"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Aliansi di Balik Bayang-bayang
’Jika aku memilikinya, aku bisa mengambil kembali pedang perakku sebelum mereka menyegelnya di dalam Paviliun Jinyowon,’ batin Seol-Ah.
Ia melirik ke arah pintu, memastikan Han-Seol belum kembali. ‘Ini bukan sekadar lencana... ini adalah tiket keluar dari raga sampah ini.’
Tak lama kemudian, pintu berderit. Han-Seol masuk dengan rambut yang masih agak basah dan jubah yang tersampir longgar.
"Tuan... pakaian tidurnya sudah siap," ucap Seol-Ah dengan suara rendah, kepalanya menunduk dalam agar Han-Seol tidak melihat kilat ambisi di matanya.
Han-Seol tidak menjawab. Ia berjalan ke balik sekat kayu untuk berganti pakaian, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur empuk.
"Mendekatlah," perintahnya singkat.
Seol-Ah masuk dan berdiri kaku di pojok ruangan yang remang-remang, tangannya saling meremas di balik lengan baju.
"Nyalakan perapian di sudut itu. Udara malam ini terlalu menusuk," ucap Han-Seol sambil menutup matanya. Suaranya terdengar sedikit lebih parau dan lembut, mungkin karena kelelahan yang luar biasa.
"Baik, Tuan."
Seol-Ah segera berjongkok di depan perapian. Ia menyalakan api dan mulai mengipasinya dengan tekun. Namun, setiap beberapa detik, matanya mencuri pandang ke arah meja jati di dekat tempat tidur—di mana lencana itu berada.
Hening pun menyelimuti ruangan, hanya diselingi suara retakan kayu yang terbakar. Perlahan, napas Han-Seol menjadi lebih berat dan teratur. Dada pemuda itu naik-turun dengan stabil, tanda ia telah jatuh ke dalam lelap yang dalam.
Seol-Ah tidak membuang satu detik pun. Ia meletakkan kipasnya dengan gerakan yang nyaris tanpa suara. Menggunakan teknik peringan tubuh yang masih tersisa di memorinya, ia merangkak mendekati meja tersebut.
Lantai kayu yang biasanya berderit, entah bagaimana, tetap diam di bawah tekanan kakinya yang ringan.
SET!
Jemari kecil Seol-Ah menyambar lencana perak itu. Dinginnya logam itu terasa seperti suntikan tenaga baru bagi jiwanya. Ia segera menyembunyikannya di balik lipatan baju, tepat di dekat detak jantungnya yang berpacu.
Sebelum pergi, ia berhenti sejenak di samping tempat tidur. Ia menatap wajah Han-Seol yang tampak tenang dalam tidurnya—wajah yang tidak tampak seperti monster, namun menyimpan darah dari pria yang menghancurkan hidupnya.
"Nikmatilah tidur nyenyakmu malam ini, Tuan Muda Han," bisik Seol-Ah, suaranya sehalus desiran angin yang masuk dari celah jendela.
"Karena besok, aku tidak akan lagi meniup apimu agar kau tetap hangat. Besok, aku akan menghunuskan pedang di lehermu agar kau merasa kedinginan selamanya."
Dengan gerakan gesit, Seol-Ah menyelinap keluar melalui jendela samping yang tidak terkunci. Ia melompat pelan ke atas rumput, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam kediaman keluarga Han yang luas.
Tujuannya hanya satu: Kompleks Cheon-gi Won, jantung pertahanan para penyihir yang paling ia kutuk.
Ia tidak sadar, bahwa di dalam kamar yang sunyi itu, mata Han-Seol perlahan terbuka tepat setelah jendela tertutup.
Han-Seol menatap ke arah nampan kosong di meja jati itu, lalu menghela napas panjang sembari menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang penuh misteri.
"Kau benar-benar mengambilnya, Seol-Ah..." gumam Han-Seol pelan pada kegelapan.
"Jangan salahkan aku jika besok kau menyadari bahwa lencana itu adalah perangkap yang sengaja kupasang untukmu."
****
Adrenalin Nara memuncak, membakar rasa lelah di raga Seol-Ah yang rapuh. Di dalam benaknya, hanya ada satu tujuan: mengambil kembali pedang peraknya.
Bagi seorang pembasmi, pedang bukan sekadar senjata; itu adalah belahan jiwa.
Dengan lencana perak milik Han-Seol yang tersembunyi di balik jubahnya, ia menyelinap keluar dari kediaman keluarga Han seperti hantu yang melintasi kegelapan malam Niskala.
Sesampainya di depan kompleks utama Cheon-gi Won, Nara disambut oleh gerbang transparan yang raksasa. Gerbang itu tidak terbuat dari besi, melainkan dari anyaman energi sihir murni yang berpendar kebiruan—Segel Giseol yang siap menghancurkan siapa pun tanpa izin.
Nara menarik napas panjang, mengeluarkan lencana perak itu dengan tangan gemetar. Ia menempelkannya tepat ke lekukan tiang penyangga yang memiliki ukiran yang sangat presisi.
Wunggg...
Suara dengungan rendah bergema saat energi gerbang merespons. Lapisan sihir transparan itu perlahan memudar, terbuka lebar memberinya celah.
Nara segera menyelinap masuk, namun baru beberapa langkah, indranya yang tajam menangkap aroma yang tidak asing: bau darah dan kain yang terbakar.
"ADA PENYUSUP! LINDUNGI GUDANG ARTEFAK!"
Teriakan itu memecah kesunyian malam.
Kekacauan pecah seketika. Segerombolan pria berbaju hitam dengan penutup wajah merangsek masuk, mengayunkan pedang mereka dengan brutal.
Mereka tidak datang untuk menghancurkan; sasaran mereka jelas—jasad Nara yang tersimpan di Paviliun Cheon-gi Won.
Api mulai membubung tinggi saat para penyusup membakar tirai-tirai sutra untuk mengalihkan perhatian.
"Beraninya kalian mengotori tempat suci ini!" suara Baek Seo-Jun menggelegar dari balkon atas.
Seo-Jun melompat turun dengan gerakan yang anggun namun mematikan. Pedangnya bersinar terang, membelah kegelapan seperti kilat.
Di sampingnya, Park Ji-Hoon mendarat dengan gaya yang lebih santai namun tak kalah berbahaya. Ji-Hoon tidak menghunus pedang panjang, melainkan melemparkan segenggam jimat perak yang meledak di udara.
BOOM! BOOM!
Ledakan cahaya dari jimat Ji-Hoon membutakan para penyusup seketika.
"Seo-Jun, yang di kiri milikmu! Aku akan membereskan tikus-tikus di belakang pilar ini!" teriak Ji-Hoon sembari mengeluarkan sebuah kipas lipat dari baja yang bisa memantulkan serangan sihir lawan.
Seo-Jun dan Ji-Hoon bertarung dalam sinkronisasi yang sempurna. Saat Seo-Jun menebas ke depan, Ji-Hoon melindungi punggungnya dengan jaring energi dari jimat-jimatnya.
"Kalian pikir tempat ini pasar malam?!"
Do-Hyun keluar dari perpustakaan kuno, merapal mantra angin yang menghempaskan beberapa penyusup sekaligus.
"Padamkan apinya!" perintah Do-Kwang yang muncul di tengah aula. Ia mengangkat kedua tangannya, memanggil naga air raksasa dari kolam hias yang langsung menerjang kobaran api.
Kabut asap putih memenuhi ruangan. Seol-Ah terbatuk, bersembunyi di balik pilar besar. Pandangannya kabur karena asap, namun ia melihat salah satu penyusup berhasil mendekati pintu Paviliun Cheon-gi Won—tempat jasad aslinya berada.
‘Sial, jika mereka menyentuh jasadku, aku akan kehilangan segalanya!’ batin Seol-Ah panik.
"Ji-Hoon! Gunakan jaring penyegelmu! Mereka mendekati Paviliun Rahasia!" teriak Seo-Jun.
Ji-Hoon segera melemparkan sebuah bola logam kecil yang meledak menjadi jaring energi, memerangkap dua penyusup tepat di depan pintu paviliun.
"Kalian tidak akan masuk ke sana selama aku masih punya jimat untuk dilempar!"
Seol-Ah terjebak. Tekanan energi sihir dari Do-Kwang dan Seo-Jun membuat raga Seol-Ah merasa sesak luar biasa. Ia mencengkeram dadanya, berlutut di balik pilar.
‘Ayo, bangkitlah! Jangan sekarang, raga bodoh!’
Setelah para penyusup berhasil dilumpuhkan dan sisanya melarikan diri, wajah Do-Kwang mendadak berubah pucat pasi saat api mulai padam. Ia menyadari sebuah celah fatal: semua orang sibuk bertarung, namun tidak ada satu pun yang menjaga Paviliun Cheon-gi Won.
"Jasad itu! Ruang rahasia!" seru Do-Kwang panik. "Cepat periksa!"
Seo-Jun, Do-Hyun, dan Ji-Hoon segera mengikuti langkah cepat Do-Kwang menuju ruang bawah tanah. Seol-Ah (Nara) mengikuti mereka secara diam-diam dari jarak aman, jantungnya berdebar kencang—ia berharap pedangnya masih di sana.
Namun, saat pintu ruang rahasia dibuka paksa, keheningan yang mencekik menyambut mereka.
"Kosong..." bisik Do-Hyun tak percaya.
Meja batu itu kini kosong melompong. Jasad Nara dan pedang pusakanya telah hilang. Para penyusup itu ternyata hanya pengalih perhatian; tim inti mereka telah berhasil menembus ruang rahasia dan membawa pergi jasad sang Pembasmi.
Seol-Ah yang mengintip dari balik tirai merasa dunianya runtuh. ‘Aku terlambat... mereka sudah membawanya pergi!’ batinnya geram.
Amarah meledak di dadanya hingga raga Seol-Ah yang tidak stabil kehilangan keseimbangan.
PRANKK!
Bunyi pecahan keramik menggema. Seo-Jun berbalik secepat kilat. Matanya yang tajam menangkap sosok kecil berbaju pelayan yang mencoba melarikan diri ke koridor gelap.
"Penyusup! Berhenti!" teriak Seo-Jun.
Seo-Jun mengejar dengan kecepatan luar biasa.
Seol-Ah berlari sekuat tenaga, namun paru-parunya mulai terasa terbakar. Ia terpojok di sebuah jalan buntu.
Tepat saat ia pasrah akan tertangkap oleh pedang Seo-Jun, sebuah tangan tiba-tiba membekap mulutnya dan menariknya ke dalam gudang kayu yang gelap.
SRET!
Pintu tertutup rapat tepat saat Seo-Jun melintas di depan gudang itu. Seol-Ah mencoba berontak, namun bisikan dingin terdengar di telinganya.
"Diamlah, jika kau masih ingin melihat matahari besok."
Seol-Ah membeku. Ia mendongak dan melihat sepasang mata gelap yang menatapnya intens. Han-Seol.
"Tuan? Bagaimana Anda bisa ada di sini?" tanya Seol-Ah dengan suara berbisik, napasnya masih tersengal.
Han-Seol tidak menjawab sampai suara langkah kaki Seo-Jun benar-benar menghilang.
Suasana di gudang itu sangat sempit, membuat detak jantung mereka seolah saling bersahutan di tengah aroma kayu tua.
Setelah merasa aman, Han-Seol melepaskan bekapan tangannya. Ia menatap Seol-Ah dari kepala hingga ujung kaki, lalu sebuah senyuman misterius muncul di wajahnya.
"Kau berani sekali mencuri lencanaku dan menyelinap ke markas penyihir terkuat di Niskala, Guru," ucap Han-Seol pelan.
"G-guru? Apa maksudmu, Tuan Muda?"
Seol-Ah mencoba kembali berakting buta, meraba-raba dinding dengan canggung. "Saya hanya pelayan Anda yang tersesat..."
"Berhentilah bersandiwara, Nara," potong Han-Seol tegas. "Aku sudah mengenalimu sejak kau mengancam leherku dengan kaki kepiting."