Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 Pengantin Pengganti
Ketika Kanaya menuruni anak tangga mencuri perhatian tamu undangan. Banyak yang memberi pujian pada kecantikannya, keanggunan yang akan menjadi istri dari Zidan.
Laina bersama dengan Thoriq tersenyum saling melihat, betapa bangganya mereka sebagai orang tua bisa mengantarkan putri mereka kejenjang pernikahan.
Jika semua orang tersenyum melihat Shafiya, berbeda dengan Arash melihat kearah Shafiya.
Flashback..
"Arash....." seorang wanita memakai dress berwarna pink di bawah lututnya tampak melambaikan tangan berdiri di pinggir jalan.
Arash sedang menelpon mendengar suara tersebut membalikkan tubuh. Arash tersenyum melihat wanita itu.
"Chantika...." ucap Arash melangkahkan kaki ingin menghampiri wanita bernama Chantika tersebut. Sama halnya dengan Chantika sudah berjalan menghampirinya.
Brakkk.
Tubuh Chantika terpental saat mobil melaju tanpa sempat mengerem.
Mata Arash melotot melihat insiden tabrakan terjadi di depan matanya.
Duarrr.....
Benturan keras itu membuat Arash terdiam, hanya tersisa suara benda yang bergeser di aspal.
Keheningan seketika terjadi, tetapi mobil di seberang jalan tetap melintas sehingga Arash tidak dapat melihat apa yang terjadi pada kekasihnya selanjutnya, sampai akhirnya mobil yang menghalangi pandangannya telah pergi dan melihat seorang pria keluar dari dalam mobil yang menabrak kekasihnya itu.
Pria paruh baya itu keluar dari pintu pengemudi terlihat buru-buru, tampak panik dengan kecelakaan yang terjadi, pria itu tak lain adalah Thoriq.
Suasana aspal yang terlihat begitu menegangkan, jalanan yang sunyi membuat kesempatan orang tersebut memasuki mobil kembali dan meninggalkan kecelakaan tersebut.
"Chantika...." teriak Arash melihat bagaimana kekasihnya telungkup di aspal dengan darah keluar begitu kental.
Flashback off
"Arash..." Arash tersentak kaget ketika bahunya di sentuh.
Wajah tampan itu terlihat mengeluarkan keringat dan menoleh ke arah suara wanita yang baru saja menegurnya. Wanita paruh baya sekitar berusia 50 tahunan tersenyum kepadanya.
"Tante Amelia," ucap Arash.
Mata Amelia melihat ke arah depan seolah-olah memberi kode kepada Arash untuk mengikuti arah pandangnya.
"Bagaimana ini?"
"Kenapa Zidan membatalkan pernikahan secara tiba-tiba?" Kanaya terlihat begitu panik di tengah-tengah kerumunan kedua orang tua Shafiya dan Zidan.
Bagaimana tidak, detik-detik ijab kabul akan dilaksanakan calon pengantin pria tak kunjung datang, kedua orang tua Zidan sudah berusaha menjelaskan apa yang terjadi.
Zidan secara sepihak membatalkan pernikahan itu, ketika semua tamu undangan sudah datang.
Shafiya juga ikut panik dengan wajah dipenuhi dengan rasa kekecewaan. Sungguh Shafiya tidak menyangka jika pria yang dia percaya ternyata tidak menghadiri pernikahannya.
"Astagfirullah, kenapa semua ini harus terjadi? Bagaimana dengan tamu undangan yang ada di sini?" Thoriq tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini.
"Mungkin ada yang salah dengan Shafiya sampai-sampai Kak Zidan tidak melanjutkan perjodohan ini," sahut Rania memberi komentar seolah-olah Kakaknya tidak ingin disalahkan.
"Seharusnya jika ada kesalahan. Bisa dibicarakan tanpa harus membatalkan pernikahan secara sepihak disaat keadaannya sudah seperti ini," sahut Laina membela membela putrinya.
"Mungkin Mas Zidan, memang sejak awal sudah tidak memiliki niat untuk menikah denganku," batin Shafiya terlihat begitu sangat pasrah.
Karena tidak ada yang bisa dia katakan lagi, Shafiya melihat di sekelilingnya, perundingan mereka juga menjauh dari tamu undangan yang sedang menunggu acara tersebut berlanjut.
"Bagaimana nasib putri saya selanjutnya, pernikahan yang batal seperti ini akan membuat masalah kedepannya, semua tamu sudah hadir di acara ini dan sekarang saya harus mengumumkan kepada mereka bahwa putri saya tidak jadi menikah karena calon suaminya meninggalkan pernikahannya? Sungguh ini tidak mungkin dilakukan dan apakah tidak ada solusi untuk menyelamatkan nama baik dua keluarga ini?" tanya Thoriq benar-benar tidak bisa berpikir jernih.
"Mas Thoriq, kami sedang berusaha untuk menghubungi Zidan dan hasilnya tetap sama Zidan memilih pergi ke Luar Negeri dan tidak akan melanjutkan pernikahan ini, saya juga malu dengan apa yang terjadi dan rasa malu ini bukan hanya ditanggung oleh satu pihak saja," sahut Wira.
Semua orang yang ikut berunding semakin panik, melihat Shafiya juga tampak kasihan, bukan hanya harga dirinya saja yang dihancurkan karena ditinggal oleh pria yang seharusnya menjadi suaminya, tetapi harga diri keluarganya dan rasa malu juga ditanggung oleh dua keluarga itu akibat perbuatan Zidan yang tidak menghadiri pernikahannya.
"Pernikahan ini akan tetap berlanjut," tiba-tiba suara terdengar berat, membuat semua orang menoleh dan termasuk Shafiya.
"Maksud Kak Arash apa?" tanya Raina.
Arash menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan, kemudian melangkah mendekati perundingan tersebut.
"Saya adalah keluarga dari Zidan, tanggung jawab ini tidak bisa dipikul untuk satu keluarga saja, keluarga kami tidak bisa melakukan apapun atas keputusan Zidan tanpa ada kesepakatan, tetapi keluarga kami akan tetap bertanggung jawab," ucap Arash.
"Tanggung jawab seperti apa? Adik saya saat ini dipermalukan di depan semua orang dan bagaimana mungkin pihak keluarga kalian akan memberi tanggung jawab kepada keluarga kami dan terutama nasib adik saya selanjutnya," sahut Kanaya.
"Saya akan mengambil tanggung jawab atas apa yang terjadi," jawab Arash.
"Maksud kamu?" tanya Laina.
"Saya akan menggantikan Zidan," jawab Arash.
Keputusan yang baru saja diberikan oleh Arash membuat semua orang kaget dengan menatap serius kepadanya.
"Arash...." tegur Wira.
"Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membantu keluarga Om. Kita tidak punya pilihan lain untuk melanjutkan pernikahan ini dan tamu undangan juga pasti tidak akan mengetahui siapa calon suami dari calon pengantin wanita yang sebenarnya," sahut Arash seolah-olah meyakinkan semua orang.
"Kak Arash jangan sembarangan mengambil tindakan seperti itu. Pernikahan itu bukan main-main dan apalagi menggantikan begitu saja seperti menggantikan shift dalam pekerjaan," sahut Rania mencoba untuk membuka pikiran Arash.
"Semua keputusan ada di tangan kalian, di tangan pihak pengantin wanita apakah setuju atau tidak, saya hanya berusaha untuk memberikan bantuan," sahut Arash terlihat begitu santai tanpa adanya paksaan.
Semua mata saat ini tertuju pada Shafiya, sudah pasti kedua orang tuanya akan menyerahkan kepada Shafiya karena yang menjalani pernikahan secara mendadak itu Shafiya.
Shafiya kembali melihat di sekelilingnya dan melihat tamu undangan sangat menunggu proses ijab kabul, Shafiya juga melihat bagaimana kedua orang tuanya dan sudah pasti kedua orang tuanya akan malu besar dengan undangan yang begitu besar, tamu tamu terhormat dari kalangan tokoh agama.
"Shafiya kamu pikirkan semua ini baik-baik, semua ada resiko dalam mengambil keputusan, tetapi dalam mengambil keputusan secara mendadak juga bisa menyelamatkan banyak orang," ucap Kanaya memberi masukan kepada Shafiya sebelum memutuskan.
Shafiya melihat ke arah Arash, wajah pria itu sangat meyakinkan akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Saat ini Shafiya dipenuhi dengan kebingungan atas keputusan yang akan diambil.
Calon suaminya meninggalkan pernikahan dan sepupu suaminya akan bertanggung jawab untuk menggantikan posisinya.
"Saya terima nikahnya Shafiya Adelia Putri binti Thoriq Muhammad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai....!
"Bagaimana saksi?"
"Sah, sah,"
"Alhamdulillah!"
Akhirnya Shafiya setuju menikah dengan Arash untuk menggantikan Zidan sebagai suaminya, proses ijab kabul berlangsung lancar dan ditutup dengan doa.
Shafiya tidak menyangka jika dia akan menikah dengan laki-laki lain, laki-laki yang baru dia temui di saat calon suaminya datang melamarnya secara resmi. Tetapi apa boleh buat semua adalah pilihannya.
Arash yang saat ini sedang berdoa tampak tersenyum penuh maksud. Entahlah apa yang membuat diam menikahi Shafiya.
Bersambung.....