Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Pagi, Istriku
Kelopak-kelopak mawar merah yang semalam menghiasi bridal suite itu kini telah sedikit layu dan berserakan di atas lantai.
Pagi ini, Shane menjadi orang pertama yang membuka mata. Ia melenguh pelan, meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sedikit kaku setelah malam panjang yang penuh energi. Dengan posisi bertumpu pada satu siku, ia menunduk, menatap wajah polos Aiena yang masih terlelap di sampingnya dengan rambut panjang yang berantakan di atas bantal.
Tak lama kemudian, sebuah kerutan kecil muncul di dahi Aiena. Merasakan adanya pergerakan dan perubahan beban pada sisi kasur di sebelahnya, kelopak mata gadis itu perlahan bergerak terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah dada bidang Shane yang telanjang, tepat berada di depan wajahnya.
"Selamat pagi, Istriku," sapa Shane, suaranya terdengar sangat parau khas orang yang baru bangun tidur, namun penuh dengan kehangatan.
Aiena mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi.
"Pagi, Shane..." jawabnya lirih dengan suara serak.
Shane mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, mendaratkan sebuah ciuman singkat namun manis di bibir Aiena yang kering. Kecupan pagi hari yang kasual, namun berhasil membuat jantung Aiena kembali berdesir halus, mengingatkannya pada penyatuan intens mereka beberapa jam yang lalu.
Shane tidak langsung menjauhkan wajahnya. Sebuah senyuman jahil yang sangat familiar perlahan terukir di sudut bibirnya. Ia melirik ke arah sprei putih di bawah tubuh mereka, lalu kembali menatap mata Aiena dengan kilat jenaka. “Gimana tidurmu? Nyenyak setelah semalam bikin kasur ini basah?”
Aiena tertegun sejenak, ingatan tentang teriakan pasrahnya dan bagaimana tubuhnya menegang hebat hingga membasahi kasur semalam langsung berputar serentak di kepalanya. Wajahnya dalam sekejap berubah menjadi semerah kepiting rebus. "Shane! Jangan dibahas!"
"Kenapa nggak boleh dibahas? Itu kan prestasi," goda Shane lagi, tawanya yang renyah pecah melihat reaksi istrinya. "Aku nggak nyangka, Aiena yang biasanya malu-malu sehebat itu di atas ranjang."
Rasa malu yang teramat sangat membuat Aiena tidak sanggup lagi menatap mata suaminya. Dengan gerakan panik, ia menarik selimut tebal untuk menutupi seluruh tubuhnya, lalu mencoba berguling ke tepi ranjang, berniat untuk segera kabur dan bersembunyi di dalam kamar mandi.
Namun, Shane jauh lebih cekatan. Sebelum kaki Aiena sempat menyentuh lantai, lengan kokoh Shane sudah melingkar di pinggangnya, menarik tubuh polos di balik selimut itu kembali ke tengah ranjang dalam satu sentakan mudah. Shane memeluknya dari belakang, mengunci pergerakan Aiena hingga punggung gadis itu menempel rapat pada dada bidangnya.
"Mau kabur ke mana, hm?" bisik Shane di ceruk leher Aiena, memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat Aiena kegelian.
"Shane, lepas dulu! Aku mau ke kamar mandi, aku mau buang air!" rengek Aiena, tangannya mencoba mencengkeram lengan Shane yang mengunci pinggangnya.
Mendengar alasan tersebut, Shane justru menghentikan tawa jahilnya. Shane mengubah posisi tubuhnya, membalikkan badan Aiena agar mereka kembali saling berhadapan. Sorot matanya yang semula penuh candaan kini perlahan meredup, digantikan oleh tatapan intens dan penuh gairah yang sangat Aiena kenali dari malam semalam.
Shane mendekatkan bibirnya ke telinga Aiena, mengembuskan napas hangat yang seketika membuat bulu kuduk istrinya meremidang. "Mau buang air sekarang? Jangan dulu, Na."
"Shane, aku serius…"
"Aku juga serius," potong Shane dengan bisikan baritonnya yang seksi. Tangannya di bawah selimut mulai bergerak turun, meraba lekuk pinggang Aiena dengan sentuhan yang menuntut. "Daripada kamu buang air di kamar mandi, bagaimana kalau pagi ini aku bikin kamu ngompol sekali lagi di atas kasur ini?"
Aiena membelalakkan matanya, menatap lurus pada senyuman penuh percaya diri di wajah suaminya. Belum sempat ia melayangkan protes atau pukulan di bahu Shane, bibir pria itu sudah kembali membungkamnya, mengubah udara pagi yang dingin di kamar pengantin itu menjadi kembali panas dan sarat akan gairah yang baru dimulai.
Udara pagi di dalam bridal suite yang semula sejuk oleh embusan pendingin ruangan seketika berubah menjadi hangat dan pekat ketika Shane mulai melancarkan cumbuannya. Tidak ada lagi sisa candaan jahil di wajahnya, yang ada hanyalah tatapan penuh kabut gairah yang menuntut hak mutlaknya sebagai seorang suami.
Kecupan-kecupan panas Shane turun dari bibir, menelusuri rahang, hingga bermuara di ceruk leher Aiena, meninggalkan sensasi menggelitik yang membuat jemari tangan Aiena refleks mencengkeram erat bahu tegap suaminya.
Aiena hanya bisa pasrah, membiarkan selimut tebal yang sempat menutupi tubuhnya tersingkap perlahan oleh pergerakan tangan Shane. Ketika Shane memposisikan dirinya di atas tubuh Aiena, mengunci kedua kaki istrinya dengan paha kokohnya, Aiena tahu bahwa ia akan segera kembali dibawa terbang ke awan-awan.
Tanpa memberikan jeda yang terlalu lama, Shane kembali menyatukan tubuh mereka. Begitu berhasil masuk secara penuh, Aiena spontan memekik pelan. Matanya membelalak, dan kedua tangannya mencengkeram sprei di bawahnya dengan sangat kencang.
"Shane... pelan-pelan... ah!" rintih Aiena dengan napas yang memburu. Rasanya benar-benar berbeda dari semalam, milik Shane di pagi hari terasa jauh lebih besar, tegang, dan mengisi seluruh ruang di dalam dirinya hingga menciptakan rasa sesak yang dipenuhi kenikmatan intens.
Shane menggeram rendah, menikmati bagaimana tubuh Aiena menjepitnya dengan begitu erat. Ia mulai menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang langsung cepat dan bertenaga, tidak memberikan waktu bagi Aiena untuk menyesuaikan diri. Setiap dorongan yang menghujam dalam membuat tubuh Aiena bergoyang di atas kasur, menciptakan decitan halus dari ranjang pengantin mereka.
Aiena mulai mendesah tak karuan. Suaranya memenuhi kesunyian kamar, bersahutan dengan deru napas Shane yang kian memburu di atas telinganya. Rasa pekat yang bergulung di perut bagian bawahnya mendadak bergejolak kembali dengan sangat cepat. Hantaran stimulasi dari pergerakan Shane yang tanpa ampun membuat Aiena panik. Ia bisa merasakan bahwa gelombang orgasme itu datang jauh lebih cepat daripada semalam.
"Shane, tunggu... aku... ah! Aku nggak kuat," tangis Aiena pecah, kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri di atas bantal. Ia mencoba mendorong bahu Shane untuk meminta jeda, namun Shane justru semakin mengunci pergelangan tangannya, menyatukan jemari mereka hingga cincin pernikahan di jari manisnya beradu dengan cincin pertunangan di jari manis Aiena.
"Keluarin, Na. Pipisin aja," bisik Shane dengan suara parau yang sarat akan perintah di sela-sela dorongan kencangnya.
Dengan satu hentakan terakhir yang menusuk sangat dalam, pertahanan Aiena runtuh sepenuhnya. Di bawah kungkungan tubuh tegap Shane, tubuh polos Aiena mengejang hebat. Seluruh ototnya menegang sempurna bersamaan dengan debaran puncak yang luar biasa, hingga tanpa mampu ditahan lagi untuk kedua kalinya, ia kembali mengompol dan membasahi sprei putih di bawah mereka dengan cairan pelepasannya.
Aiena terengah-engah dengan mata berkaca-kaca, seluruh tenaganya seolah lenyap tak berbekas. Namun, Shane tidak langsung berhenti. Pria itu justru melancarkan beberapa dorongan dalam yang cepat untuk menjemput puncaknya sendiri, sebelum akhirnya menggeram keras dan melepaskan seluruh benihnya di dalam rahim Aiena, mengunci penyatuan mereka dalam kehangatan yang sempurna.
Shane menjatuhkan tubuhnya di samping Aiena, menarik istrinya yang sudah terkulai lemas ke dalam pelukannya. Keringat bercucuran dari dahi Shane, menetes ke dada Aiena yang naik-turun drastis karena kehabisan napas. Shane menatap wajah Aiena yang tampak begitu kewalahan, lesu, dan pasrah di bawah ketiadaan dayanya.
Sebuah senyuman puas yang sangat maskulin terukir di wajah Shane. Ia sangat menikmati pemandangan ini, menikmati bagaimana sekretarisnya yang biasanya selalu tegap dan tegas di kantor, kini bertekuk lutut dan sepenuhnya tak berdaya di bawah kendalinya sebagai seorang suami.
Shane mengecup kening Aiena yang basah oleh keringat, lalu berbisik jenaka, "aku berhasil bikin kamu ngompol lagi pagi ini, Nyonya Besar."
Aiena hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada bidang Shane, terlalu lemas bahkan hanya untuk membalas godaan suaminya. Di bawah kehangatan pelukan Shane pagi itu, ia menyadari bahwa hidupnya telah sepenuhnya berubah, dan ia tidak pernah menyesali keputusannya untuk menyerahkan seluruh kendali dirinya pada pria yang kini mendekapnya dengan begitu erat.
***