Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Di Atas Duri
Naya menatap pantulan dirinya di cermin besar setinggi plafon. Gaun sutra berwarna biru dongker itu melekat sempurna di tubuhnya, menyamarkan perutnya yang sebenarnya masih rata namun terasa sangat berat secara psikologis. Penjahit yang dikirim Arkan tadi pagi bekerja dengan sangat teliti, memastikan tidak ada lipatan yang mengganggu estetika penampilan sang istri CEO Arkan.
"Ibu Naya, apakah bagian pinggangnya terlalu sesak?" tanya penjahit itu dengan suara rendah, takut-takut.
"Buat sedikit lebih longgar di bagian perut. Aku tidak mau anakku tercekik hanya karena kamu ingin aku terlihat langsing di depan kamera," sahut Naya tanpa menoleh.
Arkan, yang sedari tadi duduk di sofa sudut kamar sambil menyesap kopinya, meletakkan cangkirnya ke meja. "Biarkan saja seperti itu. Aku ingin dia merasa nyaman. Tambahkan aksen drapery jika perlu untuk menutupi kelonggarannya."
Setelah penjahit itu keluar membawa perlengkapannya, suasana kamar kembali hening. Arkan bangkit, berjalan mendekati Naya dan berdiri tepat di belakangnya. Di dalam cermin, mereka tampak seperti pasangan yang serasi, namun Naya tahu bahwa di balik bahu yang kokoh itu terdapat tangan yang sanggup melenyapkan nyawa siapa pun.
"Kamu terlihat mempesona, Naya. Berlian itu memang diciptakan untuk lehermu," ucap Arkan sambil menyentuh kalung zamrud yang akhirnya dipasang paksa oleh pelayan tadi.
"Berlian ini terasa seperti borgol, Arkan. Berhenti berpura-pura seolah ini adalah pesta yang menyenangkan bagiku," Naya menepis tangan Arkan yang mencoba mengusap pundaknya.
"Ini bukan soal kesenangan, ini soal posisi. Malam ini, semua mata akan tertuju padamu. Mereka akan melihat bahwa meskipun Baskara sudah jatuh, putrinya tetap berdiri di puncak sebagai nyonya Arkan. Itu adalah kemenangan untukmu, bukan?"
Naya berbalik, menatap Arkan dengan mata yang penuh kebencian. "Kemenangan? Kamu menghancurkan bapakku, mengambil hartanya, dan sekarang kamu memamerkan aku seperti trofi di depan orang-orang yang dulu menghormati ayahku. Di mana letak kemenangannya, Arkan?"
"Kemenangannya adalah kamu tetap hidup. Dan anak itu... dia akan memiliki segalanya yang tidak pernah bisa diberikan oleh Baskara padamu," Arkan mencengkeram dagu Naya, tidak keras, namun cukup untuk membuat Naya tidak bisa berpaling. "Ingat kesepakatan kita. Tersenyum, bicara hal-hal manis tentang kehamilanmu, dan jangan berani menyebut nama ayahmu atau Janu di depan wartawan."
"Dan sepuluh menitku dengan Janu?"
"Aku sudah menyiapkan ambulans pribadi untuk membawanya ke rumah sakit pusat setelah acara selesai. Kamu bisa menemuinya di sana, tanpa borgol, tanpa penjaga di dalam ruangan. Tapi hanya jika kamu tidak membuat masalah malam ini."
Satu jam sebelum keberangkatan, Sofia masuk ke kamar dengan wajah yang dipenuhi riasan tebal namun tidak bisa menyembunyikan gurat kecemasannya. Ia menatap Naya dengan tatapan yang sangat tajam, seolah ingin menembus rahim Naya dengan matanya.
"Arkan sudah menunggumu di bawah. Jangan sampai kamu terlambat dan merusak jadwal yang sudah disusun," ucap Sofia dengan nada memerintah.
Naya yang sedang memakai antingnya hanya melirik lewat cermin. "Tante juga ikut? Aku pikir Tante lebih suka tinggal di sini dan menghitung berapa banyak kerugian yang Tante alami sejak aku hamil."
"Jangan memancing emosiku, Naya. Malam ini adalah malam penting bagi putraku. Kalau kamu sampai bicara yang tidak-tidak soal kondisi internal keluarga ini, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari gedung itu," desis Sofia, mendekati Naya.
Naya tiba-tiba merasa perutnya bergejolak. Naya menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. Suara muntahan yang cukup keras terdengar, membuat Sofia tertegun di depan meja rias.
Arkan yang baru saja hendak masuk ke kamar langsung berlari menuju kamar mandi saat mendengar suara itu. Ia menemukan Naya yang lemas bersandar di wastafel, wajahnya pucat pasi.
"Naya! Ada apa?" Arkan memegang bahu Naya dengan cemas.
Naya menunjuk ke arah luar kamar mandi dengan lemas. "Ibumu... parfumnya... aku tidak kuat."
Arkan menoleh ke arah Sofia yang berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan wajah bingung sekaligus marah. "Ibu, keluar sekarang. Ganti parfum Ibu atau jangan ikut ke acara malam ini sama sekali," bentak Arkan.
"Arkan! Ini parfum mahal, ini wajar untuk acara—"
"Aku tidak peduli seberapa mahal parfum itu! Naya mual karena baunya. Ibu ingin dia pingsan sebelum sampai di gedung? Keluar sekarang!"
Sofia terdiam, ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh putranya sendiri demi wanita yang sangat ia benci. Tanpa sepatah kata pun, Sofia berbalik dan pergi dengan langkah kaki yang menghentak keras.
Arkan kembali fokus pada Naya. Ia mengambil handuk hangat dan menyeka mulut Naya dengan sangat telaten. "Masih mual?"
"Sedikit. Aku butuh udara segar," bisik Naya.
Arkan membukakan pintu balkon sedikit, membiarkan udara malam Jakarta masuk ke dalam ruangan. Ia memeluk Naya dari belakang, membiarkan kepala Naya bersandar di dadanya.
"Maafkan Ibu. Dia memang kadang tidak berpikir panjang," gumam Arkan pelan.
Naya terdiam. Ia baru saja menyadari sesuatu yang sangat krusial. Arkan benar-benar sudah berada di bawah kendali hormon kehamilannya. Pria yang biasanya sangat patuh dan hormat pada Sofia, kini bisa membentak ibunya hanya karena hal sepele seperti aroma parfum. Ini adalah celah yang lebih besar dari yang Naya bayangkan.
"Aku lemas, Arkan. Aku tidak yakin bisa berdiri lama di sana," ucap Naya, mulai memainkan perannya.
"Aku akan menyiapkan kursi khusus untukmu di panggung. Kamu tidak perlu berdiri jika tidak kuat. Aku akan berada di sampingmu setiap detik. Kita tidak akan lama, aku janji," Arkan mengecup pucuk kepala Naya.
Perjalanan menuju gedung pertemuan dilakukan dengan pengawalan ketat. Arkan tidak membiarkan Naya duduk sendirian; ia terus menggenggam tangan Naya sepanjang jalan. Di dalam mobil, suasana terasa sangat tegang. Arkan berkali-kali memeriksa ponselnya, memastikan tim keamanan sudah menetralisir area dari wartawan yang terlalu agresif.
Begitu sampai di depan lobi, kilatan lampu kamera langsung menyerbu. Arkan segera merangkul pinggang Naya, melindunginya dari kerumunan orang. Naya memasang senyum palsu yang sudah ia latih di depan cermin. Ia berjalan dengan anggun, meski setiap langkahnya terasa seperti berjalan di atas duri.
"Tersenyumlah, Naya. Kamera menyukai wajahmu," bisik Arkan di telinganya saat mereka berjalan melewati karpet merah.
Beberapa kolega bisnis Arkan langsung menghampiri. Mereka memberikan selamat, bukan hanya untuk kesuksesan perusahaan, tapi juga untuk kabar kehamilan yang sudah mulai bocor ke kalangan elit.
"Selamat, Pak Arkan. Saya dengar akan segera ada pewaris baru?" tanya seorang pria paruh baya, salah satu pemegang saham terbesar.
Arkan tersenyum lebar, senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan di depan umum. "Terima kasih, Pak Gunawan. Iya, Naya sedang mengandung enam minggu. Kami sangat bersemangat menantikan kehadirannya."
"Wah, selamat ya, Bu Naya. Kelihatannya Pak Arkan jadi jauh lebih protektif sekarang," canda istri Pak Gunawan.
Naya mengangguk pelan, tangannya mengusap perutnya secara otomatis. "Iya, Pak Arkan memang sangat perhatian. Kadang bahkan terlalu perhatian sampai saya tidak boleh keluar kamar."
Arkan sedikit mengeratkan rangkulannya di pinggang Naya, sebuah kode agar Naya tidak bicara terlalu jauh. Namun Naya justru membalas dengan senyuman yang lebih manis.
"Maklum lah, hamil muda memang butuh perhatian ekstra, kan?" lanjut Naya, menatap Arkan dengan tatapan yang seolah penuh cinta namun menyimpan belati di dalamnya.
Acara dimulai dengan pidato Arkan di atas podium. Naya duduk di barisan paling depan, di sebuah kursi empuk yang sengaja disiapkan Arkan. Dari posisinya, ia bisa melihat Sofia yang duduk di barisan lain dengan wajah masam, terus-menerus membuang muka setiap kali Naya meliriknya.
Naya tahu, malam ini bukan hanya soal pamer kekuasaan Arkan. Ini adalah malam di mana ia membangun fondasi kekuatannya sendiri. Ia akan membuat semua orang di ruangan ini menjadi saksi betapa "bahagianya" ia, sehingga jika suatu saat Arkan mencoba berbuat kasar padanya lagi, dunia akan tahu.
Saat Arkan selesai berpidato dan turun dari podium, ia langsung menuju ke arah Naya, mengabaikan beberapa kolega yang ingin menyalaminya. Ia mengulurkan tangan pada Naya, membantunya berdiri dengan sangat hati-hati.
"Kamu melakukannya dengan baik," bisik Arkan saat mereka menuju ke area makan malam pribadi.
"Aku sudah melakukan bagianku. Sekarang giliranmu, Arkan. Aku mau bertemu Janu. Sekarang juga," tuntut Naya pelan namun tegas.
Arkan melirik jam tangannya. "Satu jam lagi. Kita harus menyapa beberapa tamu penting di ruang VIP dulu. Setelah itu, ambulans akan membawamu ke rumah sakit."
Naya menahan napasnya. "Setiap menit yang kamu tunda, setiap menit pula aku akan berhenti tersenyum di depan kamera ini."
Arkan menatap Naya dalam, seolah mencoba mencari celah keraguan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah tekad bulat. Arkan akhirnya menghela napas kalah.
"Baik. Kita pergi sekarang. Tapi ingat, hanya sepuluh menit. Dan jangan berani-berani merencanakan hal gila di rumah sakit nanti," ancam Arkan.
Naya tidak menjawab. Ia hanya berjalan mengikuti Arkan menuju pintu keluar samping. Di kepalanya, skenario lain sudah tersusun rapi. Pertemuannya dengan Janu bukan sekadar untuk melepas rindu, tapi untuk memastikan bahwa di luar sangkar emas ini, masih ada seseorang yang bisa ia percayai untuk menghancurkan Arkan dari akar-akarnya.
Naya menyentuh perutnya lagi. Anak ini adalah jangkar yang menahannya di sini, tapi sekaligus menjadi senjata yang akan ia gunakan untuk menebas leher pria yang duduk di sampingnya ini. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di balik pintu bangsal VIP rumah sakit