Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYATUAN DUA JIWA
Hujan rintik-rintik kembali membasahi bumi Jakarta, seolah langit ikut memberikan restunya pada malam yang sakral ini. Di dalam kamar pengantin yang didominasi warna putih dan aroma terapi sandalwood yang menenangkan, Clarissa duduk di tepi tempat tidur. Ia telah menanggalkan gaun pengantinnya yang berat dan menggantinya dengan gaun tidur berbahan sutra berwarna soft pink yang panjang dan anggun.
Jantungnya berdegup kencang debaran yang berbeda dari rasa takut saat di rumah sakit. Ini adalah debaran seorang istri yang menunggu suaminya. Pintu kamar terbuka perlahan, dan Adrian masuk setelah menyelesaikan urusan dengan keluarga besar di lantai bawah. Ia mengenakan baju koko putih yang bersih dan sarung yang rapi.
Adrian tersenyum lembut melihat Clarissa. Ia mendekat, lalu duduk di samping istrinya. Keheningan malam itu terasa begitu indah, hanya terdengar suara detak jantung mereka yang saling bersahutan.
Kelembutan di Balik Sentuhan
Adrian meraih tangan Clarissa, mengusap punggung tangannya dengan ibu jarinya. "Istriku," panggilnya lirih. Suara itu terasa seperti getaran listrik yang menenangkan bagi Clarissa.
"Iya, Suamiku," jawab Clarissa malu-malu, ia menundukkan kepalanya yang kini sudah tidak tertutup jilbab. Ia membiarkan Adrian melihat rambutnya yang mulai tumbuh sehat sebuah rahasia kecantikan yang kini hanya menjadi milik Adrian sepenuhnya.
Adrian menangkup wajah Clarissa dengan kedua tangannya. Ia menatap mata Clarissa dengan tatapan yang sangat mendalam, memuja setiap jengkal perubahan yang telah dialami wanita di depannya. "Kamu tahu, Clar? Dulu aku hanya berani membayangkan momen ini di sela-sela sujudku di Singapura. Aku takut aku nggak akan pernah dapet kesempatan untuk benar-benar memilikimu."
Clarissa menyentuh tangan Adrian yang ada di pipinya. "Tuhan Maha Baik, Adrian. Dia membiarkan aku hidup untuk menjadi milikmu."
Adrian mendekatkan wajahnya, mencium kening Clarissa dengan sangat lama, seolah ingin menyalurkan seluruh rasa hormat dan cintanya. Ciuman itu kemudian turun ke kedua matanya, lalu ke pipinya, hingga akhirnya bibir mereka bertemu dalam sebuah tautan yang lembut namun penuh kerinduan.
Ini bukan sekadar nafsu. Bagi mereka, penyatuan malam ini adalah simbol kemenangan atas maut, kemenangan atas rasa sakit, dan kemenangan atas ego masa lalu. Setiap sentuhan Adrian terasa begitu hati-hati, seolah ia sedang memegang porselen paling berharga di dunia yang tidak boleh tergores sedikit pun.
"Terima kasih sudah bertahan untukku, Clarissa," bisik Adrian di antara napas mereka yang memburu.
"Terima kasih sudah menungguku, Adrian," balas Clarissa dengan suara yang hampir menghilang.
Di bawah temaram lampu kamar, mereka saling menjelajahi perasaan yang selama ini tertahan oleh batas-batas kesucian. Adrian membuktikan janjinya untuk menjaga Clarissa dengan kelembutan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa tubuh di depannya adalah tubuh seorang pejuang, dan ia memperlakukannya dengan kemuliaan yang tertinggi.
Malam semakin larut, dan penyatuan itu terjadi dengan begitu indah dan alami. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi tabir. Hanya ada dua manusia yang telah berjanji untuk saling melengkapi di jalan-Nya. Clarissa merasakan perlindungan yang utuh dalam pelukan Adrian, sementara Adrian merasakan kedamaian yang sempurna dalam dekapan istrinya.
Setelah momen yang penuh emosi itu usai, mereka berbaring berdampingan, berselimut kain tebal yang hangat. Adrian memeluk Clarissa dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu istrinya.
"Aku bahagia banget, Clar," bisik Adrian.
Clarissa memegang tangan Adrian yang melingkar di perutnya. "Aku juga. Rasanya semua rasa sakit kemoterapi itu... semuanya terbayar malam ini. Kalau ini adalah mimpi, aku nggak mau bangun lagi."
Adrian mencium bahu Clarissa. "Ini bukan mimpi, Sayang. Ini adalah awal dari kenyataan kita. Besok, kita bangun untuk salat Tahajud bareng, terus kita siapkan sarapan pertama kita sebagai suami istri."
Clarissa memutar tubuhnya, menatap wajah Adrian yang tampak sangat tenang. Ia mengusap rahang suaminya dengan penuh kasih. "Aku janji akan jadi istri yang baik buat kamu. Aku mungkin masih harus banyak belajar, tapi aku mau belajar semuanya bareng kamu."
"Dan aku janji akan jadi imam yang sabar buat kamu. Kita bangun surga kecil di rumah kita sendiri ya?"
Malam itu ditutup dengan keheningan yang penuh doa. Di kamar pengantin itu, dua insan yang pernah hampir dipisahkan oleh takdir yang pahit, kini telah menyatu dalam takdir yang paling manis. Mereka tertidur dalam pelukan satu sama lain, siap menyongsong fajar baru di Jakarta sebagai pasangan yang sah di mata Tuhan dan manusia.