Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASA PEMULIHAN DAN KETAKUTAN YANG MENGINTIP
Rasa sakit di tubuhnya sama sekali tidak dirasakan oleh Raka. Yang ada di pikirannya hanyalah satu hal yaitu Alana. Ia berjalan terhuyung-huyung, sesekali harus bersandar ke dinding karena kakinya terasa lemas dan nyeri yang makin terasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Di sampingnya, Gubernur William juga berjalan dengan langkah cepat, wajahnya pucat dan matanya tidak henti-hentinya menatap ke depan, seolah bisa melihat keadaan putrinya dari kejauhan.
Sesampainya di ruangan tempat Alana dirawat, mereka berhenti sejenak di depan pintu. Dari dalam terdengar suara orang-orang yang bergerak cepat, suara percakapan yang tergesa-gesa, dan sesekali terdengar suara rintihan yang membuat hati mereka terasa tercabik-cabik.
Raka membuka pintu dan masuk terlebih dahulu. Di dalam, beberapa orang sedang sibuk mengurus luka Alana. Darah masih terlihat di bajunya dan di sekitanya, membuat perut Raka terasa mual dan amarah yang tadinya sudah mereda kembali menyala di dalam hatinya. Kalau saja ia bisa, ia akan menghancurkan apa saja dan siapa saja yang berani menyakiti orang ini.
Dokter yang sedang merawatnya menoleh, lalu memberi isyarat agar mereka tidak berisik.
“Lukanya cukup dalam, tapi untungnya tidak mengenai bagian-bagian yang penting. Ia kehilangan banyak darah, tapi nyawanya aman,” jelas dokter itu dengan nada yang tenang, tapi terlihat kelelahan di wajahnya.
“Ia masih belum sadarkan diri. Butuh waktu beberapa hari sampai ia benar-benar pulih, dan ia juga butuh istirahat yang cukup serta perawatan yang baik.”
Mendengar itu, napas Raka dan Gubernur William terasa terlepas begitu saja. Beban yang berat seolah terangkat dari pundak mereka. Raka berjalan mendekat dan berjongkok di samping tempat tidur, menatap wajah Alana yang pucat pasi, rambutnya yang berantakan, dan luka yang sudah dibalut rapi di bahunya. Ia meraih tangan gadis itu, memegangnya dengan hati-hati seolah takut ia akan hancur hanya karena sentuhan saja.
“Maafkan aku... maafkan aku karena membiarkan hal ini terjadi padamu,” bisiknya pelan, suaranya hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
“Aku berjanji, tidak akan ada lagi hal buruk yang menimpamu. Selama aku masih ada, aku akan menjagamu dengan segenap jiwa dan ragaku.”
Gubernur William berdiri di sisi lain tempat tidur, menatap putrinya dengan pandangan yang penuh kesedihan dan rasa bersalah. Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa berdiri diam dan memandang. Selama ini ia merasa ia adalah orang yang paling berkuasa, orang yang bisa mengatur segalanya, tapi saat melihat putrinya terbaring lemah seperti ini, ia sadar betapa lemahnya dirinya. Ia tidak bisa melindungi orang yang paling ia sayangi dengan sempurna.
><><><><
Beberapa hari berlalu. Gedung yang tadinya penuh dengan keributan dan kekacauan kini sudah mulai kembali tenang. Orang-orang yang terluka sudah dirawat, dan tempat itu sudah dibersihkan dari bekas-bekas pertempuran. Tapi ketenangan itu tidak berarti semuanya sudah selesai sepenuhnya.
Marco dan orang-orang yang setia padanya sudah ditangkap dan ditahan di tempat yang aman. Tapi keduanya—baik Raka maupun Gubernur William—sama-sama tahu, bahwa orang seperti Marco biasanya tidak bergerak sendirian. Pasti ada orang lain yang mendukungnya, ada orang lain yang memiliki kepentingan yang sama dengannya, dan mereka pasti masih ada di luar sana, bersembunyi dan menunggu kesempatan untuk bertindak lagi.
Selama hari-hari itu, Raka dan Gubernur William selalu ada di tempat yang sama, menjaga Alana secara bergantian. Meskipun sudah sepakat untuk tidak lagi saling bermusuhan, suasana di antara mereka tetap terasa tegang. Mereka masih saling curiga, masih ada rasa tidak percaya yang tersisa, dan masih ada banyak hal yang harus diselesaikan di antara mereka. Tapi untuk keselamatan dan kesembuhan Alana, mereka berusaha menyingkirkan semua itu untuk sementara waktu.
Hingga pada hari ketiga, mata Alana akhirnya terbuka perlahan. Pandangannya masih kabur, dan ia berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya di ruangan itu. Saat pandangannya sudah jelas, ia melihat dua orang yang langsung bangkit dan mendekatinya dengan wajah yang penuh kegembiraan sekaligus kekhawatiran.
“Ayah...” panggilnya dengan suara yang lemah.
“Ya, Nak, Ayah ada di sini. Tenang saja, semuanya sudah aman sekarang,” kata Gubernur William, tangannya terulur dan menyentuh lembut kepala putrinya.
Lalu pandangan Alana beralih ke orang di samping ayahnya. “Raka... kau juga ada di sini...”
Wajah Raka yang tadinya terlihat cemas kini terlihat lega sekali. “Tentu saja aku ada di sini. Aku tidak akan pergi ke mana pun, selama kau masih butuh aku.”
Alana tersenyum tipis, lalu menatap sekeliling ruangan. “Apa... apa yang terjadi? Apakah semuanya sudah selesai?”
“Belum sepenuhnya,” jawab Raka terus terang.
“Tapi bahaya yang paling dekat sudah teratasi. Marco dan orang-orangnya sudah ditangkap, dan tidak akan bisa mengganggu kita lagi untuk saat ini.”
“Tapi masih ada hal-hal lain yang harus kita hadapi,” tambah Gubernur William dengan nada yang serius.
“Seperti yang aku katakan sebelumnya. Ada banyak kesalahan yang sudah dilakukan, ada hukum yang harus ditegakkan, dan ada hal-hal yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.”
Raka menatapnya dengan pandangan yang sama tegasnya. “Aku tahu itu. Dan aku sudah katakan juga, aku siap mempertanggungjawabkan semuanya. Tapi tidak sekarang. Selama masih ada orang yang mengancam keselamatan kita, kita tidak bisa bertindak apa-apa. Kita harus memastikan semuanya benar-benar aman dulu.”
Alana menatap keduanya, dan meski tubuhnya masih terasa lemah, ia bisa merasakan ketegangan yang masih ada di antara mereka. Ia menarik napas pelan, lalu berbicara dengan suara yang jelas dan tegas.
“Kalian berdua sudah berjanji padaku. Kalian berjanji tidak akan ada lagi permusuhan, tidak akan ada lagi kekerasan. Tolong, tepati janji itu. Aku tidak mau semuanya kembali seperti semula lagi.”
Keduanya terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan.
“Kami berjanji, Nak. Kami akan menepatinya,” kata Gubernur William pertama kali.
“Aku juga,” tambah Raka.
“Selama kau ada di sini, selama kau masih mau ada di sampingku, aku akan melakukan apa saja yang kau minta.”
><><><><
Beberapa hari kemudian, keadaan Alana makin membaik. Ia sudah bisa berjalan-jalan di sekitar ruangan, meski masih harus dibantu dan tidak boleh bergerak terlalu banyak. Tapi kedamaian yang mereka rasakan itu tidak berlangsung lama. Suatu sore, saat Raka sedang duduk di teras, seorang orang kepercayaannya datang dengan wajah yang terlihat serius dan khawatir.
“Ada kabar, Tuan,” katanya sambil membungkuk hormat.
“Apa kabarnya? Katakan saja,” perintah Raka.
“Kami mendapatkan informasi dari orang-orang yang kami tugaskan untuk memantau keadaan di luar sana. Ternyata Marco bukanlah satu-satunya orang yang memiliki keinginan untuk menjatuhkan kita. Ada kelompok lain yang lebih besar, lebih kuat, dan memiliki jaringan yang jauh lebih luas. Mereka sudah lama bersembunyi, dan mereka merasa bahwa keberadaan Tuan dan juga Gubernur William menjadi penghalang bagi rencana-rencana mereka.”
Raka mengerutkan dahi, tatapannya menjadi tajam. “Lalu apa rencana mereka?”
“Mereka berniat untuk menghabisi kalian berdua, dan juga orang-orang yang dekat dengan kalian. Mereka melihat perselisihan di antara kalian sebagai kesempatan emas, dan mereka ingin memanfaatkannya. Tapi sekarang karena kalian sudah bersatu, mereka merasa makin terdesak, dan mereka berencana untuk bertindak secepatnya sebelum kalian semakin kuat.”
Berita itu membuat Raka terdiam sejenak. Ia sudah menduga bahwa hal seperti ini akan terjadi, tapi tidak menyangka bahwa ancamannya akan sebesar ini. Ia tahu betul, kelompok yang dimaksud itu adalah orang-orang yang sangat berbahaya, orang-orang yang tidak segan-segan melakukan apa saja demi mencapai tujuan mereka.
“Dan ada satu hal lagi, Tuan,” lanjut orang itu lagi.
“Mereka juga tahu tentang Nona Alana. Bagi mereka, ia adalah titik lemah dari kalian berdua. Dan kami mendapat kabar, bahwa mereka sudah merencanakan sesuatu yang berhubungan dengannya. Kami belum tahu secara pasti apa itu, tapi kami menduga itu sesuatu yang sangat berbahaya.”
Mendengar itu, amarah dan rasa takut bercampur menjadi satu di dalam hati Raka. Ia tidak akan pernah membiarkan ada orang yang menyakiti Alana lagi, tidak peduli siapa orangnya, tidak peduli seberapa kuat mereka itu.
“Perkuat semua penjagaan. Pastikan tidak ada orang yang tidak dikenal yang bisa masuk ke tempat ini. Dan terus cari tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan, dan di mana mereka bersembunyi. Aku mau tahu semuanya, secepatnya,” perintahnya dengan nada yang tegas dan penuh kekuasaan.
“Baik, Tuan.”
Setelah orang itu pergi, Raka duduk termenung. Ia tahu bahwa bahaya yang sebenarnya baru saja akan dimulai. Selama ini ia hanya berhadapan dengan orang-orang yang ia kenal, tapi kali ini ia menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih gelap dari apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia berdiri dan berjalan menuju ruangan tempat Alana berada. Begitu masuk, ia melihat gadis itu sedang duduk sendirian, menatap ke luar jendela dengan pandangan yang jauh. Mendengar langkah kakinya, Alana menoleh dan tersenyum saat melihatnya datang.
“Kau ada di sini,” katanya dengan nada lembut.
Raka duduk di sampingnya, dan kali ini ia tidak lagi menutupi apa yang ada di pikirannya. Ia tahu ia tidak bisa lagi menyembunyikan hal-hal ini dari Alana, karena gadis itu juga berhak tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang mereka hadapi.
“Ada hal yang harus aku katakan padamu,” katanya dengan nada yang serius.
Alana menatapnya, senyumnya perlahan menghilang, digantikan dengan rasa khawatir. “Ada apa? Ada sesuatu yang buruk terjadi lagi, ya?”
Raka mengangguk perlahan, lalu menceritakan semuanya—tentang kelompok baru yang muncul, tentang rencana mereka, dan tentang kenyataan bahwa Alana sendiri menjadi salah satu sasaran utama mereka. Ia bercerita dengan jujur, tidak ada yang ia sembunyikan.
Setelah selesai bercerita, ia menatap wajah Alana dengan pandangan yang penuh kekhawatiran. Ia takut gadis itu akan ketakutan, takut ia akan merasa tertekan, dan takut ia akan membenci dirinya karena membawa semua bahaya ini ke dalam hidupnya.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Alana tidak terlihat takut atau sedih. Ia hanya menatap Raka dengan pandangan yang tenang dan teguh.
“Jadi begini ya? Kita belum benar-benar aman ya?” katanya pelan.
“Maafkan aku, Alana. Maafkan aku karena semua ini. Kalau saja kau tidak bertemu denganku, kalau saja kau tidak terlibat dalam semua ini, kau pasti bisa hidup dengan tenang dan damai, tidak perlu menghadapi bahaya-bahaya seperti ini,” kata Raka dengan nada yang penuh penyesalan.
Alana menggeleng cepat, lalu meraih tangan Raka dan memegangnya erat.
“Jangan bicara seperti itu. Aku tidak pernah menyesal telah bertemu denganmu. Memang benar, hidupku sekarang tidak lagi seperti dulu, tidak lagi tenang dan sederhana. Tapi aku juga mendapatkan banyak hal yang tidak akan pernah aku dapatkan seandainya aku tetap hidup seperti dulu. Aku mengenalmu, aku tahu apa arti dari mencintai dan dicintai, aku juga jadi mengerti bahwa hidup itu tidak pernah seindah apa yang terlihat dari luar. Semua itu berharga bagiku, Raka. Semua itu membuat aku menjadi orang yang sekarang ini.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang makin tegas.
“Dan aku tidak takut. Kalau kita harus menghadapi ini, maka kita hadapi bersama-sama. Aku bukan lagi gadis kecil yang lemah yang hanya bisa menunggu dan menurut saja. Aku juga bagian dari ini, dan aku juga mau berjuang bersama kalian. Aku tidak mau hanya diam dan menunggu sambil dilindungi saja. Aku mau ikut serta, aku mau membantu sebisa kemampuanku.”
Kata-kata itu membuat hati Raka terasa bergetar. Ia menatap gadis di hadapannya ini, dan makin sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada orang yang benar-benar luar biasa. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena kekuatan hati dan keberanian yang ada di dalam dirinya.
Ia menarik tangan Alana dan menciumnya dengan lembut. “Baiklah. Kalau itu yang kau mau, maka kita akan hadapi semuanya bersama-sama. Aku tidak akan melarangmu, dan aku juga tidak akan lagi menyembunyikan apa pun darimu. Kita akan berjuang bersama, apa pun yang akan terjadi nanti.”
Tapi mereka tidak tahu, bahwa bahaya yang mereka bicarakan itu sudah semakin dekat. Di tempat yang tersembunyi dan jauh dari pandangan orang lain, sekelompok orang sedang merencanakan segalanya dengan matang. Mereka sudah tahu keberadaan tempat di mana Raka dan yang lainnya tinggal, mereka sudah tahu keadaan dan kekuatan yang ada di sana. Dan mereka sudah memutuskan, bahwa waktu untuk bertindak sudah tiba.
Malam itu, saat kegelapan menyelimuti seluruh kota, sekelompok orang bergerak diam-diam menuju gedung tempat mereka berada. Mereka bergerak cepat dan terlatih, tidak ada suara yang terdengar, tidak ada yang menyadari kehadiran mereka. Mereka datang dengan jumlah yang banyak, dengan peralatan yang lengkap, dan dengan niat yang tidak ada belas kasihan sedikit pun.
Dan saat mereka semakin mendekat, ketegangan yang terasa di udara makin terasa berat. Pertarungan yang jauh lebih besar, jauh lebih berbahaya, dan jauh lebih menentukan nasib semua orang ini, akan segera dimulai. Dan tidak ada yang bisa memastikan, apakah mereka akan bisa melewatinya dengan selamat, ataukah semuanya akan berakhir dengan kehancuran.