NovelToon NovelToon
Become Mafia Family

Become Mafia Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: nanastar

Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Toko Buku

Happy Reading

🌷🌷🌷

Ditengah gelapnya malam dan kilatan cahaya Petir, seorang pemuda yang baru saja mengantarkan seorang gadis kerumahnya dihadang oleh seorang gadis misterius dijalan sepi. Ia memakai jas hujan berwarna hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya dengan sempurna. Ia terlihat seperti iblis yang sedang berkeliaran mencari mangsa dimalam hari. Ditangannya tersimpan sebuah senjata tajam berupa pisau lipat yang berukuran sangat kecil.

"Lo menggagalkan rencana gue" Ucapnya dengan dingin.

"Jangan pikir lo bakalan mudah menyakitinya!" Dengan tanpa rasa takut, pemuda itu menjawabnya. Ia pun bersiaga untuk mengambil pistol listrik yang berada disaku belakang celananya berjaga-jaga jikalau gadis itu akan menyerangnya secara tiba-tiba.

"Baiklah, kalau begitu, jangan sampai lo lengahi dia" Ucapnya dengan menenggadahkan wajahnya yang dingin. Sorot matanya nampak jelas sekali terlihat sangat tajam. Wajahnya tidak terlalu jelas karena langit sudah sangat gelap. Hanya remang-remang cahaya kilat petir yang meneranginya.

"Gue gak akan ngotorin tangan gue malam ini cuma buat nyingkirin lo!" Gadis itu pun melenggang pergi meninggalkan sang pemuda.

"Jangan pernah berfikir untuk menyentuhnya lagi! Gue gak akan pandang bulu jika itu menyangkut miliku"

Gadis itu nampak mempelankan langkahnya ketika mendengar ucapan sang pemuda yang terdengar ancaman.

"Gue juga gak akan pandang bulu buat orang-orang yang halangin jalan gue!"

Zreeettt!!

Dengan cepat, gadis itu mengubah sepatunya menjadi sepatu roda dan pergi dari tempat itu.

"Dasar sialan! Dia pikir gue bakalan berhenti gitu aja?! Kita liat aja apa yang bisa dia perbuat untuknya!"

• • • • •

Zevan memang sangat membenci Lily. Terlebih ketika ia mengetahui fakta bahwa papanya menyelingkuhi ibunya, dan perempuan tak tau diri yang merebut papanya dari ibunya itu adalah ibunya Lily_Roseline. Mereka menikah tanpa sepengetahuan Zevan dan ibunya_Laura.

Lalu, beberapa hari sebelum Lily dan ibunya datang, Zevan sempat memergoki papanya tengah membuat jebakan untuk membunuh ibunya_Laura. Dengan kasus kematian atas nama kecelakaan mobil karena rem blong, Laura sebenarnya meninggal dunia ditangan suaminya sendiri. Dan parahnya Zevan tau hal itu. Dia menjadi sangat dendam pada papanya terlebih sesaat setelah kematian ibunya dia pulang bersama seorang wanita cantik dan seorang anak kecil perempuan. Papanya, Lucky terlihat begitu menyayangi anak kecil perempuan itu_Lily dan sangat mencintai Roseline. Zevan tak suka kenyataan itu. Ia merasa bahwa gadis kecil itu telah merusak dan merebut kebahagiaan keluarganya.

Semakin lama, semakin besar rasa benci Zevan terhadap Lily. Terlebih lagi dia menjadi gadis manja yang selalu haus perhatian papanya. Zevan merasa tak adil dengan perlakuan papanya terhadap dirinya. Lalu, saat ia menginjak usia 14 tahun, Zevan nekat meracuni makanan Roseline dimakanan favouritenya yang ternyata buatannya sendiri. Teknik pembunuhan yang sulit dilacak. Bukan hanya itu saja, ia bahkan sempat hendak membunuh Lily juga. Zevan begitu mengerikan. Hatinya sudah membeku dan seakan mustahil untuk mencair.

Namun, kenyataan itu sekarang berubah. Semenjak kejadian hari itu, Zevan mendapati Lily yang sangat berbeda. Dia seperti orang lain. Wajahnya kadang selalu menampilkan ekspresi sangat gelisah. Namun diwaktu bersamaan, dia kadang terlihat begitu sangat polos. Zevan mendapati Lily yang lugu, ia seperti amnesia dengan jati dirinya sendiri.

Kadang, Zevan merasa bersalah atas kejadian tersebut. Tapi ia kadang bersyukur juga. Sebenarnya, Zevan dengan sengaja mendorong Lily ke kolam renang dari lantai dua rumahnya waktu itu karena sikap Lily yang begitu kurang ajar, susah diatur dan sangat merepotkannya. Setelah mendiang ibunya meninggal, Lily memang semakin menjadi-jadi. Dia berubah menjadi gadis yang sangat sangat menyebalkan. Dan Zevan benci hal yang membuatnya merasa merepotkan.

Dan sejak itulah Lily berubah. Zevan tak mendapati Lily yang dulu lagi. Ia sempat terheran, namun lagi-lagi sikap acuhnya mendominasi diri menjadi seolah tak peduli.

Tapi, perlahan sikap acuhnya berubah menjadi penasaran. Apa yang gadis itu rencanakan? Apakah dia berpura-pura seperti itu untuk membalaskan dendam kematian ibunya? Namun sepertinya Zevan salah. Lily tidak terlihat seperti orang yang sedang merencanakan sesuatu yang besar. Bahkan Zevan berani bersumpah kalau Lily tidak tau siapa yang telah membunuh ibunya, bahkan papanya pun tidak menemukan jejaknya sama sekali. Zevan dibuat bingung olehnya.

Dan perlahan, hatinya melunak. Nalurinya sebagai lelaki terasa lebih menonjol ketika Lily terlihat lemah dan terasa lebih rapuh jika saja Zevan mengabaikannya. Dan tidak tahu kenapa, Zevan jadi menyukai hal itu. Seakan Lily akan hilang jika saja Zevan tak menggenggamnya dengan erat.

Kini, dengan perasaan gelisah ia berlari menuju sebuah ruangan. Dengan terburu-buru ia memasukan beberapa kunci gantung ditangannya ketika dirasa tidak cocok dengan lubang kunci di pintunya. Ia tidak sabar ingin segera melihat kondisi seseorang didalam sana setelah apa yang telah ia lakukan pada gadis lugu itu semalam. Zevan menyentuh bibirnya sekilas lalu menepis pikiran kotornya. Ia pun memegang gagang pintu dan mendorongnya.

Kriiet!!

Suara pintu dibuka dengan cepat. Lalu nampaklah seorang gadis tersipuh tak sadarkan diri ketika pintu dibuka begitu saja.

"Lily! Lo baik-baik aja?!" Ia menepuk-nepuk pipinya hawatir bercampur takut. Ia memang kesetanan malam itu. Tidak seharusnya meninggalkan gadis itu di gudang gelap setelah apa yang telah ia perbuat padanya. Namun apa boleh buat, bahkan saat ini pun, ia masih kesal mengingat Lily telah di sentuh oleh orang lain. Ia tidak menyukainya. Lily hanya harus menuruti ucapannya, dan ia tidak suka laki-laki lain menyentuhnya. Zevan cemburu?

Lalu gadis itu nampak menggeliat kecil dan berusaha membuka matanya perlahan. " Engh... Kak Zevan?" Sahutnya pelan dengan suara serak. Bibirnya nampak kering dan pucat.

"Maafin gue!" Ia memeluknya erat dengan hati diliputi banyak rasa bersalah.

"Kak... Lepas!!"

Zevan pun tersadar dan melepaskan pelukannya dengan wajah sendu. Apakah dia marah atas tindakannya?

"Maaf... Maafin gue... Gue bukan kakak yang baik buat lo... Gue..."

"Kak, aku laper" Lily memotong ucapan Zevan. Ia memegangi perutnya yang terdengar keroncongan. Sebelum sedetik kemudian ia teringat kejadian kemarin. Ia jadi merasa jijik pada orang yang ada di hadapannya. Begitu teganya orang itu merenggut kepolosan gadis itu. 

"Ah baiklah, gue siapin sarapan buat lo. Mandilah dulu" Zevan membantu Lily bangkit dari duduknya. Meskipun Lily tak ingin di sentuhnya, namun apa boleh buat. Saat ini ia sedang sangat lemah untuk berjalan.

"Makasih kak...." Katanya dengan pelan lalu berjalan perlahan dengan di bantu Zevan menuju kamarnya. 

Apakah gadis itu melupakan kejadian kemarin-kemarin, kemarin, dan... Malam tadi?! Kenapa gadis itu kadang terlihat begitu aneh? Apa ia memaafkan perbuatannya tadi malam? 

🍁🍁🍁🍁🍁

"Lily...." Panggil Zevan memecah keheningan dimeja sarapannya. Lily menoleh dengan tatapan polos seakan sudah tidak terjadi apa-apa. Mulutnya mengunyah dipenuhi roti bakar buatanya. Apa dia melupakannya? Atau berpura-pura lupa?

"Lo...."

"Kak Zevan, Boleh gak aku siang ini ke toko buku? Pengen beli novel hehe" Kekehnya dengan wajah ragu. Tapi kenapa dia terlihat ragu dan takut?

"Oke, gue bakalan nganter lo" Ucapnya lalu menghabiskan sarapannya. Didepan sana, Lily terlihat senang mendapatkan ijin darinya. Apa membahagiakannya semudah itu?

"Lo..."

"Aku udah beres! Aku mau siap-siap ya!" Gadis itu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya dengan cepat seolah sedang menghindarinya.

"Huh..." Zevan membuang nafas kesal karena lagi-lagi ucapannya dipotong olehnya. Beberapa kali ka mengusap wajahnya karena frustasi akan perasaannya sendiri yang kalut.

"Lagi-lagi dia terlihat seperti menghindar dari gue"

"Yahhh memangnya dia bisa lepas? Silahkan saja lari sesuka lo. Lagian gue bakalan mudah nangkap lo lagi"

📍📍📍📍📍

Didalam ruangan pribadinya, seorang gadis tengah menatap pantulan dirinya dicermin. Ia tak henti-hentinya memikirkan apa yang terjadi pada dirinya dan kakaknya malam itu. Kemarin-kemarin dia begitu menyebalkan dan jahat. Tapi sekarang, dia terlihat baik dan ia merasa nyaman bersamanya. Apa kakaknya benar-benar seorang yandere? Atau ia punya kepribadian ganda? Gadis itu pusing memikirkan jawabanya.

Sejujurnya, gadis itu sempat terkejut ketika kakaknya memeluknya erat secara tiba-tiba tadi pagi. Entah kenapa hatinya terasa teriris perih jika mengingat kejadian-kejadian kemarin terutama malam itu bersama kakaknya. Lalu, dengan perasaan biasa pun gadis itu mencoba melupakan kejadiannya. Ia tak ingin memori itu terus teringat. Apalagi kejadian malam tadi. Ketika nyaris saja ia akan dijual oleh ketiga penjahat itu. Untung saja ada yang datang menolongnya tepat waktu. Tapi, ia kadang heran. Kenapa bisa orang itu datang tepat waktu saat itu? Apakah ia memantaunya? Apakah itu terlalu mustahil untuk disebut sebuah kebetulan?

"li, lo udah siap belum? Ini udah setengah jam dari waktu sarapan tadi" Ucap seseorang dari luar pintu ruangannya. Gadis yang dipanggil Lily itu membulatkan matanya kaget. Kenapa bisa ia lupa?!

"Bentar kak! Aku lagi nyoba-nyoba make up ala douyin nih!" Teriak Lily bohong. Tak ada sahutan lagi dari luar pintu. Hanya terdengar suara langkah sepasang sepatu yang melenggang pergi menjauh meninggalkan ruangannya. Untung saja ia tak langsung masuk begitu saja seperti biasanya.

Ia pun segera bergegas bersiap untuk berangkat. Tak enak jika membuat seseorang menunggu lebih lama. Saat ia hendak mencari lipstik didalam lacinya, tiba-tiba ia melihat sebuah kartu aneh. Karena penasaran, ia pun mengambilnya.

"Ini bukanya... KTP ya?" Ia memperhatikannya dengan intens.

"Nama Lily Agatha, umur 17 tahun, status sekolah, anak ke dua, golongan darah -, Alamat jalan raya Bollba?" Lily sempat ngelag dengan nama jalan raya itu. Kenapa harus Bollba? Apa tidak ada nama lain yang lebih estetik? Seperti nama minuman saja bukan?

"Oh iya! Baru tau! Ini kan didunia novel! Kira-kira ini negara apa ya namanya?" Membayangkannya saja membuat gadis itu sedikit terkekeh. Dasar dunia aneh! Ia pun kembali menyimpan kartu itu.

📍📍📍📍📍

Siang itu disebuah toko, terlihat seorang gadis cantik tengah berjalan menyusuri lorong demi lorong rak-rak yang berisi buku berjejer rapi. Ia menatap kedepan dengan tatapan malas. Karena dibelakang sana, terdapat seorang pemuda terus saja mengikutinya. Dan itu sedikit membuatnya kesal. Inginnya hari itu ia habiskan sepenuhnya dengan menyendiri. Namun pemuda di belakangnya tak mungkin membiarkannya tenang seperti itu.

"Kak, mendingan kakak tunggu dikursi itu aja deh! Aku mau lamaa nih!" Ucapnya berbalik kebelakang membuat sang pemuda terdiam.

"Kenapa memangnya? Gak papa kalo mau lama juga" Jawabnya enteng. Gadis itu nampak menarik nafasnya panjang dan memejamkan matanya berusaha untuk tidak ngegas.

"Sini kak!" Dengan paksa gadis itu menarik sang empu menuju ke depan tempat dimana kursi-kursi tunggu berada.

"Duduk!" Ia menuntun pemuda itu duduk dikursi kosong. Dan dengan wajah polos sipemuda menurutinya.

"Gue bukan anak kecil, Lily. Jangan memperlakukan gue seperti itu" Ucapnya datar. Namun gadis itu tidak menghiraukannya. Bahkan ia malah menempelkan jari telunjuknya pada mulut pemuda itu.

"Sut suut sut! Aku gak akan lama kok! Bentar ya diem duduk disini okey!" Ia melenggang pergi dengan mengacungkan jari jempolnya dan mengedipkan matanya sebelah. Dasar bodoh! Kenapa ia harus berekspresi seperti itu padanya?! Membuatnya gemas saja. Apa ia ingin di cium lagi olehnya? Pikir Zevan.

"Sadarlah Zevan, dia adik lo!" Gumamnya sembari mengusap wajahnya kasar.

•••

"Wah! Novel kerajaan!" Lily berjingkrak kegirangan ketika melihat sebuah buku novel didepanya, apalagi covernya gambar orang tampan ala-ala khas Duke Utara yang dingin. Sudah cukup lama ia belum menemukan judul yang menarik perhatiannya.

Lalu, dengan perasaan riang ia pun berlari tanpa melihat jalan. Hingga ia harus tersungkur karena menabrak seseorang.

Bruk!!

"Awh!" Ringisnya ketika bokongnya dirasa perih karena langsung saja mendarat di lantai.

"Aduh! Maafkan saya!" Seseorang menghampirinya dan duduk dihadapannya.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!