NovelToon NovelToon
My Husband Brondong

My Husband Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.

​Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19 - MHB

Keheningan yang menyelimuti apartemen malam itu terasa begitu berbeda dari keheningan kaku yang mereka miliki beberapa bulan lalu. Jika dulu sunyi di antara mereka adalah bentuk perang dingin, kini sunyi itu terasa seperti pelukan hangat setelah badai yang melelahkan.

​Lampu ruang tengah diredupkan, hanya menyisakan temaram dari lampu sudut yang memberikan rona keemasan pada furnitur. Maya duduk di sofa, masih dengan sisa-sisa adrenalin dari kemenangan besar di kantornya tadi siang. Di sampingnya, Arka duduk dengan posisi yang sudah tidak karuan. Kepalanya terkulai ke belakang, laptopnya yang masih menyala tergeletak di meja kopi dengan barisan kode yang kini tampak seperti lukisan abstrak bagi Maya.

​Perlahan, karena gravitasi dan kelelahan yang luar biasa, kepala Arka merosot. Dengan gerakan yang hampir tidak terasa, dahi pemuda itu mendarat di bahu Maya.

​Maya tersentak kecil. Napasnya tertahan. Aturan nomor enam, jangan bersentuhan fisik—mendadak terlintas di benaknya, namun segera ia tepis jauh-jauh. Ia melihat betapa lelapnya Arka. Napas pria itu teratur, berat, dan hangat, menembus kain kemeja tipis yang dikenakan Maya.

​Maya memberanikan diri untuk menoleh. Dari jarak sedekat ini, ia bisa memperhatikan setiap inci wajah Arka tanpa rasa canggung atau takut tertangkap basah.

​Di bawah cahaya temaram, Arka tampak jauh lebih muda, namun sekaligus lebih kuat. Maya melihat garis kelelahan di bawah matanya, jejak dari begadang semalaman demi meretas konspirasi di kantornya. Ia melihat rahang Arka yang tegas, yang biasanya mengeras saat ia sedang bersikap protektif, kini tampak relaks. Ada sedikit noda tinta di jari telunjuknya, dan aroma sabun mandi yang bercampur dengan bau kopi yang sudah dingin.

​Kenapa aku baru sadar kalau dia sehebat ini? batin Maya.

​Pikiran Maya melayang kembali ke hari pertama Arka menginjakkan kaki di sini. Ia teringat betapa ia sangat membenci ide pernikahan ini. Ia teringat betapa ia memandang rendah Arka, melabelinya sebagai "bocah", "beban", dan "gangguan" dalam hidupnya yang sudah teratur secara perfeksionis.

​Namun, gangguan itulah yang menyelamatkannya saat ia kehujanan. Gangguan itulah yang berdiri di depan mantan pacarnya yang angkuh. Dan gangguan itulah yang mempertaruhkan masa depan akademisnya hanya untuk membersihkan nama baik Maya dari tuduhan spionase industri.

​Maya menyadari sebuah kenyataan yang pahit sekaligus manis: hidupnya yang "teratur" dulu sebenarnya adalah hidup yang sepi. Arka tidak menghancurkan hidupnya; Arka justru memberinya warna pada sketsa hitam putih yang selama ini ia banggakan sebagai sebuah "karier sukses".

​Rasa bersalah mendadak menyerang Maya dengan kekuatan penuh. Ia teringat kata-kata kasarnya saat Arka hampir membakar dapur, atau tatapan menghinanya saat Arka mengaku ingin membuktikan diri.

​Tangan Maya bergerak ragu, hampir menyentuh rambut Arka yang berantakan, sebelum ia menariknya kembali. Ia merasa tidak pantas mendapatkan pengabdian sebesar ini dari seseorang yang terus ia remehkan.

​"Arka..." bisiknya sangat pelan, nyaris seperti embusan angin.

​Maya mendekatkan bibirnya ke telinga Arka, yakin bahwa pria itu sudah berada jauh di alam mimpi karena kelelahan yang luar biasa.

​"Maafkan aku ya," suara Maya bergetar, sarat dengan emosi yang selama ini ia tekan rapat-rapat. "Maaf karena aku pernah meremehkanmu. Maaf karena aku sempat menganggapmu beban. Ternyata, selama ini aku yang kekanak-kanakan karena terlalu sombong dengan posisiku. Terima kasih... sudah ada di sini. Terima kasih sudah jadi pelindungku."

​Maya memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh dan terserap ke dalam kaus yang dikenakan Arka. Ia merasa lega. Mengucapkan kata-kata itu, meskipun Arka tidak mendengarnya, terasa seperti melepaskan batu besar yang mengganjal di dadanya selama berbulan-bulan.

​Namun, apa yang tidak diketahui Maya adalah bahwa Arka baru saja setengah terbangun saat kepala Maya bergerak mendekatinya. Arka tidak benar-benar bangun sepenuhnya, ia berada dalam kondisi twilight sleep, sebuah fase di mana kesadarannya masih bisa menangkap rangsangan dari luar meskipun matanya enggan terbuka.

​Arka mendengar setiap kata. Setiap getaran dalam suara Maya merambat langsung ke hatinya.

​Awalnya, Arka ingin membuka mata dan memberikan satu godaan nakal seperti biasanya, mungkin berkata, "Wah, Senior akhirnya mengaku kalah ya?". Tapi ia mengurungkan niat itu. Ia merasakan ketulusan yang begitu besar dari nada bicara Maya. Ia merasakan betapa rapuhnya wanita yang selama ini ia anggap sebagai "Wanita Besi" tersebut.

​Jika ia bangun sekarang, suasana magis ini akan hancur. Maya akan kembali memasang temboknya, kembali menjadi kaku, dan kembali menjauh.

​Maka, Arka memilih untuk tetap diam. Ia berpura-pura masih tertidur lelap, meskipun jantungnya kini berdegup jauh lebih kencang daripada saat ia meretas server PT Megantara tadi malam. Ia justru sedikit menggeser kepalanya, mencari posisi yang lebih nyaman di bahu Maya, seolah-olah dalam tidurnya ia ingin merespons pengakuan tersebut.

​Maya, yang mengira Arka hanya bergerak dalam tidur, justru memberanikan diri. Ia tidak menjauh. Sebaliknya, ia menyandarkan kepalanya di atas kepala Arka. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, tidak ada aturan yang berlaku. Tidak ada kontrak, tidak ada gengsi.

​"Aku mulai suka kamu ada di sini, Arka," bisik Maya lagi, kali ini lebih tenang, sebuah pengakuan terakhir sebelum ia sendiri mulai terserang rasa kantuk yang berat.

​Di bawah temaram lampu apartemen, mereka berdua akhirnya tertidur di sofa. Maya dengan kepala yang bersandar pada Arka, dan Arka dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat di sudut bibirnya, sebuah senyum kemenangan yang bukan karena berhasil memecahkan kode komputer, tapi karena berhasil memecahkan kode hati seorang Maya Clarissa.

​Malam itu, pengakuan yang tak terucap secara langsung justru menjadi pondasi paling kuat bagi hubungan mereka. Mereka tidak lagi hanya dua orang yang berbagi alamat. Mereka adalah dua manusia yang akhirnya saling melihat, saling menghargai, dan perlahan, mulai saling jatuh cinta di antara barisan aturan yang kini tak lagi berarti apa-apa.

Bersambung.....

1
Teh Fufah
keren bingits bukan lumayan keren mayaaaa
Ari Atik
ingat maya egoisnu akan membuat pecahnya bahtera samudra rumah tanggamu.😡
Teh Fufah
karena aku senang, aku kasih mvote nya hari ini buat maya 😍 arkaaaa
Naelong: makasi kak udah mampir😍🙏
total 1 replies
Teh Fufah
klw dah cemburu kayak gini mah otw unboxing hihi
Teh Fufah
otw bucin loe may...
Ari Atik
yap betul sekali.....

karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......

rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
Teh Fufah
hadeh..... maya oh arka
Teh Fufah
senengnya hati ku
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
Ari Atik
mulai memahami satu sama lain....

good...😊
Ari Atik
arkanya gk jadi memperkenalkn diri,di kantornya maya kah?

memperjelas status pernikahan mereka...
Naelong: jadi tapi bukan sekarang ya😍
total 1 replies
Ari Atik
ya.. betul sekali langkah arka..
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
Ari Atik
kan...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡

lanjut thor....😊
Naelong: makasi udah mampir kak😍
total 1 replies
Ari Atik
muak dg egonya maya.....
Ari Atik
maya ...
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....

ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
Ari Atik
akting,sekaligus memanfaatkn keadaan....🤭😊😊
Ari Atik
ya sakitlah jadi arka....
suami yg tk di akui..😡
Ari Atik
sampai kapan maya bisa mempertahankn egonya....?
Naelong
makasi udah mampir kak🙏
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu, nggak pake lama... Semangat
Teh Fufah
mari kita berpetualang dengan kisah cinta ny sang berondong
Naelong: makasi udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!