NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Sebatang Cokelat

Sabtu pagi di SMA 1 Nusa Bangsa biasanya terasa lebih santai dibandingkan hari-hari lainnya. Aroma akhir pekan sudah mulai tercium di koridor sekolah, dan beban pelajaran cenderung lebih ringan. Namun, bagi Cinta, Sabtu kali ini membawa sebuah pemandangan yang jauh lebih menyegarkan daripada udara pagi.

Saat Cinta melangkah masuk ke kelas XI MIPA 1, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu. Matanya mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah karena kurang tidur akibat begadang menulis draf novel semalam.

Di pojok kelas, di meja yang biasanya hanya diisi oleh keheningan dan aura dingin, kini tampak sebuah kerumunan kecil. Rian tidak lagi duduk menyendiri menatap jendela. Ia dikelilingi oleh Fajar, Bagas, dan Rio. Mereka tampak terlibat dalam percakapan yang seru, sesekali Fajar menggerakkan tangannya dengan heboh sambil menunjukkan layar ponselnya.

"Serius, Rian? Kamu pakai item itu buat hero ini?" suara Bagas terdengar kaget namun antusias.

Rian menyandarkan punggungnya di kursi, tangannya terlipat di depan dada.

"Efisiensi. Kamu tidak butuh damage besar di awal kalau kecepatan seranganmu sudah maksimal. Itu logika dasarnya," jawab Rian tenang. Meski suaranya tetap datar, ada nada keakraban yang belum pernah Cinta dengar sebelumnya.

Fajar tertawa sambil menepuk meja Rian. "Gila, benar kata Bagas! Cara berpikirmu itu beda, Yan. Pantas saja kuis Matematika kemarin kamu santai banget."

Cinta berdiri mematung sambil memeluk tasnya. Ia melihat Rian menarik sudut bibirnya, kali ini bukan senyum yang dipaksakan atau seringai mengejek, melainkan senyum tipis yang tulus.

Rian menyadari kehadiran Cinta, matanya sempat bertemu dengan mata gadis itu selama sedetik, lalu ia kembali menanggapi ucapan Rio tentang strategi game mereka.

Cinta berjalan menuju bangkunya dengan hati yang terasa begitu ringan. Ia merasa seperti seorang sutradara yang baru saja melihat adegan tersulit dalam naskahnya berhasil diperankan dengan sempurna.

"Ehem! Ada yang sedang berbunga-bunga nih kelihatannya," sebuah bisikan jahil tiba-tiba menyapa telinga Cinta.

Sarah sudah duduk di sampingnya, menatap Cinta dengan senyum penuh arti. Ia melirik ke arah kerumunan di meja Rian, lalu kembali menatap Cinta sambil menaikkan alisnya berkali-kali.

"Apa sih, Sar?" tanya Cinta, berusaha menyibukkan diri dengan mengeluarkan buku paket dari tasnya.

"Jangan pura-pura tidak tahu. Lihat tuh, si misterius sudah mulai jinak. Dan aku tahu siapa pawang yang sudah kasih instruksi," goda Sarah.

"Hebat juga pengaruhmu, Cin. Fajar bahkan cerita padaku kalau Rian yang menyapa dia duluan kemarin sore. Itu rekor sejarah di angkatan kita, lho!"

Cinta tersenyum kecil. "Aku cuma kasih sedikit saran. Baguslah kalau dia mau mendengarkan. Kasihan kan kalau dia tidak punya teman selain aku?"

Sarah mendekatkan wajahnya, suaranya mengecil menjadi bisikan rahasia. "Kasihan atau... kamu memang ingin dia jadi versi terbaiknya supaya kamu makin suka?"

"Sarah!"

"Aduh, lihat pipimu! Merah banget, Cin. Kayak kepiting rebus," Sarah tertawa tertahan. "Akui saja, kamu senang banget kan melihat dia bisa bergaul begitu?"

Cinta tidak membantah. Ia memang senang. Sangat senang.

...****************...

Jam istirahat tiba, dan pemandangan luar biasa itu kembali berlanjut. Biasanya, Rian akan tetap di kelas atau pergi sendirian. Tapi hari ini, saat Fajar berteriak, "Rian! Ayo ke kantin, Rio mau traktir bakso karena menang match semalam!", Rian berdiri tanpa ragu.

"Ayo," sahut Rian singkat.

Cinta dan Sarah berjalan beberapa langkah di belakang rombongan laki-laki itu menuju kantin. Di kantin, suasananya jauh lebih ramai. Rian duduk di tengah-tengah Fajar, Bagas, dan Rio. Kehadiran Rian di meja yang penuh tawa itu tentu saja menarik perhatian banyak murid lain.

Dimas dan anggota tim basketnya yang sedang duduk di meja seberang tampak memerhatikan dengan wajah heran, seolah tidak percaya bahwa si murid pindahan yang berbahaya itu bisa tertawa bersama anak-anak kelas MIPA.

Cinta duduk bersama Sarah di meja biasanya, namun pandangannya tidak bisa lepas dari meja Rian. Ia melihat Rian sedang mendengarkan cerita Fajar yang penuh ekspresi. Sesekali Rian menimpali dengan kalimat pendek yang membuat Bagas dan Rio terpingkal-pingkal.

Tanpa sadar, sebuah senyuman lebar merekah di wajah Cinta. Ia merasa bangga. Rian yang dulu terlihat begitu kesepian dan penuh luka, kini mulai menemukan tempat pulang di antara teman-temannya.

"Cin, makan baksonya. Nanti dingin," tegur Sarah, meski nada suaranya tetap menggoda.

Cinta tersadar dan segera menyuap baksonya. "Iya, ini sedang makan."

Sarah menopang dagu, memerhatikan sahabatnya dengan tatapan menyelidik. "Kamu tahu tidak? Dari tadi kamu tidak berhenti tersenyum setiap kali Rian tertawa. Pandangan matamu itu... aduh, bagaimana ya menjelaskannya? Seperti sedang melihat berlian yang baru selesai dipoles."

"Aku cuma lega, Sarah. Usahaku berhasil," bela Cinta.

"Lega atau cinta?" pancing Sarah dengan cepat.

Cinta menghentikan kunyahannya. Pertanyaan Sarah kali ini terasa lebih menusuk ke dalam hatinya. Ia mencoba mencari argumen logis untuk membantahnya, namun logika seolah mendadak lumpuh.

"Dengar ya, Cinta Indah Puspita," Sarah memanggil nama lengkap Cinta, tanda ia sedang serius. "Sebagai sahabatmu dari zaman masih pakai seragam putih-biru, aku tahu cara kamu menatap orang. Kamu tidak pernah menatap cowok lain seperti kamu menatap Rian. Bahkan ke Fajar yang baik saja, kamu cuma menganggap dia teman sekelas biasa."

Sarah menunjuk ke arah Rian dengan dagunya. "Tapi ke Rian... ada rasa peduli yang lebih. Ada rasa ingin melindungi, ingin memperbaiki, dan ada rasa... kagum. Kamu tidak bisa membohongiku, Cin. Apalagi kamu itu penulis novel. Kamu tahu betul kan tanda-tanda tokoh utama wanita yang mulai jatuh cinta?"

Cinta terdiam. Ia menatap mangkuk baksonya yang tinggal setengah. Ia membayangkan kembali momen-momen selama beberapa hari terakhir. Payung biru di tengah hujan, kontak fisik saat menyerahkan tongkat estafet, aroma parfum kayu saat Rian mengunci helmnya, dan janji jari kelingking mereka kemarin.

"Aku... aku cuma merasa dia orang yang istimewa, Sar," ucap Cinta akhirnya dengan suara pelan.

"Memang dia istimewa. Dan dia menjadi lebih istimewa karena kamu yang membuka jalannya," Sarah memegang tangan Cinta di atas meja.

"Jangan takut, Cin. Jatuh cinta itu bukan pelanggaran aturan sekolah. Malah mungkin, ini adalah bab paling seru dalam hidupmu yang selama ini terlalu datar."

Cinta mendongak, melihat Rian yang tiba-tiba menoleh ke arah mejanya. Rian tidak tersenyum ke kerumunan temannya kali ini, ia menatap langsung ke mata Cinta. Rian mengangkat gelas es tehnya sedikit seperti gestur terima kasih yang halus seolah tahu bahwa kebahagiaannya saat ini adalah hasil dari dorongan Cinta.

Cinta membalasnya dengan anggukan kecil dan senyuman yang paling tulus.

"Tuh kan! Saling lirik lagi!" seru Sarah heboh, membuat beberapa murid di sekitar mereka menoleh.

"Sarah, kecilkan suaramu!" bisik Cinta panik, wajahnya kini benar-benar terasa panas.

Sarah hanya tertawa puas. "Biarkan saja seisi dunia tahu. Lagipula, kalian serasi. Yang satu mengatur dunia, yang satu lagi melindungi dunianya."

...****************...

Sore harinya, saat jam sekolah berakhir, Rian menghampiri meja Cinta. Fajar dan yang lainnya sudah menunggu di depan pintu kelas.

"Aku akan pergi ke warung depan dulu dengan mereka," kata Rian. "Kamu pulang dengan ojek?"

"Iya, ojekku sudah bisa jemput hari ini," jawab Cinta sambil merapikan tasnya.

Rian mengangguk. Ia merogoh sesuatu dari sakunya dan meletakkannya di atas meja Cinta. Sebuah cokelat batangan kecil.

"Untuk apa ini?" tanya Cinta heran.

"Cokelat untukmu. Aku tahu kamu pasti akan begadang untuk belajar lagi malam ini," jawab Rian pendek. Sebelum Cinta sempat membalas, Rian sudah berbalik dan menyusul Fajar.

Cinta memegang cokelat itu dengan perasaan yang tak menentu. Ia melihat punggung Rian yang kini berjalan berdampingan dengan teman-teman barunya. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi tembok.

Sarah yang berdiri di samping Cinta hanya bisa berdeham keras-keras. "Ehem! Cokelat dari si misterius."

Cinta tidak membalas godaan Sarah kali ini. Ia hanya tersenyum sambil memasukkan cokelat itu ke dalam tasnya, menjaganya seperti sebuah harta karun yang sangat berharga.

1
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!