NovelToon NovelToon
Twin Gus: A Love Story

Twin Gus: A Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Hantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"

Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.

Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arshaf Menolong Giska

Aryan yang baru saja sadar ada sesuatu yang mengganjal di belakang telinganya. Perlahan tangannya terangkat, meraba area tersebut dengan bingung.

“Apaan nih?”

Karena mengira ada serangga atau benda asing menempel, Aryan refleks melepasnya lalu menatap benda kecil itu dengan wajah heran.

Tak lama kemudian, Uma Azzura keluar dari toilet. Namun begitu melihat benda di tangan Aryan, langkahnya langsung memburu.

“Aryan, kamu ngap—ya Allah! Jangan dilepas, Nak!”

Uma Azzura segera mengambil alat bantu dengar itu dari tangan putranya. Aryan semakin bingung melihat reaksi sang ibu.

“Itu apa, Uma?”

Uma Azzura mengembuskan napas panjang. Ia tidak langsung menjawab, melainkan kembali memasangkan alat tersebut di balik telinga Aryan dengan hati-hati.

“Uma, kenapa ditaruh situ?” Aryan sedikit bergidik geli saat telinganya disentuh.

“Kamu butuh alat itu sampai benar-benar sembuh, Aryan,” jawab Uma Azzura lembut setelah selesai memasangnya.

Aryan langsung menatap ibunya lekat.

“Iya, tapi itu apa, Uma?”

“Itu alat bantu dengar, Nak.”

Deg!

Jantung Aryan seolah berhenti sesaat.

Pikirannya langsung kembali pada kejadian semalam—saat suara Zaskia terdengar samar dan tak jelas di telinganya.

Wajah Aryan perlahan berubah tegang. Tangannya mengepal lemah di atas selimut.

Melihat perubahan ekspresi putranya, Uma Azzura kembali menghela napas berat.

“Aryan...”

“Pendengaran Aryan kenapa, Uma?” tanyanya cepat dengan sorot mata panik. “Apa rusak? Apa Aryan bakal enggak bisa dengar lagi?”

“Hey, hey...” Uma Azzura segera menangkup kedua pipi Aryan, menenangkan laki-laki itu yang mulai gelisah. “Tenang dulu. Dengerin Uma baik-baik.”

Aryan menatap mata ibunya dengan napas sedikit memburu.

“Kamu cuma mengalami tuli sementara,” ujar Uma Azzura pelan dan penuh penekanan. “Pendengaran kamu bisa balik lagi. Kata dokter, setelah kondisi tubuh kamu pulih nanti, kamu cuma perlu terapi rutin.”

“Apa... bisa sembuh total?”

“Insya Allah bisa,” jawab Uma Azzura sambil tersenyum menenangkan. “Jadi jangan mikir yang aneh-aneh dulu, ya?”

Aryan terdiam. Dadanya masih terasa sesak. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa untuk sementara waktu ia harus bergantung pada alat bantu dengar.

“Apa Kia tau?” tanyanya lirih.

Uma Azzura mengangguk pelan. “Dia bahkan tau lebih dulu daripada Uma.”

Aryan langsung menunduk.

Entah kenapa, rasa takut mendadak memenuhi dadanya. Takut jika Zaskia kecewa. Takut jika istrinya merasa terbebani karena harus menghadapi dirinya dalam kondisi seperti ini.

Namun sebelum pikirannya melangkah lebih jauh, Uma Azzura kembali berbicara.

“Dan dia gak mempermasalahkan itu sama sekali.”

Aryan perlahan mendongak.

“Kia tetap sayang sama kamu kok,” lanjut Uma Azzura sambil tersenyum jahil kecil.

Seketika telinga Aryan memerah.

“Uma...”

“Apa?” goda Uma Azzura gemas. “Tadi malam juga dia nangis terus gara-gara takut kehilangan kamu.”

Aryan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis. Ada rasa hangat yang perlahan mengalir di dadanya.

“Kia sedih banget ya?”

“Banget.”

Aryan menatap kosong ke depan sesaat, lalu mengembuskan napas pelan. “Jadi makin gak enak sama dia.”

“Kalau gak mau bikin Kia sedih lagi, kamu harus cepet sembuh."

Aryan tersenyum kecil lalu mengangguk pelan. “Iya, Uma."

***

Opa Athar dan Oma Arsyila baru bisa datang menjenguk Aryan pagi itu karena semalam keadaan sudah terlalu larut.

Begitu memasuki ruang rawat, Oma Arsyila langsung mempercepat langkah menuju ranjang cucunya. Matanya yang mulai menua langsung berkaca-kaca melihat kondisi Aryan yang masih tampak pucat.

“Ya Allah, Aryan... cucu Oma,” lirihnya penuh haru. “Mana yang sakit, Nak?”

“Aryan gapapa, Oma,” jawab Aryan lembut sambil tersenyum menenangkan.

“Gapapa apanya?” sungut Oma Arsyila cepat. “Pokoknya Oma gak mau dengar lagi kamu masuk rumah sakit begini!”

“Iya, Oma.”

“Lihat tuh mukanya masih pucat,” gumam wanita itu sambil mengusap pipi Aryan dengan hati-hati.

Sementara itu, Opa Athar berdiri di samping ranjang sambil memperhatikan cucunya diam-diam. Meski wajahnya tampak tenang, sorot matanya jelas menyimpan kekhawatiran besar.

“Uma, mending duduk dulu ya. Abi juga,” ujar Azzura khawatir melihat kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia.

Meski usia mereka sudah senja, keduanya masih terlihat sehat dan bugar. Terlebih Opa Athar yang usianya hampir menginjak kepala tujuh, namun posturnya masih tegap.

“Iya, iya,” sahut Oma Arsyila sambil akhirnya duduk di sofa dekat ranjang Aryan.

Namun tangannya masih terus menggenggam tangan cucunya erat seolah takut kehilangan.

“Kamu bikin Oma sama Opa kaget semalaman,” ucapnya lirih.

“Maaf ya, Oma.”

“Iya gapapa. Oma sama Opa cuma khawatir. Kami udah tua, Nak. Janganlah kalian bikin Opa sama Oma jantungan begitu denger kabar kalian,” ucap Oma Arsyila lirih sambil mengusap punggung tangan Aryan.

“Iya, Oma,” jawab Aryan patuh.

“Opa gimana kabarnya?” tanya Aryan kemudian sambil menoleh ke arah opanya.

“Alhamdulillah,” jawab Opa Athar santai. “Selama Oma kamu masih ada di samping Opa, maka Opa akan baik-baik aja.”

Aryan langsung terkekeh kecil. “Bucinnya enggak ilang-ilang meski udah tua ya, Opa.”

“Itu jelas,” balas Opa Athar tanpa malu sedikit pun. “Kamu harus contoh Opa sama Oma kamu ini.”

Aryan tersenyum geli. Ia memang selalu kagum pada hubungan kedua orang tua Uma Azzura itu. Meski usia mereka tak lagi muda, keduanya masih terlihat begitu saling menyayangi dan enggan berjauhan.

***

Tak terasa sebulan telah berlalu. Aryan dinyatakan sembuh dari gangguan pendengaran yang sempat menyerangnya beberapa waktu lalu. Kini laki-laki itu sudah kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Kehamilan Zaskia pun memasuki bulan ketiga tanpa hambatan berarti. Mual yang dulu sering datang kini mulai jarang terasa dan biasanya hanya muncul sesekali di pagi hari.

Malam itu, setelah mereka selesai makan malam bersama, Zaskia sedang mengelap meja makan ketika Aryan tiba-tiba menyodorkan amplop berisi uang.

“Ini gaji pertama kakak yang kakak kasih ke kamu.”

Zaskia menoleh kaget. “Kakak udah gajian?”

Aryan mengangguk pelan. “Iya. Nih, ambil.”

Zaskia menerima amplop itu dengan senyum malu-malu. Ini adalah nafkah pertama yang Aryan berikan setelah lebih dari tiga bulan mereka menikah. Bukan karena Aryan tidak ingin memberi, melainkan karena laki-laki itu memang menerima gaji setiap tiga bulan sekali dari tempatnya mengajar. Selain itu, kesehariannya Aryan juga mendapat penghasilan dari menjadi asisten dosen dan mengajar les privat.

Sebenarnya Om Azzam pernah menawarkan Aryan untuk ikut mengurus usaha keluarga, tetapi Aryan belum siap karena masih harus membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan kini juga Zaskia yang sedang hamil.

“Makasih ya, Kak,” lirih Zaskia tulus.

Aryan tersenyum lalu berpindah ke belakang tubuh istrinya. Kedua lengannya melingkar memeluk pinggang Zaskia dari belakang, sementara dagunya bertumpu di bahu perempuan itu.

“Maaf ya kalau belum banyak.”

“Kak...” Zaskia langsung menggeleng. “Ini lebih dari cukup kok.”

Aryan tersenyum kecil lalu menyisipkan wajahnya di ceruk leher Zaskia, menghirup samar aroma manis tubuh istrinya yang selalu membuatnya tenang.

“Kamu bebas pakai uang itu buat keperluan kamu, Kia,” ujarnya lembut. “Kalau kebutuhan makan sama kebutuhan rumah, biar jadi tanggungan kakak.”

Zaskia langsung menoleh. “Tapi ini kebanyakan kalau cuma buat Kia sendiri.” Ia berpikir sejenak lalu matanya berbinar. “Gimana kalau sebagian kita tabung buat beli keperluan anak nanti?”

“Ide bagus,” jawab Aryan sambil mengangguk.

Zaskia tersenyum lebar. “Kalau gitu Kia simpan dulu ya di kamar.”

Baru saja hendak melangkah, Aryan langsung menahan geraknya. Kedua tangannya bertumpu di meja makan, mengurung tubuh Zaskia di tengah-tengahnya.

“Kak...” desis Zaskia pelan.

“Cium dulu sebelum pergi.” Aryan mencondongkan wajahnya dengan tatapan jahil sekaligus lembut.

“Nanti aja pas mau tidur.”

“Sekarang, sayang.”

Zaskia menghela napas pura-pura kesal. Ia akhirnya mendekat lalu mengecup cepat bibir Aryan. Namun saat hendak menjauh, tangan Aryan justru menahan belakang kepalanya.

Perlahan laki-laki itu kembali mendekatkan wajah mereka hingga bibir keduanya kembali bertemu.

Zaskia membelalak sesaat ketika Aryan mulai mengecupnya lebih lama. Namun perlahan matanya terpejam, larut dalam sentuhan hangat dan lembut suaminya.

Aryan mengecupnya tanpa tergesa, penuh rasa sayang yang membuat dada Zaskia menghangat.

Beberapa saat kemudian, Aryan melepaskan tautan bibir mereka lalu beralih mengecup pipi, ujung hidung, hingga kening istrinya.

“Udah, sayang,” gumamnya pelan. “Sekarang simpan uangnya.”

Zaskia mengangguk patuh seperti anak kecil. Aryan tersenyum gemas melihat tingkah istrinya lalu membiarkan perempuan itu pergi ke kamar.

Tak lama setelahnya, Aryan berjalan menuju wastafel untuk mencuci piring. Setelah selesai, ia duduk di meja dekat jendela ruang utama—tempat biasanya ia mengerjakan tugas kuliah dan pekerjaan.

Laptopnya terbuka, jemarinya mulai sibuk mengetik.

Sementara itu, Zaskia yang sudah selesai menyimpan uang kembali keluar kamar. Begitu melihat Aryan serius di depan laptop, langkahnya melambat.

“Kakak enggak tidur?”

Aryan menoleh lalu tersenyum. “Kamu tidur duluan aja ya. Masih ada kerjaan sedikit lagi.”

“Ngerjain apa?”

“Kerjaan kampus sama revisi materi.”

“Mau Kia temenin gak?”

Aryan menggeleng pelan. “Enggak usah, sayang. Takutnya lama.”

Zaskia mengangguk meski sebenarnya ia masih ingin dekat dengan suaminya.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia segera berjalan ke dapur dan membuat cokelat panas favorit Aryan.

Tak lama kemudian, ia kembali sambil membawa segelas minuman hangat.

“Buat nemenin kakak kerja,” ucapnya setelah tiba di samping Aryan.

Aryan terlihat kaget lalu tersenyum kecil. “Ngapain sih repot-repot, Dek?”

Zaskia langsung tersentak.

“Hm?” Aryan menoleh bingung.

“Tadi kakak bilang apa?”

“Yang mana?”

“Barusan! Cepet amat lupanya,” sungut Zaskia gemas.

Aryan tertawa kecil. “Dek?”

“Iya itu.” Zaskia jadi salah tingkah sendiri. “Kok kakak manggil Kia begitu?”

“Kamu gak suka?”

“Ya... suka sih.” Zaskia buru-buru memalingkan wajah. “Tapi udah deh, enggak usah dibahas.”

Aryan malah makin tertawa melihat pipi istrinya yang mulai memerah.

Setelah meneguk cokelat panas buatan Zaskia, Aryan kembali fokus pada layar laptop. Namun Zaskia tetap berdiri di sampingnya memperhatikan apa yang sedang ia kerjakan.

Menyadari istrinya belum pergi, Aryan akhirnya menoleh lagi. Tatapannya langsung melembut melihat wajah serius Zaskia yang sedang memperhatikan layar.

“Sini, sayang.” Aryan menarik tangan Zaskia hingga perempuan itu terduduk di pahanya.

Zaskia kaget dan refleks melingkarkan kedua tangan ke leher Aryan.

“Mau nemenin kakak kan?”

Zaskia mengangguk polos.

“Ya udah, nemeninnya di sini aja.”

Aryan kembali fokus mengetik sambil tetap memeluk pinggang istrinya dengan satu tangan.

“Kak,” panggil Zaskia pelan.

“Hm?”

“Kakak kenapa sih gak mau dipanggil Gus di sini?”

Aryan tersenyum tipis tanpa menghentikan pekerjaannya. “Ya buat apa juga, sayang?”

“Kan kakak sama Kak Arshaf itu Gus. Di pesantren mau aja dipanggil begitu.”

“Itu di pesantren,” jawab Aryan santai. “Kalau di luar, kakak lebih nyaman dipanggil biasa aja. Abi dulu juga begitu.”

“Oh...”

Aryan kembali fokus bekerja. Sementara Zaskia kini malah sibuk memperhatikan wajah suaminya.

Entah kenapa, menurutnya Aryan terlihat jauh lebih tampan saat sedang serius seperti ini.

Tatapan Zaskia perlahan turun ke bibir Aryan, lalu berhenti pada jakun laki-laki itu yang bergerak samar.

Tanpa sadar, jemarinya terulur menyentuh bagian tersebut.

Aryan langsung berhenti mengetik.

Tatapannya perlahan turun menatap tangan Zaskia di lehernya, lalu beralih ke mata istrinya dengan sorot yang berubah dalam.

“Eh...” Zaskia buru-buru menarik tangannya. “Maaf, Kia ganggu ya?”

Aryan justru mengembuskan napas panjang sambil memejam sebentar.

“Kenapa sih suka banget mancing?”

“Hah?”

Aryan menutup laptopnya perlahan.

“Nah sekarang kerjaannya gak jadi selesai gara-gara kamu.”

Zaskia langsung membelalak. “Loh kok salah Kia?”

Aryan berdiri sambil ikut mengangkat tubuh Zaskia dalam gendongannya.

“Kak! Aryan!”

“Ayo kita tuntaskan sekarang.”

“Eh, kak! Kak!” pekik Zaskia panik sekaligus malu sambil memukul pelan bahu suaminya.

Aryan malah tertawa puas sambil membawa istrinya masuk ke kamar mereka.

***

Arshaf baru saja selesai mengajar malam itu. Setelahnya, ia langsung menghadiri bimbingan dengan dosennya untuk membahas tugas akhir. Di antara Aryan dan Kafa, Arshaf memang yang paling dulu memulai skripsinya. Ia ingin segera menyelesaikan pendidikannya di Jakarta dan kembali ke Bandung karena Gus Abidzar sudah memintanya membantu mengurus pesantren keluarga.

Waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam saat Arshaf melintasi sebuah jalan yang cukup sepi. Lampu jalan tampak redup dan beberapa toko sudah tutup.

Namun langkahnya terhenti ketika samar-samar terdengar suara perempuan berteriak minta tolong.

“Tolong! Lepasin!”

Arshaf spontan mengerem motornya. Tak jauh dari sana, dua orang preman terlihat sedang menarik paksa seorang gadis.

“Woy! Lepasin!” seru Arshaf sambil turun dari motor.

Kedua preman itu menoleh.

“Lo siapa ikut campur?” bentak salah satunya.

Belum sempat mereka bertindak lebih jauh, Arshaf lebih dulu menarik tangan gadis itu menjauh ke belakang tubuhnya. Beruntung gadis itu menggunakan lengan panjang jadi kulit mereka tidak bersentuhan.

Dan Saat itulah ia baru menyadari wajah perempuan tersebut.

“Giska?”

Giska juga tampak terkejut. “Arshaf!”

Salah satu preman langsung menyerang Arshaf. Perkelahian pun tak terhindarkan. Meski sempat mendapat beberapa pukulan, Arshaf berhasil melawan keduanya sampai mereka memilih kabur sambil mengumpat kesal.

“Sialan lo!” teriak salah satu preman sebelum pergi.

Arshaf mengatur napasnya yang sedikit memburu. Sementara Giska masih tampak syok.

“Lo gapapa?” tanya Arshaf.

Giska mengangguk cepat. “Ya ampun… makasih banget, Shaf. Untung ada lo.”

“Sama-sama,” jawab Arshaf singkat. “Lo ngapain malam-malam begini?”

“Tadi gue nyari makan. Deket kok dari rumah. Tapi gue gak nyangka ada mereka.”

“Lo ke sini jalan kaki?”

“Iya.”

Arshaf menghela napas pelan. “Yaudah, gue anter pulang.”

Giska menatapnya tak enak. “Eh serius?”

“Serius.”

“Tapi—”

“Lo bisa naik motor?”

“Bisa sih…”

“Yaudah. Lo bawa motor gue.”

Giska langsung mengernyit bingung. “Hah? Terus lo?”

“Gue jalan.”

“Eh kok gitu?”

“Gapapa. Sekalian olahraga.”

Giska buru-buru menggeleng. “Gak usah, Shaf. Gue gak mau ngerepotin.”

Arshaf malah langsung menyalakan motornya. “Daripada nanti ketemu preman itu lagi, lo mau?”

Giska langsung diam.

“Udah. Cepetan.”

“Yaudah… tapi gue bawanya pelan ya.”

“Iya.”

Giska masih terlihat bingung. “Lagian kenapa gak boncengan aja sih, Shaf?”

Arshaf menatap lurus ke depan sebelum menjawab tenang, “Jaga batas aja, gue.”

Kalimat itu membuat Giska terdiam.

Ia jadi paham.

Aryan dan Arshaf ternyata benar-benar sama. Sama-sama menjaga pandangan dan membatasi diri dengan perempuan yang bukan mahramnya.

Entah kenapa hati Giska mendadak terasa hangat sekaligus malu pada dirinya sendiri. Selama ini ia berpikir laki-laki seperti mereka hampir tidak ada lagi, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Namun ternyata ilmu pesantren yang mereka pelajari masih begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Tak terasa mereka tiba di depan rumah Giska.

Gadis itu turun dari motor Arshaf lalu menatap laki-laki tersebut yang kini berdiri beberapa langkah darinya.

“Mau masuk dulu, Shaf?”

Arshaf menggeleng pelan. “Gak, Gis. Gue balik ya.”

“Oh… iya.”

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Arshaf kemudian berbalik dan mulai berjalan menyusuri jalanan malam.

Sementara Giska masih berdiri di tempatnya, memperhatikan punggung laki-laki itu yang semakin menjauh.

Ia merasa kagum sedalam itu pada seseorang.

Dulu ia sempat menyukai Aryan. Namun sekarang, melihat Zaskia yang berhijab syar’i dan menjaga diri dengan baik, membuat Giska sadar bahwa dirinya jauh berbeda.

Dan kini… tanpa sengaja, kekagumannya malah beralih pada Arshaf.

Laki-laki itu jauh lebih dingin dan cuek dibanding Aryan.

Tapi justru sikap itulah yang membuat hati Giska berdebar tanpa alasan.

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
🤣🤣🤣🤣🤣 nggak kebayang kalo video nya sampai viral
syora
pasti lahir bulan jadi cucu kesayangan nih apa lagi kalau pr,cucu dan cicit pertama lagi
Syti Sarah
fix,dara ini mah bar bar bnget kturunan Oma sama TENTE Zura nya bnget 😂😂

pusing gak tuh abi nya 😅
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wah jodoh kafa masih sd
Ayu Oktaviana
ya alloh anknya azzam bar2nya gak ketulungan.. keturunan omanya kayaknya😁😁😁😁 apakah dimasa akan dtang jodohnya kafa adl andara kak... msih teka teki ini
Fegajon: masih SD kak, masih jauh😭
total 1 replies
Siti Java
yah Allah anak y azam bar2 parah 🤭🤭🤭🤭nurun siap ni😍
Syti Sarah
ras trkuat di bumi mau di lawan ,aplgi Skrang lgi hamil.yg sbar ya yan 🤣🤣🤣
Syti Sarah
eeh bukan lh kli thor.jdoh nya arshaf itu nanti santri nya sendiri yg slalu bikin dia naik drah 😂😂😂
Syti Sarah
semoga Aryan scpatnya smbuh 😭😭😭
Anak manis
aryan😭
syora
ya allah/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Judulnya kondisi arshaf/aryan
Fegajon: udah aku ganti, huhu maap lagi ngantuk banget siang ini😭
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kayaknya ada yang menabur bawang deh
Syti Sarah
😭😭😭😭
Syti Sarah
ya Allah Arya KIA 🥺🥺
just a grandma
ya allah🥺
Syti Sarah
semoga Aryan cpat sadar dan smbuh .sumpah nyesek bnget 😭😭😭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kok ada aksi tembakan sih. bisa panjang nih urusannya
Nifatul Masruro Hikari Masaru: kasian andre cuma berapa episode tuh🤭
total 3 replies
Syti Sarah
ya Allah,semoga kamu gak kenapa2 yan.amiin
syora
astagfirullah ya allah smoga semua slamat dlm lindungnNya
ini pasti slah stu suruhan sikuruptor tuh
ya allah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!