NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Kereta Bintang dan Skenario Sang Penulis

​Angin sedingin es menyapu wajah para petualang Orario saat mereka akhirnya menginjakkan kaki di Lantai 100. Tidak ada lagi monster, tidak ada lagi dinding labirin organik yang berdenyut. Yang ada hanyalah hamparan kawah raksasa yang membeku, sisa-sisa logam purba yang berserakan, dan debu kosmis yang berpendar redup di udara.

​Namun, bukan kehancuran itu yang membuat langkah pasukan aliansi terhenti.

​Di tengah-tengah kawah es tersebut, bertengger sebuah kendaraan raksasa yang tidak masuk akal. Sebuah kereta api uap dengan desain retro-futuristik, didominasi warna merah, emas, dan hitam. Relnya terbuat dari cahaya kebiruan yang melayang beberapa sentimeter di atas tanah, memanjang ke udara kosong seolah siap menembus dimensi kapan saja.

​"Demi para dewa di Tenkai..." gumam Loki, matanya melebar hingga batas maksimal. Ia menengadah, menatap lokomotif raksasa itu. "Benda ini... terbuat dari logam apa? Tidak ada satu pun pandai besi di duniaku yang bisa membuat lekukan sehalus ini."

​Tsubaki, yang biasanya sangat berisik jika melihat senjata atau artefak baru, kini hanya bisa menganga. Palu amber di tangannya tiba-tiba terasa seperti mainan kayu jika dibandingkan dengan mesin kosmis di depannya.

​Dan Heng melangkah lebih dulu, membimbing rombongan itu mendekati gerbong utama. Pintu hidrolik berdesis terbuka, melepaskan uap hangat yang beraroma kopi dan karamel—aroma yang sangat kontras dengan bau kematian di luar.

​Dari balik uap itu, Himeko melangkah turun. Gaun putih dan mantel merahnya berkibar anggun. Senyum keibuan terukir di wajahnya yang cantik, namun matanya memancarkan ketegasan seorang navigator yang telah melintasi jutaan tahun cahaya.

​"Selamat datang di Kereta Astral," sapa Himeko ramah.

​Di belakangnya, seorang pria paruh baya melangkah keluar. Ia mengenakan mantel cokelat panjang, kacamata berbingkai bulat, dan memegang sebuah tongkat yang terlihat aneh. Rambut cokelatnya disisir rapi, dengan sedikit uban yang menunjukkan kebijaksanaan.

​"Aku Welt. Welt Yang," pria itu memperkenalkan diri. Suaranya tenang, dalam, dan berwibawa.

​Saat Finn mencoba menganalisis pria bernama Welt ini dengan stigmata The Hunt-nya, kapten Pallum itu tersentak mundur dan tanpa sadar mencengkeram dadanya. Napas Finn tercekat. Di mata insting pemburunya, pria berkacamata itu bukanlah manusia. Ia adalah sebuah lubang hitam yang berjalan. Ada gravitasi absolut di sekelilingnya yang bisa meremukkan Orario menjadi debu hanya dengan satu jentikan jari.

​Orang-orang ini... mereka monster macam apa? batin Finn, keringat dingin membasahi punggungnya.

​Freya, yang biasanya angkuh, kini memegang lengan Ottar sedikit lebih erat. Mata dewinya tidak bisa membaca warna jiwa Himeko maupun Welt. Jiwa mereka tertutup oleh sesuatu yang jauh lebih kuno dan lebih besar dari Falna.

​"Kita tidak punya banyak waktu, jadi aku akan langsung pada intinya," Himeko mempersilakan mereka masuk ke area gerbong tamu yang sangat luas, dihiasi sofa-sofa beludru dan meja mahoni. "Benda yang bersemayam di dalam dada pemuda tadi... kami menyebutnya Stellaron."

​Loki duduk bersilang kaki di sofa, menyilangkan lengannya defensif. "Kanker Semua Dunia. Itu julukan yang kudengar. Apa yang sebenarnya bisa dilakukan benda itu, Nona Himeko?"

​Welt Yang mengambil alih pembicaraan. Ia mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai gerbong, dan seketika sebuah proyeksi galaksi muncul di tengah meja mereka.

​"Stellaron adalah benih kehancuran," jelas Welt, matanya menatap tajam ke arah para dewa. "Ia merespons hasrat dan ketakutan penduduk dunia, mengabulkan keinginan dengan cara yang paling terdistorsi, dan akhirnya... melahirkan Fragmentum. Korosi spasial yang kalian lihat di Lantai 19 adalah tahap awalnya. Jika Stellaron itu meledak, seluruh benua kalian, atau bahkan planet ini, akan membeku atau hancur menjadi data mentah."

​Hening. Pucat pasi merayap di wajah Riveria, Gareth, dan Hestia. Haruhime bahkan harus menutupi mulutnya agar tidak menjerit.

​"Dungeon ini... ibuku..." Aiz, yang baru saja siuman dan duduk bersandar pada Riveria, bergumam lirih. "Dungeon sudah menelannya?"

​"Dungeon kalian mencoba mengasimilasinya, tapi gagal," jawab Dan Heng datar dari sudut ruangan. "Dan sekarang, benda itu ada di tangan Pemburu Stellaron. Jika mereka sengaja memicu ledakannya dari jauh, Orario tidak akan memiliki hari esok."

​Finn memejamkan mata, memproses semua informasi memuakkan ini. "Lalu, apa rencana kalian? Jika kalian Penjelajah, kalian pasti punya cara untuk melacak mereka, kan?"

​Silver Wolf mungkin jenius, tapi Welt Yang tersenyum tipis, membetulkan letak kacamatanya.

​"Saat gadis peretas itu membuka portal," ucap Welt, mengangkat tongkatnya, "aku menyisipkan pelacak anomali gravitasi mikro pada koordinat keluarnya. Butuh waktu untuk menguraikan enkripsi dimensi mereka, tapi ya... kita bisa melacaknya. Persiapkan senjata kalian. Begitu jalurnya terbuka, kita akan menyerbu safehouse mereka."

​Di Safehouse Digital – Ruang Antar Dimensi

​"Ah, sialan!"

​Silver Wolf membanting konsol portabelnya ke atas meja hingga berbunyi keras. Gadis hacker itu memutar layar hologramnya dengan panik, deretan kode merah mengalir turun seperti hujan darah di layarnya.

​"Ada apa, Wolfie?" tanya Kafka santai, sedang menuangkan teh ke dalam cangkir porselen.

​"Pria berkacamata dari kereta itu! Dia menempelkan backdoor gravitasi di jalur portal kita tadi!" Silver Wolf mengacak-acak rambut peraknya dengan kesal. "Sistem keamananku sedang diretas dari luar. Mereka sedang membongkar koordinat kita!"

​Kafka menghentikan tuangan tehnya. Ia melirik ke arahku. "Aris? Apa ini di luar naskahmu?"

​Aku masih duduk di kursiku, tersenyum kecil sambil meniup pelan tinta di perkamenku yang baru saja kering.

​"Tidak," jawabku tenang. Aku menatap lurus ke arah Kafka. "Itu persis seperti yang kutulis. Aku sengaja membiarkan Silver Wolf lengah sesaat di akhir pelariannya, agar Kereta Astral bisa melacak kita."

​Silver Wolf menoleh dengan mata menyipit tajam. "Hah?! Kau sengaja membuatku terlihat seperti noob di depan kakek-kakek itu?! Kenapa kau tidak bilang?!"

​"Karena reaksi naturalmu yang panik tadi membuat aliran ceritanya menjadi nyata," jawabku sambil berdiri. Aku berjalan mendekati sofa tempat sang Trailblazer masih tertidur lelap. "Panggung utama tidak akan bisa dimulai kalau pemeran protagonisnya tidak bisa menemukan letak bos terakhir."

​Aku menatap dada Trailblazer yang naik turun. Cahaya keemasan berdenyut lemah dari balik kemejanya.

​"Mereka akan tiba di sini dalam sepuluh menit," ucapku, menatap Kafka. "Waktu yang sangat cukup untuk menyalakan sumbu bom ini. Kafka, bangunkan dia. Tapi kali ini, jangan tenangkan dia. Bangkitkan insting The Destruction-nya."

​Kafka menaruh cangkir tehnya. Senyum berbahaya kembali menghiasi bibirnya yang berwarna merah wine. Ia melangkah mendekati Trailblazer, berdiri tepat di samping tubuh yang terlelap itu.

​"Kau benar-benar penulis yang kejam, Sato Aris," bisik Kafka lembut. Ia melepaskan satu sarung tangannya, memperlihatkan jemari lentiknya yang pucat. "Membangunkan Kanker Semua Dunia di ruang tertutup... kau tahu ini bisa membunuh kita semua jika kita tidak keluar tepat waktu, kan?"

​"Kalian adalah Pemburu. Kalian hidup di ujung jurang," balasku datar, menyilangkan lengan di dada. "Lakukan."

​Kafka menunduk, bibirnya berada tepat di dekat telinga pemuda berambut abu-abu itu. Mata ungu Kafka menyala terang, memancarkan otoritas hipnotis tingkat tertinggi yang bisa meremukkan kewarasan manusia biasa.

​"Dengarkan aku..." bisik Kafka, suaranya kini tidak lagi menenangkan, melainkan dipenuhi distorsi suara seribu peperangan. "Mimpi sudah usai. Jangan tekan apimu lagi. Lepaskan. Biarkan bintang di dalam dadamu membakar segalanya. Bangun, dan hancurkan."

​DEG.

​Ruangan dimensi saku itu bergetar hebat. Jendela kaca patri retak.

​Mata Trailblazer terbuka seketika. Namun kali ini, tidak ada kebingungan di sana. Tidak ada warna ambar yang hangat. Matanya telah berubah menjadi emas menyala, seperti inti matahari yang siap meledak super-nova.

​WUSSSHHH!

​Gelombang kejut gravitasi meledak dari tubuh pemuda itu, menghempaskan meja kayu di dekatnya menjadi serpihan. Api The Destruction hitam-keemasan berkobar membungkus tubuhnya bagai zirah. Ia bangkit berdiri, tubuhnya melayang beberapa sentimeter dari tanah, dikelilingi oleh anomali ruang yang terdistorsi.

​"Cepat! Masuk ke portal!" teriak Silver Wolf yang sudah lebih dulu membuka jalur dimensi darurat di belakang ruangan.

​Aku menatap mahakaryaku sejenak. Trailblazer menengadah, mengaum tanpa suara, melepaskan energi radiasi kosmis yang mulai melelehkan dinding safehouse siber tersebut.

​"Pertunjukan dimulai," bisikku.

​Aku berbalik dan berlari menyusul Kafka menuju portal darurat Silver Wolf, tepat ketika dinding dimensi safehouse itu mulai didobrak dari luar oleh pasukan aliansi Orario dan Kereta Astral.

​Saat portal kami tertutup di belakang, aku tahu apa yang menanti para pahlawan itu di dalam sana. Bukan lagi seorang anak yang kebingungan memegang pemukul bisbol.

​Melainkan wadah kehancuran absolut yang siap meratakan mereka semua dengan tanah.

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!