Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.
Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.
Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 - Kesendirian
Sore itu kota tampak sama seperti biasanya, dengan warna hangat matahari yang mulai condong dan bayangan bangunan yang memanjang di sepanjang jalan. Orang-orang bergerak seperti hari-hari sebelumnya, para pedagang menawarkan barang dengan suara lantang, sementara para pemburu kembali dari misi dengan wajah lelah namun puas. Semua berjalan normal, tidak ada yang benar-benar berubah di permukaan, tetapi bagi Alverion Dastan, setiap sudut terasa asing seolah ia sedang berjalan di tempat yang sama sekali berbeda.
Ia menyusuri jalan berbatu tanpa tujuan yang jelas, membiarkan langkahnya mengikuti ritme yang sudah terbiasa meskipun pikirannya tidak benar-benar hadir di sana. Suara tawar-menawar dan percakapan ringan masih terdengar di sekitarnya, menciptakan suasana hidup yang seharusnya terasa akrab, tetapi setiap kali ia melewati kerumunan, suara-suara itu meredup perlahan. Tidak sampai benar-benar hilang, namun cukup untuk membuat perbedaan yang terasa jelas.
Itu bukan sesuatu yang bisa dilihat secara langsung, tidak ada tanda nyata yang menunjukkan perubahan, namun keberadaannya tidak bisa diabaikan. Jarak itu terbentuk secara alami, bukan karena aturan atau perintah, melainkan karena keputusan yang diambil masing-masing orang tanpa perlu disepakati bersama. Awalnya hanya beberapa orang yang menghindar, memilih untuk tidak terlalu dekat atau sekadar menjaga ruang.
Sekarang hampir semua melakukan hal yang sama, menciptakan ruang kosong di sekitarnya yang terasa semakin luas setiap kali ia melangkah. Seorang pemburu yang dulu pernah bekerja dengannya melirik sekilas sebelum pura-pura sibuk mengikat sarung pedangnya, seolah tindakan kecil itu cukup untuk menghindari interaksi. Dua orang lain yang sedang berbicara langsung menghentikan percakapan mereka, menunggu sampai Alverion cukup jauh sebelum kembali melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
Bahkan mereka yang sebelumnya bersikap netral kini memilih untuk menjaga jarak, tidak lagi menunjukkan keraguan dalam sikap mereka. Tidak ada tatapan yang mencoba mencari kebenaran, tidak ada ekspresi yang menunjukkan kebingungan, karena penilaian sudah terbentuk dan diterima begitu saja. Alverion tetap berjalan tanpa mengubah ritmenya, wajahnya tenang dan tidak menunjukkan reaksi yang berarti terhadap perubahan itu.
Namun di dalam dirinya, tekanan itu tetap ada, bergerak perlahan dan menumpuk tanpa perlu dipaksakan. Ia tidak berhenti, tidak juga mencoba mencari penjelasan dari orang-orang di sekitarnya, karena ia tahu tidak akan ada jawaban yang jujur. Yang ada hanya pandangan yang sudah dipilih, dan ia tidak punya cukup alasan untuk mencoba mengubahnya saat ini.
Langkahnya membawanya ke sebuah kedai kecil di pinggir jalan, tempat yang dulu cukup sering ia datangi setelah menyelesaikan misi atau sekadar menghabiskan waktu. Bangunannya sederhana, tidak terlalu mencolok, tetapi memiliki suasana yang nyaman bagi mereka yang terbiasa dengan tempat seperti itu. Pemiliknya, seorang pria paruh baya bernama Darius, biasanya menyambutnya dengan senyum ramah dan percakapan singkat yang tidak pernah terasa dipaksakan.
Hari ini suasananya berbeda, bahkan sebelum ia benar-benar masuk ke dalam. Darius terlihat terkejut saat melihatnya, ekspresinya berubah dalam hitungan detik sebelum akhirnya menetap pada sesuatu yang lebih canggung. Ia tidak langsung berbicara, seolah sedang mencari kata yang tepat atau mungkin mempertimbangkan apakah ia perlu berbicara sama sekali.
“...Alverion.”
Nada suaranya terdengar berbeda, tidak lagi hangat seperti biasanya, melainkan lebih berhati-hati seolah setiap kata yang keluar harus dipikirkan lebih dulu. Alverion tidak menanggapi perubahan itu secara langsung, ia hanya berjalan ke kursi dekat jendela yang biasa ia tempati.
“Seperti biasa.”
Darius ragu sejenak sebelum mengangguk, lalu berjalan ke belakang tanpa menambahkan apa pun lagi. Tidak ada percakapan ringan yang biasanya mengisi sela waktu, tidak ada komentar tentang hari atau keadaan, hanya kesunyian yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Beberapa pengunjung lain di dalam kedai mulai melirik ke arahnya, suara mereka pelan tetapi tetap bisa ditangkap.
“Itu dia...”
“Iya, yang katanya ninggalin timnya.”
“Masih berani muncul di sini juga ya.”
Alverion mengalihkan pandangannya ke luar jendela, membiarkan pemandangan jalan menjadi fokus utama meskipun pikirannya tetap menyerap setiap kata yang terdengar. Ia tidak menanggapi, tidak pula menunjukkan bahwa ia mendengar, hanya membiarkan semuanya lewat tanpa reaksi yang terlihat.
Minuman diletakkan di depannya tanpa suara yang berarti, dan Darius tidak mengatakan apa-apa saat melakukannya. Ia hanya berdiri sejenak, seolah ingin berbicara namun tidak menemukan alasan yang cukup kuat, lalu kembali ke tempatnya tanpa menoleh lagi. Jarak yang terbentuk di antara mereka terasa lebih jelas dibandingkan dengan bisikan orang lain.
Alverion mengambil cangkirnya dan meneguk sedikit, rasa yang familiar masih ada, namun tidak membawa ketenangan yang sama seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang hilang, bukan dari minumannya, melainkan dari situasi yang menyertainya. Ia meletakkan kembali cangkir itu tanpa terburu-buru, menatap permukaannya sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk berdiri.
Ia belum selesai, namun tidak ada alasan untuk tetap berada di sana lebih lama dari yang diperlukan. Saat ia berjalan menuju pintu keluar, salah satu pengunjung secara tidak sengaja menyenggol bahunya, cukup untuk menghentikan langkahnya meskipun tidak terasa keras.
Pria itu menoleh dengan ekspresi tidak senang. “Hati-hati kalau jalan.”
Nada suaranya datar, tetapi ada penekanan yang tidak perlu dijelaskan lebih jauh. Alverion menatapnya sebentar tanpa perubahan ekspresi, lalu melanjutkan langkahnya tanpa menjawab, memilih untuk tidak memperpanjang sesuatu yang tidak memiliki arti.
Di luar, langit mulai berubah warna, cahaya matahari yang meredup menciptakan suasana yang lebih tenang dibandingkan siang hari. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma kota yang seharusnya terasa familiar, namun tidak memberikan efek yang sama seperti sebelumnya. Alverion berjalan tanpa arah yang pasti, membiarkan langkahnya membawanya menjauh dari keramaian utama.
Ia tidak kembali ke guild, dan tidak juga menuju tempat latihan yang biasanya ia gunakan. Jalan yang ia pilih semakin sepi, bangunan mulai jarang, dan suara manusia perlahan menghilang digantikan oleh keheningan yang lebih alami. Akhirnya ia berhenti di sebuah gang sempit yang hanya diterangi cahaya redup dari langit senja.
Ia bersandar pada dinding yang dingin, membiarkan tubuhnya perlahan turun hingga duduk di tanah. Tidak ada yang melihat, tidak ada yang memperhatikan, dan tidak ada suara yang mengganggu. Keheningan itu datang sepenuhnya, tanpa gangguan dari luar, memberikan ruang bagi pikirannya untuk bergerak bebas.
Ia menundukkan kepala, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah, sementara napasnya terdengar pelan namun berat. Kesepian yang selama ini tertahan akhirnya muncul tanpa batasan, tidak lagi tertutup oleh situasi atau interaksi yang memaksanya untuk tetap fokus pada hal lain.
Pikiran tentang beberapa hari terakhir muncul satu per satu, tidak terburu-buru namun tidak bisa dihentikan. Ia mengingat setiap detail yang terjadi di dalam dungeon, setiap keputusan yang diambil, dan setiap momen yang mengarah pada hasil yang ia hadapi sekarang. Pengkhianatan itu kembali terasa jelas, diikuti oleh tatapan orang-orang yang berubah dan keputusan yang dijatuhkan tanpa ruang untuk pembelaan.
Tangannya perlahan mengepal, bukan karena dorongan emosi yang meledak, tetapi karena sesuatu yang lebih dalam dan lebih stabil. Frustrasi itu muncul tanpa suara, menumpuk sedikit demi sedikit hingga membentuk sesuatu yang sulit diabaikan. Ia sudah mengatakan kebenaran, tetapi tidak ada yang percaya, dan ia sudah bertahan dari tempat yang seharusnya mengakhiri hidupnya, namun yang ia terima justru tuduhan.
Tawa kecil keluar dari bibirnya, pelan dan tanpa makna yang jelas, seolah hanya refleks dari pikiran yang tidak menemukan jalan keluar.
“Lucu.”
Kata itu terucap begitu saja, tanpa harapan untuk didengar atau dipahami. Ia mengangkat kepalanya dan menatap langit yang mulai gelap, warna hangat perlahan menghilang digantikan oleh biru tua yang dalam dan tenang.
Ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya, bukan kesedihan atau keputusasaan, melainkan kemarahan yang tidak terburu-buru. Perasaan itu tidak meledak, tidak juga mendorongnya untuk bertindak tanpa pikir panjang, tetapi tetap ada, bertahan seperti bara yang tertutup dan menunggu saat yang tepat.
Ia tidak membenci dunia ini sepenuhnya, tetapi ia juga tidak lagi menaruh harapan pada cara dunia bekerja. Jika orang-orang memilih untuk melihatnya sebagai pengkhianat, maka ia tidak akan menghabiskan tenaga untuk membantah setiap pandangan yang diarahkan padanya.
Alverion menghela napas panjang, lalu mengangkat tangannya untuk menyentuh dadanya, merasakan sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar hilang. Artefak itu masih ada, keberadaannya terasa jelas meskipun tidak aktif seperti sebelumnya, seolah hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali bergerak.
Ia menutup mata sejenak, mencoba merasakan lebih dalam tanpa gangguan dari luar. Pada awalnya hanya ada sensasi ringan, hampir seperti ilusi, tetapi perlahan menjadi lebih jelas dan teratur.
Denyut itu muncul perlahan, satu kali, lalu diikuti oleh yang lain sebelum akhirnya berhenti, meninggalkan kesan yang cukup kuat untuk membuatnya membuka mata kembali. Alisnya sedikit berkerut, mencoba memahami apa yang baru saja ia rasakan.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, sesuatu muncul di hadapannya, tidak memiliki bentuk fisik yang bisa disentuh tetapi cukup jelas untuk dilihat. Sebuah layar transparan melayang di depan pandangannya, cahaya tipis membentuk garis-garis yang tersusun rapi seperti sesuatu yang dirancang dengan tujuan tertentu.
Tulisan mulai muncul secara perlahan, setiap huruf terbentuk dengan jelas tanpa gangguan.
[ Sistem terdeteksi aktif ]
Alverion terdiam, tatapannya terpaku pada layar itu tanpa berkedip. Tidak ada orang lain di sekitar, tidak ada suara yang menjelaskan apa yang sedang terjadi, hanya tampilan itu yang berdiri sendiri di hadapannya.
[ Sinkronisasi selesai ]
[ Selamat, pengguna telah memenuhi syarat minimum ]
Ia mengerjapkan mata sekali, memastikan bahwa apa yang ia lihat bukan sekadar ilusi yang muncul karena kelelahan. Layar itu tidak menghilang, tetap berada di tempatnya seolah menunggu respons.
[ Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas telah diaktifkan ]
Nama itu muncul dengan jelas, membawa kesan yang tidak biasa meskipun ia belum memahami sepenuhnya arti di baliknya. Alverion perlahan berdiri, rasa lelah di tubuhnya tertahan oleh rasa penasaran yang muncul secara alami.
“...Apa ini?”
Tidak ada jawaban dalam bentuk suara, tetapi layar itu merespons dengan menampilkan informasi baru.
[ Misi pertama tersedia ]
[ Apakah pengguna ingin melihat detail? ]
Alverion menatap tulisan itu beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dengan suara pelan yang tetap stabil.
“Iya.”
Tulisan di layar berubah dengan cepat, menyusun informasi yang lebih rinci tanpa jeda yang berarti.
[ Misi: Bangkit dari Nol ]
[ Deskripsi: Bertahan hidup bukanlah akhir. Pengguna harus membuktikan kelayakan untuk melanjutkan evolusi ]
[ Tujuan: Kalahkan target yang ditentukan ]
[ Target: ??? ]
Alverion sedikit mengernyit, memperhatikan bagian yang tidak lengkap itu dengan lebih fokus. “Target tidak diketahui?”
Layar itu berkedip singkat sebelum menampilkan baris tambahan yang menjelaskan tanpa benar-benar memberi jawaban pasti.
[ Target akan ditentukan secara acak dalam waktu dekat ]
[ Persiapkan diri ]
Ia terdiam, menyadari bahwa sistem ini tidak memberikan ruang untuk pertanyaan yang terlalu jauh. Informasi yang diberikan cukup untuk bergerak, tetapi tidak cukup untuk memahami keseluruhan.
[ Hadiah: ??? ]
[ Hukuman kegagalan: Eliminasi ]
Kata terakhir itu muncul lebih jelas dibandingkan yang lain, seolah sengaja ditonjolkan agar tidak diabaikan. Alverion menatapnya cukup lama, memahami arti di baliknya tanpa perlu penjelasan tambahan.
Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, menerima bahwa situasi yang ia hadapi kini tidak hanya berasal dari dunia luar, tetapi juga dari sesuatu yang baru saja muncul tanpa peringatan. Ia menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali dengan tatapan yang lebih fokus.
Kesepian itu masih ada, begitu juga dengan frustrasi dan kemarahan yang belum sepenuhnya mereda. Namun di balik semua itu, ada arah yang mulai terbentuk, sesuatu yang memberinya alasan untuk bergerak meskipun jalannya tidak jelas.
Alverion menatap layar di depannya, menyadari bahwa apa pun yang terjadi selanjutnya tidak akan sama seperti sebelumnya. Layar itu perlahan meredup, namun sebelum benar-benar menghilang, satu kalimat terakhir muncul dengan jelas.
[ Hitung mundur dimulai ]
Ia berdiri di gang yang sunyi, dikelilingi oleh keheningan yang kini terasa berbeda dari sebelumnya. Dunia di sekitarnya mungkin telah menjauhinya, tetapi sesuatu yang baru saja muncul memilih untuk tetap berada di sisinya, membawa kemungkinan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.