“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Tak Kasat Mata
Pukul 21:30 malam.
Mansion Valenor tenggelam dalam kesunyian yang mencekam pasca drama pingsannya Clarisse. Cahaya rembulan yang pucat menembus jendela kamar Ceisya, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji besi di atas lantai. Ceisya duduk di tepi ranjang, jemarinya perlahan mengusap luka di pergelangan tangannya. Pikirannya tidak tenang; bukan karena takut pada ayahnya, melainkan karena tatapan Kaelthas Virelion yang seolah mampu menguliti jiwanya hidup-hidup.
"Kuliah besok pagi... bagaimana aku bisa pergi dengan kondisi raga yang hancur begini?" bisik Ceisya pelan.
Ceisyra asli kuliah sebagai mahasiswi jurusan Teknologi Informasi semester akhir, ia punya presentasi penting. Jiwa santriwati Ceisya yang disiplin tidak akan membiarkan tugas terbengkalai, namun raga Ceisyra yang ia tempati ini adalah raga yang baru saja dihancurkan oleh cambuk kemarahan.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Aroma sandalwood yang dingin dan pekat menyerbu masuk, membuat bulu kuduk Ceisya meremang seketika.
Kaelthas berdiri di sana, siluet tubuhnya yang jangkung menutupi cahaya dari koridor. Pria itu masuk dengan langkah tenang namun menekan, seolah setiap jengkal kamar ini adalah wilayah kekuasaannya. Ia tidak butuh izin, dan ia tidak butuh bicara untuk membuat suasana menjadi berat.
Ceisya mendongak, mencoba memasang wajah tengilnya yang biasa meski jantungnya berdegup kencang. “Tuan Virelion, apa di dunia mu yang lama orang kaya tidak diajarkan cara mengetuk pintu? Atau pintu ini sudah kamu beli juga?” sindir Ceisya pedas.
Kaelthas tidak menjawab sindiran itu. Ia justru mendekat, berdiri tepat di depan Ceisya hingga lutut mereka nyaris bersentuhan. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah ponsel baru berwarna hitam legam dan meletakkannya di pangkuan Ceisya.
“Pakai itu. Ponsel lamamu sudah dihancurkan oleh ayahmu karena rekaman CCTV tadi,” ucap Kaelthas, suaranya rendah dan bergetar seperti guruh yang jauh.
Ceisya menaikkan sebelah alisnya, ia meraih ponsel mewah itu. “Wah, gratifikasi nih? Mau menyogok aku supaya tutup mulut soal Clarisse?” Ucapnya dengan tenang.
Kaelthas menyipitkan matanya, ia membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan Ceisya. “Jangan terlalu percaya diri. Di dalamnya sudah terpasang pelacak yang tidak bisa kamu hapus. Mulai detik ini, setiap langkahmu adalah milikku.” Bisiknya di depan bibir ceisya.
Ceisya tersentak, rasa panas menjalar di dadanya karena amarah. “Pelacak? Kamu pikir aku ini paket logistik yang harus kamu pantau status pengirimannya?” Desisnya tajam.
Kaelthas meraih dagu Ceisya, menekannya sedikit dengan ibu jari, memaksa gadis itu menatap matanya yang gelap dan penuh obsesi. “Kamu lebih berharga dari seluruh kargo yang aku miliki, Ceisyra. Aku dengar kamu mau ke kampus besok untuk presentasi. Pergilah. Tapi jika kamu berjarak lebih dari sepuluh meter dari pengawal yang aku kirim, aku akan menyeretmu pulang dan menguncimu di kamarku. Mengerti?” Ucapnya tenang dan terdengar tidak main-main.
Ceisya mencoba melepaskan cengkeraman tangan Kaelthas, namun pria itu terlalu kuat. Tenaga silat Ceisya seolah tidak berarti di hadapan dominasi fisik Kaelthas yang absolut. “Kamu gila. Aku punya kehidupan, Kaelthas! Aku bukan bonekamu!” Jawabnya ketus.
Kaelthas justru menyeringai, sebuah ekspresi manipulatif yang membuat Ceisya merasa sesak.
“Kehidupanmu yang lama sudah mati saat kamu hampir tewas di tangan keluargamu. Sekarang, aku adalah pemilik kehidupan barumu. Kamu butuh uang kuliah? Aku sudah membayarnya hingga lulus. Kamu butuh perlindungan dari ayahmu? Hanya aku yang bisa memberikannya.” Jawabnya santai dan tenang dengan seringainya.
Kaelthas mendekatkan bibirnya ke telinga Ceisya, membisikkan kata-kata yang membuat dunia Ceisya seolah runtuh. “Dan sebagai bayarannya, jangan pernah menatap pria lain di kampusmu seperti kamu menatapku sekarang. Jika aku melihatmu tersenyum pada pria lain melalui kamera pengawas... aku akan memastikan pria itu kehilangan masa depannya dan memberikan mu hukuman yang tepat di atas ranjang besar ku.” Bisiknya di telinga ceisya dengan nada lembut namun penuh dominasi.
Ceisya menelan ludah, ia bisa merasakan nafas hangat Kaelthas yang terasa seperti jerat sutra. “Posesif kamu itu sakit, Tuan Virelion,” bisik Ceisya dengan suara bergetar namun tetap menantang.
Kaelthas melepaskan dagu Ceisya, ia berdiri tegak kembali sambil merapikan jasnya yang tak bercela. “Sakit atau tidak, itu kenyataan yang harus kamu jalani. Tidurlah. Besok sopirku akan menjemputmu jam tujuh pagi.” Lanjutkan lagi dengan nada tenang penuh otoritas.
Kaelthas berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak. “Oh, satu lagi. Clarisse sedang mencoba melukai dirinya sendiri di kamar sebelah untuk menarik perhatianku. Jangan keluar kamar. Biarkan dia bermain dengan darahnya sendiri sampai bosan.” Sambungnya memperingatkan, Kaelthas tidak mau Ceisya teluka.
Brak! Pintu tertutup dan terkunci dari luar. Ceisya terdiam, menggenggam ponsel baru itu dengan tangan gemetar. Ia mencoba mengakses sistem internal ponsel itu, berharap bisa meretas pelacaknya, namun ia terkejut. Keamanan ponsel ini jauh di atas kemampuannya saat ini. Kaelthas bukan hanya kaya, dia cerdas dan telah mengantisipasi semua langkah Ceisya.
Di kamar sebelah, suara teriakan Clara Valenor terdengar histeris karena melihat Clarisse menyayat lengannya sendiri dengan potongan kaca.
Namun, di koridor, Kaelthas hanya berjalan melewati kamar itu tanpa menoleh sedikit pun. Matanya tetap dingin, namun di dalam kepalanya, hanya ada bayangan wajah Ceisya yang menantangnya tadi.
“Jiwa yang sangat indah untuk di miliki.” gumam Kaelthas pelan saat ia masuk ke dalam mobilnya yang sudah menunggu di lobi.
Asistennya memberikan sebuah tablet yang menampilkan posisi Ceisya di dalam kamar melalui titik merah yang berkedip. Kaelthas mengusap titik merah itu dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang sangat posesif dan penuh tanda tanya.
Sementara itu, Ceisya merebahkan tubuhnya di ranjang kembali, menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, kuliah besok bukan lagi soal mencari ilmu, melainkan awal dari pelarian di bawah pengawasan mata elang Kaelthas. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang—bukan karena cinta, tapi karena sensasi berbahaya yang diberikan pria itu.
Tiba-tiba, ponsel barunya bergetar. Sebuah pesan singkat muncul di layar:
‘Jangan coba-coba melepas pakaianmu di depan jendela. Aku bisa melihatmu dari sini. - K’
Ceisya langsung melonjak berdiri dan menatap ke arah jendela yang tertutup gorden tipis. Di kejauhan, di jalanan mansion, ia melihat lampu mobil Kaelthas yang perlahan menjauh, namun ia merasa seolah pria itu sedang berdiri tepat di belakangnya. "Gila! Benar-benar psikopat!" umpat Ceisya, tangannya segera menarik gorden hingga tertutup rapat.
Namun, di balik rasa kesalnya, ada debaran aneh yang mulai menyusup ke dalam hatinya—sebuah rasa takut yang perlahan berubah menjadi ketergantungan yang mematikan.
Siapa sebenarnya pengawal yang dikirim Kaelthas untuk mengawasi Ceisya di kampus? Apakah itu orang yang akan membela Ceisya, atau justru sipir yang akan melaporkan setiap helai rambutnya yang rontok? Dan apa yang akan dilakukan Clarisse saat tahu Kaelthas sama sekali tidak peduli pada luka sayatannya? Penasaran dengan ceritaku ini, ayo lanjutkan membacanya para sahabat ku😁.
Bersambung...
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca