NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Fajar Sebelum Badai

Fajar itu datang dengan keindahan yang menipu.

Cahaya oranye keemasan merayap perlahan di ufuk timur, menembus celah-celah awan sintetis yang mengelilingi Kota Terapung. Langit berubah dari ungu tua menjadi biru muda yang jernih, sebuah kanvas sempurna yang seolah-olah menjanjikan hari yang cerah dan penuh harapan. Burung-burung mekanik kecil, hasil karya Kai yang dimodifikasi untuk patroli udara ringan, berkicau riang di atas menara-menara kristal, suara mereka bersahut-sahutan menciptakan simfoni pagi yang menenangkan.

Di halaman depan markas Tim Aurora, udara terasa segar dan dingin. Embun pagi menempel pada helai-helai rumput digital di taman depan, berkilauan seperti jutaan permata kecil. Suasana ini begitu normal, begitu damai, hingga rasanya mustahil untuk membayangkan bahwa hanya dalam hitungan jam, dunia akan berubah selamanya.

Raka sudah berdiri di sana sejak lima menit sebelum waktu berkumpul yang ditentukan. Ia mengenakan seragam tempurnya yang lengkap, namun tidak ada senjata berat yang ia bawa. Hanya pistol standar di pinggangnya dan komunikasi耳麦 di telinganya. Wajahnya tampak tenang, bahkan tersenyum tipis saat melihat matahari terbit. Namun, jika seseorang memperhatikan dengan saksama, mereka akan melihat ketegangan di rahangnya, dan cara tangannya terus-menerus mengepal dan melepaskan kepalan, seolah-olah ia sedang berlatih menahan rasa sakit yang tak terlihat.

Pintu markas terbuka satu per satu. Bimo keluar pertama, masih sambil mengunyah roti bakar dan membawa termos kopi raksasa. "Pagi! Wah, cuacanya bagus banget ya? Cocok buat jalan-jalan, bukan buat misi!" serunya ceria, uap napas putih keluar dari mulutnya.

Kai mengikuti di belakangnya, membetulkan tali ransaknya yang berisi peralatan elektronik. Dia menguap lebar. "Aku hampir begadang semalaman mencoba melacak sinyal aneh itu, tapi nol besar. Sepertinya itu memang cuma glitch sistem lama. Aku rasa kita bisa santai hari ini."

Terakhir, Elara keluar. Dia mengenakan seragamnya dengan rapi, rambutnya diikat kuda tinggi, memberikan kesan sigap dan elegan. Saat matanya bertemu dengan Raka, senyum lembut langsung merekah di wajahnya. Dia berjalan mendekat, langkahnya ringan.

"Pagi, Ka," sapa Elara, suaranya hangat. "Kamu sudah lama di sini?"

Raka menoleh, dan untuk sesaat, topengnya retak. Tatapan matanya pada Elara begitu dalam, begitu penuh dengan perasaan yang tak terkatakan—cinta, penyesalan, dan perpisahan. Tapi hanya dalam sepersekian detik. Senyumnya kembali muncul, kali ini lebih lebar, lebih meyakinkan.

"Pagi, El. Baru sebentar. Pemandangannya indah hari ini, kan?" jawab Raka, suaranya stabil.

"Indah sekali," setuju Elara, berdiri di samping Raka. Dia mencondongkan bahunya sedikit, menyentuh lengan Raka. "Sepertini hari yang baik untuk memulai rencana road trip kita, ya? Kita bisa mengajukan izin cuti setelah briefing pagi ini."

Raka tertawa kecil, tawa yang terdengar renyah di udara pagi. "Kita lihat nanti. Yang penting, kita kumpul dulu."

Bimo dan Kai bergabung dengan mereka, membentuk lingkaran kecil di tengah halaman. Mereka bercanda tentang rencana sarapan, tentang lagu baru yang ingin dimainkan Kai, dan tentang resep sup baru yang ingin dicoba Bimo. Suara tawa mereka bergema, bercampur dengan kicauan burung mekanik. Ini adalah momen kebahagiaan murni, puncak dari Arc 4 yang telah dibangun dengan susah payah. Momen di mana mereka merasa aman, merasa menang, merasa bahwa masa depan adalah milik mereka.

Raka mendengarkan mereka, menyimpan setiap kata, setiap tawa, setiap ekspresi wajah teman-temannya ke dalam memorinya. Ini dia, batinnya. Ini adalah kenangan terakhir kita sebagai keluarga yang utuh.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, langit berubah.

Tidak ada awan gelap yang berkumpul perlahan. Tidak ada angin kencang yang mendahului badai. Perubahan itu terjadi secara instan, drastis, dan mengerikan.

Dalam hitungan detik, warna biru langit yang jernih lenyap. Digantikan oleh warna merah darah yang pekat, menyala-nyala, seolah-olah atmosfer bumi sendiri telah terbakar. Cahaya matahari yang tadi hangat dan emas tiba-tiba menjadi merah suram, casts bayangan-bayangan panjang dan menyeramkan di atas halaman markas.

Burung-burung mekanik yang tadi berkicau riang tiba-tiba jatuh dari langit, sayap-sayap mereka berhenti bergerak, tubuh-tubuh kecil mereka menghantam tanah dengan suara klak yang memilukan. Satu demi satu, mereka jatuh seperti hujan besi mati.

"Hah? Apa-apaan ini?" seru Bimo, rotinya jatuh dari tangan. Matanya membelalak ketakutan menatap langit yang berubah warna.

Kai segera mengeluarkan tablet hologramnya, tapi layarnya langsung berkedip-kedip liar sebelum menampilkan pesan error berwarna merah. "Sistem error! Semua jaringan offline! Aku kehilangan koneksi ke satelit! Ini... ini tidak mungkin!"

Sirine bahaya berbunyi. Bukan sekali, bukan dua kali, tapi terus-menerus, nyaring dan menusuk telinga, menggema di seluruh Kota Terapung. Suara itu bukan sirine biasa; itu adalah sirene tingkat kiamat, suara yang belum pernah mereka dengar sejak pelatihan dasar militer bertahun-tahun lalu.

Luuuuyyyy!!! Luuuuyyyy!!!

Elara memegang kepalanya, wajahnya pucat pasi. "Raka! Apa yang terjadi?!" teriaknya, suaranya hampir tenggelam oleh deru sirine.

Raka tidak menjawab. Dia menatap langit merah itu, matanya menyipit. Di tengah kekacauan warna merah itu, sebuah bayangan raksasa mulai terbentuk. Awan-awan merah itu berpusing, membentuk pusaran besar di atas kota, dan dari tengah pusaran itu, sebuah wajah raksasa muncul.

Itu bukan wajah manusia. Itu adalah proyeksi hologram raksasa yang menutupi separuh langit. Wajah itu terdiri dari kode-kode biner yang bergerak cepat, membentuk fitur-fitur wajah yang tajam, dingin, dan penuh kebencian. Mata wajah itu berwarna hitam pekat, tanpa pupil, menatap turun ke arah mereka—ke arah seluruh penduduk Kota Terapung.

Layar-layar raksasa di gedung-gedung pencakar langit di sekitar mereka, yang biasanya menampilkan iklan atau berita, tiba-tiba berubah hitam. Lalu, wajah yang sama muncul di setiap layar tersebut, serentak, sinkron, menakutkan.

Suara gemuruh terdengar dari langit, suara yang bukan berasal dari speaker, tapi seolah-olah berasal dari inti bumi itu sendiri. Suara itu berbicara, dalam bahasa yang kuno dan berat, mengguncang tulang-belulang siapa pun yang mendengarnya.

"Waktunya Fajar Telah Habis."

Kalimat itu diulang, lebih keras, lebih mengancam.

"Kegelapan Abadi Dimulai."

Di halaman markas, keheningan mencekam menggantikan kepanikan awal. Bimo gemetar, kakinya lemas. Kai terpaku, jarinya berhenti mengetik, matanya kosong karena shock. Elara mundur selangkah, tangannya mencari tangan Raka, mencengkeramnya erat-erat sampai sakit.

"Raka..." bisik Elara, suaranya bergetar hebat. "Siapa... siapa itu?"

Raka akhirnya berbalik. Dia menatap teman-temannya. Wajahnya yang tadi santai dan ceria kini telah berubah total. Semua kelembutan, semua keraguan, semua kepalsuan telah hilang. Yang tersisa hanyalah Raka sang Prajurit, Raka sang Pemimpin, Raka yang siap menghadapi takdirnya.

Matanya tajam, dingin, dan penuh determinasi. Tidak ada lagi senyum. Tidak ada lagi kebohongan manis. Hanya kebenaran pahit yang harus dihadapi.

Dia melepaskan genggaman Elara perlahan, meski gadis itu menolak melepaskannya. Raka menatap Bimo, lalu Kai, lalu kembali ke Elara.

"Teman-teman..." kata Raka, suaranya tenang di tengah deru sirine yang memekakkan telinga. Suaranya memiliki otoritas yang membuat mereka semua diam dan memperhatikannya.

"Sepertinya liburan kita batal."

Raka menarik napas dalam, tangannya bergerak cepat ke sarung pistol di pinggangnya, mengaktifkan bilah energi pedangnya dengan suara zzzt yang tajam. Cahaya biru dari pedang energinya berpendar, kontras dengan langit merah darah di atas mereka.

"Ini dia," lanjut Raka, matanya menatap lurus ke arah wajah raksasa di langit. "Pertarungan sesungguhnya."

Angin kencang tiba-tiba berhembus, menerbangkan debu dan kertas-kertas di sekitar mereka. Langit merah semakin gelap, seolah-olah malam telah datang di siang hari. Bayangan musuh utama, Void King, tersenyum sinis dari angkasa, menantang mereka.

Arc 4, "Bunga di Antara Peluru", yang dipenuhi dengan romansa, janji manis, dan kebahagiaan semu, berakhir di sini. Bukan dengan ledakan, bukan dengan pertarungan epik, tapi dengan perubahan langit yang drastis dan pengakuan dingin dari pemimpin mereka.

Kebahagiaan telah pecah. Badai telah tiba. Dan Raka, bersama Tim Aurora, harus berdiri di garis depan, menghadapi kegelapan yang telah lama mereka hindari.

Raka melangkah maju, meninggalkan teman-temannya yang masih terpaku, menuju pintu gerbang markas yang terbuka lebar, menuju perang yang akan menentukan nasib dunia mereka.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!