Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Dusta?
Apa maksud Luna kalau dirinya berdusta? Jelas sekali Arya menunjukkan cintanya tapi Luna yang tak mau menerima. Dan sekarang dia dituduh berdusta? Bahkan istrinya tak ragu untuk menamparnya?
"Kenapa? Kenapa?" tanyanya lalu mendorong tubuh Luna ke pintu gudang sampai terdengar suara BAAAAMM yang lumayan keras. Ketika istrinya ingin membuka mulut, dia tak lagi menahan diri. Arya segera melahap bibir istrinya. Menggerakkan lidahnya dengan lincah di dalam sana. Bahkan tak segan untuk menghisap lidah istrinya dan menimbulkan bunyi yang menambah gairah.
Luna mulai menunjukkan penolakan. Mendorong badannya dan menggigit bibir Arya. Tapi tak dia hiraukan. Kaki Luna bergerak ke arah pahanya, mungkin ingin menginjak kakinya. Dan Arya memanfaatkan hal itu untuk mengangkat tubuh istrinya. Meletakkan tubuh Luna di salah satu rak yang kosong dan mulai melepas bajunya. Gerakannya membuat Luna sedikit bebas dan berteriak.
"Apa yang kau lakukan??? Lepas!!"
Tentu saja Arya tak menggubris permintaan istrinya. Dia kembali membungkam Luna dengan ciuman. Melepaskan pakaian istrinya dengan satu gerakan cepat. Tangannya bergerak ke seluruh tubuh Luna, mencari titik-titik yang dulu diingatnya selalu membangkitkan gairah istrinya. Beberapa masih menimbulkan akibat yang sama dan sebagian lainnya tidak.
Segera saja Arya mendengar desahan-desahan menggoda Luna. Dia merasa di puncak ketika semua yang dilakukannya bisa membuat Luna seakan mengambang di udara. Dan ketika rasa itu tak tertahan lagi, Arya menaikkan rok Luna lalu membebaskan miliknya yang sejak tadi berdenyut tak karuan.
Kini, dia akan menggenggam kembali apa yang pernah menjadi miliknya. Tapi ...
"Selamat malam!!! Apa ada orang??!" teriak orang yang mungkin pelanggan toko istrinya.
"Lepash" pinta Luna yang wajahnya penuh dengan peluh serta gairah.
"Tidak mau"
Arya mengatur tubuh Luna dan hampir saja memasukkan miliknya ketika ...
"Kak Luna??? Apa kau ada di dalam??! Aku mengantar makanan untukmu!!"
Siall. Kenapa ada pengganggu disaat seperti ini? Arya berusaha mengabaikan suara diluar tapi Luna tidak. Istrinya itu kembali meronta, ingin mengakhiri semuanya. Tentu saja Arya tidak terima, dia mulai menggosokkan miliknya untuk menghentikan pemberontakan istrinya.
Tepat disaat dia mulai menggerakkan miliknya masuk.
"Kak Luna!!!"
Pintu gudang bergerak, seperti terdorong dari luar. Sepertinya orang yang mengantar makanan untuk Luna yang membukanya. Istrinya menggunakan tenaga untuk mendorong Arya sampai terjatuh ke belakang. Membereskan pakaian dan rambutnya dan segera keluar dari gudang. Meninggalkannya dalam keadaan yang memalukan dan menyedihkan.
"Terima kasih ... sudah ... mengantar ... sampai ke ... toko"
Terdengar suara Luna yang sengau dan penuh jeda.
"Iya, tapi apa yang kak Luna lakukan di gudang? Aku dengar suara sesuatu jatuh ke lantai"
"Aku? Memeriksa stok buku. Saat mau mengambilnya teryata buku-buku itu jatuh. Karena itu ... "
Sungguh alasan yang bagus. Arya kemudian mulai bangkit dari posisi yang dipertahankannya selama beberapa menit. Dia mengenakan lagi celana dan bajunya lalu mulai membereskan gudang toko istrinya.
"Padahal sedikit lagi" sesalnya.
Saat Arya berbalik, dia melihat Luna dengan wajah dinginnya.
"Pergi!!" kata istrinya begitu tegas. Persis seperti pertama kali mereka bertemu lagi beberapa Minggu lalu
"Luna, apa sebenarnya salahku? Tadi pagi, kita hampir saja melakukannya. Tapi kau mendadak berubah. Dan sekarang kau menolakku lagi. Apa yang harus kulakukan agar kau tidak menyuruhku pergi?" tanyanya
"Aku tidak mau mendengar lagi perkataanmu. Pergi sekarang atau aku panggil semua orang untuk memaksamu pergi"
Tidak mau membuat situasi menjadi lebih buruk, Arya menyerah. Dia memilih pergi tapi tangannya terulur ke arah Luna. Menyodorkan sesuatu milik istrinya yang tertinggal di gudang. Sebuah celana dalam berenda yang sedikit basah di bagian bawahnya. Luna segera merebut celana dalam itu sembari menghadap ke arah yang berlainan.
"Kau siap menerimaku tadi" katanya mengingatkan Luna kalau sebenarnya mereka membutuhkan satu sama lain.
"Kau memaksaku"
"Kau menikmatinya sayang"
"Apa gunanya?"
"Apa?"
"Aku tidak tahu apa maksudmu datang lagi dalam hidupku. Dan melakukan banyak hal yang seharusnya tak kau lakukan. Tapi aku sekarang sudah menjalani hidup baruku. Tanpamu. Akan lebih baik kalau kau kembali ke hidupmu sendiri. Dengan siapapun kau ingin menjalani hidupmu, aku tak akan peduli lagi" kata Luna tidak bisa Arya mengerti.
"Luna, kenapa begini lagi? Padahal kita sudah ... "
"Tidak ada lagi kata 'kita' lagi. Tidak ada. Pergilah!!"
Mendengar ketetapan istrinya, Arya tak ingin lagi membantah. Dia melangkah keluar dari toko istrinya tapi tetap menunggu di dekat sana.
Tepat pukul 21.00, Luna memulai proses penutupan toko. Membereskan segalanya lalu mematikan semua lampu. Menutup rolling door dengan sekuat tenaga.
"Aku lupa memberikan minyak di pintu itu" kata Arya pada dirinya sendiri.
Kemudian Luna berjalan ke arah halte. Berdiri disana sendirian menatap jalan yang kosong. Arya baru sadar kalau Luna tidak memiliki teman sama sekali. Selama beberapa hari mengikuti langkah istrinya, Arya tidak melihat kehadiran teman sama sekali. Bahkan di rumah Luna juga tidak ada foto istrinya dengan orang lain. Hanya ada foto istrinya dengan keluarga saja.
Bus datang dan Luna masuk ke dalamnya. Arya secara diam-diam masuk ke bus yang sama namun duduk di belakang. Bersembunyi di balik seorang pria yang badannya lebih besar dari dirinya. Sambil terus mengamati istrinya.
Luna hanya mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Terus seperti itu sampai turun di halte tujuan. Berjalan perlahan ke arah apartemen tanpa bicara satu katapun. Dan tak lama naik lift untuk pergi ke kamar apartemennya di lantai lima.
Tiga tahun. Apa Luna menjalani hidup seperti ini selama tiga tahun? Sendirian saja tanpa kehadiran siapapun? Kalau begitu bukankah istrinya itu kesepian? Lalu kenapa Luna selalu mengusirnya pergi saat Arya muncul lagi? Padahal dia bisa menjanjikan kehangatan yang banyak pada istrinya.
Setelah menghabiskan beberapa waktu berdiri diam di depan apartemen istrinya, Arya memutuskan untuk kembali ke tempatnya sendiri.
Keesokan harinya, pengacara Herman melaporkan kendala di rumah baru yang dia beli. Arya harus pergi ke rumah itu segera. Dia naik lift dan turun menuju lobi. Tak disangka lift akan terbuka di lantai 5. Beberapa orang masuk ke dalam lift tapi bukan istrinya. Disaat pintu lift akan tertutup, sebuah tangan ramping menghentikannya. Luna, istrinya masuk ke dalam lift, tapi tidak menyadari kehadiran Arya.
"Dia yang tinggal di 507?"
Tiba-tiba Arya mendengar bisikan dari orang yang ada di depannya.
"Iya, dia wanita gendut waktu itu!"
Gendut?
"Akhirnya dia bisa menurunkan berat badan?"
"Baru-baru saja. Ternyata cantik juga kalau kurus"
Baru-baru saja? Berarti Luna memiliki masalah berat badan setelah Arya pergi tiga tahun lalu? Arya pikir tidak terlalu parah sampai harus diejek secara terang-terangan begini. Tapi, bukankah dia pernah mengejek Luna tepat di depan mata istrinya itu? Lalu apa bedanya dia dengan orang-orang ini?
Dan yang lebih parah, Arya sama sekali tidak memikirkan perasaan istrinya ketika datang untuk kembali. Bahkan tak segan memaksa Luna untuk menerimanya kembali hanya berbekal kemaluan. Mendadak Arya merasa sangat buruk. Dia tak berhak melakukan hal ini pada Luna. Dia harus mengambil jarak yang cukup dan memenangkan hati istrinya kembali dengan cara yang lebih baik.
tahi