Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 34 : Doa dan Gelang Emas
*Ep 34 : DOA, KAKI PEGEL, DAN GELANG EMAS*
*Jam 03.00 WIB. Rumah Berkat Karawaci*
Alarm nggak bunyi. Tapi Indry udah kebangun duluan.
Sudah kebiasaan sejak lama. Jam 3 itu jamnya ngadu ke Tuhan.
Dia pelan-pelan bangun, takut berisik. Tapi pas buka mata, Zaki udah duduk di pinggir kasur. Pakai kaos oblong, rambut acak-acakan, mata masih setengah ngantuk.
“Kamu nggak tidur lagi?” tanya Indry pelan. .
Zaki senyum. “Nggak enak tidur sendiri. Lagi juga… hari ini hari panjang.”
Mereka duduk bersila di lantai. Nggak ada lilin, nggak ada musik rohani. Cuma lampu tidur kecil dan suara Ac di kamar.
Zaki genggam tangan Indry. Hangat. Telapak tangannya kasar, tapi genggamannya hati-hati.
“Mulai ya?” tanya Zaki.
Indry angguk.
Zaki mulai Doa cara Dia. Lantunan ayat nya sangat merdu.
Indry mulai Tanda salib. Doa Yesus. Lagu Kemurahan Tuhan Indry nyanyikan. Pelan. Nada lembut.
gak barengan. Gak rebutan. beneran suara dari hati orang yang lagi ngomong ama Tuhannya.
jadi Ogah di atas bisa denger Sholawatan lalu nyusul lagu Kemurahan Tuhan. Ogah ketawa aja.... Anjiiirrrr rumah jadi Mushola dan Kapel di ruang yang sama.
Lalu selesai. Mereka berpandangan. Indry cium tangan Zaki. mereka gandeng tangan. lanjut doa bareng.
Zaki tarik napas. “Tuhan Yesus… makasih buat malam yang tenang. Makasih buat nafas yang masih kami punya. Hari ini kami mau urus banyak hal lagi. Kami capek, Tuhan. Tapi kami mau jalan ini sama-sama. Kalau boleh, pegang tangan kami. Biar nggak ada yang kepeleset. Biar kami ingat, nikah itu bukan cuma soal kami berdua, tapi soal Engkau yang ada di tengah. Amin.”
Suara Zaki pelan, tapi mantap.
Indry ikut genggam lebih erat. Matanya udah berkaca-kaca.
“Tuhan… aku nggak pinter ngomong,” bisik Indry.
“Tapi Engkau tau semua yang ada di hati aku. Aku takut, Tuhan. Takut salah langkah. Takut bikin Zaki kecewa. Takut keluarga kecewa. Tapi aku percaya, kalau ini jalan-Mu, Engkau bakal kasih jalan. Kasih kami kekuatan buat sabar, buat ngerti, buat saling jaga. Aku titip calon suami aku. Jaga dia.Ajari kami saling mengampuni kalo diantara kami salah. Amin.”
Mereka tutup bareng.
“Amin.”
Hening 10 detik. Cuma ada suara napas dan debaran jantung.
Zaki kecup kening Indry. Nggak lama. Cukup buat bikin Indry tenang lagi.
“Mau tidur lagi nggak?” tanya Zaki.
Indry geleng. “Nggak. Udah nggak ngantuk. Lagi juga, jam 8 kita harus berangkat buat ke Dukcapil.”
Zaki ketawa kecil. “Romantisnya doa jam 3, dirusak sama Dukcapil.”
Indry cubit pelan. “Bersyukur aja ada Dukcapil. Kalau nggak, kita nggak sah di negara.”
*Pagi. 06.30 WIB. Dapur Rumah Berkat*
Ogah udah berangkat sekolah jam 6. Rumah jadi sepi, tapi nggak sepi-sepi amat. Ada suara sendok, suara wajan, dan suara Zaki nyetel playlist pelan.Suara Dimas Senopati menemani mereka pagi itu. Dealova.
Indry masak nasi goreng sederhana. Telur, sosis, sawi.
Zaki di belakangnya, nyuci piring kemarin, sambil nyanyi fals.
“Stop nyanyi. Telinga aku sakit,” kata Indry tanpa noleh.
“Galak. Tapi cantik,” balas Zaki.
Mereka nggak ngomongin berkas. Nggak ngomongin KUA.
Cuma obrolan ngalor-ngidul.
Soal Ogah yang kemarin ketahuan Vidio Call sama cewe cantik.
Soal kopi yang kemanisan. Soal besok mau makan apa.
Romantisnya bukan karena kata-kata manis.
Tapi karena rasanya… normal. Kayak udah nikah 5 tahun.
Zaki ngambil sepotong telur, suapin ke Indry.
Indry nggak nolak. Malah bilang, “Asin.”
Zaki ketawa. “Ya udah, besok aku yang masak.”
Jam 7.30 mereka berangkat. Tujuan: Dukcapil Kota Tangerang.
*Dukcapil. 08.30 – 12.00 WIB*
Hari yang panjang.
Antri. Ambil nomor. Tunggu. Ditanya. Jawab. Salah dokumen. Balik lagi ke loket.
Petugasnya baik, tapi prosedurnya banyak.
“Perkawinan campuran ya? Harus ada surat nikah gereja dulu baru bisa dicatat di sini,” kata petugas.
Zaki manggut. “Siap, Bu. Kami catat.”
Indry udah 3 kali keluar buat fotokopi. Keringetan.
Zaki beliin es teh. “Minum. Jangan pingsan.”
Indry minum sambil ngeluh, “Gue ngerti sekarang kenapa orang males ngurus surat.”
Tapi mereka nggak ribut.
Setiap kali Indry mau ngomel, Zaki pegang tangannya di bawah meja. Senyum.
Cukup. Nggak perlu ngomong.
Keluar jam 12. Keringetan, capek, tapi lega.
“Minimal kita tau langkah selanjutnya,” kata Zaki.
Indry angguk. “Besok kita urus surat pengantar paroki.”
*Sore. 15.00 WIB. Rumah Berkat*
Pintu dibuka. Meta dan Mr Bule muncul bawa 3 kantong plastik besar.
“HEYYY! SURPRISE! KAMI BAWA MAKAN! JANGAN MASAK!” teriak Meta.
Mr Bule angkat dua kantong kresek sambil senyum lebar. “No cooking today. I order many food. For you. For us.”
Indry ketawa. “Kalian datangnya pas banget. Kami baru pulang dari neraka administrasi.”
Meta peluk Indry. “I know that face. That’s ‘I want to throw my KTP’ face.”
Indry, " walaah walaahhh lancar ya sekarang. ada kemajuan ni dekat Mr Alex. "
Mr Bule acung jempol 👍
Mereka duduk di ruang tamu. Buka makanan: Kacang Almond panggang, Kacang kulit, snack,Selondok, Roti Kebanggaan, sate, gorengan, es buah. dan beberapa Botol minuman Buah kemasan. ada 2 botol Beer juga.
“Ntar jangan ngomongin nikah lagi,” kata Meta sambil ngunyah.
“Double date malam ini. Healing. Biar otak kalian nggak konslet.”
Zaki ngangkat alis. “Ke mana?”
Meta nyengir. "Adalah...seru seruan pokok nya " “Kampung Kecil Tangerang. Tempat estetik, banyak ikan, ada saung bambu. Cocok buat foto story.”
Mr Bule nambahin, “I saw on TikTok. Very beautiful. Good for date.”
*Malam. 19.00 WIB. Restoran Kampung Kecil Tangerang*
Tempatnya beneran cantik.
Bangunan bambu dua lantai, atap rumbia, lantai kayu.
Ada jembatan kecil di atas kolam. Airnya jernih. Ikan koi oranye-putih, ikan mas merah, ikan nila hitam, gurame gede-gede berenang pelan.
Di sekeliling kolam ada tanaman hias, lampu gantung kuning temaram, dan suara air mancur kecil.
Mereka pilih lesehan di saung pinggir kolam. Rt 08/Rw 03.
Alasnya tikar rotan, bantal empuk, meja kayu rendah.
Angin malam masuk pelan. Dingin tapi nggak menusuk.
“Ini baru healing,” kata Indry sambil liatin ikan.
Meta udah sibuk foto-foto. “Foto dulu! Caption: ‘Ngumpul sama keluarga calon biar nggak gila mikirin berkas’.”
Mr Bule duduk di sebelah Meta, ngasih dia tisu. “You eat first. Don’t talk with mouth full.”
Meta ketawa. “Bule tapi udah kayak bapak-bapak.”
Obrolannya ngalor-ngidul.
Meta cerita dia hampir ditilang karena nggak pakai helm waktu ambil pesanan makanan.
Indry cerita dia dulu pernah nyasar di pasar senen jam 2 pagi.
Mr Bule cerita dia dulu kerja jadi guide turis di Bali, ketemu turis Indonesia yang ngajak dia makan sate padang pakai tangan. “My hand burn. Too spicy!”
Zaki dan Mr Bule ngobrol soal kerjaan.
Zaki cerita dia kerja bantu jualin Shuttlecock keluarganya, buka lapak Martabak Terang Bulan. jual bahan baku Jamu. juga Buat Home Industri Minyak kelapa di kontrakannya.
Meta dengar dengar dengan serius. Rekam dalam Otaknya. Baguslah, siap dia nafkahi sahabat Gue. bathin Meta.
Mr Bule kerja remote buat perusahaan IT di Jerman.
Mereka ngomongin soal deadline, client rewel, meeting jam 2 pagi karena beda waktu.
“Nggak nyangka bisa nyambung ngobrol kerjaan sama bule,” kata Zaki sambil ketawa.
Mr Bule tepuk bahu Zaki. “You good guy. I like you. Take care my girlfriend’s sister.”
Makanannya datang. Ayam goreng kampung, ikan bakar, cah kangkung, sambal terasi, lalapan.
Nggak ada yang ngomongin nikah. Nggak ada yang ngomongin berkas.
Cuma tawa, canda, dan suara sendok ketemu piring.
“Ini yang aku butuh,” bisik Indry ke Zaki.
Zaki genggam tangannya di bawah meja. “Aku juga.”
*Malam. 20.40 WIB. Qbig Mall BSD*
Habis makan, mereka jalan ke Qbig Mall. Nggak jauh. 15 menit naik mobil Mr Bule.
Mall-nya outdoor, banyak lampu gantung, banyak spot foto.
Zaki tiba-tiba narik tangan Indry. “Tunggu di sini.”
Dia masuk ke toko emas. 10 menit kemudian keluar bawa kotak kecil merah.
Indry langsung ngeh. “Zaki, nggak usah—”
Zaki buka kotak itu. Gelang emas tipis, desainnya simpel, ada inisial “Z”.
“Buat kamu. Biar ada yang inget kalau kamu udah punya aku,” kata Zaki pelan.
Indry diem. Matanya berkaca. “Zaki… malu aku. Mahal.”
Zaki pasangin di pergelangan tangan Indry. “Nggak mahal. Kamu lebih mahal.”
"Ma kasih Mas Zaki, ini pasti aku simpen dengan baik. Tapi kamu gak harus lho kayak gini"
jantung Indri debar disko.
Zaki berdebar dengan panggilan Mas yang gak pernah diucapin Indry sebelumnya.
Indry ketawa malu-malu. “Calon suami gue ternyata banyak duit ya.”
Zaki nyengir. “Duitnya buat kamu,Sayang. Emangnya buat siapa lagi?”
Meta sampe nganga. Zaki romantis rupanya. Ucapan syukur mengalir di hatinya. kali ini dia nahan diri biar gak heboh.
Nggak mau kalah, Mr Bule narik Meta ke toko sepatu.
10 menit kemudian dia keluar bawa dua kotak.
“Ini untuk you, Meta. Dan ini untuk Indry,” kata Mr Bule sambil nyerahin kotak.
Sepatu putih branded. Mahal.
“Why shoes?” tanya Meta bingung.
Mr Bule senyum. “Nenek di kampung bilang, sepatu itu simbol melangkah bersama. Kalau mau jalan jauh, harus pakai sepatu yang kuat. Biar nggak sakit kaki.”
bahasa Indonesia nya baik juga rupanya. Bathin Indry.
Indry kaget. “Kamu inget obrolan sama Nenek waktu di kampung?”
Mr Bule angguk. “I remember everything. Nenek baik. Dia bilang, keluarga itu harus saling dukung.”
Mr Bule juga beliin kalung kembar buat Meta dan Indry. Liontinnya bentuk hati setengah.
“Kalau kalian pakai bareng, jadi satu hati,” katanya.
Meta langsung peluk Mr Bule. “I love you, sayang. Royal banget sih kamu.”
Zaki nggak mau kalah. Dia beliin tas kecil warna cream buat Meta dan Indry. Modelnya sama.
“Biar imbang dikit sama Pak Bule. Masa cuma dia yang royal,” kata Zaki sambil nyerahin tas.
Meta teriak. “YAAAHHH CALON IPARKU BAIK BANGET!” " sini peluk..... "
Indry yang maju peluk Meta.," Kalo mau peluk, aku aja. atau Mr Bule mu".
Mereka tertawa. apalagi Zaki. ngakak. manisnya kalo istri cemburu. calon dink..
Indry peluk Zaki pelan. “Makasih ya… tapi besok kamu nggak boleh belanja lagi.”
Terakhir mereka makan ice cream Mixue.
Duduk di bangku luar mall, ngeliatin orang lewat.
Dingin, manis, dan ngak karena es-nya kebanyakan.
*Malam. 23.00 WIB. Rumah Berkat*
Mereka pulang dengan tangan penuh kantong. Kaki pegel, tapi hati enteng.
Meta dan Mr Bule pulang duluan ke apartemen.
Sebelum pisah, Meta peluk Indry lama.
“Makasih ya udah ngajak aku healing. Besok kita lanjut lagi.”
Indry angguk. “Makasih juga. Makasih udah jadi Peri baik buat aku.,kamu belahan jiwa aku Zeyeenggg”
Zaki, " Aku dong sayang..... "
Mereka ngakak lagi.
Mr Bule jabat tangan Zaki. “Take care of her. She good girl.”
Zaki angguk. “I will.”
Masuk rumah, Indry langsung duduk di lantai. Kaki diurut-urut.
Zaki duduk di sebelahnya, bantu pijit pelan.
“Pegel ya?”
Indry angguk. “Tapi seneng. Lama nggak jalan-jalan gini.”
Mereka nggak ngomongin nikah.
Cuma ngomongin kaki pegel, es cream yang kebanyakan, dan Mr Bule yang ternyata lucu juga.
“Siapa sangka bule bisa nyambung ngomongin sate padang,” kata Indry sambil ketawa.
Zaki ngangguk. “Dunia emang kecil ya, Ndry.”
Sebelum tidur, Indry bilang, “Makasih ya, Zak. Hari ini aku nggak mikir berat-berat.”
Zaki kecup keningnya. “Sama-sama, sayang. Besok kita mikir berat lagi. Tapi bareng.”
"Kan aku udah bilang, kita nggak sendiri sayang. Tuhan kirim para malaikat disekitar kamu. "
"I love u sayang 💕"
"I love u more Zaki"🥰
Lampu dimatikan.
Kaki pegel, tapi pikiran fresh.
Karena kadang, yang kita butuh bukan solusi.
Cuma jeda.
Dan orang yang mau jalan bareng pas jeda itu.
gak pernah sendiri. Tuhan tau