"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 4
Setelah suaminya berangkat kerja, Mila segera menghubungi nomor yang ada di kartu nama. Mila menggunakan internet milik tetangganya untuk menelepon Hanny.
Hampir 5 menit, Mila berbicara dengan Hanny dan dia pun diterima di toko ponsel meskipun cuma sebagai karyawan bagian bersih-bersih.
Sebenarnya Hanny membutuhkan karyawan buat menjaga tokonya, namun waktu kerja Mila tak bisa lama. Sementara, karyawan toko mulai bekerja dari jam 9 pagi hingga malam hari. Mila harus mengatur waktu kerjanya diluar dan mengurus rumah tangga karena dia tak mau ketahuan suaminya.
Selepas urusan pekerjaannya di rumah, Mila pun berangkat ke toko ponsel milik Hanny. Ia menggunakan uang belanjanya buat ongkos. Ia berjanji akan mengembalikannya jika sudah menerima gaji.
Mila tiba di toko pukul 9 lewat 30 menit. Sesampainya di sana, ia tak segera bertemu Hanny melainkan ada karyawan yang sudah menunggu dan akan memperkenalkan pekerjaannya kepadanya.
"Kamu yang namanya Mila?" tanya seorang wanita ditaksir usianya 30 tahun.
"Iya, Mba. Nama saya Mila, saya disuruh Bu Hanny ke sini," jawab Mila.
"Saya Dewi, saya karyawan Bu Hanny juga. Saya memang diminta Bu Hanny untuk menunjukkan rumah yang akan kamu bersihkan!"
Ya, Mila memang tak dipekerjakan di toko melainkan di rumah milik Hanny yang tak jauh dari toko. Mereka kemudian berjalan kaki menuju ke rumah itu. Dewi lalu memberitahu pekerjaan apa saja yang harus dilakukannya.
Mila pun mulai menyapu, membersihkan kaca jendela rumah yang mulai berdebu lalu lanjut mengepel. Dewi menunggu Mila sampai selesai melakukan pekerjaannya.
Tepat pukul 12 siang, Mila selesai membersihkan rumah Hanny. Bersama Dewi, keduanya kembali ke toko. Di sana Hanny telah datang membantu menjaga toko.
"Bagaimana, Dewi?" tanya Hanny kepada karyawan kepercayaannya itu mengenai tugas Mila.
"Sesuai yang Ibu minta rumah di sapu, di pel, kaca dilap dan membersihkan kamar mandi belakang," jawab Dewi.
"Hmm.. baiklah, kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu!" kata Hanny kepada Dewi.
Wanita itu pun berlalu dan kini Hanny gantian berbicara dengan Mila.
"Kenapa kamu tidak mau memilih menjadi karyawan toko secara gajinya lebih besar?" tanya Hanny.
"Saya tidak mau mengganggu pekerjaan sebagai ibu rumah tangga," jawab Mila.
"Kalau tidak ingin terganggu mengapa bekerja di luar?" tanya Hanny lagi.
"Saya butuh uang, Bu," jawab Mila.
Hanny tertawa mendengar jawaban Mila, ia pun kembali berkata, "Semua orang yang bekerja membutuhkan uang."
Mila cuma tersenyum nyengir.
"Tapi, ngomong-ngomong kamu tidak keberatan 'kan kalau saya cuma memberikan upah kecil?" tanya Hanny kembali.
Mila menggelengkan kepalanya.
"Upah kamu saya berikan mau tiap hari, minggu atau bulan?" tanya Hanny lagi.
"Setiap Minggu saja, Bu!" jawab Mila.
"Baiklah, kalau begitu. Setiap minggu saya berikan gaji tiga ratus ribu. Kamu hanya bekerja empat hari dalam sepekan," kata Hanny lagi.
"Apa tidak bisa saya bekerja tiap hari?" tanya Mila.
Hanny mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Mila.
"Saya butuh uang buat cicil bayar utang, makanya saya mau melunasinya," kata Mila berbohong.
"Memangnya berapa utang kamu?" Hanny penasaran.
"Tiga juta," ucap Mila lagi-lagi berbohong.
"Saya tidak bisa menambah upah kamu dan jam kerjamu," Hanny menolak permintaan Mila. "Rumah itu jarang saya tempati, biasanya hanya buat keluarga atau sanak saudara yang kebetulan mampir dan mau menginap," lanjutnya.
"Ya sudahlah, kalau memang tidak bisa ditambah. Saya sudah sangat bersyukur dapat pekerjaan ini!" kata Mila. Meskipun begitu ia tak marah atau kecewa karena mendapatkan kesempatan bekerja saja telah membantunya sedikit keluar dari masalah hidupnya.
"Saya doakan, semoga utang kamu segera lunas!" Hanny memberikan dukungan dan semangat.
"Terima kasih, Bu."
"Sekarang kamu boleh pulang," kata Hanny.
Mila pulang dengan berjalan kaki. Jika dia naik angkutan umum atau ojek tentunya dia tak memiliki uang lagi buat belanja.
Perjalanan yang ditempuhnya sejauh 4 kilometer, walaupun berat tetap dilakukannya buat mengajukan gugatan kepada suaminya.
Sebelum tiba di rumah, Mila singgah ke warung sembako membeli 10 butir telur yang mau dimasaknya menjadi telur balado.
Sesampainya di rumah, Mila menuju dapur. Menarik kursi, ia duduk sembari menuangkan air ke dalam gelas lalu meneguknya hingga kandas. Kakinya dia luruskan untuk menghilangkan rasa pegal.
"Ya Allah, lelah sekali hari ini!" gumamnya.
Ada sekitar 15 menit, Mila duduk menghilangkan capeknya. Setelah itu lanjut memasak. Padahal, jika Mila masak pun belum tentu suaminya mau memakannya. Kalau tak dimasak, pasti suaminya bertanya. Memang benar-benar serba salah dirinya.
Jarum jam menunjukkan pukul 5 sore, Hardi pun pulang bekerja. Mila masih menyiram tanaman. Hardi melihat ke arah istrinya dan berkata menyindir, "Harusnya yang kamu siram diri sendiri. Bukan tanaman-tanaman itu yang sudah cantik dari sananya!"
Mila terdiam, ia tak membalas ucapan suaminya.
Biasanya jam 5 sore, Mila sudah mandi dan menyambut suaminya pulang bekerja. Hanya saja tadi setelah memasak Mila tertidur di ruang tamu sangking lelahnya. Alhasil, beberapa pekerjaan tak dapat diselesaikannya tepat waktu.
Hardi yang masuk ke rumah, melemparkan tas dan jaketnya sembarangan. Dia juga meletakkan sepatunya begitu saja.
Mila pernah memberitahunya untuk meletakkan sepatu di tempat rak sepatu dan sandal. Tetapi, ucapan yang diterimanya menyakitkan hatinya. Maka, dari itu Mila tak menegurnya dan memilih membereskannya tanpa mengoceh.
Hardi melangkah ke dapur dan menyantap masakannya istrinya. Mila yang melihat suaminya mau memakan masakannya dengan lahap tersenyum.
"Aku terpaksa memakannya karena uangku sudah habis dan gajian masih satu minggu lagi!" kata Hardi seraya mengunyah.
"Kenapa cepat sekali? Biasanya sampai akhir bulan Mas Hardi selalu membeli makanan dari luar," sindir Mila.
"Suka-suka aku, dong. Kenapa kau yang jadi mengaturnya?" Hardi tampak tersinggung.
"Aku hanya bertanya, gak seperti biasanya!" kata Mila menjelaskan.
"Kau tak perlu ikut campur urusan keuangan aku. Pikirkan saja uang yang kuberikan dapat memasak makanan yang enak!" Hardi berkata dengan sedikit emosi.
Mila menghela napas. Setiap ucapan yang dilontarkannya selalu dipatahkan suaminya. Dia tak sanggup berdebat panjang.
Hardi tak pernah memikirkan cara mengatur uang delapan ratus ribu dalam sebulan. Pria itu hanya tahu menuntut Mila selayaknya istri yang pintar mengatur keuangan. Padahal, Mila yang pusing mengaturnya dan mencari cara agar cukup.
"Makanan yang kau buat ini gak seenak masakan temanku. Tapi, karena terpaksa apa boleh buat. Aku gak mau kelaparan dan rugi juga sudah memberikanmu uang belanja!"
Mila yang tak mau mendengarkan ocehan suaminya memilih berlalu.
"Hei, kau mau ke mana aku belum selesai bicara?" teriak Hardi yang kesal dicuekin.
Mila tak menyahut teriakan suaminya, ia malah melanjutkan pekerjaannya menyiram tanaman yang dapat sedikit mengurangi kekecewaan dihatinya.
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔