NovelToon NovelToon
Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Cintapertama
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Ellin Puspita

Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertengkaran itu kembali lagi

...----------------...

Laura langsung teringat Bela.

Terlebih pagi tadi Bela yang memintanya keluar rumah membeli obat.

Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.

Arman terdiam.

Tatapannya perlahan mengarah ke tangga lantai atas.

Di sana ada kamar Bela.

sebuah kecurigaan mulai muncul di benaknya.

Namun ia belum memiliki bukti apa pun.

Karena itu ia memilih diam.

"Ayah akan mencari tahu."

"Tapi jangan bilang apa-apa dulu ke siapa pun." Lanjutnya

Laura mengangguk pelan.

Di lantai atas, tanpa mereka sadari, Bela yang sejak tadi menguping dari balik pintu kamar langsung menegang.

Ia tidak menyangka Arman mulai mencurigai bahwa semua ini bukan kebetulan.

Dan itu membuatnya sedikit gugup.

sore harinya Laura sedang membuat jus didapur kemudian terdengar suara motor Arka yang sudah memasuki gerbang rumah.

Arka turun dari motornya lalu ia langsung merebahkan badannya dikamar, badannya terlalu capek karena seharian bekerja sangat keras.

Laura pun menyusul Arka ke kamar dengan membawakan jus yang ia buat tadi.

"ini jus buat kamu, biar lebih seger lagi badannya" ucap Laura sambil meletakkan jus diatas meja

Arka pun mengangguk "iya makasih ya, hari ini berat banget kerjaan tidak seperti biasanya" lalu ia menghela napas panjang

Melihat Arka yang tampak begitu lelah, Laura mengurungkan niatnya untuk menceritakan apa yang terjadi siang tadi.

Ia hanya tersenyum tipis dan duduk di tepi ranjang.

"Kalau capek, istirahat dulu ya," ucap Laura pelan.

Arka mengangguk.

"Iya. Hari ini benar-benar bikin pusing."

Laura hanya mengelus lengan suaminya dengan lembut.

Di dalam hatinya, ia ingin sekali bercerita. Ia ingin mengadukan semua yang terjadi. Tentang foto itu. Tentang Rohaya yang kembali membencinya. Tentang fitnah yang kembali menimpanya.

Namun ia tidak tega menambah beban pikiran Arka.

Beberapa menit kemudian, Arka merebahkan tubuhnya di ranjang.

Laura membantu merapikan bantal di belakang kepala suaminya.

"Makasih ya."

Laura tersenyum kecil.

"Sama-sama."

Tak lama kemudian, napas Arka mulai terdengar lebih teratur.

Lelaki itu tertidur karena kelelahan.

Laura menatap wajah suaminya dalam diam.

Ia mengusap pelan rambut Arka yang sedikit berantakan.

"Aku nggak mau bikin kamu tambah pusing," ucapnya didalam hati

Namun saat mengingat tatapan Rohaya sore tadi, matanya kembali berkaca-kaca.

Ia menunduk memegang perutnya yang masih sangat kecil.

"Maaf ya, Nak."

Laura berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.

Ia tidak ingin stres seperti yang dipesankan dokter.

Setelah memastikan Arka benar-benar tertidur, Laura bangkit dari duduknya dan keluar kamar dengan pelan.

Saat menuruni tangga, langkahnya terhenti.

Di ruang tamu, ia melihat Arman sedang duduk sendirian sambil memikirkan sesuatu.

Melihat Laura, Arman segera mengangkat kepalanya.

"Arka sudah pulang?"

Laura mengangguk.

"Sudah, Yah. Dia lagi tidur."

Arman menghela napas.

"Baguslah."

Laura lalu duduk di kursi yang berhadapan dengannya.

Suasana hening beberapa saat.

Sampai akhirnya Arman berbicara.

"Kamu belum cerita ke Arka?"

Laura menggeleng.

"Belum."

"Kenapa?"

Laura tersenyum pahit.

"Dia kelihatan capek sekali."

Arman memahami alasan itu.

Namun semakin melihat Laura yang terus menanggung semuanya sendirian, ia semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres.

Tatapannya perlahan mengarah ke lantai atas.

Ke arah kamar Bela.

Entah kenapa, sejak siang tadi hatinya terus mengatakan bahwa semua kejadian itu bukan kebetulan.

lalu Arman memutuskan satu hal.

Ia akan diam-diam mencari tahu siapa pria yang muncul di apotek itu.

Karena jika benar ada seseorang yang sedang menjebak Laura, maka ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.

Sementara di lantai atas, Bela yang sedang berada di kamarnya tersenyum puas.

Ia yakin Laura tidak akan berani menceritakan apa pun kepada Arka malam ini.

Dan selama Arka tidak tahu, rencananya masih berjalan dengan sempurna.

Namun yang tidak diketahui Bela, Arman sudah mulai bergerak mencari kebenaran.

Arman pun beranjak dari tempat duduknya, ia akan pergi ke apotek sore itu untuk menanyakan ke orang sekitar apakah mereka mengenali lelaki itu atau tidak

Melihat Arman beranjak pergi, Laura bertanya "mau kemana ayah?"

"mau ke apotek dulu mencari tau soal pria itu"

tiba-tiba Laura menggelengkan kepalanya, ia takut bahwa hal ini bisa membuat Arman dan Rohaya bertengkar lagi.

"jangan ayah, aku takut ayah sama ibu bertengkar lagi" ucap lirih Laura memohon agar Arman tidak mencari tau hal itu.

Tiba-tiba saja ada telepon masuk dari ponsel Arman "nomor tak dikenal? Siapa ini" ucap Arman dalam hati

Arman menolak telepon itu tetapi nomor itu terus menerus menelpon Arman, Laura yang melihat itu tampak heran karena Arman tak kunjung mengangkat telepon itu

"kenapa tidak diangkat saja ayah?" tanya Laura

merasa risih, Arman pun mengangkat telepon itu.

"halo, siapa ini!" sontak Arman karena ia merasa risih dengan nomor itu yang terus menerus menelponnya

"Arman, ini aku Sinta" seketika mata Arman melotot mendengar nama itu, ia heran darimana Sinta mendapatkan nomornya

"mau apa kamu?" ucap Arman.

"bagaimana janji kamu? kamu tidak kasihan dengan anak kamu cia? Dia dari kecil sudah kehilangan peran kamu sebagai ayah!"

"berapa yang kamu mau? Aku akan transfer sekarang asal jangan pernah hubungi aku lagi" Arman sudah kehilangan batas sabarnya

"ini bukan persoalan yang saja! tapi kamu harus mengakui bahwa Cia adalah anak kamu didepan semua orang!"

Ruang tamu yang semula tenang mendadak dipenuhi suara perdebatan.

Rohaya yang baru saja keluar dari kamarnya mendengar suara Arman yang sedang berbicara melalui telepon.

Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan.

Namun ketika mendengar nama Cia disebut, langkahnya langsung terhenti.

"Aku sudah bilang aku akan mengurusnya," ucap Arman dengan nada mulai meninggi.

"Aku tidak mau mendengar janji lagi!" suara Sinta terdengar samar dari ponsel. "Besok semuanya harus jelas."

Rohaya yang mendengar itu langsung menghampiri Arman.

Rohaya yang mendengar itu langsung menghampiri Arman.

"Siapa itu? Sinta lagi?" tanyanya tajam.

Arman menghela napas.

"Iya."

Sebelum Arman sempat mengatakan apa pun, Rohaya langsung merebut ponsel dari tangannya.

"Rohaya?" sahut Arman

"Dengarkan saya baik-baik. Besok masalah ini akan diurus."

Ucapan Rohaya membuat Arman langsung berdiri.

"Rohaya, jangan—"

Rohaya mengangkat tangannya, menghentikan Arman.

"Saya sudah lelah dengan semua keributan ini. Kalau memang Arman punya tanggung jawab yang harus diselesaikan, maka besok akan diselesaikan."

Sinta tampak tidak menyangka mendengar hal itu.

"Jadi kamu setuju?"

"Aku tidak setuju dengan apa yang terjadi di masa lalu. Tapi aku juga tidak ingin masalah ini terus menghantui keluarga kami."

Rohaya berbicara dengan nada tegas.

"Besok datanglah. Kita bicarakan semuanya baik-baik." lanjutnya

Setelah mengatakan itu, Rohaya langsung memutus sambungan telepon.

Suasana ruang tengah mendadak hening.

Arman menatap istrinya dengan wajah tidak percaya.

"Kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan?"

"Aku tahu."

"Kamu membuat mereka berpikir mereka bisa terus menekan kita."

Tanpa mereka sadari, pertengkaran itu terdengar hingga ke lantai atas.

Di dalam kamar.

Arka yang sejak tadi tertidur karena kelelahan perlahan membuka matanya.

Keningnya berkerut saat mendengar suara ayah dan ibunya berdebat.

Bersambung....

1
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. semangat terus.

btw saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel. tinggal tekan profile, terima kasih /Grin/
Kim Borahae: hehe iya🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!