Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 -BAB 5 - FIRONA (2)
Tanpa peringatan, keenam robot itu mengangkat senjata laras panjang mereka.
Tratatatata!
Suara tembakan beruntun memecah udara, meluncurkan peluru-peluru energi berkecepatan tinggi.
"Merunduk!" teriak Elian.
Semua orang melompat mencari perlindungan. Namun, Raylen yang tidak memiliki kecepatan fisik terlambat menghindar. Sebuah peluru energi menyerempet bahunya, membakar zirah kainnya dan menembus daging.
"Argh!" Raylen menjerit kesakitan, terkapar di balik runtuhan tembok. Darah segar mulai membasahi pakaiannya. Dengan tangan gemetar, ia segera meraba tasnya, mengambil ramuan penyembuh untuk menutup lukanya sendiri sambil bersembunyi.
"Sial... cepat sekali!"
Melihat rekannya terluka, kemarahan Grom dan Reldia tersulut. "Kalian bajingan logam!" raung Grom.
"Maju! Jangan beri mereka jarak untuk menembak!" seru Reldia. Ia membentangkan perisainya, menahan rentetan peluru yang memercikkan bunga api sihir.
Elian memanfaatkan momentum itu. Ia melesat di samping Reldia, menebaskan pedang besinya ke arah salah satu robot. Jarak dekat membuat senapan panjang musuh menjadi tidak efektif.
Pertempuran awalnya berjalan lancar; palu raksasa Grom berhasil menghantam hancur kepala salah satu robot, sementara pedang Elian memotong lengan robot lainnya.
Namun, pasukan logam itu tidak bodoh. Sadar senjata jarak jauh mereka tidak lagi berguna, sisa robot itu mundur satu langkah.
Sring!
Dari kedua pergelangan tangan robot-robot itu, keluar sebilah mata pisau panjang yang bersinar ungu keperakan. Gerakan mereka mendadak berubah menjadi sangat lincah, menangkis tebasan Elian dan membalas serangan Reldia dengan kecepatan luar biasa.
Pertarungan jarak dekat berubah menjadi sangat sengit dan mematikan.
"Mereka juga ahli pedang?!" pekik Reldia, kewalahan menahan kombinasi tusukan cepat dari dua robot sekaligus.
Di lini belakang, Arta berusaha keras menekan traumanya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengarahkan tongkatnya ke depan.
"Jangan menyerah! Aku di belakang kalian!" Arta merapalkan mantra. Sebuah dinding pelindung sihir transparan tercipta tepat di depan Reldia, menahan tusukan pisau robot yang hampir mengenai lehernya.
Tidak hanya bertahan, Arta sesekali melepaskan sihir rantai pengekangan dari bawah kaki musuh, membuat gerakan robot-robot itu terhenti sesaat dan kehilangan keseimbangan.
"Sekarang, Grom! Elian!" teriak Arta.
Celah kecil itu tidak disia-siakan. Elian mengayunkan pedangnya dengan sisa energi kekuatan Pahlawan, membelah dada dua robot di depannya.
Di sisi lain, Grom melompat dan menghantamkan palunya ke tanah, menciptakan gelombang hancur yang meremukkan dua robot terakhir hingga menjadi puing logam yang tidak berbentuk.
Semua robot telah hancur.
Merasa misinya gagal, pesawat Wyvern yang mengapung di langit langsung berdesing keras dan terbang melesat pergi dengan kecepatan luar biasa, menghilang di balik awan debu.
Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas mereka yang terengah-engah di antara puing-puing Firona. Raylen berjalan keluar dari persembunyiannya sambil memegangi bahunya yang masih terasa perih, wajahnya pucat.
Elian menyarungkan pedangnya yang kembali retak, lalu menoleh ke arah Arta. "Kita berhasil menghancurkan mereka. Tapi... kenapa pesawat itu langsung pergi?"
Arta berjalan mendekati puing-puing robot yang berasap. Matanya menatap dingin ke arah sirkuit logam yang masih berkedip.
"Mereka tidak berniat bertarung sampai mati di sini," ucap Arta dengan suara rendah yang bergetar.
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Enam robot ini hanya umpan. Pesawat itu... mereka sudah merekam dan mempelajari seluruh pergerakan, sihir, dan cara bertarung kita hari ini. Pertempuran berikutnya akan jauh lebih mengerikan."
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.