NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:51.8k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga

Kertas itu hanya berisi angka dan istilah medis. Namun, di tangan yang salah,

ia bisa menjadi senjata—

yang melukai lebih dalam dari kata-kata

Dua hari terasa seperti dua minggu bagi Hana. Tak sabar ingin tahu hasil dari pemeriksaan itu.

Rumah tetap berjalan seperti biasa, tetapi di dalam dada Hana, semuanya terasa menggantung. Farhan tidak lagi membahas soal hasil tes. Ia hanya berkata singkat, “Nanti aku ambil sendiri.”

Sejak itu, pembicaraan mereka hanya sebatas perlu.

Pagi itu Farhan berpakaian lebih rapi dari biasanya. Kemeja disetrika licin. Jam tangan dipakai. Wajahnya serius, seperti seseorang yang sudah menyiapkan keputusan.

“Hasilnya sudah bisa diambil,” ucap Farhan.

Hana yang sedang melipat mukena berhenti. “Hari ini?”

“Iya.”

“Aku ikut?”

Farhan menatapnya sebentar. “Sekalian nanti kita ke rumah Mama.”

Hana sedikit tertegun. “Langsung ke sana?”

“Ada yang perlu dibicarakan,” jawab Farhan. Nada suaranya membuat Hana tidak melanjutkan ucapannya.

Perjalanan ke rumah sakit dilalui tanpa banyak kata. Berbeda dengan dua hari lalu yang dipenuhi tegang, hari ini justru terasa dingin. Seolah keduanya sudah terlalu lelah untuk cemas.

Dokter yang sama menerima mereka. Senyum profesionalnya tetap ada, tapi kali ini lebih hati-hati.

“Hasil sudah lengkap,” ucap Dokter sambil membuka map. “Saya jelaskan dulu secara medis, ya.”

Farhan mengangkat tangan sedikit. “Dok, maaf. Saya ingin membuka hasilnya di depan orang tua saya. Boleh?”

Dokter terlihat sedikit terkejut, tapi tetap tenang. “Boleh saja. Tapi sebaiknya tetap dikonsultasikan setelah itu. Karena hasil lab tidak selalu bisa disimpulkan sepihak.”

“Saya akan buat janji lagi,” jawab Farhan.

Dokter mengangguk. Map cokelat itu ditutup kembali, dimasukkan ke amplop besar berlogo rumah sakit. “Apa pun hasilnya, mohon diingat, kesuburan adalah urusan pasangan, bukan individu. Jangan saling menyalahkan.”

Hana mengangguk pelan. Farhan hanya berkata, “Baik, Dok.” Amplop itu berpindah ke tangan Farhan.

Mobil tidak langsung pulang. Farhan mengarahkannya ke rumah Bu Meri tanpa bertanya lagi pada Hana. Seolah semua sudah masuk dalam rencana yang tak perlu didiskusikan.

Semakin dekat, napas Hana makin pendek. Tangannya dingin. Ia meremas ujung gaunnya tanpa sadar.

Di teras rumah sudah ada dua pasang sandal yang tidak asing. Salah satunya milik Chika.

Suara tawa terdengar dari dalam. Sama seperti dua hari lalu, hangat dan akrab. Bukan tawa yang pernah ia rasakan sebagai bagian rumah ini.

Farhan masuk tanpa mengetuk. Hana mengikutinya beberapa langkah di belakang.

Di ruang tengah, Bu Meri duduk di sofa dengan punggung tegak. Chika ada di sampingnya, mengenakan blus krem dan celana panjang rapi. Di meja sudah ada kue dan teh, seperti menyambut acara penting.

“Farhan, sudah diambil hasilnya?” tanya Bu Meri.

“Sudah, Ma.”

Tatapan Bu Meri langsung pindah ke amplop di tangan anaknya, lalu ke Hana. Tatapan yang sama seperti biasa, dingin.

“Duduklah!" titah Bu Meri.

Mereka duduk berhadapan. Formasi yang terasa seperti sidang.

Chika tampak canggung, tetapi tidak pergi. Ia hanya menautkan jari di pangkuan. Farhan meletakkan amplop di meja.

Bu Meri tersenyum tipis. “Tanpa dibuka pun Mama sudah tahu.”

Tak ada yang menyahut.

“Anakku pasti subur,” lanjut wanita paruh baya itu mantap. Lalu telunjuknya terangkat, menunjuk lurus ke arah Hana. “Yang mandul pasti kamu.”

Hana hanya diam, tidak membalas. Punggungnya menegang, tetapi wajahnya tetap tenang. Terlalu sering mendengar tuduhan itu, sampai tubuhnya belajar membeku.

Farhan berkata pelan, “Buka saja, Ma. Biar kita semua tahu hasilnya.”

Bu Meri meraih amplop dengan percaya diri. Gerakannya tegas, hampir dramatis. Kertas dibuka, hasil lab ditarik keluar.

Matanya menyapu baris demi baris. Lalu, senyum itu muncul.

“Nah,” ucap Bu Meri sambil mengangkat kertas itu sedikit. “Lihat. Parameter normal. Jumlah bagus. Motilitas bagus. Morfologi juga. Putraku tidak bermasalah.”

Bu Meri tertawa pendek penuh kemenangan. Tanpa peringatan, kertas itu dilempar ke arah Hana. Mengenai pipi lalu jatuh ke pangkuannya.

“Kau lihat dengan benar!” ucapnya tajam. “Putraku subur. Tidak ada masalah. Aku sudah bilang, kamu yang bermasalah.”

Chika tampak tidak nyaman. Ia bergeser sedikit, tetapi tetap diam.

Hana mengambil kertas itu perlahan. Membacanya dengan seksama. Deretan angka-angka, istilah medis, semua memang menunjukkan hasil Farhan dalam batas normal.

Bu Meri belum selesai. “Lima tahun kamu tak memberikan anak saya keturunan . Perempuan macam apa kamu ini?”

Farhan duduk diam. Tidak ada bantahan. Tidak ada kalimat, “Sudah, Ma.”. Tidak ada penahan.

Hana menelan ludah. Ada rasa pahit naik ke tenggorokan, tetapi suaranya saat keluar justru tenang.

“Hasil pemeriksaanku juga normal, Ma.”

Bu Meri mendengus. “Jangan ngeles.”

“Aku juga diperiksa lengkap,” lanjut Hana pelan. “Dokter bilang tidak ada kelainan berarti.”

“Dokter mana? Dokter abal-abal?” potongnya sinis.

“Dokter yang sama,” jawab Hana. “Yang memeriksa Mas Farhan juga.”

Bu Meri melambaikan tangan tidak sabar. “Kalau dua-duanya normal, kenapa tidak hamil? Masa Tuhan pilih kasih?”

Ruangan hening setengah detik. Hana menjawab lirih, “Mungkin memang Tuhan saja yang belum mempercayai dan menitipkan anak pada kami.”

Kalimat itu sederhana, tetapi justru membuat Bu Meri naik pitam. “Jangan bawa Tuhan untuk menutup kesalahanmu!” bentaknya. “Cukup bersabar Farhan menunggu kamu hamil. Lima tahun hidup sia-sia denganmu.”

Chika menoleh cepat ke Farhan, mau melihat reaksi pria itu. Namun, Farhan masih membatu, rahangnya kencang, dan arah pandangan matanya ke meja.

Bu Meri mencondongkan badan. “Sekarang Mama katakan dengan jelas. Farhan akan menikah lagi.”

Hana tidak bergerak. Dia tak tahu harus berkata apa.

“Farhan butuh keturunan,” lanjut Bu Meri. “Rumah ini butuh penerus.”

Bu Meri melirik Chika sekilas, tidak menyebut nama, tapi cukup jelas arahnya.

“Jika kamu tidak menerimanya,” sambung Bu Meri, “Kamu bisa pergi.”

Kalimat itu diucapkan seperti keputusan rapat. Tanpa ruang tawar.

Dada Hana terasa sesak. Namun anehnya, tidak ada ledakan. Tidak ada tangis. Yang ada hanya rasa kosong. Sudah terlalu sering mendengarkan ucapan sinis dari mertuanya.

Ia menatap Farhan. Menunggu satu kata pembelaan. Satu penolakan dari sang suami.

Farhan mengangkat kepala pelan. Tatapan mereka bertemu, lima tahun pernikahan ada di sana. Sakit, harap dan lelah. Namun, yang keluar hanya helaan napas panjang.

“Ini memang harus dibicarakan,” ucap Farhan pelan. Bukan penolakan yang Hana dengar. Hanya kalimat netral yang menusuk lebih dalam dari bentakan.

Chika akhirnya bersuara dengan hati-hati. “Tante … ini bukan keputusan kecil.”

“Mama tidak main-main,” jawab Bu Meri.

“Aku tidak mau masuk ke rumah tangga orang dan dikatakan sebagai perusak,” ucap Chika tegas.

Bu Meri cepat membalas, “Rumah tangga mereka sudah retak. Kamu bukan penyebab.”

Hana tersenyum tipis. Ia baru sadar, di mata Bu Meri, pernikahan mereka memang tidak pernah utuh.

“Aku mau tanya satu hal,” ucap Hana akhirnya. Semua menoleh padanya. Seolah baru sadar ia masih ada di ruangan itu.

Hana menatap Farhan, bukan Bu Meri. “Mas, apa kamu juga ingin menikah lagi?”

Farhan tidak langsung menjawab. Bagi Hana itu sudah menjadi jawaban setengahnya.

“Aku ingin punya anak,” ucap Farhan dengan suara pelan.

Tanpa kalimat lanjutan, “tapi aku tidak mau menyakitimu.” Atau, “kita cari jalan lain.” Hanya keinginan. Tanpa empati.

“Kalau begitu, kita memang perlu bicara," balas Hana.

Bu Meri tampak puas. Ia bersandar, merasa menang.

“Tidak perlu lama,” ucap Bu Meri. “Poligami itu halal. Jangan sok modern menolak syariat.”

Hana menoleh sopan. “Halal tidak selalu wajib, Ma.”

Wajah Mama Meri mengeras. Tak terima dengan ucapan Hana.

“Dan yang halal juga ada syaratnya,” lanjut Hana tenang. “Adil. Mampu. Siap lahir batin. Bukan karena tekanan.”

“Kamu mau mengajari saya agama?” tanya Bu Meri.

“Bukan, Ma,” jawab Hana lembut. “Aku hanya mengingatkan diri sendiri.”

Farhan berdiri tiba-tiba. “Sudah. Cukup untuk hari ini.” Nada suaranya tegas

“Kita akan konsultasi lagi dengan dokter,” lanjutnya. “Langkah selanjutnya apa.”

Bu Meri mendengus. “Mau konsultasi sampai sepuluh dokter pun hasilnya sama kalau perempuannya tetap Hana.”

Hana berdiri perlahan. Tangannya masih memegang hasil lab yang tadi dilempar. Ia merapikan kertas itu, kembali ke amplop.

Farhan mengambil kunci mobil. “Kita pulang.”

Hana mengangguk. Mereka berjalan ke luar tanpa ada yang menahan.

Di teras, angin siang terasa panas. Tapi justru membuat dada Hana sedikit lebih lega. Seperti baru keluar dari ruangan pengap.

1
Enny Suhartini
lanjut kak ditunggu 👍
Radya Arynda
semangaat hana,, semogah cepat nikah sama arsaka
🌷💚SITI.R💚🌷
benar ga benar hana..tp smg setekah ini ada status kejelasan buat kamu..kamu msh istriy farhan atau istriya arsaka..smg yg trbaik
Eka ELissa
bner Hana dia ayah dri ank mu...
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....
Sugiharti Rusli
entah lha ya laki" bisa sangat picik pikirannya seperti Farhan dan ibunya yang mengaanggap mereka Tuhan yang bisa menentukan segala sesuatu,,,
Sugiharti Rusli
karena sejatinya urusan rahim itu adalah ranahnya Allah Sang Pemilik segalanya, bukan si Hana atau si Chika yah,,,
Sugiharti Rusli
dan si Farhan maupun ibunya percaya diri gitu kalo dia menikahi si Chika akan langsung dikaruniai anak🙄🙄🙄
Sugiharti Rusli
apa sebelum mendiang ayah Farhan wafat, dia terpaksa menerima Hana yah karena atas ijin mendiang suaminya si Farhan menikahi Hana🤔🤔🤔
Sugiharti Rusli
bahkan ketika ada peringatan wafatnya sang suami, si bu Meri juga ga segan" mempermalukan menantunya di hadapan orang banyak kan,,,
Sugiharti Rusli
sedari awal ibu mertuanya memang tidak menerima si Hana sebagai menantu sepertinya sih,,,
Sugiharti Rusli
dan belum" sudah menyodorkan calon istri baru buat putranya tanpa memikirkan perasaan Hana nanti seperti apa,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Farhan juga belum pernah dicek kesuburannya selama ini kan, kenapa langsung vonis Hana yang bermasalah,,,
Sugiharti Rusli
kenapa yah vonis selalu datang dari ibu mertua ke menantu perempuan langsung,,
ken darsihk
Tenang Hana kamu aman ikut dngn Arsaka , ini juga untuk kebaikan baby mu 💪💪
guest1053527528
akhirx di pertemukan thor
Ida Nur Hidayati
keputusan Arsaka udah yang terbaik ikut saja Hana
vania larasati
lanjut kak
Vie
akhirnya lanjut juga.... makasih kak aku kira cerita ini bakalan gak lanjut lagi..... mudah2an ceritanya lanjut sampai tamat ya kak, jangan digantung, karena digantung itu sangatlah gak enak, ga ada kepastian... 🤭🤭👍👍
Vie: ok kak.. aku selalu menunggu..... ceritanya seru... makin penasaran nunggu lanjutnya... 👍👍👍👍👍
total 2 replies
Ilfa Yarni
pasti yg terbaik hana arsaka orang baik dan bertanggung jawab km ga usah ragu dan khawatir semua akan baik2 saja buat km dan calon ank kalian
yumna
han km kira"d hukum ga ya 🤣🤣🤣🤣🤣.....lasng bos mu yg trun tangan bjuk hana🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!