NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Action / Wanita perkasa / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Komedi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
​Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
​Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
​"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pijat Saraf Dan Salam Perpisahan Untuk Sang Jenderal

​"Mohon ampun, Yang Mulia Permaisuri... matahari sudah mulai meninggi. Hamba mohon jangan menarik selimutnya kembali, atau teh melati yang hamba bawakan ini akan menjadi dingin," tutur Lily dengan suara lembut saat ia melangkah masuk membawa nampan perak berisi teh dan semangkuk bubur ayam yang aromanya menggoda.

​Alesia melongokkan kepalanya dari balik selimut, rambutnya yang acak-adakan tampak mengembang seperti singa lapar. "Berisik lu, Ly. Masih pagi juga. Lagian emang bidadari kalau tidur bisa bau iler apa?"

​Lily meletakkan nampan di atas meja kecil di samping ranjang. Ia membungkuk hormat dengan senyum yang sangat tipis dan terjaga di wajahnya. "Tentu tidak, Gusti Permaisuri. Namun, bidadari mana pun pasti akan kehilangan keanggunannya jika semalaman terus berguling ke sana kemari sambil meneriakkan nama 'Abah' dan kata-kata aneh tentang jantung yang... 'meleyot'?"

​Wajah Alesia seketika merona merah padam. Ia langsung melempar bantal bulu angsa ke arah pelayan setianya itu. "Heh! Mulut lu ya, kaga disekolahin bener-bener! Gue itu cuma... cuma lagi stretching vokal pagi, tahu!"

​"Mohon maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia," tawa Lily tertahan di balik telapak tangannya yang halus. "Namun hamba bicara jujur. Semalam saat Baginda Raja meninggalkan paviliun ini, wajah Beliau terlihat begitu damai, tidak sekaku biasanya. Bahkan para pengawal di luar gerbang sempat kebingungan, mereka mengira Baginda baru saja menerima anugerah besar dari dewata."

​Alesia memegang dadanya yang mendadak kembali berdetak kencang saat mengingat kecupan lembut Magnus di dahinya semalam. Sialan, pesona cowok fiktif berkedok raja ini benar-benar tidak main-main untuk kesehatan jantungnya.

​Baru saja Alesia hendak meraih cangkir tehnya, pintu paviliun terbuka. Sosok tinggi tegap dengan jubah kebesaran berwarna merah tua dan zirah perak yang berkilau melangkah masuk. Itu Magnus. Wibawanya sebagai penguasa Orizon tampak begitu mutlak pagi ini, namun begitu matanya bertemu dengan Alesia yang masih berantakan di atas ranjang, tatapannya langsung melunak.

​"Selamat pagi, Permaisuriku," sapa Magnus dengan suara rendahnya yang khas.

​Lily segera memberikan hormat yang dalam lalu buru-buru menyelinap keluar ruangan sambil cekikikan, meninggalkan Alesia yang langsung gelagapan merapikan rambutnya.

​"Eh, Bang Magnus... pagi," sahut Alesia canggung. "Tumben pagi-pagi udah rapi bener. Mau kondangan ke mana?"

​Magnus berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di kursi kayu yang ia gunakan semalam. Tanpa permisi, ia mengambil tangan kanan Alesia yang terbalut perban, memeriksanya dengan teliti. "Bagaimana tanganmu? Masih terasa sakit?"

​"Udah kagak, Bang. Salep buatan lu semalem paten bener. Kayak balsem otot serbaguna," jawab Alesia sambil tersenyum tipis.

​"Baguslah," Magnus menghela napas perlahan, matanya menatap Alesia dengan dalam. "Hari ini aku harus menghadiri sidang luar biasa. Jenderal Kael akan resmi dicopot dari jabatannya dan dikawal keluar dari ibu kota hari ini juga."

​Alesia menaikkan sebelah alisnya. "Oh, si Jenggot Naga itu beneran didepak hari ini? Bagus deh, ngurang-ngurangin polusi udara di istana."

​"Namun, ada satu hal," Magnus menjeda ucapannya, wajahnya kembali terlihat serius. "Kael meminta satu permintaan terakhir sebelum dia pergi. Dia ingin bertemu denganmu di lapangan depan gerbang istana. Dia bilang, dia ingin menyampaikan 'permohonan maaf' secara pribadi kepadamu di depan para prajurit."

​Alesia mendengus kencang. "Permohonan maaf pantatmu. Orang licik kayak dia mana ada kamus minta maaf di otaknya. Pasti mau nyari panggung atau mau ngancem gue tuh."

​"Aku sudah menolak permintaannya," kata Magnus tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu berada dekat dengan pria berbahaya itu lagi."

​Alesia justru melompat turun dari ranjang, membuat jubah tidurnya melambai. Ia berkacak pinggang dengan gaya menantang. "Dih, jangan dilarang dong, Bang! Justru kalau dilarang, dia bakal mikir kita takut. Biarin aja dia ketemu gue. Gue pengen denger, gonggongan anjing kejepit kayak gimana sih suaranya."

​Magnus menatap Alesia dengan pandangan sangsi. "Kau yakin? Kael adalah petarung yang licik. Di depan umum, dia mungkin tidak akan menyerang fisik, tapi dia bisa menggunakan kata-katanya untuk menjatuhkan martabatmu."

​Alesia menyeringai lebar, ia menepuk Golok Seliwa yang bersandar di dinding kamarnya. "Bang... lu lupa ya? Gue ini dididik di Rawa Belong. Urusan adu bacot sama adu mental mah makanan sehari-hari gue. Suruh dia siap-siap mental, ntar nangis kaga gue tanggung ya!"

​Melihat kepercayaan diri istrinya yang begitu meluap-luap, Magnus akhirnya tidak bisa menahan senyum tipisnya. "Baiklah. Tapi aku akan berdiri tepat di sampingmu. Jika dia berani melangkah satu jengkal saja lebih dekat dari yang seharusnya, kepalanya akan langsung menggelinding di tanah."

​"Siaaap, Bang Raja!" Alesia memberikan hormat ala militer yang kocak.

​Satu jam kemudian, di lapangan depan gerbang utama Istana Orizon.

​Ratusan prajurit berbaris rapi di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat. Di tengah-tengah lapangan, Jenderal Kael berdiri dengan tangan terborgol rantai besi berat. Zirah kebesarannya telah dicopot, menyisakan pakaian hitam lusuh yang membuatnya kehilangan keangkuhannya sebagai jenderal bintang lima.

​Ketika Magnus dan Alesia berjalan mendekat, bisik-bisik di antara para prajurit langsung mereda. Alesia berjalan dengan anggun, namun langkah kakinya yang kokoh menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak merasa terintimidasi.

P​Kael mendongak, matanya yang merah menatap Alesia dengan kebencian yang mendalam, meskipun ia mencoba memaksakan sebuah senyuman kaku di wajahnya yang kasar.

​"Yang Mulia Permaisuri," suara Kael terdengar parau saat ia membungkuk sedikit, tertahan oleh beratnya rantai di tangannya. "Hamba ingin meminta maaf atas kelancangan adik hamba, Rose, dan atas kekasaran hamba di lapangan latihan kemarin. Hamba harap... Anda berbesar hati memaafkan keluarga kami."

​Alesia berhenti tepat tiga langkah di depan Kael. Magnus berdiri di sampingnya dengan tangan yang bersiap di atas gagang pedang emasnya.

​"Minta maaf ya?" Alesia melipat tangannya di dada. "Sopir angkot di tempat gue kalau abis nabrak trotoar juga ngomongnya begitu, Jenderal. Tapi abis itu diulangi lagi."

​Kael mengetatkan rahangnya, matanya berkilat marah sebelum ia merendahkan suaranya hingga hanya bisa didengar oleh Alesia dan Magnus. "Jangan terlalu sombong, Permaisuri jalang. Kau pikir dengan membuang Rose dan mencopot jabatanku, kau sudah menang? Keluarga kami memiliki akar yang sangat dalam di kerajaan ini. Sekali roda berputar, kau dan rajamu ini akan memohon ampun di bawah kakiku."

​Mendengar hinaan itu, aura Magnus langsung berubah menjadi sangat membunuh. Langkahnya maju satu langkah, siap menebas leher Kael saat itu juga.

​Namun, Alesia menahan dada Magnus dengan tangan kirinya. "Sante, Bang. Biar gue yang urus."

​Alesia melangkah maju satu langkah, mendekati Kael yang langsung menyeringai puas, mengira Alesia ketakutan.

​"Jenderal... lu jalannya pegel-pegel ya habis dirantai?" tanya Alesia dengan senyum yang sangat manis, tampak seperti seorang permaisuri yang sangat perhatian di mata para prajurit dari kejauhan.

​"Apa maksudmu...?" tanya Kael bingung.

​Sebelum Kael sempat bereaksi, tangan kanan Alesia yang terbalut perban melesat maju dengan sangat cepat. Bukannya memukul, Alesia justru mendaratkan cengkeraman jarinya tepat di titik pertemuan saraf antara leher dan bahu kiri Kael—sebuah titik meridian mati rasa yang sangat rahasia.

​TAK!

​Seketika, mata Kael membelalak lebar. Seluruh otot di tubuh raksasanya mendadak kaku. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan rasa sakit yang luar biasa—seperti disengat ribuan lebah namun tanpa luka luar—langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.

​"A-Aaaakh..." rintih Kael dengan suara tertahan, tubuhnya perlahan melorot hingga berlutut di atas tanah berbatu. Keringat dingin sebesar biji jagung langsung mengucur deras dari dahinya.

​Para prajurit di sekitar mereka terkesiap. Dari kejauhan, tindakan Alesia hanya terlihat seperti tepukan ramah di bahu, namun efeknya membuat sang jenderal perkasa langsung bertekuk lutut.

​"Ini namanya 'Pijat Saraf Ramah Lingkungan' dari Depok, Jenderal," bisik Alesia tepat di telinga Kael yang sedang gemetaran menahan sakit yang tak tertahankan. "Biar di jalan lu kaga banyak tingkah. Titik saraf itu bakal bikin tangan kiri lu kaga bisa megang pedang selama tiga bulan ke depan. Anggap aja ini oleh-oleh manis dari gue."

​Alesia menarik tangannya kembali, lalu menepuk bahu Kael sekali lagi dengan santai. "Semoga selamat sampai tujuan ya, Jenderal! Jangan lupa kirim kartu pos kalau udah sampai perbatasan!"

​Kael hanya bisa menatap Alesia dengan ketakutan yang mendalam. Wanita di depannya ini bukan lagi seorang permaisuri lemah yang bisa mereka intimidasi. Dia adalah monster berwajah cantik yang memiliki pengetahuan beladiri yang tidak masuk akal.

​Magnus yang melihat kejadian itu dari jarak dekat menatap Alesia dengan binar mata yang semakin menyala. Rasa bangganya terhadap wanita ini kini sudah berada di tingkat yang tidak bisa diukur lagi.

​"Bawa dia pergi dari hadapanku," perintah Magnus dengan nada dingin pada para pengawal.

​Kael diseret pergi dengan tubuh yang masih lemas dan gemetar. Para prajurit yang menyaksikan kejadian itu langsung menatap Alesia dengan rasa hormat yang luar biasa tinggi. Mereka menyadari satu hal: Permaisuri Orizon yang baru adalah pelindung sejati takhta, yang tidak akan ragu menghancurkan siapa saja yang berani mengancam raja mereka.

​Alesia berbalik menghadap Magnus, lalu mengedipkan sebelah matanya. "Gimana, Bang? Salam perpisahan gue keren kaga?"

​Magnus tersenyum lebar—sebuah senyum tulus yang membuat seluruh prajurit di lapangan itu terperangah heran. Ia menggenggam tangan Alesia yang terbalut perban, lalu mengecupnya dengan lembut di hadapan semua orang. "Sangat keren, Permaisuriku. Sekarang, mari kita kembali. Aku ingin melihatmu berlatih dengan golok barumu."

​Alesia tertawa renyah, berjalan beriringan dengan suaminya kembali ke dalam istana, meninggalkan lapangan yang kini dipenuhi oleh decak kagum para prajuritnya.

1
Ika Fitri Ana
lanjut....👍👍👍
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Pawon Ana
si Siti ini devinisi genius jalanan...,🥰
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Muft Smoker
aduuuuh koq ibu suriii begini amat sifat ny jelek ,, kaya sofa lama Blum di ganti kulit ny ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: /Grin//Proud//Proud/
total 2 replies
Muft Smoker
awaas ekoor ny terbang alessia🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
enk banget kasih nama orang ,, kasihan si naga takut gx terima jenggot ny di samain ma si kael ikan ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx bnr ad aja ide nama yg selalu muncul di luar kepala ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Muft Smoker
astgaaa permaisuri senjata ny goloook ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,, siap2 jdi kurus anda gustaf🤭🤭🤭🤭🤭🤭 ,, permaisuri gx bisa d tindas lgiiii😏😏😏😏
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
ni nama ny permaisuri jaman emansipasi🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
Muft Smoker
lanjuut kak
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Muft Smoker
raja di panggil abank🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣 ,, catatan baru dlm sejarah ini ,,
Muft Smoker: bnr kak ,, anak abaaah di lawan 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 4 replies
Muft Smoker
kak baru bab awal loo tp udh seruuu liat tingkat alessi yg apa adany ,,
semangat trus ya kak nulis ny
Muft Smoker: sama2 kak
total 2 replies
Muft Smoker
💯 buat lily🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
duuh korban tabrak lari gerobak gorengan🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣


hai kak ,,
aq mampir ksniii
Muft Smoker: sama2 kak
total 2 replies
Hasnawiyah Ansar
iya bener sekali tebakan anda
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
lucuk, keren, gerrrrr banget /Joyful/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
baru bab satu aja udah kocaggh banget🤣
Ariska Kamisa: Terimakasih,
stay read kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Pawon Ana
ini krakter anak Betawinya positif thinking ya tipenya....jadi asyik orangnya...🤭✌️
Ariska Kamisa: dia anak bae bae kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ika Fitri Ana
semua ceritanya bagus..simpel tidak berbelit...jadi tidak membosankan cerita2nya....rekomend banget.
Ika Fitri Ana
semangat ..bagus ceritanya..semoga tetap menarik seperti cerita lainnya thor...👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!