Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Kunjungan Malam Hari dan Teror di Kediaman Wang
Lin Chen menatap mayat pembunuh elit di bawah kakinya dengan ekspresi datar. Pembunuh tingkat Setengah Langkah Jiwa Baru Lahir ini bahkan tidak sempat bereaksi sebelum tengkoraknya dihancurkan.
"Mereka benar-benar tidak sabaran," kekeh Guru Lin Tian di dalam benak Lin Chen. "Apakah kau akan membiarkan tikus-tikus ini terus mengganggu tidur malammu, Muridku?"
"Tentu saja tidak, Guru," jawab Lin Chen pelan.
Ia menjentikkan jarinya. Seutas petir perak keunguan menyambar mayat tersebut. Tanpa suara, tanpa asap, dan tanpa bau daging terbakar, mayat pembunuh itu langsung menguap menjadi ketiadaan, dihapus sepenuhnya dari dimensi ruang ini. Bahkan setetes darah pun tidak tersisa di lantai kayu paviliun.
Lin Chen menoleh ke arah jendela, menatap ke arah pusat distrik pertama tempat Kediaman Keluarga Wang berada.
"Karena mereka sudah berbaik hati mengirimkan salam perkenalan, rasanya tidak sopan jika aku tidak membalas kunjungan mereka malam ini," gumam Lin Chen. Matanya menyipit, memancarkan kilatan predator yang berbahaya.
Dengan satu langkah santai, tubuh Lin Chen memudar ke dalam udara kosong, menyatu sempurna dengan bayang-bayang malam. Tubuh Ruang Hampa-nya membuat ia bisa bergerak tanpa memicu fluktuasi Qi spiritual sekecil apa pun.
Di saat yang sama, di Aula Utama Kediaman Keluarga Wang yang megah.
Suasana di aula itu sangat mencekam. Wang Teng, sang Tuan Muda yang biasanya sombong, kini duduk di kursi roda dengan separuh wajahnya dibalut perban tebal, tampak seperti mumi yang cacat. Matanya penuh dengan kebencian dan dendam yang membara.
Di kursi utama, duduk seorang pria paruh baya berjubah emas dengan aura yang luar biasa menindas. Dia adalah Wang Lie, Kepala Keluarga Wang, seorang tetua Kuil Alkemis Suci yang kultivasinya telah mencapai tahap awal Jiwa Baru Lahir.
"Ayah... uhuk... bunuh dia! Ayah harus menguliti pelayan udik itu hidup-hidup di depanku!" raung Wang Teng dari balik perbannya, suaranya sengau karena giginya banyak yang rontok.
"Tenanglah, Teng'er," ucap Wang Lie dengan wajah murka, meremas sandaran kursi gioknya hingga retak. "Aku sudah mengirim 'Pisau Hantu'. Dia adalah pembunuh bayaran terhebat di keluarga kita, berada di Setengah Langkah Jiwa Baru Lahir. Tidak peduli sekeras apa pun fisik pelayan itu, Pisau Hantu tahu cara memotong urat nadinya dari dalam bayangan. Sebentar lagi, dia pasti kembali membawa kepala pelayan udik itu untukmu."
Wang Lie menyesap teh spiritualnya untuk menenangkan amarah. Berani menampar pewaris Keluarga Wang di depan umum adalah penghinaan yang hanya bisa dicuci dengan darah.
Namun, baru saja ia meletakkan cangkir tehnya...
Wusss...
Angin dingin yang tidak wajar berhembus melintasi aula tertutup itu. Api lilin di seluruh ruangan mendadak meredup, berubah warna menjadi biru pucat.
"Siapa di sana?!" Wang Lie langsung berdiri, meledakkan aura Jiwa Baru Lahir-nya. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan. Formasi pertahanan tingkat tinggi milik keluarga Wang sama sekali tidak berbunyi, tapi instingnya menjeritkan bahaya.
Dari tengah ruangan, udara tiba-tiba beriak seperti permukaan air. Sesosok pemuda berjubah hitam melangkah keluar dari kehampaan, seolah-olah ruang dimensi itu sendiri adalah pintu rumahnya.
"Malam yang indah, Kepala Keluarga Wang," sapa Lin Chen dengan nada santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku. "Kalian sedang menunggu seseorang?"
Mata Wang Teng melotot hingga hampir keluar dari rongganya saat mengenali wajah itu. "I-ITU DIA! AYAH! ITU PELAYAN YANG MENAMPARKU!"
Wang Lie membelalakkan matanya, keterkejutan melanda jiwanya. Bagaimana pemuda fana ini bisa melewati tiga lapis formasi pertahanan Setingkat Surga di luar sana tanpa memicu alarm?! Dan di mana Pisau Hantu?!
"Keparat udik! Beraninya kau menyusup ke kediamanku!" raung Wang Lie. Rasa kagetnya dengan cepat digantikan oleh niat membunuh yang absolut. "Penjaga! Bunuh dia!"
Hening. Tidak ada satu pun penjaga yang masuk.
Lin Chen mendesah pelan. "Penjaga di luar sedang tidur pulas. Sangat pulas, sampai mereka mungkin tidak akan bangun lagi. Dan jika kau mencari pembunuh bayaranmu yang lambat itu..."
Lin Chen merogoh sakunya, lalu melemparkan sebuah lencana hitam berlumuran darah ke atas meja di depan Wang Lie. Itu adalah Lencana Identitas milik Pisau Hantu!
"A-Apa?!" Wang Lie gemetar melihat lencana itu. Pisau Hantu... tewas?!
Namun sebagai ahli Jiwa Baru Lahir sejati, Wang Lie tidak membiarkan kepanikan menguasainya. Ia mengertakkan gigi, api Qi berwarna emas menyembur liar dari seluruh tubuhnya.
"Kau punya beberapa trik murahan, Udik. Tapi di hadapan ahli Jiwa Baru Lahir, fisik yang kuat tidak berguna! Rasakan kemarahan Dewa Api!"
Jurus Terlarang Kuil Suci: Pemusnahan Naga Emas!
Wang Lie mendorong kedua telapak tangannya ke depan. Sebuah pilar api emas raksasa, jauh lebih panas dan mematikan daripada milik putranya, meledak lurus ke arah dada Lin Chen. Panasnya langsung melelehkan lantai giok di sekitarnya menjadi lahar!
Serangan ini cukup untuk membakar satu distrik kota menjadi abu. Wang Teng tertawa gila dari balik perbannya, menunggu Lin Chen menguap.
Namun, Lin Chen sama sekali tidak bergerak untuk menangkis. Ia membiarkan pilar api raksasa itu menghantam dadanya.
Atau lebih tepatnya... menembusnya.
Pilar api emas itu melesat lurus melewati tubuh Lin Chen seolah pemuda itu hanyalah sebuah proyeksi ilusi! Api itu menghantam dinding di belakang Lin Chen hingga hancur lebur, namun jubah Lin Chen, bahkan sehelai rambutnya pun, tidak tersentuh sama sekali.
"M-Mustahil!" Wang Lie ternganga lebar, kakinya lemas seketika. Serangan pamungkasnya... tembus begitu saja?!
"Ini yang kau sebut kemarahan Dewa Api? Terasa seperti angin sepoi-sepoi," cibir Lin Chen.
Sebelum Wang Lie bisa memproses keterkejutannya, Lin Chen melangkah satu kali, membelah jarak sepuluh meter dalam sekejap, dan muncul tepat di depan wajah sang Kepala Keluarga.
Lin Chen mengangkat tangannya, lalu melepaskan sebuah tamparan yang sama persis seperti yang ia berikan pada Wang Teng di gerbang kota.
PLAAAAAKKK!!!
"Uaarghh!"
Wang Lie, seorang ahli tahap Jiwa Baru Lahir awal yang dihormati dan ditakuti di Ibukota, terpental seperti boneka kain yang rusak! Rahangnya patah, darah menyembur, dan ia menabrak pilar penyangga aula hingga pilar marmer itu hancur berantakan.
Wang Teng yang duduk di kursi roda membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ayahnya... monster tak terkalahkan di hatinya... baru saja ditampar hingga terbang oleh seorang pelayan?!
Lin Chen berjalan perlahan mendekati Wang Lie yang sedang merangkak di lantai, terbatuk-batuk memuntahkan darah bercampur gigi. Lin Chen menginjak dada pria paruh baya itu, menekannya ke lantai.
"A-Ampun..." Wang Lie mengerang putus asa. Saat kaki Lin Chen menginjak dadanya, ia merasa seolah ada gunung kosmis yang menimpa organ dalamnya. Qi di dalam Dantiannya benar-benar lumpuh, tidak bisa berputar sama sekali.
Mata hitam Lin Chen menatap Wang Lie tanpa belas kasihan.
"Dengar baik-baik, Kepala Keluarga Wang," suara Lin Chen sangat pelan, tapi menggema di kedalaman jiwa ayah dan anak itu. "Mulai besok, Turnamen Seratus Api akan dimulai. Nona Su Yue akan berpartisipasi dan ia pasti akan mengambil posisi pertama. Aku tidak ingin ada satu pun serangga dari Kuil Suci, terutama dari keluargamu, yang berani bermain curang atau mengganggunya."
Lin Chen menekan kakinya sedikit, membuat tulang rusuk Wang Lie berderit keras.
"Jika aku melihat ada kecurangan, atau Nona Su kehilangan satu helai rambutnya saja... aku akan kembali ke tempat ini, dan menghapus marga 'Wang' dari sejarah Benua Tengah. Apakah bahasaku cukup mudah dipahami?"
"P-Paham! Saya paham, Tuan! Keluarga Wang tidak akan berani ikut campur!" Wang Lie mengangguk histeris sambil menangis. Kesombongannya hancur total. Di hadapan eksistensi yang bahkan tidak bisa disentuh oleh serangannya, ia hanyalah seekor semut yang memohon nyawa.
"Bagus. Anak yang patuh."
Lin Chen mengangkat kakinya. Tanpa melirik Wang Teng yang sudah pingsan di kursi roda saking takutnya, Lin Chen berbalik, melangkah ke dalam kehampaan udara, dan menghilang tanpa jejak, meninggalkan aula yang hancur berantakan.
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah di atas Ibukota Benua Tengah.
Di dalam Paviliun Penginapan Awan Emas, Su Yue merenggangkan tubuhnya setelah semalaman bermeditasi. Ia merasa sangat segar dan berenergi. Lencana VIP berwarna emas miliknya tergeletak manis di atas meja.
Hari ini adalah pembukaan Turnamen Seratus Api.
Su Yue melangkah keluar dari kamarnya dan melihat Lin Chen sedang duduk santai di halaman paviliun, menyirami beberapa tanaman hias dengan teko kecil. Pakaian asistennya terlihat sangat rapi dan bersih.
"Selamat pagi, Kakak Senior. Kau terlihat sangat siap untuk membakar tungku-tungku para jenius kota ini," sapa Lin Chen dengan senyum ramah yang khas.
"Pagi, Lin Chen," balas Su Yue bersemangat. "Tentu saja! Hari ini adalah babak kualifikasi umum. Meski aku sudah punya lencana VIP untuk langsung masuk ke babak utama besok, aku ingin pergi ke Alun-Alun Teratai Merah untuk melihat tingkat persaingan para alkemis Benua Tengah."
Su Yue lalu mengernyit pelan. "Kau tidak begadang, kan? Wajahmu terlihat sangat tenang."
"Begadang? Tentu saja tidak," jawab Lin Chen polos. "Tadi malam sangat damai. Aku tidur dengan sangat nyenyak tanpa ada gangguan sama sekali."
Su Yue mengangguk percaya. "Baguslah. Aku sempat khawatir Keluarga Wang akan mengirim pembunuh bayaran malam-malam untuk membalas dendam karena kejadian di gerbang kemarin. Tapi syukurlah, sepertinya mereka lebih mengutamakan turnamen."
Mendengar itu, Lin Chen hanya tersenyum tipis, menutupi fakta bahwa Keluarga Wang saat ini mungkin sedang sibuk memesan lusinan perban dan memanggil tabib patah tulang terbaik di kota.
"Ayo berangkat, Kakak Senior," kata Lin Chen seraya meletakkan tekonya. "Panggung utama sedang menunggumu."