NovelToon NovelToon
GOMA: THE REBORN

GOMA: THE REBORN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Action
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pendakian Diatas Jurang Didihan

Episode 20

Aku berdiri tepat di bibir jurang yang membatasi dataran kota dengan tembok belakang istana Lord Valos yang sangat megah. Di bawah kakiku sekitar seratus meter ke bawah mengalir sungai limbah esensi yang berwarna merah pekat serta terus meletup mengeluarkan gelembung gas beracun. Aroma yang menguap dari sana sangat menyengat perpaduan antara bau tembaga yang terbakar serta bau asam yang bisa meluluhkan jaringan syaraf dalam sekejap. Cahaya kemerahan dari didihan esensi tersebut memantul di dinding tebing tulang yang akan menjadi jalur pendakianku memberikan warna yang sangat mengerikan pada kegelapan malam ini.

Dug... dug... dug...

Jantung esensi ku berdetak dengan ritme yang stabil mengirimkan panas yang teratur ke seluruh bagian tubuhku. Aku menarik napas panjang melalui paru paru semu ku merasakan sensasi udara panas serta lembap memenuhi rongga dadaku. Sebagai seorang pendaki aku tahu bahwa ketinggian bukan hanya tentang jarak ke bawah namun tentang bagaimana kau mengelola ketakutanmu di dalam kepala. Aku menyentuh permukaan dinding tebing di depanku. Tulang tulang raksasa yang sudah membatu ini terasa sangat kasar serta sangat panas karena terpapar uap esensi selama ratusan tahun.

"Goma kau lihat uap hijau yang menempel di dinding itu bukan. Itu adalah residu asam esensi yang sangat licin. Jika tanganmu terpeleset sedikit saja kau akan langsung terjatuh ke dalam cairan mendidih itu serta tidak akan ada yang tersisa dari tubuhmu bahkan tulang Black Iron mu sekalipun," bisik Kharis yang kini meringkuk di dalam saku jubah isolasi ku agar tidak terkena paparan uap panas.

"Aku bisa merasakannya Kharis. Tekstur dinding ini sangat tidak stabil. Namun celah celah di antara tulang rusuk raksasa ini memberikan titik tumpu yang cukup untuk jari jari tanganku," jawabku dengan suara yang sangat tenang dan terkendali.

Aku menyesuaikan letak jubah isolasi ku agar menutupi seluruh bagian punggungku yang luas. Aku harus memastikan bahwa radiasi energi jiwaku tidak bocor keluar sedikit pun agar tidak memicu sensor pada jaring merah di atas sana. Aku memfokuskan pandangan mataku ke arah satu titik kecil di kejauhan tempat sebuah pipa raksasa menjorok keluar dari tembok istana mengeluarkan cairan limbah secara berkala. Itulah pintu masuk ku.

[ SISTEM: MEMINDAI RUTE PENDAKIAN HORIZONTAL ]

[ SISTEM: JARAK KE TARGET: 150 METER ]

[ SISTEM: SUDUT KEMIRINGAN DINDING: 85 DERAJAT (OVERHANG) ]

[ SISTEM: TINGKAT KELEMBAPAN PERMUKAAN: TINGGI ]

[ SISTEM: REKOMENDASI: GUNAKAN TEKNIK CRIMPING PADA CELAH SEMPIT DAN JAGA DISTRIBUSI BERAT PADA OTOT INTI ]

Crimp. Itu adalah teknik mencengkeram celah kecil hanya dengan menggunakan ujung jari. Di Bumi aku sering melakukannya pada dinding granit namun di sini aku harus melakukannya pada dinding tulang yang panas. Aku harus berhati hati agar kulit metalik di ujung jariku tidak melepuh karena panas yang ekstrem ini.

Aku memulai langkah pertamaku. Aku menusukkan jari jari tangan kananku ke dalam sebuah retakan horizontal yang sangat sempit. Sret. Aku merasakan tekanan yang sangat besar pada sendi sendi jari jariku namun berkat pelumasan esensi yang dilakukan sistem tadi pergerakanku terasa sangat lancar. Aku memindahkan berat badanku ke arah lengan kanan kemudian perlahan lahan menggeser kaki kiriku untuk mencari pijakan pada sebuah tonjolan tulang kecil di bawah.

Satu tarikan satu geseran. Jaga pusat gravitasi tetap menempel pada dinding.

Aku bergerak menyamping secara perlahan lahan. Setiap gerakan yang kuambil dilakukan dengan perhitungan yang sangat matang. Aku tidak boleh terburu buru karena di medan seperti ini kecepatan adalah musuh dari ketepatan. Aku bisa merasakan bagaimana otot otot punggung dan bahuku menegang saat aku harus menahan seluruh berat badanku yang bertambah akibat logam Black Iron hanya dengan menggunakan satu tangan sementara tangan lainnya mencari pegangan baru.

"Kau sangat tenang Goma. Jika aku punya jantung seperti milikmu ia pasti sudah meledak karena ketakutan melihat kedalaman di bawah sana," gumam Kharis dengan nada kagum yang gemetar.

"Di atas tebing kau tidak boleh melihat ke bawah untuk mencari rasa takut Kharis. Kau melihat ke bawah hanya untuk memastikan di mana kakimu harus berpijak. Rasa takut hanya akan membuat ototmu gemetar serta itu adalah awal dari kematian bagi seorang pendaki."

Aku mencapai sebuah titik di mana dinding tebing sedikit menonjol keluar menciptakan hambatan yang disebut roof atau atap. Aku harus bergantung sepenuhnya pada kekuatan jariku dengan posisi tubuh hampir sejajar dengan tanah. Aku merentangkan tangan kiriku sejauh mungkin menjangkau sebuah celah yang terlihat sedikit lebih stabil.

[ SISTEM: BEBAN PADA OTOT BISEP DAN BAHU MENINGKAT DRASTIS ]

[ SISTEM: KONSUMSI ENERGI ESENSI: 15 % PER MENIT DALAM MODE INI ]

[ SISTEM: PERINGATAN: TERDETEKSI PENURUNAN FRIKSI PADA PIJAKAN KAKI KANAN ]

Aku merasakan kaki kananku mulai tergelincir dari permukaan tulang yang licin karena asam. Dalam sekejap pusat gravitasi ku bergeser. Namun aku tidak panik. Aku menggunakan kekuatan otot perutku yang sangat kuat untuk menarik pinggulku lebih dekat ke dinding tebing guna mengembalikan keseimbangan. Aku menancapkan kuku kuku hitam di kaki kiriku ke dalam permukaan tulang yang sedikit lebih empuk memberikan tumpuan darurat yang cukup untuk menyelamatkanku dari jatuh.

Tenang Goma. Atur napas mu. Jangan biarkan adrenalin menguasai logikamu.

Aku menarik napas panjang merasakan udara panas membakar kerongkonganku namun itu justru memberiku energi tambahan. Aku berhasil melewati rintangan roof tersebut serta kini aku berada di bagian dinding yang lebih lurus. Di depan sana pipa pembuangan itu sudah terlihat jauh lebih dekat. Aku bisa mencium bau busuk yang semakin menyengat menandakan bahwa aku sudah mendekati jalur limbah utama istana.

Tiba tiba sebuah getaran hebat merambat melalui dinding tebing. Suara gemuruh dari arah atas terdengar seperti suara pintu gerbang raksasa yang dibuka. Dari pipa pembuangan di depan sana muncul aliran cairan merah pekat yang sangat besar menyembur keluar dengan tekanan tinggi menuju ke arah jurang di bawah.

"Goma itu adalah banjir esensi sisa! Jika kau terkena semburannya kau akan terlempar jatuh!" teriak Kharis dengan sangat panik.

Aku segera mengunci posisiku. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam sebuah celah yang cukup dalam kemudian mengaitkan kaki kakiku pada tonjolan tulang di bawah. Aku merapatkan seluruh tubuhku ke dinding tebing hingga tidak ada celah sedikit pun. Aku mengaktifkan kekuatan penuh otot punggungku untuk menahan tekanan angin yang dihasilkan oleh semburan limbah tersebut.

WUUUUUSSSHHHH!

Cairan merah panas menyambar hanya beberapa meter di sebelah kananku. Hawa panasnya sangat luar biasa membuat kulit metalik ku terasa seperti sedang dipanggang. Uap merah yang tebal menyelimuti pandanganku membuat penglihatan Eyes of the Abyss ku sedikit terganggu oleh radiasi esensi yang liar. Namun aku tetap bergeming. Aku adalah bagian dari dinding ini sekarang.

Setelah beberapa menit semburan itu berhenti menyisakan tetesan tetesan merah yang jatuh perlahan lahan ke jurang. Aku membuka mataku kembali melihat ke arah pipa yang sekarang sedang mengeluarkan uap sisa. Ini adalah kesempatan terbaikku. Di saat pipa sedang kosong aku harus segera masuk ke dalamnya sebelum semburan berikutnya datang.

"Sekarang Kharis!"

Aku melakukan gerakan lari horizontal di dinding tebing sebuah teknik yang sangat berbahaya yang disebut wall run. Aku melepaskan sebagian besar titik tumpuku kemudian melesat ke arah samping menggunakan kekuatan ledakan dari otot betis ku. Dalam hitungan detik aku berhasil menjangkau pinggiran pipa raksasa yang terbuat dari logam hitam tersebut.

Grep.

Aku mencengkeram pinggiran pipa dengan kedua tanganku. Panas logamnya langsung menyengat telapak tanganku hingga mengeluarkan asap tipis namun kulit metalik ku mampu menahannya tanpa mengalami kerusakan yang serius. Aku menarik tubuhku ke atas kemudian merangkak masuk ke dalam kegelapan pipa yang lembap dan berbau menyengat tersebut.

[ SISTEM: NAVIGASI: ANDA TELAH MEMASUKI AREA DALAM ISTANA LORD VALOS ]

[ SISTEM: STATUS TUBUH: NORMAL DENGAN SEDIKIT PENINGKATAN SUHU ]

[ SISTEM: PERINGATAN: TERDETEKSI ADANYA SENSOR TEKANAN DI DALAM SALURAN ]

Aku berbaring diam di dalam pipa yang gelap tersebut mencoba menormalkan kembali detak jantungku. Aku merasa sangat puas. Pendakian maut ini berhasil ku lewati tanpa memicu alarm satu pun. Aku menyeka cairan limbah yang menempel di wajahku menggunakan lengan jubahku.

"Kita berhasil Kharis. Kita sudah berada di dalam."

"Kau gila Goma. Benar benar gila. Aku bersumpah tidak akan pernah mau mendaki bersamamu lagi setelah misi ini selesai," jawab Kharis yang keluar dari sakuku sambil mengatur napas bayangannya yang tersengal.

Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Kharis. Aku melihat ke arah lorong pipa yang membentang jauh ke dalam kegelapan istana. Di ujung sana informasi yang kucari sedang menunggu. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun di dalam istana ini menghentikan langkahku yang sudah sampai sejauh ini.

Ibu Widya aku sudah berada di dalam sarang monster itu. Aku akan mengambil peta itu serta aku akan segera pulang. Pendakianku di tebing tulang ini hanyalah awal dari pendakianku untuk menghancurkan mereka yang telah membuang ku ke sini.

Aku mulai merangkak lebih dalam ke dalam pipa menggunakan teknik gerakan senyap. Malam ini istana Lord Valos akan kedatangan tamu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tamu yang lahir dari sisa sisa tulang serta kini memiliki jantung yang membara dengan api balas dendam.

1
diy
hadir thor🤭
diy
tetap semangat 💪
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
diy
hmmm menarik☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semakin menarik ☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
dibanyakin dong bab nya hehe 🤭
diy
semangat author💪
M Agus Salim: selalu 💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!