NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Perjamuan Hening

Perjamuan Hening

​Rumah ini tidak lagi memiliki suara selain denting sendok dan desis tabung oksigen. Mama dan Papa sudah seperti ajudan setia di sisi Mbak Siska, sementara aku? Aku hanyalah bayangan yang lewat, yang kehadirannya dianggap sebagai pengingat akan aib yang ingin mereka kubur dalam-dalam.

​Makan malam kali ini terasa sangat menyesakkan. Mbak Siska duduk di kursi utamanya, meski tubuhnya masih terlihat ringkih. Di sampingnya, Gavin duduk dengan sikap protektif yang luar biasa. Dia bahkan tidak pernah melepaskan pandangannya dari piring Siska, memastikan setiap suapan masuk dengan benar.

​"Rum, kamu kenapa diam saja? Makanannya tidak enak?" tanya Siska tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat lembut, sangat tulus, tapi matanya... mata itu seperti sedang menelanjangi semua rasa bersalahku.

​"Enak kok, Mbak," jawabku pendek tanpa berani mendongak.

​"Syukurlah. Mas Gavin yang pilihkan menu ini tadi. Katanya, dia mau menebus kesalahan karena belakangan ini dia terlalu... sibuk," Siska menekankan kata 'sibuk' sambil mengusap punggung tangan Gavin.

​Gavin tidak bereaksi. Dia tetap tenang, seolah dia adalah patung marmer yang tidak punya perasaan. Padahal aku tahu, di balik kemeja kantornya itu, ada hati yang mungkin sedang bergejolak antara benci dan sisa-sisa nafsu yang dia tahan mati-matian.

​"Oh iya, Rum. Mbak dengar dari Mama, kamu tadi di kampus bertengkar dengan Bella ya?" Siska kembali memancing. "Sayang sekali, ya. Padahal Bella itu teman yang baik. Apa karena masalah laki-laki lagi?"

​Aku tersedak air yang baru saja kuminum. Aku melirik Gavin, berharap dia akan membelaku atau setidaknya mengalihkan pembicaraan. Tapi nihil. Gavin justru sibuk menuangkan air putih ke gelas Siska.

​"Masalah sepele, Mbak," sahutku ketus.

​"Jangan terlalu egois, Arum. Tidak semua orang harus berputar di sekelilingmu," ucap Papa tiba-tiba, suaranya berat dan penuh kekecewaan. "Lihat kakakmu. Dia sedang sakit saja masih memikirkan hubungan pertemananmu. Kamu seharusnya belajar dewasa."

​Aku meletakkan sendok dengan kasar. Rasa panas menjalar di dadaku. Bukan karena makanan, tapi karena ketidakadilan ini. Aku yang disalahkan, aku yang dipojokkan, sementara Gavin—pria yang juga ikut andil dalam pengkhianatan ini—diperlakukan seperti pahlawan yang baru pulang perang.

​Di Ruang Laundry - Pukul 22.00

​Aku tidak tahan lagi di dalam kamar. Aku butuh udara, butuh tempat di mana aku tidak bisa melihat kemesraan mereka. Aku berjalan menuju ruang laundry, berharap bisa menyendiri. Namun, di sana sudah ada seseorang.

​Gavin sedang berdiri membelakangiku, menatap mesin cuci yang berputar.

​Aku berbalik hendak pergi, tapi suara beratnya menghentikanku. "Jangan lari terus, Arum."

​Aku berhenti, tapi tidak berbalik. "Buat apa Mas peduli? Bukannya Mas sudah berhasil jadi suami teladan?"

​Gavin berjalan mendekat. Aku bisa merasakan kehadirannya yang mengintimidasi di belakangku. "Aku tidak punya pilihan. Siska sedang di ambang maut karena kelakuan kita. Kamu mau aku melakukan apa? Meninggalkannya saat dia sedang berjuang untuk napasnya?!"

​Aku berbalik, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Setidaknya jangan perlakukan aku seperti sampah, Mas! Di meja makan tadi, Mas cuma diam pas Mbak Siska dan Papa mojokin aku! Mas tahu siapa yang mulai semua ini di perpustakaan!"

​Gavin mencengkeram bahuku, tapi kali ini tidak ada gairah. Hanya ada rasa sakit dan keputusasaan. "Aku benci diriku sendiri setiap kali melihatmu, Arum! Setiap kali aku melihat wajahmu, aku teringat betapa hinanya aku sebagai suami. Jadi tolong... menjauhlah. Jangan dekati aku, jangan cari aku, dan jangan ganggu hidup Raka atau siapa pun lagi."

​"Mas jahat..." isakku.

​"Ya, aku jahat. Dan kamu... kamu adalah pengingat akan kejahatanku itu," Gavin melepaskan bahuku dengan kasar. "Besok, aku akan membawa Siska ke vila keluarga di Puncak untuk masa pemulihan selama satu bulan. Kamu tetap di sini. Fokus kuliahmu, dan berhentilah membuat drama."

​Dia pergi begitu saja. Satu bulan? Dia akan membawanya pergi selama satu bulan? Itu artinya aku akan benar-benar dibuang.

​Esok Harinya - Di Depan Gerbang Kampus

​Aku berdiri di bawah pohon rindang, melihat Raka dan Bella berjalan keluar gerbang sambil bergandengan tangan. Bella terlihat sangat bahagia, tertawa lepas sambil memegang sebuah es krim. Raka sesekali mencium puncak kepala Bella.

​Pemandangan itu membuat hatiku semakin perih. Aku mencoba melangkah mendekat, hanya ingin minta maaf, tapi langkahku terhenti saat Bella menoleh dan melihatku.

​Bella tidak lagi berteriak. Dia hanya menatapku dengan pandangan dingin, lalu menarik Raka menjauh, berbelok ke arah parkiran motor tanpa sepatah kata pun. Raka sempat melirikku sekilas, ada sisa-sisa rasa iba di matanya, tapi dia tetap mengikuti tarikan tangan Bella.

​Aku benar-benar sendirian sekarang.

​Tiara lewat di depanku, dia berhenti sejenak. "Rum, lo nggak apa-apa?"

​"Gue... gue mau pergi dari rumah, Ti," bisikku lemas.

​"Mau ke mana? Lo jangan nekad. Masalah lo itu cuma butuh waktu," Tiara mencoba menenangkan.

​"Waktu nggak akan ngerubah kenyataan kalau gue ini pengganggu di keluarga gue sendiri, Ti. Gavin mau bawa Siska pergi selama sebulan. Gue dianggap nggak ada," aku menutup wajahku dengan tangan.

​"Mungkin itu yang terbaik, Rum. Biar suasana tenang dulu. Lo fokus aja sama tugas-tugas lo. Oh iya, Raka dan Bella... gue rasa mereka beneran serius. Lo jangan ganggu mereka lagi ya? Kasihan Raka, dia butuh ketenangan."

​Ucapan Tiara adalah paku terakhir di peti matiku. Bahkan sahabatku sendiri pun sekarang lebih memikirkan orang lain daripada aku.

​Aku pulang ke rumah, melihat koper-koper besar sudah tertata di ruang tamu. Gavin sedang membantu Siska berjalan menuju mobil. Papa dan Mama sibuk menyiapkan keperluan obat-obatan.

​Siska melihatku. Dia tersenyum, tapi kali ini senyumnya bukan senyum jahat. Itu adalah senyum pemenang yang merasa kasihan pada yang kalah.

​"Jaga rumah ya, Arum. Jangan terlalu sering keluar malam. Mas Gavin sudah pesankan makanan buat kamu selama seminggu ini lewat aplikasi," ucap Siska lembut.

​Gavin masuk ke kursi kemudi. Dia tidak menoleh padaku sama sekali. Dia menyalakan mesin mobil, dan perlahan mobil itu keluar dari gerbang rumah, membawanya pergi menjauh dariku.

​Aku berdiri di depan pintu rumah yang besar dan sunyi itu. Tidak ada lagi suara tawa, tidak ada lagi aroma parfum Gavin, tidak ada lagi desis oksigen. Yang tersisa hanyalah aku, kesunyian, dan rasa bersalah yang kini menghimpitku hingga sulit untuk bernapas.

​Malam itu, aku duduk di perpustakaan, di tempat yang sama di mana semuanya hampir terbongkar. Aku mematikan lampu, membiarkan kegelapan menelanku. Aku menyadari satu hal: pengkhianatan yang kami mulai dengan api, kini berakhir dengan abu yang dingin dan mati.

1
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!