NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

POV ADRIAN

Aku berdiri tegak di dekat dinding kaca besar ruang kerjaku, menyilangkan kedua tangan di depan dada sembari menatap jalanan ibu kota di hari Sabtu pagi ini. Suasana kantor hari ini sangat sepi dan tenang, kontras dengan hari kerja biasanya.

Aku melirik jam tangan pergelangan kiriku.

08.00.

Belum ada tanda-tanda keberadaan sekretaris baruku. Aku menaikkan sebelah alis. Padahal kemarin aku sudah menegaskan padanya untuk datang jam delapan tepat dan tidak ada kesempatan kedua. Apa gadis itu berani menantang ucapanku, atau dia sengaja mengulur waktu agar aku kesal?

Aku terus memperhatikan pintu ruangan, menunggu dengan sabar sembari menghitung waktu di dalam hati.

08.05.

Cklek.

Pintu kayu ruanganku akhirnya terbuka. Sosok Aruna muncul dari balik pintu dengan napas yang sedikit terengah-engah dan rambut yang agak berantakan, seolah dia baru saja berlari mengejar waktu. Penampilannya hari ini sangat kasual tanpa riasan tebal, hanya bibirnya yang tampak sedikit merona kemerahan.

Namun, pandanganku langsung teralih pada kedua tangannya. Di tangan kanan, dia menenteng sebuah tas kain kecil yang tampak rapi. Sementara di tangan kirinya... dia membawa sebuah kantong kresek hitam berukuran sedang.

Aku hampir saja mendengus geli di tempat. Sungguh kombinasi yang sangat tak terkira. Ada-ada saja tingkah laku gadis ini setiap harinya yang berhasil membuatku heran.

Aku membalikkan tubuh sepenuhnya, memasang wajah datar andalanku, lalu menatapnya tajam. "Jam berapa ini, Aruna?" tanyanya dengan suara berat yang menggema di ruangan sepi itu.

Aruna mengerjapkan mata bulatnya, lalu menatap jam dinding dengan ekspresi yang luar biasa polos tanpa dosa. "Jam delapan lebih lima menit, Pak Adrian."

Aku tidak membalas ucapannya. Aku hanya menghembuskan napas pendek lalu berjalan santai menuju kursiku dan mendudukkan diri di sana. Tatapanku masih mengunci pergerakannya.

Aruna melangkah mendekati meja kerjaku dengan sedikit ragu. Dia kemudian meletakkan tas kain yang dibawanya tepat di hadapanku. "Ini... untuk Bapak," ujarnya pelan.

Aku melirik tas kain itu, lalu mendongak menatapnya. "Apa ini?"

"Bekal sarapan buat Bapak. Sesuai janji saya kemarin," jawabnya dengan nada yang sengaja dibuat sopan, walau aku tahu di dalam hatinya dia pasti sedang mengomel.

Sudut bibirku berkedut kecil, menahan rasa senang yang mendadak membuncah di dada. Jadi dia benar-benar bangun pagi dan memasak untukku? Aku melirik ke arah tangan kirinya yang masih setia meremas kantong kresek hitam lecek.

"Lalu, itu apa yang kamu bawa?" tanyaku lagi sambil menunjuk kresek hitam tersebut dengan daguku. "Bawa apa kamu?"

Mendengar pertanyaanku, wajah Aruna seketika berubah cerah. Rasa canggungnya menguap begitu saja, berganti dengan binar antusias yang sangat kentara.

"Oh, kalau yang ini..." Aruna mengangkat kresek hitam itu dengan bangga, lalu buru-buru membukanya hingga aroma gurih minyak langsung menguar memenuhi ruangan wangi ini. "...tadi pas saya jalan kaki ke sini, ada abang-abang gorengan lewat di depan, Pak! Kebetulan masih anget banget baru diangkat. Bapak mau nggak? Ini ada bakwan sama tahu isi, enak banget buat temen ngopi pagi-pagi!" tawarnya dengan sangat bersemangat, memamerkan deretan gorengan berminyak itu tepat di hadapan Direktur Utama.

Aku terpaku menatap kantong kresek hitam di depanku, lalu beralih menatap wajah polosnya yang tampak sangat puas menyodorkan gorengan pinggir jalan ke mejaku. Gadis ini benar-benar tidak tertebak. Di saat orang lain gemetar menghadapiku, dia malah dengan santai menawariku gorengan bakwan. Sial, rasanya pertahanan dingin yang kubangun sejak tadi runtuh seketika hanya karena melihat tingkahnya ini.

Aku baru saja hendak merespons tawarannya tentang gorengan itu, ketika tiba-tiba Aruna melakukan sesuatu yang sama sekali tidak pernah kuduga.

Tanpa permisi, dia langsung menarik salah satu kursi kerja di hadapan mejaku, lalu mendudukkan dirinya di sana. Gadis itu menopang dagunya dengan kedua tangan, menatapku lurus-lurus dengan sepasang mata bulat yang berbinar terang, penuh antusiasme yang tertular dari gorengan hangat di tangannya.

Aku tersentak di tempat. Alisku menukik tajam, menatap kelakuannya yang kelewat berani ini. "Ngapain kamu duduk di situ, Aruna? Siapa yang menyuruhmu duduk?" tanyanya, mencoba mengembalikan wibawaku yang mulai goyah.

Bukannya takut atau gelagapan seperti kemarin, Aruna malah memberikan senyuman polos. "Kan saya mau nemenin Bapak sarapan. Ayo, Pak, dimakan dulu bekalnya selagi masih hangat. Gorengannya juga, nih!" serunya santai, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada bicaraku yang dingin.

Aku menggelengkan kepala pelan, benar-benar habis pikir. Sikap Aruna hari ini berubah drastis. Tidak ada lagi kecanggungan yang kaku, tidak ada lagi gestur formal yang berjarak seperti hari pertamanya bekerja kemarin. Dia tampak jauh lebih santai, lepas, dan... entah kenapa, hal itu justru membuatku merasa jauh lebih nyaman. Topeng diktatorku perlahan-lahan melonggar dengan sendirinya.

Aku mengulurkan tangan, meraih tas kain kecil yang diletakkannya tadi, lalu membuka pengaitnya. Di dalamnya ada sebuah kotak makan yang tertata sangat rapi. Begitu tutupnya kubuka, aroma manis gurih yang sangat menggugah selera langsung menguar, berpadu sempurna dengan wangi segar sayuran.

"Apa ini?" tanyaku, berpura-pura tenang padahal cacing di perutku sudah mulai berdemo melihat tampilannya yang sangat menggiurkan.

"Itu Daging Sapi Tumis Teriyaki, Pak. Terus sayurnya Tumis Brokoli Wortel Jagung Muda," jawab Aruna bangga, jarinya menunjuk-nunjuk isi kotak makan itu dengan semangat. "Dagingnya sudah saya marinasi semalaman, lho. Dijamin bumbunya meresap sampai ke dalam. Dicoba deh, Pak!"

Mendengar penjelasannya bahwa dia sampai merelakan waktu semalam untuk memarinasi daging ini demi aku... ada letupan manis yang tak terbendung di dalam dadaku. Aku mengambil kotak makan itu, berniat mencicipinya. Namun, saat aku melirik ke dalam tas kainnya, aku tidak menemukan alat makan apa pun.

"Sendoknya mana, Aruna? Saya harus makan pakai tangan?" tanyaku sambil menaikkan sebelah alis.

"Eh?"

Binar di wajah Aruna seketika padam, berganti dengan ekspresi syok yang amat lucu. Dia buru-buru menyambar tas kainnya, merogoh bagian dalamnya dengan panik, lalu menepuk jidatnya sendiri dengan keras.

"Astaga! Saya lupa bawa sendok, Pak!" serunya panik, langsung bangkit berdiri dari kursi hingga kresek hitam berisi gorengannya hampir tersenggol. "Aduh, maaf, Pak! Efek buru-buru tadi. Sebentar, ya, Pak, saya ambil sendok dulu di pantry belakang!"

Tanpa menunggu persetujuan, Aruna langsung berbalik dan setengah berlari keluar ruangan, meninggalkan aku sendirian yang hanya bisa terpaku menatap pintu kayu yang tertutup.

Perlahan, senyuman yang sejak tadi kutahan setengah mati akhirnya lolos begitu saja. Aku bersandar pada kursi, menatap kotak makan buatan Aruna di hadapanku dengan perasaan yang menghangat. Sifat ceroboh dan santainya hari ini benar-benar membuatku tidak bisa berhenti tersenyum. Hari Sabtu yang kupikir akan berjalan membosankan dengan tumpukan berkas, tampaknya ini akan menjadi hari favorit baru dalam hidupku.

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!