Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gendis dan Kutukan Tujuh Turun
Mansion Vittorio yang biasanya tenang di pagi hari, mendadak berubah menjadi panggung drama mistis yang mencekam. Semuanya bermula ketika seorang kurir misterius mengirimkan sebuah peti kayu tua berukir simbol ular yang saling melilit. Di atas peti itu tertulis nama Kaivan Vittorio, namun bukan tinta yang digunakan, melainkan guratan yang tampak seperti darah kering yang menghitam.
Begitu peti itu dibuka oleh tim keamanan—dengan pengawasan ketat Kaivan yang berdiri di balik kaca antipeluru—sebuah aroma busuk yang sangat spesifik memenuhi ruangan. Bukan aroma bangkai, melainkan aroma tanah makam yang basah bercampur dengan kemenyan hitam yang sangat pekat.
"Jangan disentuh!" teriak Gendis yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dengan wajah pucat pasi.
Kaivan segera menoleh. "Gendis, masuk ke dalam. Ini urusan keamanan."
"Ini bukan urusan keamanan biasa, Kak! Itu adalah Maledizione di Sette Generazioni... Kutukan Tujuh Turunan," suara Gendis bergetar. "Kutukan itu nggak menyerang fisik, tapi menyerang garis keturunan. Siapa pun yang membuka peti itu, garis keturunannya akan terputus atau menderita sampai tujuh keturunan ke depan."
Di dalam peti itu hanya ada satu benda: sebuah mahkota duri dari perak yang di tengahnya tertancap sebilah paku berkarat.
Kaivan, yang selama ini mulai terbiasa dengan hal-hal gaib, tetap merasa bulu kuduknya berdiri. "Siapa yang mengirim ini? Moretti sudah habis, Marcello sudah di penjara bawah tanah."
"Ini bukan dari mereka, Kak. Ini adalah hutang lama klan Vittorio yang belum lunas," Gendis mendekati peti itu dengan langkah hati-hati. Ia mengeluarkan sebuah gelang benang tridatu dari pergelangan tangannya dan melemparkannya ke arah peti tersebut.
Seketika, benang itu terbakar menjadi abu sebelum menyentuh peti.
"Gawat," bisik Gendis. "Kutukannya sudah aktif. Kakak... kakek buyut Kakak, Don Alessandro, sedang menangis di pojok ruangan itu."
Kaivan menoleh ke pojok ruangan yang ditunjuk Gendis. Ia tidak melihat siapa pun, namun ia merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk tulang di area tersebut.
"Apa yang dilakukan kakekku dulu?" tanya Kaivan dengan suara berat.
Gendis memejamkan mata, tangannya menyentuh udara kosong, mencoba berkomunikasi dengan arwah Don Alessandro yang tampak sangat ketakutan. "Kakek bilang... dulu, untuk membangun kejayaan Vittorio, ada sebuah keluarga penyihir lokal di pegunungan Madonie yang dikhianati. Tanah mereka diambil paksa, dan seluruh keturunan mereka dibantai, kecuali satu orang wanita tua yang mengucapkan sumpah ini sebelum dia mati."
Mahkota duri di dalam peti itu tiba-tiba bergetar. Suara jeritan wanita mulai terdengar dari dalam kayu, menggema di seluruh ruang strategi yang canggih itu.
Malam itu, kutukan tersebut mulai bekerja. Kaivan mendadak terserang demam hebat yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Tubuhnya menggigil, namun saat disentuh, kulitnya terasa panas seperti terbakar. Yang lebih mengerikan, muncul tanda merah melingkar di lehernya, seolah-olah ada tali kasat mata yang sedang menjeratnya.
"Gendis... sesak..." rintih Kaivan di atas tempat tidurnya.
Gendis tidak tinggal diam. Ia tahu air doa biasa tidak akan cukup untuk melawan kutukan yang sudah berumur puluhan tahun ini. Ia memerintahkan Marco untuk mencari tujuh jenis bunga yang tumbuh di tanah Sisilia, namun harus diambil dari tujuh pemakaman yang berbeda sebelum matahari tenggelam.
"Marco! Jangan tanya kenapa! Cepat jalan! Kalau matahari tenggelam dan bunga itu belum ada, Kak Kaivan nggak akan bangun lagi!" perintah Gendis dengan otoritas yang membuat Marco langsung berlari tanpa membantah.
Gendis duduk di samping Kaivan, memegang dahi pria itu. Di mata indigonya, ia melihat tujuh sosok bayangan hitam berdiri mengelilingi tempat tidur Kaivan. Mereka adalah manifestasi dari tujuh turunan keluarga yang dikhianati Don Alessandro.
"Pergi kalian! Dia nggak tahu apa-apa soal dosa kakeknya!" teriak Gendis pada bayangan-bayangan itu.
Salah satu bayangan, yang tampak seperti wanita tua dengan mata bolong, mendekat ke telinga Gendis. "Darah dibayar darah. Garis Vittorio harus berakhir di tangan pria ini."
"Nggak akan saya biarin!" Gendis mengambil sebuah keris kecil—pusaka keluarganya yang ia bawa dari Indonesia namun selama ini ia simpan rapat-rapat. "Kalau kalian mau darah, ambil darah saya! Tapi lepaskan dia!"
Saat Marco kembali dengan tujuh jenis bunga, Gendis segera mencampurnya di dalam bak mandi besar di kamar Kaivan. Ia menambahkan minyak kemenyan putih dan garam kasar.
"Marco, bantu saya angkat Kak Kaivan ke dalam air ini," perintah Gendis.
Mereka memasukkan Kaivan yang setengah sadar ke dalam air bunga tersebut. Seketika, air yang tadinya jernih berubah menjadi hitam pekat seperti tinta. Aroma busuk kembali menyeruak, memenuhi kamar mewah sang Don.
Gendis mulai merapalkan mantra dalam bahasa Jawa kuno, sebuah kidung penolak bala yang diajarkan neneknya di kampung halaman. Suaranya yang merdu namun penuh kekuatan beradu dengan suara jeritan gaib di dalam kamar.
"Sengkolo mulyo, sengkolo sirno... Baliklah kalian ke tanah, kembalilah kalian ke kedamaian. Biarkan yang hidup menjalani takdirnya, biarkan yang mati menjaga rahasianya."
Gendis menusukkan keris kecilnya ke permukaan air. DHUARR!
Sebuah ledakan energi terjadi di dalam ruangan tersebut, memecahkan seluruh cermin dan gelas di kamar Kaivan. Bayangan-bayangan hitam itu perlahan-lahan tersedot masuk ke dalam keris Gendis, namun Gendis sendiri jatuh pingsan karena energinya terkuras habis.
Dalam pingsannya, Gendis menemukan dirinya berada di sebuah kebun zaitun yang gersang. Di sana, ia melihat Kaivan sedang dirantai oleh akar-akar pohon yang berduri. Di depannya berdiri wanita tua penyihir itu.
"Nenek, tolong lepaskan dia," pinta Gendis, berlutut di depan wanita itu.
"Kenapa aku harus melepaskan keturunan dari pria yang menghancurkan duniaku?" tanya wanita itu dengan suara parau.
"Karena dia sedang membangun dunia yang baru. Dia bukan pembunuh seperti kakeknya. Dia punya saya, nenek. Saya yang akan memastikan dia tetap berada di jalan yang benar," Gendis memegang tangan wanita tua itu. "Jika nenek tetap membunuhnya, nenek hanya akan menambah hutang darah yang tidak akan pernah selesai. Biarkan kutukan ini berhenti di sini. Saya akan melakukan ritual penyucian untuk seluruh keluarga nenek yang sudah meninggal, agar mereka bisa tenang."
Wanita tua itu menatap mata Gendis yang penuh kejujuran. "Kau akan menanggung risikonya jika dia berkhianat pada janjimu?"
"Saya jaminannya, Nek. Nyawa saya taruhannya."
Wanita tua itu perlahan melepaskan rantai di tubuh Kaivan. Pemandangan itu perlahan memudar, berganti dengan cahaya putih yang menyilaukan.
Gendis terbangun dengan kepala yang sangat pusing. Ia melihat Kaivan sudah duduk di tepi tempat tidur, tampak pucat namun napasnya sudah kembali normal. Tanda jeratan di lehernya hilang, menyisakan bekas kemerahan yang tipis.
"Gendis..." Kaivan langsung memeluk Gendis erat. "Aku bermimpi... aku bermimpi kau bicara dengan seseorang yang sangat menyeramkan untuk menyelamatkanku."
"Bukan mimpi, Kak," bisik Gendis lemas. "Kutukannya sudah ditarik. Tapi kita punya tugas besar. Kita harus mengembalikan tanah milik keluarga itu ke keturunan mereka yang masih tersisa, atau membangun sebuah monumen doa di sana."
Kaivan mengangguk tanpa ragu. "Apapun, Gendis. Apapun yang diperlukan untuk menghapus dosa masa lalu keluargaku."
Kaivan menatap keris kecil Gendis yang kini berubah warna menjadi kehitaman di atas meja. Ia menyadari bahwa gadis di depannya ini baru saja menaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan garis keturunannya.
"Kau berjanji apa padanya?" tanya Kaivan curiga.
Gendis tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kelelahannya. "Cuma janji kalau Kakak bakal jadi suami yang baik dan nggak galak-galak lagi. Kalau Kakak jahat, nanti nenek itu datang lagi buat jewer kuping Kakak."
Kaivan terkekeh, meski matanya berkaca-kaca. Ia mencium kening Gendis dengan penuh rasa syukur. "Aku janji, Gendis. Aku akan membayar hutang itu dengan cara menjaga kedamaian di Sisilia ini."
Keesokan harinya, Kaivan memerintahkan pengacaranya untuk mencari tahu silsilah keluarga penyihir dari pegunungan Madonie tersebut. Ternyata, masih ada satu orang cicit yang hidup dalam kemiskinan di sebuah desa kecil. Kaivan memberikan dana hibah yang sangat besar dan membangun sebuah kapel kecil di atas tanah yang dulu diambil paksa, mendedikasikannya untuk perdamaian antara keluarga mereka.
Aroma busuk di mansion hilang sepenuhnya, digantikan oleh aroma mawar dan melati yang segar. Peti kayu tua itu dikubur kembali di bawah altar kapel baru tersebut, sebagai simbol berakhirnya permusuhan.
"Kak," panggil Gendis saat mereka berdiri di depan kapel baru itu di pegunungan.
"Ya?"
"Don Alessandro bilang terima kasih. Katanya, sekarang dia sudah bisa tidur nyenyak tanpa dikejar-kejar bayangan hitam."
Kaivan menatap langit biru Sisilia yang cerah. Ia merasa bebannya jauh lebih ringan. "Katakan padanya, dia berhutang besar padamu. Dan aku... aku berhutang seluruh hidupku padamu."
Gendis merangkul lengan Kaivan, menikmati angin pegunungan yang sejuk. Kutukan tujuh turunan itu memang mengerikan, namun ia membuktikan bahwa kegelapan masa lalu selalu bisa dikalahkan oleh keberanian untuk meminta maaf dan cinta yang tulus dari masa sekarang.
"Tapi Kak," celetuk Gendis tiba-kira.
"Apa lagi?"
"Nenek itu bilang... kalau anak kita nanti lahir, jangan dikasih nama Alessandro. Katanya namanya terlalu pasaran di alam sana, nanti banyak yang salah panggil!"
Kaivan tertawa terbahak-bahak, suaranya menggema di lembah pegunungan Madonie. Di antara sejarah berdarah Mafia dan kekuatan mistis indigo, sebuah kehidupan baru yang lebih bersih mulai bertunas. Dan bagi Kaivan Vittorio, kutukan itu adalah pelajaran terakhir bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari berapa banyak orang yang kita takuti, tapi dari berapa banyak kedamaian yang bisa kita ciptakan.
Malam itu, mereka pulang ke mansion bukan sebagai bos Mafia dan asistennya, melainkan sebagai sepasang kekasih yang baru saja memenangkan perang terbesar mereka: perang melawan bayangan masa lalu.
aku like banget
seribu jempol
aku like...