NovelToon NovelToon
Benang Yang Tersembunyi

Benang Yang Tersembunyi

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Anak Genius / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.

Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Chae-young-ah, Saranghae.

Malam di Manila itu menjadi saksi runtuhnya benteng terakhir di hati Chae-young. Isak tangisnya pecah, bukan lagi karena marah, melainkan karena rasa bersalah yang menyesakkan dada. Ia menangkup kepala Matteo yang masih bersandar di pangkuannya, jemarinya membelai rambut halus suaminya yang menebarkan aroma maskulin yang menenangkan.

"Mianhae, Matteo-ya... mianhae..." bisik Chae-young dengan suara parau yang basah oleh air mata.

"Mianhae kalau aku menuntutmu menjadi sempurna. Aku... aku tidak tahu, aku hanya tidak suka jika ada sesuatu di masa lalumu yang kau cintai melebihi cintamu padaku. Mianhae, Matteo..." Chae-young semakin terisak, ia membungkuk hingga keningnya menyentuh rambut Matteo, membiarkan air matanya jatuh membasahi kemeja suaminya.

Matteo yang mendengar pengakuan jujur itu merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di dadanya. Ia tersadar, kekakuan Chae-young selama lima bulan ini bukanlah karena ia tidak peduli, melainkan karena ia terlalu takut untuk kecewa lagi. Wanita ini mencintainya dengan cara yang paling rapuh.

Perlahan, Matteo mengangkat wajahnya dari pangkuan Chae-young. Meski ia masih dalam posisi berlutut di lantai, postur tubuhnya yang tinggi tetap membuat Chae-young tampak mungil di hadapannya. Matteo bangkit sedikit, lalu menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan yang sangat erat.

Chae-young membenamkan wajahnya di ceruk leher Matteo, memeluk bahu kokoh itu seolah tidak ingin dilepaskan lagi. Matteo memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma sampo dari rambut bronte waves Chae-young yang selalu berhasil menenangkannya.

"Kau tidak perlu menjadi sempurna, Chae-young-ah. Karena bagiku, kau adalah alasan kenapa aku ingin menjadi pria yang lebih baik setiap harinya," bisik Matteo seraya mengecup pucuk kepala istrinya berkali-kali.

Matteo melepaskan pelukannya sedikit, lalu menangkup wajah Chae-young dengan kedua telapak tangannya yang besar. Ia menatap lekat-lekat mata sembab istrinya. Ada tatapan menuntut namun penuh kasih di sana. Dengan sangat perlahan dan penuh perasaan, Matteo mengecup kening Chae-young cukup lama, lalu berpindah ke kelopak matanya yang masih basah, kemudian ke ujung hidung button nose yang mungil itu.

Terakhir, ia menempelkan dahi mereka, membiarkan napas mereka saling bersahutan dalam jarak yang nyaris tak ada.

"Chae-young-ah," panggil Matteo rendah.

"Ung? Ne?" jawab Chae-young pelan.

Matteo menatap langsung ke dalam manik mata Chae-young, memberikan seluruh dunianya lewat satu kalimat.

"Saranghae."

"Nado saranghae, Matteo-ya." Bibir Chae-young bergetar, sebuah senyum tipis yang tulus akhirnya muncul di sela sisa air matanya.

Mendengar balasan itu, Matteo tidak lagi menahan diri. Ia memajukan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang awalnya terasa sangat lembut dan penuh kehati-hatian, seolah takut menyakiti perhiasan yang paling berharga. Namun perlahan, ciuman itu berubah menjadi lebih dalam, menuntut, dan penuh kerinduan yang telah tertahan selama lima bulan misi penaklukan hatinya.

Malam itu, di kamar luas di Manila, semua keraguan telah hangus terbakar oleh kejujuran. Chae-young akhirnya menyerah pada pelukan pria yang dulunya ia anggap asing, dan Matteo akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya. Besok mereka akan kembali ke Seoul, bukan lagi sebagai pasangan di atas kertas, melainkan sebagai satu jiwa yang utuh.

Meskipun suasana baru saja mencair dengan pengakuan yang sangat emosional, sifat asli pasangan api dan es ini tidak bisa hilang begitu saja. Saat Matteo mulai merasa di atas angin karena sudah mendapatkan kata Saranghae, sisi menyebalkannya mulai kumat.

Matteo masih betah memeluk pinggang Chae-young di atas tempat tidur, enggan melepaskan inci pun dari tubuh istrinya. Chae-young yang mulai merasa sesak dan sedikit malu karena matanya pasti bengkak besok, mencoba mendorong dada bidang suaminya.

"Tidurlah, Matteo. Nanti kita bangun kesiangan. Besok kita harus pulang ke Seoul," ucap Chae-young sambil berusaha menarik selimut.

Matteo malah semakin mempererat pelukannya, menyandarkan dagunya di bahu Chae-young dengan wajah tanpa dosa. "Iya, aku tahu. Memangnya kau mau berangkat pagi-pagi buta? Jet pribadiku bisa terbang kapan saja aku mau, Sayang. Jangan sok sibuk."

Chae-young memutar bola matanya. "Bukan soal jet pribadimu, Tuan Smith. Tapi anak-anak pasti akan membangunkan kita jam enam pagi. Kau mau mereka melihat Daddy-nya masih meringkuk seperti kucing di bawah selimut?"

"Aku bukan kucing, aku singa," koreksi Matteo dengan suara bariton yang sok keren.

"Singa yang tadi menangis di pangkuanku?" sindir Chae-young telak.

Matteo tertegun sejenak, wajahnya sedikit memerah teringat adegan berlutut tadi. Ia langsung mengubah taktik. "Itu namanya teknik negosiasi tingkat tinggi. Dan terbukti berhasil, kan? Kau akhirnya bilang Nado Saranghae."

"Matteo! Kau benar-benar..." Chae-young mencubit lengan Matteo gemas. "Lepaskan tanganmu, panas!"

"Tidak mau. Di sini dingin, AC-nya terlalu kencang," keluh Matteo, padahal suhu kamar sudah diatur sangat nyaman.

"Matteo, kau berat! Dan kau juga belum memakai baju atasan, kulitmu menempel di kulitku!" Chae-young mulai merasa gerah karena Matteo hanya mengenakan celana kain tanpa kaus setelah mandi tadi.

"Ini namanya skin-to-skin contact, Chae-young-ah. Bagus untuk sirkulasi jantung kita," jawab Matteo asal bunyi sambil memejamkan mata, seolah-olah dia sudah tertidur pulas.

Chae-young menghela napas pasrah, meskipun dalam hati ia merasa geli dengan tingkah kekanak-kanakan suaminya yang satu ini. Ia membiarkan tangan besar itu melingkari pinggangnya, merasa bahwa meskipun Matteo menyebalkan, pelukan inilah yang akan ia rindukan setiap malam mulai sekarang.

"Dasar payah..." gumam Chae-young pelan.

"Aku mendengarmu, Sayang. Tidurlah, atau aku akan menciummu lagi sampai pagi," ancam Matteo tanpa membuka mata.

Seketika Chae-young langsung menutup matanya rapat-rapat. Ia tahu Matteo tidak pernah main-main dengan ancamannya. Malam di Manila itu ditutup dengan gerutu kecil Chae-young dan senyum kemenangan Matteo yang terlelap sambil memeluk harta karunnya paling berharga.

Catatan: Kata "Mianhae" artinya "Maaf". Sedangkan kata "Ung/Ne" artinya, "Iya/ada apa?". Dan "Saranghae | Nado saranghae" artinya, "Aku mencintaimu, | Aku juga mencintaimu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!