Guntur Abimanyu, seorang CEO muda yang hampir berumur 30 tahun dipaksa untuk menikah tapi tidak ingin menikah.
"JIKA AKU MENIKAH HANYA UNTUK MENGHASILKAN ANAK, AKU BISA LAKUKAN SEKALI TEMBAK KEPADA WANITA MANAPUN! JADI TIDAK PERLU MENIKAH" serunya kepada kakek serta ayah ibunya.
Rustam sang kakek yang memegang kendali perusahaan ingin cucu laki laki satu satunya ini segera menikah. Begitupun Randi dan Ela, orang tua Guntur juga ingin segera menikahkan putra sulungnya itu.
"Baiklah kalau begitu, buktikan kemampuan menembak benihmu kepada wanita yang kakek dan orang tuamu pilih" ucap sang kakek.
"OKE SIAPA TAKUT!!" seru Guntur menerima tantangan.
Tapi ternyata takdir berkata lain, setelah kesepakatan ini dibuat, Guntur bertemu dengan wanita yang meninggalkannya dengan cinta terdalam.
Jadi siapa yang menang dalam taruhan keluarga ini? Apakah wanita yang kembali datang atau wanita yang dipilihkan kakek serta orang tuanya, mampu membuat Guntur membuktikan keperkasaannya? Baca novel ini dan dukung terus yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAH!
Setelah makan siang bersama, mereka pun kembali ke kediaman keluarga Abimanyu.
"Oh ya, apakah aku bisa meminta sesuatu pada kalian, Mas Guntur dan Elora?" tanya Ratih tiba tiba saat akan masuk kedalam rumah.
"Iya, sayang. Katakan saja" jawab Guntur.
"Ya bisa dong" jawab Elora menyusul.
"Hmm..apakah boleh jika kehamilan kembar ini kita sembunyikan dulu karena kondisi salah satu janin masih belum baik?" tanya Ratih dengan raut wajah sendu.
Elora dan Guntur saling tatap sesaat lalu kembali menatap Ratih.
"Kenapa?" tanya Guntur heran.
"Aku takut jika keluarga mu nanti terlalu berekspektasi tinggi kepada kehamilan ini. Aku hanya tidak ingin mengecewakan mereka" jawab Ratih.
"Aku tidak setuju. Bagaimanapun kedua janin ini anak kita, baik kondisinya sudah baik maupun tidak. Kakek, papi dan mami berhak mengetahuinya" jelas Guntur.
"Benar, kata abang, Kak Ratih. Kedua janin ini juga adalah calon keponakanku, janganlah disembunyikan hanya karena perkembangannya masih belum terlihat baik. Aku yakin, mereka akan baik baik saja berdua" tambah Elora.
Ratih menatap adik kakak didepannya ini bergantian lalu tersenyum tipis.
"Baiklah, aku setuju dengan kalian. Abaikan saja permintaanku barusan ya. Aku harus optimis untuk kesehatan kedua janin ini" sahutnya.
Lalu bertiga langsung masuk ke dalam rumah, mereka menemui Rustam, Randi, dan Ela di ruang keluarga karena para sesepuh rumah ini sudah menunggu.
Mereka terlihat terkejut saat mendengar kehamilan Ratih akan kembar, apalagi Ela yang sangat terlihat jelas bagaimana dirinya menahan untuk menunjukkan rasa bahagianya dengan wajah cemberut dan tidak puas.
Sedangkan Rustam dan Randi, ayah dan anak ini terlihat bahagia saat mendengar kabar ini.
"Kakek hanya berpesan, segeralah kalian menikah dan selesaikan urusan ini secepatnya. Aku tidak mau calon kedua cicitku lahir tanpa ikatan pernikahan orang tuanya" pesan tetua keluarga Abimanyu.
"Baik, kakek. Dalam minggu ini akan aku usahakan untuk segera menikahi Ratih" ujar Guntur.
Rustam menganggukkan kepala mengerti.
Setelah berbincang beberapa saat, Elora menawarkan diri untuk menemani Ratih tidur di kamarnya.
Namanya juga belum sah menikah, tidak mungkin Guntur dan Ratih tinggal di kamar yang sama dirumah keluarga.
.
Beberapa hari kemudian, urusan surat menyurat pernikahan Guntur dan Ratih sudah di urus di KUA kecamatan Karawang dimana keluarga mempelai wanita berada.
Dibantu, Herman, teman Julian, komunikasi dengan ayah Ratih yaitu Darto.
Kondisi Darto ternyata cukup kasihan. Putra laki lakinya masih saja menyulitkan dengan hal hal buruk seperti judi, mabuk, adu ayam membuatnya mau tidak mau masih terhubung dengan hal itu.
Sampai sampai, dia sakit pun, Reno tidak peduli dan terpaksa Herman bawa ke rumah sakit untuk berobat.
Hal ini terjadi H-1 jadwal pernikahan Ratih dan Guntur. Herman menginformasikan hal ini kepada Guntur melalui Julian.
Awalnya Guntur berniat menyembunyikan info ini dari calon istrinya, namun ia merasa bersalah.
Saat akan berangkat ke Karawang diantar Julian dan tentu saja Elora ikut juga menggunakan mobil pribadi, ia pun bercerita.
"Sayang, aku dapat info dari Julian bahwa ayahmu sedang sakit. Kemarin Herman mengantarkannya berobat. Pemeriksaan dokter mengatakan beliau terkena jantung koroner dan paru paru basah" jelas Guntur.
Ratih terdiam dan hanya menatap suaminya datar.
"Hmm..aku tidak tau harus merespon apa dengan kabar ini, tapi apakah ayahku saat ini sudah baik baik saja?" tanyanya.
"Alhamdulillah sudah lebih baik" jawab Guntur.
"Syukurlah. Itu sudah cukup untuk saat ini" sahut Ratih lalu menatap jendela samping ke luar.
Pikirannya kembali ke ingatan dimana dia dijodohkan dengan pria tua, membantu ayahnya untuk melunasi hutang sampai menjual diri, lalu kekerasan kepada ibu dan dirinya, membuat wanita hamil ini kebingungan dengan perasaannya.
Namun, ayah tetap ayahnya. Pria yang sudah hadir sejak dirinya lahir di dunia, merawat dan pernah menyayanginya sebagai anak.
Guntur meringkuh Ratih untuk memeluk wanita itu dari samping memberikan ketenangan dan memberikan pundak untuk bersandar.
Sesampainya di penginapan, Guntur, Ratih, Elora, dan Julian menyamar dengan pakaian biasa.
Guntur tetap akan menyamar menjadi Abi.
Ia pun meminjam 2 motor kepada penjaga penginapan.
Setelah mendapatkan kendaraan, mereka berempat pergi ke rumah kos kosan Darto dan Reno. Disana sudah disiapkan meja akad serta beberapa orang yang mendekorasi sederhana suruhan Herman.
Herman disini mengaku sebagai keluarga Abi yang membantu pernikahan karena tinggal di Karawang.
Darto tidak curiga dan percaya saja, namun Reno merasa ada yang aneh.
"Kok bisa pria miskin itu mendapatkan keluarga yang baik dan terlihat berada seperti Herman?" batinnya, namun masih belum terbukti.
Kedatangan Guntur, Ratih, Elora, dan Julian ternyata sudah ditunggu banyak orang. Selain ada penghulu, Pak RT, Pak RW, ada juga para tetangga yang kepo seperti apa suami janda juragan Supri di kampung.
"Eh lihat itu, calon suami Ratih"
"Iya, ganteng ya tapi sayang kayaknya miskin"
"Halah, ini tuh cinta sementara. Mana mungkin ada yang mau sama Ratih yang ayah sama kakak laki lakinya suka judi? Bikin malu keluarga"
"Tapi kalau diamati, cowoknya itu ganteng juga ya meskipun terlihat miskin"
"Apalagi dibandingkan sama almarhum Juragan Supri ya jauh lah ya"
"Hust! Jangan ngomongin orang yang udah gak ada"
Banyak omongan omongan tetangga mulai menyeruak menilai Guntur dan Ratih yang baru datang untuk melangsungkan pernikahan.
Setelah masuk lokasi akad, proses ijab qabul langsunh dilakukan setelah memastikan dokumen benar.
"Saya nikahkan, putri kandung saya, Ratih Agustina, dengan saudara Guntur Laksana Abimanyu dengan mas kawin uang tunai sebesar 500 ribu dibayar tunai"
"Saya terima nikahnya Ratih Agustina Bin Bapak Darto Suprapto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"
"SAH!!" seru yang menyaksikan ijab qabul sederhana itu.
Ratih menitihkan air mata bahagia saat mencium punggung tangan Guntur pertama kali sebagai suami.
"Tolong jaga putri ku, ya Nak Abi. Dia sudah menderita karena aku gagal menjadi ayah yang baik" ucap Darto berpesan dengan raut wajah benar benar menyesal dan pucat karena masih sakit.
"Pasti, ayah. Aku akan menjaga, menyayangi, dan melindungi putri anda dengan nyawaku seumur hidup" sahut Guntur.
Reno tidak banyak tingkah. Ia mengucapkan selamat kepada adik dan adik iparnya lalu pergi entah kemana.
Para tetangga pun sudah bubar setelah ikut mendengarkan kata "SAH" dari saksi dan penghulu.
Tiba tiba datang 2 gerobak makanan, ada bakso dan mie ayam datang didepan kosan Darto.
Ternyata Herman yang memanggilnya untuk melayani pesanan keluarga serta para tetangga.
Tetangga yang tadinya sudah bubar jadi kembali meramaikan kedua gerobak itu.
Guntur dan Ratih serta kenalan dan keluarga mempelai pun ikut makan.
Acara pernikahan sederhana ini sungguh berkesan dan lancar hingga menjadikan 2 sejoli sebagai suami istri yang sah dimata hukum dan agama.
Guntur dan Ratih sah menjadi pasangan suami istri setelah melakukan kesalahan besar untuk memulai hubungan kembali sebagai sepasang kekasih.
*Namun manusia tidak ada yang sempurna, tapi juga tidak dibenarkan untuk melakukan hubungan terlarang sebelum menikah. Lebih nikmat dan lebih puas jika hubungan diawali dengan halal serta tidak membuat dosa besar.