NovelToon NovelToon
Air Mata Di Atas Mahkota

Air Mata Di Atas Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Frenzy hrp

Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.

Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.

Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.

Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hari pertama

Sinar matahari pagi baru saja menyentuh sudut jendela kontrakan, Kayla sudah rapi. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja. Lembaran kontrak digital yang dia tanda tangani beberapa hari lalu kini resmi berjalan.

Di atas meja kayu kecil di sudut kamar, laptop sudah menyala. Sebuah buku catatan kosong dan pena tergeletak di sampingnya, siap menampung instruksi dari perusahaan.

Namun, kenyataan bekerja dari rumah ternyata tidak seindah teori di dalam kepalanya.

Tepat saat platform online meeting berbunyi menandakan sesi briefing dimulai, sebuah suara tangisan melengking memecah keheningan kamar. Arsen terbangun. Bayi mungil itu tampaknya tahu bahwa ibunya sedang punya urusan penting.

"Iya, Sayang, sebentar ya," bisik Kayla panik.

Dia buru-buru memakai earphone, mengeklik tombol join meeting, lalu dengan cepat menggendong Arsen ke dalam pelukannya. Tangannya bergerak lincah menimang sang anak, sementara matanya terfokus pada layar laptop.

Suara supervisor di seberang sana mulai menjelaskan poin-poin tugas. Kayla mendengarkan dengan saksama sambil tangannya sibuk mencatat poin penting.

Tantangannya ganda: dia harus mencerna arahan pekerjaan, menenangkan Arsen yang mulai rewel, dan memastikan suaranya tetap di-mute agar tangisan bayinya tidak mengganggu rapat.

Punggungnya mulai terasa pegal dalam waktu lima belas menit. Keringat dingin setitik demi setitik muncul di pelipisnya. Untuk sesaat, sebuah keraguan menyelinap di hatinya.

Apakah aku benar-benar bisa melakukan ini semua sendirian?

Sesi briefing akhirnya selesai, menyisakan daftar analisis data yang langsung dikirim ke emailnya. Kayla mengembuskan napas lega yang panjang. Namun, itu baru permulaan.

Dia mulai meletakkan Arsen yang sudah agak tenang di atas kasur, lalu jarinya mulai menari di atas keyboard. Analisis sederhana, Ini keahliannya.

Belum genap satu jam bekerja, Arsen mulai merengek. Botol susunya kosong. Kayla terpaksa bangkit, berjalan cepat ke dapur kecil untuk mencuci dan menyeduh susu baru.

Baru saja dia kembali duduk dan mengetik dua baris kalimat, aroma tidak sedap tercium. Popok Arsen harus diganti. Kayla kembali menutup laptopnya, beralih menjadi seorang ibu yang cekatan membersihkan bayinya.

Begitu dia kembali ke depan layar, Arsen kembali menangis. Kali ini karena bosan diletakkan terlalu lama. Dia ingin digendong.

Di ruangan itu, tidak ada asisten rumah tangga yang berlarian saat dipanggil. Tidak ada pengasuh bayi dengan seragam rapi. Tidak ada keluarga besar Wijaya yang biasanya memiliki belasan pelayan untuk mengurus hal-hal sepele.

Hanya ada Kayla. Dan dunianya yang baru.

Lelah fisik itu datang lebih cepat dari yang dia duga. Di tengah kekacauan kecil itu, Kayla perlahan menyadari satu hal. Tantangan terbesarnya saat ini bukan rumitnya rumus Excel atau analisis pasar,

melainkan bagaimana membagi dirinya secara adil; menjadi ibu yang utuh, sekaligus menjadi profesional yang kompeten.

Matahari sudah meninggi ketika pintu kontrakan diketuk dari luar. Mbak Rina datang dengan senyum ramahnya yang biasa.

Begitu melangkah masuk, wanita paruh baya itu langsung menangkap raut wajah Kayla yang kelelahan dan laptop yang masih menyala di atas meja. Mbak Rina langsung mengerti situasi yang terjadi.

"Duh, jagoan kecil Mbak Rina lagi ganggu Ibunya kerja ya?" kata Mbak Rina hangat. Tanpa diminta, dia langsung mengambil alih Arsen dari gendongan Kayla. "Biar Mbak bawa ke depan dulu ya, Kayla. Kamu selesaikan dulu kerjaannya. Bos kecil ini aman sama Mbak."

Seketika itu juga, keheningan yang mahal kembali ke kamar Kayla.

Untuk pertama kalinya hari itu, Kayla bisa duduk dengan tegak. Dia menarik napas dalam-dalam, mengendurkan pundaknya yang tegang, dan kembali fokus pada layar. Jari-jarinya bergerak jauh lebih cepat sekarang. Tanpa gangguan, kemampuannya yang sesungguhnya keluar.

Momen sederhana itu menepuk pundak Kayla dengan lembut. Mengingatkannya bahwa di tempat baru ini, dia tidak benar-benar sendirian.

Dia memang kehilangan kemewahan rumah Wijaya. Dia kehilangan status sosialnya. Namun di sini, di ruang sempit ini, dia justru mulai menemukan orang-orang baru yang tulus peduli padanya tanpa syarat.

Pukul empat sore, tugas pertama itu akhirnya selesai. Kayla membaca ulang hasil analisisnya dari atas ke bawah. Setelah memastikan semuanya sempurna, dengan jempol yang sedikit gemetar, dia menekan tombol send. Ada rasa cemas yang mendadak menyerang penantiannya.

Dua jam kemudian, sebuah notifikasi email masuk di ponselnya. Balasan dari supervisor perusahaan.

Kayla membukanya dengan jantung berdebar.

Hasil analisis yang sangat luar biasa, Kayla. Rapi, datanya akurat, dan poin-poin evaluasinya sangat mudah dipahami oleh tim eksekusi. Kerja bagus untuk hari pertama.

Kayla terpaku menatap layar ponselnya. Kata demi kata itu dibacanya berulang kali. Bagi orang lain, itu mungkin hanya email basa-basi dari seorang atasan.

Namun bagi Kayla, kalimat itu terasa seperti sebuah guyuran air segar di padang pasir.

Itu adalah pengakuan Atas kemampuannya.

Di rumah itu, dia hanya dinilai dari seberapa patuh dia pada mertua, atau seberapa tenang dia menerima pengabaian suaminya.

Hari ini, di tempat ini, dia dihargai karena kompetensinya sendiri. Sebagai Kayla Aninditha.

Malam telah larut. Suara jangkrik terdengar lamat-lamat dari luar kontrakan. Di dalam kamar, Arsen sudah tertidur pulas dengan posisi berbantalan lengan kecilnya.

Kayla duduk di tepi kasur, bersandar pada dinding yang catnya sedikit terkelupas. Di tangannya, layar ponsel menampilkan sebuah notifikasi dari m-banking. Pembayaran awal untuk proyek pertamanya telah masuk.

500.000

Angkanya tidak seberapa jika dibandingkan dengan uang bulanan yang dulu ditransfer Adrian ke rekeningnya. Sangat jauh.

Namun, Kayla menatap angka itu dengan mata yang berkaca-kaca. Uang itu tidak datang dari belas kasihan orang lain.

Uang itu tidak datang sebagai upah dari rasa sabarnya menahan sakit hati. Itu adalah uang yang dihasilkan oleh keringatnya sendiri.

Dia menoleh, memandangi wajah polos Arsen yang sedang bermimpi.

Untuk pertama kalinya sejak melangkah keluar dari gerbang tinggi rumah Wijaya, Kayla tidak lagi merasa ketakutan. Rasa tersesat yang menyiksanya selama beberapa minggu ini perlahan menguap.

Jalan di depannya pasti masih akan panjang dan melelahkan. Namun setidaknya malam ini, dia tahu satu hal pasti.

Dia sudah berhasil melangkah maju. Dan dia tidak akan pernah berbalik lagi.

1
Mundri Astuti
semangat Kayla ...
Mundri Astuti
palagi ntar dia ketemu Kayla dlm versi terbaiknya, dan ternyata Keyla sdh bersama org yg tepat, beuh nangis" dah kau Adrian....ngga inget anak kaukah Adrian
Mundri Astuti
semoga lekas sehat kembali KK author
Mundri Astuti
dr. Raditya kayanya yak 🤔
Mundri Astuti
bukannya Kayla dpt bonus ma dp byran tenaganya yak, knapa ga ambil kosan yg bersihan minimal, kan anakmu masih merah kayla
marwah: abis biaya rumah sakit kak Kayla disana 2 minggu devan bayar nya cuman seminggu
total 1 replies
Hari Saktiawan
cerita yang bagus lanjut
Mundri Astuti
next thor
Mundri Astuti
masih kurang thor 😄
Mundri Astuti
tegang juga euy
Mundri Astuti
kereennn kamu Kayla
Mundri Astuti
jangan lupa gugat cerai si bunglon Kayla, tapi sebelumnya kamu harus kuat dulu secara finansial biar bisa melindungi arsen
Yusria Mumba
ya nangung cerita ny pendek, nda seru ahh
marwah: terimakasih kakak cantik udah mampir dan dukung ceritaku mohon sabar ya author lagi bingung bikin jalan Kayla kedepannya, kan dia gak punya apa-apa sekarang kalo langsung ngemis ke devan jadinya gak seru😇😇
total 1 replies
Yusria Mumba
laki2 kurang ajar,
Yusria Mumba
nayla kenapa mesti berhan,pergi aja
rumah poke
mau nyimak dl
𝚔𝚞𝚌𝚒𝚗𝚐 ამოყჹ
🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!