Deskripsi
The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian di Negeri Asing
Kota Bintang, ibu kota Kerajaan Samudera Biru, sungguh merupakan pemandangan yang mempesona bagi siapa saja yang pertama kali melihatnya. Bangunan-bangunannya dibangun dengan arsitektur yang unik dan indah, dindingnya berwarna putih bersih atau berwarna-warni cerah yang memantulkan cahaya matahari, atap-atapnya melengkung anggun dihiasi ubur-ubur emas dan perak. Jalan-jalan utamanya lebar dan beraspal halus, berjejer dengan pohon-pohon kelapa dan tanaman hias yang rimbun. Di mana-mana terlihat kemewahan: pedagang yang menjual barang-barang mahal dari seluruh penjuru dunia, gerobak-gerobak yang ditarik kuda-kuda berharga tinggi, dan penduduk kota berpakaian kain sutra halus dengan perhiasan yang berkilauan.
Namun, bagi mata yang terlatih dan hati yang peka seperti Hunter, Taylor, dan Elizabeth, kemegahan itu hanyalah kulit luar yang tipis. Sejak mereka meninggalkan dermaga dan bergerak menuju pusat kota, mereka mulai melihat apa yang tersembunyi di balik gedung-gedung megah itu. Di lorong-lorong sempit di antara bangunan besar, terlihat rumah-rumah reyot yang berdesakan. Di pinggir kanal-kanal air yang jernih di dekat istana, airnya berubah keruh dan berbau busuk saat menjauh ke wilayah rakyat jelata. Di sudut-sudut jalan, ada wajah-wajah yang kurus, lelah, dan penuh kepahitan yang menatap iri dan benci pada kemewahan yang berlalu-lalang di depan mata mereka. Perbedaan antara si kaya dan si miskin di sini begitu tajam, begitu jelas, seolah mereka hidup di dua dunia yang berbeda meski berjalan di tanah yang sama.
Rombongan itu menempuh perjalanan menuju Istana Laut Kristal, kediaman Kaisar Liora. Istana itu berdiri di sebuah bukit kecil di tengah kota, dikelilingi tembok tinggi dan taman-taman indah, menghadap langsung ke arah laut lepas. Di sanalah mereka akan tinggal selama berada di negeri ini, sebagai tamu kehormatan tertinggi.
Setelah upacara penyambutan resmi selesai dan mereka sempat beristirahat sejenak untuk melepas lelah perjalanan panjang, malam harinya diadakanlah perjamuan besar di balai utama istana. Perjamuan itu sangat megah, meja-meja panjang terisi makanan dan minuman terbaik yang tak terhitung jumlahnya, lampu-lampu gantung dari kristal berkilauan menerangi ruangan luas itu, dan musik yang lembut mengalun mengiringi suasana. Hadir semua pejabat tinggi, para bangsawan, pemuka agama, serta para pemimpin Grup Tangan Besi yang dipimpin oleh Tuan Goran.
Di meja kehormatan, duduk Kaisar Liora di tengah, diapit oleh Hunter, Taylor, dan Elizabeth. Sepanjang jamuan itu, Kaisar Liora terus berusaha menciptakan suasana akrab dan hangat, menceritakan sejarah negerinya, bertanya tentang perjalanan mereka, dan memuji kebijaksanaan yang telah dicapai oleh negeri asal rombongan itu. Namun, suasana hangat itu terus saja terganggu oleh sikap para penguasa kekayaan itu. Mereka duduk dengan angkuh, berbisik-bisik sambil menatap sinis ke arah rombongan dari daratan, dan sesekali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang terdengar sopan namun sebenarnya penuh jebakan dan ejekan.
Tuan Goran, yang duduk tidak jauh dari situ, berkali-kali mengangkat gelasnya dan berteriak dengan suara lantang yang terdengar ke seluruh ruangan.
"Dengar, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya! Mari kita minum untuk para tamu agung kita dari seberang sana! Kudengar di tanah mereka, mereka mengajarkan bahwa semua orang harus sama rata, bahwa kekayaan berlebih itu buruk, dan bahwa kita harus hidup sederhana! Benar-benar ajaran yang unik... dan sangat menyedihkan bagiku."
Dia tertawa keras, diikuti oleh tawa-tawa sinis dari pengikutnya. Goran melanjutkan lagi, matanya menatap tajam ke arah Hunter.
"Bagaimana mungkin sebuah negeri bisa maju dan kuat jika tidak ada orang yang mau menjadi kaya? Bagaimana mungkin ada kemegahan, ada kapal besar, ada bangunan indah jika semua orang hanya mau cukup makan saja? Menurut pendapat kami di sini, kemewahan adalah tujuan hidup. Semakin kaya seseorang, semakin tinggi kedudukannya, berarti semakin hebat dia. Itulah hukum alam yang sesungguhnya. Yang kuat menguasai, yang pandai mengumpulkan, dan yang lemah... ya, mereka cukup berterima kasih jika diberi sisa makanan."
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Semua mata tertuju pada Hunter dan kedua orang tuanya. Ini adalah tantangan terbuka. Goran sengaja mengumbar pandangannya yang serakah dan tidak adil di depan umum, berusaha mempermalukan ajaran kebijaksanaan yang dibawa rombongan ini, dan berusaha meyakinkan hadirin lain bahwa cara hidup merekalah yang benar.
Kaisar Liora terlihat cemas dan marah, dia hendak menegur, namun Elizabeth menahan lengan Kaisar itu pelan, memberi isyarat tenang. Hunter tersenyum tenang, tidak ada sedikit pun rasa marah atau tersinggung di wajahnya. Dia bangkit berdiri perlahan, mengangkat gelasnya, dan menatap Tuan Goran dengan pandangan yang jernih dan tenang, namun begitu dalam hingga membuat Goran seketika berhenti tertawa.
"Tuan Goran yang terhormat, dan hadirin sekalian," mulai Hunter dengan suara yang tidak keras namun bergema jelas memenuhi ruangan, seolah memiliki kekuatan magis untuk menenangkan suasana. "Pandangan yang Tuan sampaikan itu sangat menarik, dan sebenarnya sangat umum. Banyak orang di dunia ini yang berpikiran sama, bahwa kekayaan adalah segalanya, dan bahwa perbedaan tajam antara kaya dan miskin adalah hal yang wajar dan tak terelakkan."
Dia berhenti sejenak, menyesap minumannya sedikit, lalu melanjutkan.
"Dulu, bertahun-tahun yang lalu, di tanah kelahiran kami, kami juga berpikiran demikian. Kami mengira bahwa kekuasaan dan kekayaan adalah hak mereka yang kuat dan pandai. Kami membiarkan segelintir orang menumpuk harta setinggi gunung, sementara yang lain kelaparan di depan pintu rumah mereka. Kami mengira itu adalah tanda kemajuan dan kekuatan. Namun, apa yang terjadi? Negeri kami menjadi lemah, terpecah belah, penuh rasa benci, dan mudah diserang oleh musuh dari luar. Kami menyadari, terlambat memang, bahwa bangunan megah tidak akan bertahan lama jika pondasinya terbuat dari tanah yang rapuh. Dan pondasi sebuah kerajaan itu adalah seluruh rakyatnya, bukan hanya segelintir orang di puncaknya saja."
Hunter menunjuk ke arah jendela yang terbuka, yang menampakkan pemandangan kota yang berkilauan di malam hari, namun di kejauhan samar terlihat asap tipis dari pemukiman kumuh.
"Kekayaan memang indah, Tuan Goran. Kami pun memiliki kekayaan yang melimpah di negeri kami. Hasil bumi kami berlimpah, kerajinan kami terkenal, dan gudang penyimpanan kami aman terjaga. Namun, kami mengerti satu hal dasar: kekayaan itu berharga jika dia berputar, jika dia mengalir, jika dia memberi manfaat. Seperti halnya darah di dalam tubuh manusia. Jika darah hanya berkumpul di satu tempat dan tidak mengalir ke seluruh anggota tubuh, maka anggota tubuh itu akan mati, dan tubuh itu sendiri akan jatuh sakit lalu mati juga. Begitu juga dengan kekayaan. Jika kekayaan hanya berkumpul di tangan segelintir orang dan berhenti di sana, tidak mengalir ke rakyat banyak, maka rakyat akan mati menderita, dan kerajaan ini pun perlahan akan jatuh sakit dan runtuh."
Suara Hunter semakin tegas namun tetap lembut. "Menjadi kaya itu bukan dosa, dan hidup sederhana bukanlah kesedihan. Kami mengajarkan bahwa kekayaan adalah amanah. Siapa yang diberi kemampuan mengumpulkan lebih banyak, maka dia memegang amanah yang lebih besar pula untuk memastikan kekayaan itu memberi manfaat bagi banyak orang. Kemegahan yang sesungguhnya bukanlah terlihat pada seberapa indah perhiasan di leher seseorang, tapi pada seberapa indah senyum yang ada di wajah setiap warga negaranya. Kekuatan yang sesungguhnya bukanlah seberapa banyak emas di gudang, tapi seberapa besar rasa saling mencintai dan percaya di antara sesama warga."
Keheningan yang mendalam melanda ruangan itu. Banyak wajah para bangsawan dan pejabat yang tampak tertegun, seolah ada sesuatu yang menembus hati mereka yang lama tertutup. Bahkan beberapa dari pengikut Goran tampak ragu dan menundukkan kepala. Ajaran ini masuk akal, masuk ke akal sehat dan hati nurani yang sebenarnya masih ada di dalam diri setiap manusia.
Namun, wajah Tuan Goran justru semakin merah padam menahan amarah. Dia tidak bisa membantah dengan logika, tapi dia juga tidak mau mengakui kebenaran itu. Dia hanya mendengus kasar, duduk kembali dengan kasar, dan bergumam pelan namun cukup terdengar oleh orang di sebelahnya. "Omong kosong... omong kosong yang indah tapi tidak berguna di dunia nyata."
Perjamuan malam itu berakhir dengan dua kesan yang sangat berbeda. Bagi Kaisar Liora dan mereka yang berharap perubahan, kehadiran rombongan ini adalah cahaya terang yang sangat ditunggu. Namun bagi Grup Tangan Besi dan pengikut mereka, kehadiran ini adalah ancaman nyata yang harus disingkirkan secepatnya.
Keesokan harinya, pekerjaan besar pun dimulai. Hunter, Taylor, dan Elizabeth, dibantu oleh para penasihat dan ahli yang mereka bawa, mulai bergerak. Mereka tidak mau hanya duduk diam di dalam istana dan memberi nasihat lewat kata-kata saja. Mereka meminta izin kepada Kaisar Liora untuk berkeliling melihat keadaan negeri ini secara langsung, dari wilayah paling makmur hingga ke pulau-pulau terpencil yang paling menderita.
Selama berminggu-minggu, mereka berlayar mengunjungi pulau-pulau di bawah kekuasaan Kerajaan Samudera Biru. Apa yang mereka lihat jauh lebih buruk daripada yang diceritakan Panglima Argan. Di pulau-pulau kecil yang kaya akan hasil laut dan hutan, rakyat hidup dalam kemiskinan yang parah. Mereka dipaksa bekerja keras mengumpulkan rempah-rempah, mutiara, atau kayu-kayu berharga, namun bayaran yang mereka terima sangat sedikit, hampir tidak cukup untuk makan sehari-hari. Para pengelola wilayah yang ditunjuk oleh Grup Tangan Besi bertindak sewenang-wenang, memungut pajak berlebih, dan menindas siapa saja yang berani protes.
Di sana, Hunter dan rombongannya mulai menerapkan langkah-langkah kecil namun nyata. Mereka mengajarkan cara mengolah hasil bumi dan laut menjadi barang yang bernilai lebih tinggi, sehingga rakyat tidak lagi hanya menjual bahan mentah dengan harga murah. Mereka mengajarkan sistem kerja sama dan serikat dagang milik rakyat, agar rakyat bisa bersatu dan memiliki kekuatan tawar yang setara di pasar. Mereka mengajarkan cara menjaga kelestarian alam, agar sumber daya tidak habis dalam waktu singkat. Dan yang paling penting, mereka mendidik para pemuda setempat tentang hak dan kewajiban warga negara, tentang arti keadilan dan persaudaraan.
Perubahan kecil mulai terasa. Di beberapa wilayah yang dikunjungi, kehidupan rakyat perlahan mulai membaik, rasa percaya diri mereka tumbuh kembali, dan harapan yang sempat mati kini menyala lagi. Kabar tentang kebaikan dan kebijaksanaan rombongan dari daratan itu menyebar bagai api di musim kemarau, didengar dari mulut ke mulut di seluruh penjuru kepulauan. Nama Hunter dipuji-puji dan dicintai oleh rakyat jelata, sementara nama Kaisar Liora kembali dihormati karena berani membawa perubahan ini.
Namun, semakin besar dampak positif yang ditimbulkan, semakin pula kebencian Grup Tangan Besi memuncak. Rencana mereka untuk membiarkan tamu asing ini hanya berpidato indah namun tidak berbuat apa-apa telah gagal total. Rencana mereka untuk mempermalukan ajaran itu juga gagal. Kini, kehadiran mereka benar-benar menggerogoti kekuasaan dan keuntungan besar para penguasa uang itu.
Maka, di sebuah ruangan rahasia di dalam gedung perdagangan utama milik Grup Tangan Besi, diadakanlah pertemuan gelap. Di sana berkumpul Tuan Goran dan para pemimpin tertinggi kelompok itu, wajah-wajah mereka penuh amarah dan niat jahat.
"Kita tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut!" bentak Goran, menumbukkan tangannya ke meja besar dari kayu mahoni. "Jika dibiarkan, dalam waktu singkat seluruh rakyat akan berpihak pada mereka. Kaisar akan semakin kuat, hukum-hukum baru yang membatasi kekayaan kita akan disahkan, dan kekuasaan kita selama ratusan tahun akan lenyap begitu saja!"
"Benar, Tuan Goran," sahut salah satu anggota, seorang pedagang senjata yang kejam dan berkuasa. "Mereka membawa racun yang sangat berbahaya. Racun persatuan dan keadilan. Hal itu akan membuat rakyat berani melawan kami. Kita harus menghentikan mereka. Selamanya."
"Bagaimana caranya?" tanya yang lain. "Mereka berada di bawah perlindungan Kaisar. Mereka dijaga ketat. Dan sekarang, rakyat sangat mencintai mereka. Jika sesuatu terjadi pada mereka di sini, seluruh negeri akan marah besar dan mungkin terjadi pemberontakan besar-besaran."
Goran tersenyum licik, senyum yang dingin dan mengerikan. Matanya berkilat penuh rencana jahat.
"Kita tidak perlu melakukannya secara terang-terangan. Itu memang bodoh. Tapi... siapa bilang bahaya hanya ada di dalam kota atau di dalam istana? Mereka suka sekali berkelana, bukan? Mereka suka pergi ke tempat-tempat jauh, ke pulau-pulau terpencil, ke hutan-hutan belantara untuk 'membantu' rakyat bodoh itu, bukan?"
Dia membungkuk ke depan, suaranya menjadi berbisik namun penuh ancaman.
"Ada banyak sekali bahaya di laut lepas. Ada badai yang tiba-tiba datang. Ada karang tajam yang tersembunyi di bawah air. Ada kelompok perompak liar yang tidak takut pada siapa pun dan tidak tunduk pada hukum kita... atau setidaknya, ada kelompok yang bisa disewa dan diatur agar terlihat seperti perompak liar."
Keheningan sejenak melanda ruangan itu, lalu perlahan senyum-senyum jahat bermunculan di wajah-wajah yang ada di sana. Mereka mengerti arah pikiran pemimpin mereka.
"Ya..." gumam salah satu dari mereka. "Kecelakaan di laut. Sangat disayangkan, sangat tragis. Tidak ada yang bisa disalahkan, kecuali nasib buruk. Kaisar akan sedih, rakyat akan berduka, tapi tidak ada yang bisa dituntut. Dan begitu mereka pergi, harapan rakyat akan mati kembali, dan segala sesuatu akan kembali seperti semula, di bawah kekuasaan kita."
Goran mengangguk puas. "Persiapkan segalanya. Kita punya mata-mata di mana-mana. Kita akan tahu persis kapan dan ke mana mereka akan berlayar berikutnya. Kita punya pasukan bayaran yang terlatih, yang bisa menyamar sebagai perompak di perairan utara. Pastikan tidak ada yang selamat, dan pastikan tidak ada bukti yang tertinggal. Masalah ini harus diselesaikan sebelum mereka berhasil mengubah seluruh wajah negeri ini."
Rencana jahat itu pun disusun dengan rapi dan dingin, tanpa sedikit pun rasa bersalah atau kemanusiaan. Di sisi lain, Hunter, Taylor, dan Elizabeth terus bergerak dengan hati yang tulus, tidak menyadari bahwa bayangan maut perlahan bergerak mendekat.
Beberapa hari kemudian, rencana perjalanan berikutnya ditetapkan. Mereka akan berlayar ke Kepulauan Utara, wilayah yang paling jauh, paling terlantar, namun juga paling kaya akan sumber daya alam dan sejarah kuno. Di sana, kabarnya ada sisa-sisa peninggalan masa lalu yang mungkin berkaitan dengan sejarah kedua bangsa mereka, sesuatu yang sangat ingin diteliti lebih dalam oleh Taylor.
Panglima Argan, yang selalu mengawal mereka, merasa sedikit gelisah. Sebagai orang yang menguasai laut, dia tahu bahwa perairan utara itu berbahaya, bukan hanya karena alamnya, tapi juga karena sering dijadikan sarang perompak yang liar dan kejam. Namun, Hunter meyakinkannya bahwa mereka harus tetap pergi.
"Justru karena di sana paling sulit dan paling terlantar, maka di sanalah kami paling dibutuhkan, Panglima," kata Hunter tegas. "Jangan khawatir. Selama niat kita baik dan tulus, langkah kita akan dilindungi."
Kapal-kapal berlayar kembali meninggalkan pelabuhan, kali ini menuju arah utara. Di atas kapal, mereka berdiskusi, berencana, dan berharap untuk membawa perubahan besar lagi di sana. Namun, di belakang mereka, jauh di kejauhan, sebuah kapal cepat berlayar diam-diam membawa pesan rahasia. Dan di perairan utara, di balik kabut tebal, sekelompok kapal hitam telah menunggu, dengan layar terkembang dan senjata terhunus, siap menebas nyawa pembear perubahan itu.
Ujian terberat dan paling berbahaya kini benar-benar di depan mata. Kehidupan mereka, masa depan persahabatan kedua kerajaan, dan nasib jutaan rakyat kini tergantung pada apa yang akan terjadi di perairan yang dingin dan berbahaya itu.