“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Sebuah Janji
Seroja terdiam beberapa detik sebelum akhirnya kembali memijat kaki Ryu.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Seroja akhirnya. Suaranya tetap lembut dan tenang.
"Aku hanya penasaran," jawab Ryu. "Biasanya kau jadi dukun beranak di kampung. Tapi di kota... kau tahu sendiri, banyak bidan dan dokter."
Seroja tersenyum tipis sambil mengoleskan minyak di kaki Ryu. "Menurutmu, aku harus bagaimana?"
Ryu memandang Seroja yang kembali memijat kakinya. "Aku gak masalah kalau kamu mau bekerja, mau diam saja di rumah jadi ibu rumah tangga, atau... menempuh pendidikan. Semuanya terserah kamu. Yang penting kamu tetap menjaga dirimu."
Lalu ia cepat-cepat menambahkan. "Jangan khawatir. Kalau kamu bekerja atau melanjutkan pendidikan, aku gak bakal mengurangi jatah bulananmu. Gajimu tetap milikmu pribadi. Dan kalau kamu melanjutkan pendidikan, aku bakal tanggung seluruh biayanya."
Seroja akhirnya menatapnya. Ia tak menyangka Ryu akan bicara seperti ini. Pria itu memberinya ruang untuk berkembang dan memilih.
Ryu mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa lihat aku kayak gitu?"
Seroja akhirnya tersenyum. Tangannya tetap memijat. "Aku gak nyangka kamu begitu fleksibel."
Ryu menyipitkan matanya. "Apa kau pikir aku tipikal suami patriarki?"
Seroja memiringkan kepalanya, memerhatikan Ryu dengan cermat. "Di luar sana kamu terlihat seperti CEO datar, dingin dan dominan, jadi wajar 'kan kalau aku berpikir seperti itu?"
"Aku bukan orang seperti itu," tegas Ryu datar. "Istriku adalah orang yang mendampingiku dalam suka dan duka. Berjalan di sisiku. Bukan pembantu yang mengurus rumah dan kebutuhanku. Apalagi mesin pencetak anak untuk meneruskan keturunan."
"Baguslah," sahut Seroja lega.
"Jadi, apa rencanamu?" Ryu kembali pada pertanyaan yang belum dijawab Seroja. Ia masih penasaran.
Seroja berhenti memijat. "Aku ingin melanjutkan pendidikan," putusnya mantap.
"Mau kuliah di mana?" tanya Ryu.
Mendengar cerita neneknya, ia memang yakin Seroja ingin melanjutkan pendidikannya.
"Biar nanti Jordi yang urus," lanjutnya.
"Tidak perlu merepotkan dia. Aku bisa sendiri."
"Oke, terserah kamu. Kalau perlu apa-apa tinggal bilang."
"Hm." Seroja memutar pergelangan kaki Ryu perlahan. "Masih sakit gak?"
"Nggak," sahut Ryu.
"Sudah selesai." Seroja menurunkan kaki Ryu. "Ngomong-ngomong... kalau kita cerai, kamu bakal tetap membiayai pendidikanku?"
Rahang Ryu menegang samar. "Kenapa? Kamu mau cerai dariku?"
Nada suaranya datar, menyembunyikan perasaannya. Entah mengapa ia tak suka saat Seroja menyinggung soal cerai.
"Aku cuma membahas kemungkinan." Seroja menutup botol minyaknya. "Karena sepertinya kau sangat mencintai selingkuhanmu itu."
"Aku gak pernah selingkuh," tegas Ryu. "Aku tidak ingat kalau aku sudah menikah. Jadi itu gak bisa dibilang selingkuh."
Dari nada bicaranya, jelas ia tidak suka saat dibilang selingkuh.
"Oke, oke. Nggak selingkuh karena tidak ingat," kata Seroja mencoba menurunkan ketegangan. "Jujur saja, kau mencintainya 'kan?"
Ryu menatap ke arah jendela yang gordennya masih terbuka. "Kami sudah mengenal selama enam tahun. Pacaran lima tahun," papar Ryu. "Kau pikir kenapa kami masih bertahan selama itu?"
Seroja tersenyum, tapi tak sampai ke mata. Selama lima tahun mereka tetap bersama, berarti karena mereka saling mencintai.
"Lalu, kenapa kau tidak membatalkan pernikahan kita? Kenapa memilih menjalani pernikahan denganku selama satu tahun kalau kau mencintainya dan merasa asing denganku?" cecar Seroja.
Ryu tak langsung menjawab. Tangannya di atas paha terkepal perlahan.
"Bagaimanapun, aku sudah menikahimu sebelum aku mengenal Clara. Meski aku tidak mengingat kamu, tapi fakta bahwa kau adalah istriku tidak bisa diubah."
Seroja diam, mendengarkan.
"Semua orang bilang aku bersikeras menikahimu," lanjut Ryu. "Jadi aku ingin tahu, kenapa dulu aku seperti itu." Ryu menatap Seroja lurus. "Aku ingin tahu, apa yang istimewa darimu hingga aku begitu ingin memilikimu."
Namun dalam hati ia melanjutkan, "Selain itu, karena Nenek akan mengusirku jika aku bersikeras membatalkan pernikahan kita. Dan aku juga penasaran, apa yang nenek lihat darimu hingga begitu bersikeras mempertahankanmu di sisiku."
"Kalau begitu, apa kau akan berusaha mencintai aku?" Seroja menatap Ryu dalam-dalam.
Ryu tak langsung menjawab. Mata mereka bertemu. Ia bisa melihatnya, wajah dan sorot mata Seroja tetap tenang meski serius.
"Ya," jawab Ryu akhirnya, singkat. "Lalu, bagaimana denganmu?"
"Aku?" Seroja menunjuk dirinya sendiri. "Itu tergantung padamu," katanya pelan.
"Maksudmu?" desak Ryu.
"Jika kau bisa melupakan dia dan memberikan hatimu padaku..." Seroja berhenti sebentar. "maka aku pun akan memberikan seluruh cinta dan hidupku untukmu."
Sejenak tak ada lagi yang bicara. Yang terdengar hanya deru halus suara pendingin udara.
Seroja akhirnya mengembuskan napas pelan. "Sudah malam. Aku mau tidur."
Tanpa mengatakan apapun lagi, Seroja berjalan menuju lemari mengambil baju tidurnya, lalu masuk ke kamar mandi.
Ryu terdiam di tempatnya. Matanya tertuju pada pintu kamar mandi yang baru saja tertutup.
Pertanyaan Seroja dan jawabannya tadi terus mengiang di kepalanya.
"Kalau begitu, apa kau akan berusaha mencintai aku?"
"Ya."
Entah kenapa ia refleks menjawab 'ya' saat melihat mata gadis itu. Ia memejamkan mata sejenak. Tapi kalimat Seroja yang lain kembali terngiang.
"Jika kau bisa melupakan dia dan memberikan hatimu padaku, maka aku pun akan memberikan seluruh cinta dan hidupku untukmu."
Ryu membuka matanya. "Kenapa kalimat itu terasa seperti sebuah janji?"
Lamunan Ryu buyar saat ponsel Seroja di atas nakas berdering. Nama Tony muncul di layar.
"Tony?" gumam Ryu.
Entah mengapa, Ryu merasa terganggu melihat laki-laki lain menghubungi istrinya.
...🔸🔸🔸...
...“Cinta bukan tentang siapa yang datang lebih dulu, tapi siapa yang akhirnya menetap di hati.”...
...“Yang paling sulit bukan memulai hubungan, tapi melupakan seseorang demi mencintai yang baru.”...
...“Jika hati diberi kesempatan untuk mengenal, perlahan ia akan belajar memilih tempat untuk pulang.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat ya, Kak Nana... Up Bab Baru-nya Kak 🙏🙏🙏
Ponsel Ryu berdering - Jordi yang menghubungi. Ryu menerima telepon di balkon.
Mereka membicarakan bisnis. Tapi mata Ryu tak lepas dari istrinya.
Dari pintu balkon Ryu bisa melihat Seroja yang tersenyum ketika sedang berbincang dalam sambungan telepon. Ryu cemburu.
Selesai membahas soal pekerjaan, Ryu tanya pada Jordi. Pria yang bertemu istrinya di restoran tadi siang itu siapa.
Jordi sebut nama pria itu Evan.
Nama yang di lihat tadi Tony. Ryu jadi berpikir - ada berapa banyak pria di sekitar Seroja.
Pikirannya melayang pada tiga nama - Agus, Evan, dan Tony.
Ini baru sehari menjalani hidup bersama sebagai suami istri. Ya harus menjaga privasi masing-masing terlebih dahulu.
Nah kan - pertanda tidak atau belum boleh menyentuh barang pribadi istrinya. Jari Ryu tinggal beberapa sentu dari ponsel - pintu kamar mandi terbuka. Seroja terlihat muncul.
Aku tau! tapi aku harus menemui Clara itu, untuk memutuskannya! 😁😁😁