benar berhenti itu seorang ayah masih mencari.

Sementara seorang anak mulai kehilangan keyakinannya, namun satu hal yang belum berubah, mereka masih belum siap untuk berhenti.

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!