Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Mentari pagi bersinar cerah, menembus tirai jendela mansion megah milik keluarga Aditama. Hari yang dinantikan pun tiba.
Di dalam kamar utama yang luas, suasana tampak sibuk namun penuh dengan kehangatan.
Beberapa perias wajah papan atas yang sengaja didatangkan Jati telah selesai menunaikan tugas mereka.
Sentuhan kuas dan jemari ahli sang MUA telah menyulap Gayuh menjadi pengantin wanita yang paling cantik yang pernah ada. Gaun brokat putih premium dengan potongan sopan yang dirancang khusus agar tidak menekan luka di punggungnya melekat sempurna pada tubuh anggunnya.
Wajahnya yang biasa polos kini memancarkan aura keanggunan yang luar biasa, membuat siapa pun yang melihatnya akan terpesona di kediaman Jati pagi itu.
Sementara itu, di kamar terpisah, Jati berdiri di depan cermin besar.
Tatapan matanya lurus, memancarkan ketegasan sekaligus binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
Di sampingnya, Pak Gunawan dengan penuh takzim membantu Jati memakaikan jas pengantin hitam berpotongan slim-fit buatan desainer ternama.
Dengan cekatan, Pak Gunawan merapikan bagian kerah dan memastikan saputangan saku terpasang dengan sempurna.
Setelah semuanya dirasa siap, Jati mengancingkan jasnya dan menarik napas dalam-dalam.
"Ayo kita jemput pengantin wanita," ucap Pak Gunawan dengan suara baritonnya yang mantap.
Langkah kaki tegap Jati yang didampingi Pak Gunawan bergema di lorong mansion.
Sesampainya di depan pintu kamar Gayuh, Pak Gunawan melangkah maju satu langkah lalu mengetuk pintu dengan sangat sopan.
Tok... tok... tok...
Pintu besar itu perlahan terbuka dari dalam. Sang MUA utama membuka pintu dengan senyuman lebar, menyambut kedatangan sang penguasa J-Corp.
"Pengantin wanita Anda sudah siap," ucap perias tersebut dengan nada hormat.
Pak Gunawan melangkah masuk terlebih dahulu untuk menjemput Gayuh.
Dengan senyum kebapakan yang tulus, ia mengulurkan tangannya untuk membantu Gayuh bangkit berdiri secara perlahan agar tidak memicu rasa perih di punggungnya.
Pak Gunawan menjemput Gayuh dan mengajaknya turun ke bawah menuju ruang utama tempat meja akad nikah telah disiapkan.
Gayuh berjalan perlahan, melangkah keluar melewati ambang pintu dengan kepala sedikit tertunduk karena rasa gugup yang mendera dadanya.
Jemarinya meremas buket bunga mawar putih di genggamannya.
Tepat di luar pintu, Jati berdiri mematung. Sesaat setelah sosok Gayuh muncul di hadapannya, dunia di sekitar Jati seolah berhenti berputar.
Jati tidak mengedipkan matanya sama sekali. Pandangannya terkunci rapat pada wajah jelita wanita yang beberapa hari lalu nyaris kehilangannya nyawanya demi dirinya.
Di mata Jati, keindahan Gayuh pagi ini mengalahkan segala kemewahan harta yang ia miliki di dunia.
Wanita yang dulu dihina sebagai pelayan dan penulis miskin, kini menjelma menjadi ratu paling anggun yang siap bertakhta di hatinya selamanya.
Suasana di dalam lobi utama mansion terasa begitu khidmat.
Alunan musik instrumental lembut mengiringi langkah lambat Gayuh yang didampingi oleh Pak Gunawan.
Di ujung tangga, Jati masih berdiri mematung, menolak memalingkan wajahnya walau hanya sedetik dari sosok anggun di hadapannya.
Ketika langkah Gayuh akhirnya sampai di hadapan Jati, pria itu mengulurkan tangan kanannya dengan penuh kelembutan.
Tatapan matanya yang biasa dingin kini mencair, digantikan oleh binar pemujaan yang teramat dalam.
"Cantik sekali kamu, Sayang," bisik Jati dengan suara bariton yang bergetar rendah, sarat akan rasa kagum yang tulus.
Mendengar pujian spontan dari pria seberwibawa Jati, pipi Gayuh seketika merona merah muda di balik riasan tipisnya.
Gayuh tersenyum tipis, menatap balik sepasang mata pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
Jati membalas senyuman itu dengan kehangatan yang menenangkan, lalu menggenggam jemari lembut Gayuh dan mengajaknya duduk bersama di kursi kayu berukir yang telah disiapkan di depan meja akad.
Di hadapan mereka, seorang penghulu paruh baya dari KUA setempat sudah siap dengan berkas-berkas pernikahan, diapit oleh dua orang saksi terdekat yang berwajah takzim.
Suasana ruangan mendadak hening, menyisakan kesakralan yang begitu pekat.
Penghulu meminta Jati menjabat tangannya. Jati mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram erat dan mantap jemari sang penghulu.
Jati menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh kemantapan hatinya demi momen paling krusial dalam hidupnya ini.
"Saudara Jati Aditama bin Pramono Aditama," ucap sang penghulu dengan suara yang lantang dan jelas.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan seorng wanita yang bernama Gayuh Leksananingtyas binti Almarhum Broto, dengan mas kawin uang tunai sebesar 100 juta dollar, sebuah rumah khusus untuk menulis, dan satu unit mobil mewah, dibayar tunai!"
Tanpa ada keraguan sedikit pun, dengan satu tarikan napas yang tegas, mantap, dan berwibawa, Jati mengumandangkan janji sucinya di hadapan semesta.
"Saya terima nikah dan kawinnya Gayuh Leksananingtyas binti Almarhum Broto dengan mas kawin 100 juta dollar, rumah khusus untuk menulis, dan mobil tersebut, dibayar tunai!"
Suara Jati menggema di langit-langit mansion yang tinggi, mengunci takdir mereka berdua.
Sang penghulu langsung menoleh ke arah para saksi di sisi kanan dan kirinya.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!" jawab para saksi serempak.
"Alhamdulillah..."
Doa pun dipanjatkan secara khidmat, memenuhi ruangan dengan rasa haru yang membuncah.
Detik itu juga, status Gayuh telah berubah sepenuhnya.
Ia bukan lagi gadis kontrakan yang sebatang kara, bukan lagi penulis yang bisa dihina oleh siapa pun.
Detik ini, ia telah resmi dan sah menjadi Nyonya Jati Aditama, wanita paling terhormat di seluruh jagat raya J-Corp.
Setelah kata "Sah" berkumandang dan doa selesai dipanjatkan, suasana khidmat di ruang utama mansion itu berubah menjadi penuh keharuan.
Penghulu kemudian merapikan berkas-berkas di atas meja lalu menatap Jati dan Gayuh dengan senyuman kebapakan yang hangat untuk memberikan nasehat pernikahan.
"Tuan Jati dan Nyonya Gayuh, alhamdulillah, hari ini kalian telah resmi diikat oleh tali pernikahan yang suci. Ingatlah, pernikahan bukan hanya tentang menyatukan dua insan, melainkan sebuah ibadah terpanjang," ucap sang penghulu dengan nada suara yang tenang dan penuh wibawa.
Ia memandang Jati, "Sebagai suami, Tuan Jati kini memegang amanah besar. Lindungi, sayangi, dan muliakan lah istrimu. Jadilah nahkoda yang sabar dalam membimbing rumah tangga." Kemudian pandangannya beralih pada Gayuh, "Dan untuk Nyonya Gayuh, jadilah keteduhan bagi suamimu. Saling mendukung, saling melengkapi, dan jagalah kehormatan rumah tangga kalian dalam suka maupun duka."
Jati mengangguk mantap, mempererat genggaman tangannya pada jemari Gayuh yang terasa mulai menghangat.
Gayuh sendiri mendengarkan dengan penuh takzim, menyerap setiap petuah yang menjadi bekal baru dalam hidupnya.
Setelah sesi nasehat dan penandatanganan buku nikah selesai, ketegangan yang sempat menyelimuti ruangan pun mencair sepenuhnya.
Protokol mansion segera beralih, dan mulailah acara ramah tamah yang digelar secara sangat hangat dan tertutup.
Mengingat kondisi fisik Gayuh yang masih dalam masa pemulihan, Jati sengaja tidak membiarkan istrinya berdiri terlalu lama.
Ia menuntun Gayuh menuju sofa beludru besar yang nyaman di sudut ruangan lobi utama.
Beberapa pelayan dengan sigap mulai mondar-mandir menyajikan hidangan premium yang telah disiapkan secara khusus.
Karena Jati tahu betul preferensi dan selera lidah wanitanya yang menyukai cita rasa Nusantara, menu ramah tamah siang itu dibuat sangat istimewa.
Selain hidangan ala barat, tersaji pula gubukan khusus yang menyajikan soto daging hangat berkuah segar, martabak telur premium, hingga pecel dengan bumbu kacang yang gurih dan harum.
Pak Gunawan melangkah maju menjadi orang pertama yang menghampiri sepasang pengantin baru itu. Wajah pria paruh baya itu tampak berkaca-kaca penuh haru.
"Selamat atas pernikahan Anda, Tuan Jati, Nona Gayuh... ah maksud saya, Nyonya Jati," ucap Pak Gunawan dengan senyum lebar sambil membungkuk hormat.
"Saya sangat bahagia melihat kalian berdua akhirnya bersatu."
"Terima kasih banyak, Pak Gunawan. Terima kasih sudah banyak membantu kami sampai di titik ini," balas Gayuh dengan tulus, senyuman manis tak lepas dari bibirnya yang kini tampak begitu bahagia.
Jati merangkul pundak Gayuh dengan posesif, membiarkan istrinya bersandar nyaman di dadanya sambil menikmati suasana ramah tamah yang santai.
Tidak ada kilatan kamera media yang mengganggu, tidak ada tatapan sinis dari orang-orang yang merendahkan mereka.
Di dalam mansion itu, yang ada hanyalah kehangatan, tawa kecil yang tulus, dan awal dari lembaran baru kehidupan mereka yang penuh dengan limpahan cinta.