Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Diminta Menikah
Gue baru aja balik dari Yogya dan lagi nyantai di apartemen pas chat dari Ibu Harti masuk. Ibu gue yang satu ini emang nggak pernah lelah.
Ibu Harti: Besok pulang ke rumah. Ada yang mau Ibu kenalin. Urusan pernikahan ini harus diselesaikan. Lu udah kepala tiga, kerja bagus, tapi masih suka main-main. Keluarga tekanan terus.
Gue menghela napas panjang. Tekanan dari Sinta soal anak, Poppy yang nunggu di Yogya, Rinda di Jakarta, Marita yang lagi mandiri, Dian yang baru melepas rindu, plus yang lain. Sekarang Ibu Harti ikut campur. Gue tahu ini nggak bisa ditunda lagi.
Pagi harinya gue pulang ke rumah orang tua. Ibu Harti udah rapi, senyum lebar. “Hari ini Ibu kenalin Aprilia. Anak temen Ibu. Baik, sopan, kerja di bank. Cocok banget sama lu.”
Aprilia dateng siang hari. Ceweknya cantik, umur 28, rambut panjang lurus, kulit putih, tubuh tinggi langsing dengan lekuk yang elegan. Dia pake dress krem sederhana, senyumnya manis dan malu-malu. Kami ngobrol di ruang tamu, Ibu Harti sengaja ninggalin kami berdua.
“Gue denger dari Ibu lu sering ke Yogya ya?” tanya Aprilia pelan.
“Iya, kerjaan cabang di sana. Lumayan padat.”
Obrolan kami lancar. Aprilia keliatan dewasa, punya prinsip, dan keluarganya baik. Ibu Harti bisik ke gue pas Aprilia ke toilet, “Ini yang terbaik menurut Ibu. Lu nikah sama dia, semua beres.”
Sore harinya, Ibu Harti nggak berhenti di situ. “Besok lagi ya. Ada Dr. Maya. Dokter spesialis anak. Pintar, mandiri, dan keluarganya juga deket sama kita.”
Dr. Maya dateng ke rumah besok sore. Penampilannya beda dari Aprilia lebih profesional, rambut pendek sebahu, kacamata tipis yang bikin dia keliatan intelek, tubuhnya atletis karena suka olahraga, kulit sawo matang yang sehat. Senyumnya percaya diri, suaranya tegas tapi lembut.
“Kita ketemu lagi ya,” katanya sambil jabat tangan gue. Kami ngobrol panjang soal pekerjaan, hobi, dan pandangan hidup. Maya cerita dia sibuk di rumah sakit tapi pengen punya keluarga yang harmonis. Ibu Harti keliatan sangat setuju.
Malam harinya gue mikir sendirian di kamar. Dari pilihan Ibu Harti, nggak ada yang kurang. Aprilia manis, lembut, tipe istri yang bakal ngerti kerjaan gue. Dr. Maya pintar, mandiri, bisa jadi partner yang kuat. Tapi gue? Gue terlalu banyak wanita di luar sana. Rinda yang mulai deket, Poppy dan Pipit di Yogya, Tia dan Anggi yang baru muncul, Dian, Marita, Vera… semuanya bikin gue bingung berat.
Akhirnya gue mutusin hubungi mereka berdua, tapi nggak barengan.
Malam pertama gue chat Aprilia.
Gue: Apr, gue serius. Mau nggak lu nikah sama gue?
Aprilia bales agak lama, tapi jelas seneng. Aprilia: Gue mau. Tapi lamar yang bener ya, Mas. Ketemu orang tua gue dulu, acara yang sopan.
Gue senyum baca balesannya. Aprilia emang tipe yang klasik.
Besok malamnya gue nelpon Dr. Maya.
“May, gue mikir serius. Lu mau nggak nikah sama gue?”
Maya ketawa pelan di telepon. “Langsung gitu? Gue suka lu kok. Tapi ya, lamar yang resmi. Gue nggak mau main-main. Keluarga gue juga harus setuju.”
Kedua-duanya mau. Tapi sekarang gue tambah bingung. Gue balik ke rumah Ibu Harti besok paginya.
“Ibu… gue bingung. Aprilia dan Maya bagus semua. Gue ajak nikah keduanya, mereka mau. Tapi gue nggak tahu harus pilih yang mana.”
Ibu Harti natap gue tajam, tapi ada senyum kecil. “Itu karena lu terlalu banyak main wanita di luar. Kalau dari pilihan Ibu, nggak ada yang kurang. Aprilia lebih lembut, cocok buat rumah tangga. Maya lebih kuat, bisa nemenin karir lu. Tapi pilihan akhir tetap di lu. Yang penting lu berhenti main-main. Nikah itu tanggung jawab besar.”
Gue duduk diam di ruang tamu. Ibu Harti lanjut ceramah panjang soal masa depan, anak, warisan keluarga, dan tekanan dari saudara-saudara gue yang udah pada nikah semua. “Kalau lu nggak nikah cepet, Ibu yang malu.”
Sepanjang hari gue mikirin pilihan ini. Siangnya gue ketemu Aprilia lagi di kafe deket rumah. Dia keliatan excited, tapi tetap anggun. “Gue udah bilang ke orang tua. Mereka setuju ketemu lu minggu depan.”
Gue pegang tangannya. “Gue seneng lu mau.”
Malam harinya gue ketemu Dr. Maya di resto deket rumah sakit tempat dia kerja. Maya lebih langsung. “Gue serius kalau lu serius. Tapi lu harus berhenti hubungan sama yang lain. Gue nggak mau jadi istri kedua atau cadangan.”
Kata-katanya ngena. Gue cuma bisa ngangguk.
Balik ke apartemen, Marita lagi ada. Dia liat muka gue kusut. “Ada apa? Keluarga tekan nikah lagi?”
“Iya. Ibu kenalin dua cewek bagus. Gue bingung.”
Marita senyum pahit. “Lu emang harus pilih suatu saat. Gue udah mandiri sekarang, nggak masalah kalau lu nikah.”
Gue peluk dia. Malam itu kami habiskan waktu bareng, tapi pikiran gue nggak tenang.
Besoknya gue balik ke Ibu Harti lagi. “Ibu, gue masih bingung. Bantu gue pilih.”
Ibu Harti menghela napas. “Kalau Ibu sih lebih suka Aprilia. Dia lebih kalem, bisa ngurus rumah. Tapi Maya juga bagus. Lu yang kenal mereka lebih dalam. Yang penting lu siap tanggung jawab. Jangan kayak dulu lagi.”
Gue keluar rumah dengan kepala penuh. Di kantor, Rinda nyamperin gue. “Mas udah balik? "
Gue peluk dia di ruangan, cium lembut, tangan gue remas dada kencangnya pelan. Rinda mendesah kecil. “Mas… ada apa? Keliatan banyak pikiran.”
Gue cerita sedikit soal tekanan keluarga. Rinda diam, tapi gue liat ada sedih di matanya. “Kalau Mas nikah, gue gimana?”
Gue nggak bisa jawab.
Sore harinya gue chat Poppy. Pipit yang video call duluan, “Om kapan balik? Pipit kangen.”
Poppy ambil HP, “Lu lama di Jakarta. Ada apa?”
Gue bilang soal keluarga. Poppy diam lama. “Gue ngerti. Tapi Pipit butuh ayah.”
Tekanan makin berat.
Malam harinya gue ketemu Dian lagi. Dia langsung tahu ada yang nggak beres. Kami ngobrol panjang, lalu lanjut ke adegan intim yang penuh emosi. Dian lebih agresif malam itu, seolah tahu ini mungkin salah satu malam terakhir.
Gue terbaring setelahnya, mikirin semua pilihan. Aprilia yang manis, Maya yang kuat, Rinda yang mulai deket, Poppy yang punya anak, dan yang lain. Semuanya bagus di cara mereka masing-masing. Tapi gue harus memilih satu untuk dinikahi sesuai keinginan Ibu Harti.
Pagi berikutnya gue balik ke Ibu Harti. “Ibu… gue masih butuh waktu. Tapi gue janji bakal pilih.”
Ibu Harti ngangguk. “Jangan lama-lama. Keluarga nunggu kabar baik.”
Gue keluar rumah dengan beban berat. Di mobil, gue buka galeri foto Aprilia, Maya, Rinda, Poppy, Pipit. Semuanya bikin gue tersenyum, tapi juga bikin pusing.
Hidup gue yang penuh godaan ini akhirnya sampai di persimpangan serius. Nikah bukan cuma soal cinta, tapi tanggung jawab besar. Dan gue harus memutuskan secepatnya sebelum semuanya semakin rumit.
btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍