NovelToon NovelToon
Calamity Ex Machina

Calamity Ex Machina

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Manusia Ikan

Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.

​Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 2 -BAB 5 - FIRONA (2)

Tanpa peringatan, keenam robot itu mengangkat senjata laras panjang mereka.

Tratatatata!

Suara tembakan beruntun memecah udara, meluncurkan peluru-peluru energi berkecepatan tinggi.

​"Merunduk!" teriak Elian.

​Semua orang melompat mencari perlindungan. Namun, Raylen yang tidak memiliki kecepatan fisik terlambat menghindar. Sebuah peluru energi menyerempet bahunya, membakar zirah kainnya dan menembus daging.

​"Argh!" Raylen menjerit kesakitan, terkapar di balik runtuhan tembok. Darah segar mulai membasahi pakaiannya. Dengan tangan gemetar, ia segera meraba tasnya, mengambil ramuan penyembuh untuk menutup lukanya sendiri sambil bersembunyi.

"Sial... cepat sekali!"

​Melihat rekannya terluka, kemarahan Grom dan Reldia tersulut. "Kalian bajingan logam!" raung Grom.

​"Maju! Jangan beri mereka jarak untuk menembak!" seru Reldia. Ia membentangkan perisainya, menahan rentetan peluru yang memercikkan bunga api sihir.

​Elian memanfaatkan momentum itu. Ia melesat di samping Reldia, menebaskan pedang besinya ke arah salah satu robot. Jarak dekat membuat senapan panjang musuh menjadi tidak efektif.

Pertempuran awalnya berjalan lancar; palu raksasa Grom berhasil menghantam hancur kepala salah satu robot, sementara pedang Elian memotong lengan robot lainnya.

​Namun, pasukan logam itu tidak bodoh. Sadar senjata jarak jauh mereka tidak lagi berguna, sisa robot itu mundur satu langkah.

​Sring!

​Dari kedua pergelangan tangan robot-robot itu, keluar sebilah mata pisau panjang yang bersinar ungu keperakan. Gerakan mereka mendadak berubah menjadi sangat lincah, menangkis tebasan Elian dan membalas serangan Reldia dengan kecepatan luar biasa.

Pertarungan jarak dekat berubah menjadi sangat sengit dan mematikan.

​"Mereka juga ahli pedang?!" pekik Reldia, kewalahan menahan kombinasi tusukan cepat dari dua robot sekaligus.

​Di lini belakang, Arta berusaha keras menekan traumanya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengarahkan tongkatnya ke depan.

"Jangan menyerah! Aku di belakang kalian!" ​Arta merapalkan mantra. Sebuah dinding pelindung sihir transparan tercipta tepat di depan Reldia, menahan tusukan pisau robot yang hampir mengenai lehernya.

Tidak hanya bertahan, Arta sesekali melepaskan sihir rantai pengekangan dari bawah kaki musuh, membuat gerakan robot-robot itu terhenti sesaat dan kehilangan keseimbangan.

​"Sekarang, Grom! Elian!" teriak Arta.

​Celah kecil itu tidak disia-siakan. Elian mengayunkan pedangnya dengan sisa energi kekuatan Pahlawan, membelah dada dua robot di depannya.

Di sisi lain, Grom melompat dan menghantamkan palunya ke tanah, menciptakan gelombang hancur yang meremukkan dua robot terakhir hingga menjadi puing logam yang tidak berbentuk.

​Semua robot telah hancur.

Merasa misinya gagal, pesawat Wyvern yang mengapung di langit langsung berdesing keras dan terbang melesat pergi dengan kecepatan luar biasa, menghilang di balik awan debu.

​Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas mereka yang terengah-engah di antara puing-puing Firona. Raylen berjalan keluar dari persembunyiannya sambil memegangi bahunya yang masih terasa perih, wajahnya pucat.

​Elian menyarungkan pedangnya yang kembali retak, lalu menoleh ke arah Arta. "Kita berhasil menghancurkan mereka. Tapi... kenapa pesawat itu langsung pergi?"

​Arta berjalan mendekati puing-puing robot yang berasap. Matanya menatap dingin ke arah sirkuit logam yang masih berkedip.

​"Mereka tidak berniat bertarung sampai mati di sini," ucap Arta dengan suara rendah yang bergetar.

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Enam robot ini hanya umpan. Pesawat itu... mereka sudah merekam dan mempelajari seluruh pergerakan, sihir, dan cara bertarung kita hari ini. Pertempuran berikutnya akan jauh lebih mengerikan."

1
Wawan
Satu mawar biar gak bosan ✍️
Manusia Ikan 🫪: biar aku gk bosan T_T
total 1 replies
AngkaSatu
Orang dalam mah beda langsung disambut gitu yak/Smirk/
Manusia Ikan 🫪: wkaowkao🙈
total 1 replies
AngkaSatu
Nih kaisar gak ada kata tengang kek nya. bisa bisanya buat acara dansa
Manusia Ikan 🫪: kayaknya banyak informasi penting yang belum sempat aku masukan ke cerita, nanti aku tambahkan😅

makasih kritik untuk kemajuan ceritanya✨
total 4 replies
AngkaSatu
dan juga kenapa elian bisa menjadi kekasih arta.
Manusia Ikan 🫪: 🤔aku juga heran, nanti aku buat di side story terpisah
total 1 replies
AngkaSatu
menurutku karaktermu kurang diperjelas aja sih sama kayak mc ku/Pray/. Arta itu siapa dan juga apa pencapaianya yang membuat dia menjadi murid ungulan. world buildmu udah bagus dan misteri apa yang ada dibulan. Overall ceritamu bagus😆😆😆😆😆😆
Manusia Ikan 🫪: betul banget, karakterku kurang di layar belakangnya🤣

makanya nanti aku mau buat side story nya untuk beberapa karakter, salah satunya untuk Arta dan Elian😅

aku aja waktu di eps 15an rasa mau ngulang gara gara lupa nulis layar belakang karakter utama dan pencapaian nya, kayak kata kamu😅
total 1 replies
AngkaSatu
Wah bisa ada gambar gitu nyak.😍
Manusia Ikan 🫪: ehehehe iya, makasih sudah mampir yah🙈🌹
total 1 replies
kutu alien
/Drowsy//Drowsy//Drowsy/ per tamn niiee/Yawn//Yawn/
Manusia Ikan 🫪: /Hey/muhehehe makasih
total 1 replies
kutu alien
/Ok/
Manusia Ikan 🫪: ehehehehe
total 1 replies
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu dek💪👍
Istirahat Wak, capek
like koment ku sudah mampir, btw ceritanya kalau dicermati asik juga ya😭
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
Manusia Ikan 🫪: semangaaat up nyaaaah✨
total 1 replies
kutu alien
/CoolGuy//CoolGuy/
Manusia Ikan 🫪: hehehe
total 1 replies
Human175
ada kapal terbang 🗿
Manusia Ikan 🫪: oh yang kapal kayu kah, iya itu kapal terbang sihir, sebagian terbang pake hukum fisika, dan sebagainya gabungan keduanya😅
total 2 replies
Zetavia
Jan lupaa mampir yahh di novel ku saran dan kritik nyaa
Manusia Ikan 🫪: baiik
total 1 replies
T28J
lah kemana dia?
Manusia Ikan 🫪: ah maksudnya dia lagi mengumpulkan energi yang selaras dengan Aether di planet ini.
total 2 replies
Anomali Pink Hiatus
Darimana bisa tahu kalau bangunannya berumur puluhan ribu tahun.
Manusia Ikan 🫪: :v oke oke
total 3 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
Arven terdiam sesaat saat merasakan resonansi yang familiar dari dunia lain.

“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”

Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”

Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.

“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”

—Arven, Mechanist of Legacy🔥
kutu alien
/Plusone/,/Doge/
alicea0v
"Alice!!! lihat...!!! Golem dan serangga mereka terbuat dari batu mahal!!! kita bisa kaya!!" Xena menunjuk-nunjuk layar sihir pemantau yang mengambang di udara.

"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.

"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.

"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.

"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.

"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.

"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
SANG: Tetap semangat💪👍
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!