NovelToon NovelToon
My Cold Boss Is A Spicy Writer!

My Cold Boss Is A Spicy Writer!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wie Arpie

Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.

Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"

Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.

Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Definisi Kita

Malam ini, apartemen Arkan terasa lebih sunyi dari biasanya, namun bukan jenis kesunyian yang mencekam. Ini adalah kesunyian yang intim, di mana suara detak jam dinding seolah beradu dengan suara jemari yang menari di atas keyboard. Di luar, lampu-lampu Jakarta berkedip seperti ribuan kunang-kunang besi, namun perhatian Sia sepenuhnya tersita oleh draf Bab 21 yang baru saja diselesaikan Arkan.

Sia menggeser layar tabletnya, membaca paragraf terakhir dengan saksama. Ia terdiam cukup lama, hingga Arkan yang sedang duduk di kursi kerjanya menoleh dengan dahi berkerut.

"Kenapa? Diksi saya ada yang salah?" tanya Arkan. Suaranya tidak lagi sekaku biasanya, ada nada lembut yang terselip di sana.

Sia meletakkan tablet itu di atas meja marmer. Ia menatap Arkan, lalu beralih menatap tangan Arkan yang masih memegang pena. "Bukan soal diksi, Pak. Tapi soal... rasa."

"Rasa?"

"Iya. Di bab ini, Bima akhirnya bilang ke Raya kalau dia nggak mau lagi ada di zona abu-abu. Dia mau status yang jelas. Tapi..." Sia menggantung kalimatnya. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang sudah ia tumpuk sejak perjalanan pulang dari kantor sore tadi. "Tapi saya jadi mikir, Pak. Kita ini sebenarnya lagi nulis cerita Bima dan Raya, atau lagi nulis cerita kita sendiri?"

Arkan meletakkan penanya. Ia memutar kursi kerjanya hingga sepenuhnya menghadap Sia. Tatapannya dalam, tidak berpaling sedikit pun. "Apa maksud kamu, Sia?"

Sia berdiri, berjalan mendekat hingga ia berada tepat di depan Arkan. Ia tidak mau lagi bersembunyi di balik kata "riset" atau "profesionalisme". "Pak, saya nggak mau jadi orang munafik. Kita sudah ciuman, kita sudah pegangan tangan, kita sudah berbagi rahasia terbesar Bapak sebagai Nightshade. Tapi sampai detik ini, kalau ada orang tanya saya 'Arkan Dewangga itu siapa kamu?', saya cuma bisa jawab 'Bos saya'."

Sia menjeda sejenak, matanya sedikit berkaca-kaca namun tetap terlihat teguh. "Saya nggak butuh pengumuman di depan banyak orang. Tapi saya butuh tahu... di mata Bapak, saya ini siapa? Asisten riset yang kebetulan enak diajak diskusi naskah, atau sesuatu yang lebih dari itu? Karena kalau ini cuma buat kepentingan Nightshade, saya rasa riset kita sudah lebih dari cukup."

Keheningan menyergap ruangan itu. Arkan tidak langsung menjawab. Ia berdiri, membuat Sia harus sedikit mendongak untuk menatapnya. Arkan melangkah maju satu tindak, memperpendek jarak hingga Sia bisa menghirup aroma maskulin dari parfumnya yang mulai memudar setelah seharian bekerja.

"Sia," panggil Arkan pelan. Ia meraih kedua tangan Sia, menggenggamnya dengan jemari yang hangat. "Kamu benar. Saya terlalu lama bersembunyi di balik karakter Bima karena itu cara paling aman bagi saya untuk mengekspresikan apa yang saya rasakan tanpa harus terlihat lemah."

Arkan membawa tangan Sia ke dadanya, tepat di mana jantungnya berdegup dengan ritme yang konsisten namun cepat. "Kamu dengar ini? Ini bukan detak jantung seorang Bos untuk asistennya. Ini detak jantung seorang pria yang sudah kalah telak sejak hari pertama kamu berani mengkritik tulisannya."

"Jadi?" desak Sia, menuntut jawaban yang lebih gamblang.

"Jadi, mulai malam ini, berhenti panggil saya 'Pak' kalau kita sedang berdua," ujar Arkan dengan senyum tipis yang mematikan. "Status kita bukan lagi soal atasan dan karyawan atau assiten riset Nightshide. Kamu adalah kekasih saya. Dan jika kamu keberatan dengan kata itu, saya bisa menggantinya dengan kata 'milik saya' dalam arti yang paling romantis sekaligus posesif."

Sia merasakan beban di pundaknya luruh seketika. Senyum lebar mengembang di wajahnya, senyum yang membuat Arkan merasa bahwa semua kesuksesan bisnisnya tidak ada artinya dibanding pemandangan ini.

"Pacar ya? Oke. Kalau gitu, aku punya satu syarat," ujar Sia, kini dengan nada yang jauh lebih santai, bahkan sedikit menggoda.

Arkan menaikkan sebelah alisnya. "Syarat?"

"Iya. Kalau kita lagi berdua, nggak ada lagi 'Bapak-Saya'. Kita ngobrol kayak orang normal pacaran. Santai, enggak kaku pake aku-kamu." pinta Sia.

Arkan terkekeh, suara rendahnya terdengar sangat merdu di telinga Sia. "Oke, Sia. Itu syarat yang sangat mudah. Dan sebagai balasannya, aku mau kamu berhenti bersikap sungkan kalau ingin meminta sesuatu dariku. Kamu bukan karyawan yang sedang minta izin cuti, kamu pasanganku."

Arkan menarik Sia ke dalam pelukannya. Kali ini rasanya berbeda. Tidak ada lagi keraguan tentang apakah ini "riset" atau bukan. Ini adalah pengakuan.

"Jadi, Sia..." Arkan berbisik di puncak kepalanya, "apa yang mau kita lakukan sebagai pasangan di kencan resmi pertama kita? Tanpa bawa laptop, tanpa bawa catatan naskah."

Sia mendongak, matanya berbinar. "Hmm, gimana kalau kita pesan makanan paling nggak sehat di aplikasi online, duduk di depan TV, dan nonton film komedi romantis yang paling klise? Aku mau lihat gimana reaksi seorang penulis dark romance kayak Nightshade nonton film yang isinya cuma pelangi dan bunga-bunga."

Arkan mendesah pura-pura keberatan, namun tangannya tetap melingkar protektif di pinggang Sia. "Itu terdengar seperti penyiksaan bagiku, tapi baiklah. Demi kamu, aku akan coba bertahan nonton film itu."

Malam itu, mereka benar-benar melakukannya. Meja kerja yang biasanya penuh dengan draf novel kini dipenuhi dengan kotak martabak manis dan ayam geprek level pedas maksimal. Arkan, sang CEO Dewangga Group yang biasanya makan di restoran berbintang, kini duduk di lantai beralaskan karpet bersama Sia, sesekali mengaduh karena kepedasan.

"Ini... kenapa orang-orang suka makan cabai sebanyak ini?" tanya Arkan sambil mengipasi mulutnya dengan tangan, wajahnya memerah.

Sia tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar. Ia memberikan segelas air dingin ke Arkan. "Itu namanya sensasi, Arkan! Sama kayak tulisan kamu. Kadang harus bikin pembaca megap-megap dulu baru mereka ketagihan."

Arkan meminum airnya dengan rakus, lalu menatap Sia dengan tatapan yang kembali melembut. "Kamu baru saja panggil aku 'Arkan'?"

Sia terdiam sejenak, lalu tersenyum malu-malu. "Iya. Kenapa? Nggak suka?"

"Suka banget," jawab Arkan tulus. Ia mengulurkan tangan, menghapus noda cokelat martabak di sudut bibir Sia dengan ibu jarinya. Gerakannya begitu natural, seolah mereka sudah melakukan ini bertahun-tahun. "Rasanya lebih nyata daripada dipanggil 'Pak' seribu kali di kantor."

Mereka kemudian menonton film di platform streaming. Sia bersandar di bahu Arkan, sementara Arkan sesekali mengomentari plot film yang menurutnya "tidak masuk akal secara logika".

"Berhenti jadi kritikus naskah. Nikmatin aja sweet-nya," protes Sia sambil menyuapkan sepotong martabak ke mulut Arkan untuk mendiamkannya.

Arkan mengunyah makanannya, lalu tiba-tiba ia mematikan TV dengan remote. Ruangan menjadi remang, hanya menyisakan lampu sudut yang kuning hangat.

"Kenapa dimatiin? Lagi seru tahu!" protes Sia.

Arkan tidak menjawab. Ia memutar tubuh Sia hingga mereka duduk berhadapan. Ia menatap Sia dengan tatapan yang membuat Sia lupa caranya bernapas.

"Sia, aku baru sadar satu hal," bisik Arkan. tangannya merayap lembut ke leher Sia, jempolnya mengusap garis rahangnya. "Semua bab yang aku tulis sebagai Nightshade itu nggak ada apa-apanya dibanding momen asli sama kamu. Aku nggak butuh imajinasi lagi buat nulis tentang rasa bahagia, karena aku punya kamu sebagai referensi hidupku."

Arkan mencondongkan tubuhnya, mencium kening Sia lama, lalu turun ke kedua matanya, dan berakhir di bibirnya. Ciuman kali ini tidak terburu-buru. Tidak ada menuntut. Hanya ada kelembutan yang sangat jujur, sebuah janji bahwa mulai saat ini, mereka tidak lagi hanya berbagi naskah, tapi juga berbagi hidup.

"Aku sayang kamu, Sia," bisik Arkan tepat di depan bibir Sia.

Sia merasa hatinya meluap. "Aku juga sayang kamu, Arkan. Meskipun kamu kaku kayak kanebo kalau lagi di kantor."

Arkan tertawa, menarik Sia kembali ke dalam pelukannya. Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan bercerita tentang banyak hal—tentang masa kecil Arkan yang membosankan, tentang impian Sia untuk menerbitkan bukunya sendiri, hingga tentang bagaimana mereka harus tetap berakting "profesional" besok pagi di depan karyawan kantor lainnya.

"Besok di kantor, kalau kamu panggil aku 'Pak' lagi, aku bakal kasih kamu tugas tambahan yang banyak supaya kamu harus lembur di sini lagi," ancam Arkan bercanda.

"Ih, licik banget! Itu namanya penyalahgunaan kekuasaan, Pak CEO!" sahut Sia sambil mencubit pinggang Arkan.

Dunia mungkin mengenal Arkan Dewangga sebagai pebisnis dingin dan Nightshade sebagai penulis misterius. Namun bagi Sia, ia hanyalah Arkan—pria yang suka kopi 85 derajat celcius dan teh jahe, tidak tahan pedas, dan punya cara paling romantis untuk meruntuhkan pertahanan hatinya.

Malam itu, status mereka sudah terdefinisi dengan jelas. Bukan dalam sebuah dokumen legal atau kontrak kerja, melainkan dalam detak jantung yang saling bersahutan di bawah langit Jakarta yang tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!