NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Hutang Pertama.

Bansos itu bukan atas namaku.

Aku baru tahu waktu ke kelurahan. Nama yang terdaftar Nirmala. Bukan salah siapa-siapa, memang prosedurnya begitu, kepala keluarga terdaftar dan sebagainya, tapi hasilnya satu: delapan ratus ribu itu masuk ke tangan Nirmala, bukan tanganku.

Aku pulang dengan harapan kecil yang masih terjaga.

Nirmala ada di ruang tengah. Duduk di sofa dengan uang di atas pahanya, sedang dihitung ulang lembar per lembar dengan cara orang yang sangat menikmati momen itu. Bibirnya bergerak pelan menghitung. Tangannya memisah-misahkan lembarannya dengan teliti.

Aku duduk di kursi sebelah.

Menunggu dia selesai.

Dia tidak menoleh.

"Nir." Aku mulai pelan. "Bahan cilok sudah habis. Aku butuh modal buat beli lagi, paling tidak untuk tiga hari pertama. Kalau tidak beli sekarang aku tidak bisa jualan minggu ini sama sekali."

Nirmala masih menghitung.

"Nir, aku serius. Ini darurat. Kalau aku gak jualan—"

"Ini uang gue."

Jarinya tidak berhenti memisah lembaran.

"Atas nama gue. Dari kelurahan nama gue yang daftar."

"Iya, aku tahu, tapi—"

"Dan lo." Dia akhirnya berhenti menghitung. Menatapku dengan tatapan yang tidak perlu ditinggikan nadanya untuk terasa seperti tamparan. "Gue gak ada urusan sama cilok lo. Itu usaha lo, modal lo, urusan lo. Jangan-jangan minta ke gue. Cuma buang-buang uang sia-sia aja."

Ada sesuatu yang bergerak di dadaku. Aku tahan.

"Nir, kita lagi darurat. Pandemi ini sudah habis semua yang aku punya. Kalau aku gak bisa jualan, tidak ada yang masuk minggu ini. Tidak ada buat beras, tidak ada buat—"

"Itu masalah lo."

Dia melipat uang itu, menaruhnya di saku bajunya, lalu mengambil ponsel.

Aku masih duduk di sana.

Masih mencoba.

"Bukan minta semuanya. Cuma modal awal. Dua ratus ribu, atau seratus lima puluh ribu, nanti aku kembalikan dari hasil jualan minggu ini. Aku janji—"

Sesuatu melayang ke arahku.

Uang.

Satu lembar lima puluh ribu yang dilempar begitu saja, dengan cara orang melempar sesuatu ke lantai bukan ke manusia, dan mengenai bahuku sebelum jatuh di sofa di sebelahku.

"Tuh." Nirmala tidak menatapku. Matanya sudah ke ponsel. "Jangan minta lagi."

Aku menatap lembaran itu di sofa.

Lima puluh ribu.

Dari delapan ratus ribu.

Dengan kata anjing yang tadi masih menggantung di udara ruang tengah ini bersama bau makanan kemarin dan suara televisi yang tidak ditonton siapapun.

Sesuatu di dalam dadaku tidak bergerak lagi. Tidak meledak. Tidak berteriak. Hanya berhenti sebentar, seperti mesin yang kehabisan sesuatu tapi dipaksa tetap diam.

Aku ambil uang itu dari sofa.

Berdiri.

Keluar.

Aku berjalan ke pasar dengan lima puluh ribu di saku dan pikiran yang sudah menghitung ulang dari awal. Lima puluh ribu tidak cukup untuk bahan satu hari penuh. Cukup untuk percobaan kecil tapi tidak untuk volume yang bisa menutupi pengeluaran rumah. Aku butuh lebih.

Ada satu nama yang muncul di kepalaku.

Haji Udin.

Toko bahan makanan di ujung pasar. Sudah ada dari sebelum aku lahir mungkin, toko yang ukurannya tidak besar tapi lengkap, dengan pemiliknya yang sudah sepuh dan dikenal pelit oleh semua orang di pasar ini. Bukan pelit dalam arti jahat, lebih ke sangat berhati-hati, tidak sembarangan kasih hutang, tidak sembarangan percaya.

Sudah banyak yang pernah coba minta hutang ke Haji Udin dan tidak berhasil.

Aku tahu ini kemungkinan besar akan sama.

Tapi tidak ada pilihan lain yang bisa aku datangi hari ini.

Toko Haji Udin bau khas campuran tepung dan rempah dan plastik pembungkus yang sudah ada dari bertahun-tahun. Haji Udin duduk di kursi kayunya di belakang meja kasir, dengan peci putih yang sudah agak kekuningan, kacamata baca yang dipakainya meskipun sedang tidak membaca, dan tangan yang digenggam di atas meja.

Dia menatapku waktu aku masuk.

Aku kenal dia tapi tidak akrab. Pernah beli beberapa kali, cukup sering untuk dia tahu mukaku, tapi tidak sampai pernah berbicara panjang.

"Mau beli apa?"

Aku berdiri di depan mejanya.

"Pak Haji, saya mau minta tolong." Aku tidak muter-muter. Tidak ada waktu dan tidak ada energi untuk itu. "Saya jualan cilok. Pandemi ini habis semua tabungan saya. Saya butuh bahan untuk jualan, tepung tapioka, terigu, daging, bawang, sama bumbu. Tapi uang yang ada sekarang belum cukup. Saya minta, kalau boleh, hutang dulu. Nanti saya bayar dari hasil jualan."

Haji Udin tidak langsung menjawab.

Menatapku.

Bukan tatapan yang menilai dari atas ke bawah seperti yang aku sudah hafal polanya. Tapi tatapan yang berbeda, tatapan yang masuk lebih dalam dari itu, yang melihat sesuatu yang aku tidak tahu apa yang dilihatnya.

Tanganku.

Dia menatap tanganku yang ada di atas meja kasirnya, tangan yang aku letakkan di sana tanpa sadar waktu bicara. Tangan yang kapalan di bagian tertentu karena gerobak dan wajan dan menguleni adonan setiap pagi. Tangan yang ada bekas luka kecil di jari telunjuk kanan dari waktu pisau slip beberapa minggu lalu. Tangan yang tidak bisa bersembunyi dari cerita hidupnya sendiri.

Lalu dia menatap mataku.

Mata yang aku tidak tahu kelihatan seperti apa dari luar karena sudah lama tidak benar-benar menatap cermin dengan waktu yang cukup. Yang aku tahu mata itu lelah. Sudah lama lelah. Lebih tua dari umurnya mungkin, seperti yang orang-orang kadang bilang ke orang yang hidupnya berat terlalu cepat.

Haji Udin diam beberapa saat.

Aku menunggu.

Siap untuk jawaban yang sudah aku antisipasi. Sudah siap berdiri dan bilang terima kasih dan pergi dan cari jalan lain yang entah apa.

"Berapa yang kamu butuh?"

Aku berkedip.

"Total bahan untuk tiga hari jualan, Pak Haji. Kira-kira dua ratus lima puluh ribu."

Haji Udin mengangguk. Berdiri dari kursinya dengan cara orang tua yang lambat tapi pasti. Berjalan ke rak-rak di belakang tokonya.

Aku tidak bergerak. Tidak yakin apakah ini berarti iya atau berarti beliau mau mengambil sesuatu lain.

Tepung tapioka satu kilo ditaruh di meja. Terigu. Daging yang sudah terbungkus di kulkas kecil di sudut. Bawang putih, bawang merah, merica, garam. Satu per satu. Beliau ambil sendiri, tidak minta aku bantu, cuma menaruhnya di depanku dengan pelan.

Selesai.

Semua yang aku butuhkan ada di meja.

Haji Udin duduk kembali di kursinya.

"Pak Haji percaya sama kamu, Nak."

Lima kata.

Aku berdiri di depan meja itu dan ada sesuatu yang naik dari dada ke tenggorokan yang sangat cepat dan sangat tidak terduga sehingga aku tidak sempat menyiapkan diri untuk itu.

Percaya.

Kata itu.

Aku tidak ingat terakhir kali siapapun mengucapkan kata itu kepadaku dengan cara seperti ini. Bukan syarat. Bukan penilaian. Bukan bersamaan dengan tatapan dari atas ke bawah atau pertanyaan tentang jaminan atau komentar tentang ketidaklayakanku.

Cuma percaya.

Dari seorang laki-laki tua yang semua orang bilang pelit, yang tidak pernah sembarangan kasih hutang, yang sudah menatap tangan kapalan dan mata lelahku dan memutuskan bahwa itu cukup.

Itu cukup.

Mataku panas. Hidungku terasa penuh tiba-tiba.

Aku menunduk. Pura-pura mengecek bahan-bahan di meja. Mengatur napas. Satu tarikan dalam, satu buangan pelan, supaya yang keluar dari mulutku selanjutnya tidak gemetar.

"Terima kasih, Pak Haji." Suaraku keluar lebih rendah dari biasanya. Lebih berat. "Saya akan bayar setelah tiga hari jualan."

"Gak usah buru-buru." Haji Udin mengambil kacamata bacanya, menaruh di meja, mengusap dengan kain kecil yang dari tadi ada di sakunya. "Yang penting jujur. Kalau sudah ada, bayar. Kalau belum ada, bilang. Jangan menghilang."

"Insya Allah, Pak Haji."

Aku membawa bahan-bahan itu keluar dalam kantong plastik besar yang Haji Udin kasih tanpa diminta.

Di luar toko, di antara hiruk pikuk pasar yang mulai sore, aku berdiri sebentar.

Kantong plastik di tangan. Angin pasar yang bau ikan dan asap dan keramaian.

Dan di dalam dada, di tempat yang sudah lama terasa seperti tanah kering yang tidak pernah dapat hujan, ada sesuatu yang sangat kecil tapi nyata sedang bergerak.

Bukan kebahagiaan yang besar. Bukan yang seperti ada di cerita-cerita.

Hanya sesuatu yang kecil dan hangat.

Seperti diakui.

Seperti ada seseorang di dunia ini yang melihat tangan kapalan dan mata lelah dan mengatakan, tanpa diminta, bahwa itu cukup untuk dipercaya.

Aku melangkah pulang.

Besok pagi ada adonan yang perlu diuleni lagi.

Dan kali ini, ada bahan yang cukup untuk membuatnya.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!