💸Sugar Mommy Online💸
Lulus kuliah jadi pengangguran, sampai umur 28 tahun pun masih nganggur, nikah gak ada calon, kerja di perusahaan gak ada koneksi, bikin usaha sendiri gak ada modal. Langganan Melolo, tontonan dracin dapat cuan receh yang bermimpi jadi istri CEO tampan dan media sosial-- tempat live nya gege-oppa-phi-akang tampan yang bermodalkan tap-tap layar dan spam komentar.
Itulah Lusi, atau gadis melar yang olahraga cuma niat dalam hati--- yang bernama asli Zhu Lusi Arsana. Anak yatim-piatu blasteran Cindo.
Hingga entah dia beruntung atau memang sudah takdir nya, sesuatu mengubahnya~
***
Mohon jangan hanya sekedar mampir, bacalah sampai tuntas agar penulis juga bisa menyelesaikan cerita sampai tuntas 🥹🤧
***
Jika alur sedikit menyimpang dari judul dan sinopsis maka mohon maaf 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Pengaturan Bu Bos
Sesaat kemudian, saat tangan kanan Lusi berhenti menandatangani, itu menandakan perjanjian pengalihan saham telah resmi berlaku, yang berarti Rumah Sakit Internasional Permata Hatii telah menjadi milik pribadi Lusi.
"Dekan Edwin, terima kasih atas kerja kerasmu."
Lusi mengembalikan salinan perjanjian pengalihan saham milik kantor notaris kepada Dekan Edwin sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
"Nona Lusi, Anda terlalu baik. Ini yang harus saya lakukan." Dekan Edwin menerimanya dengan kedua tangan dan membungkuk sedikit, tetapi dia tampak ragu untuk berbicara.
Setelah berpikir sejenak, dia menggertakkan giginya, mendongak, dan dengan hati-hati memperhatikan Lusi. "Nona Lusi, apakah Anda punya pendapat mengenai manajemen senior rumah sakit ini?"
Lusi berkedip, melihat ekspresi gugup Dekan Edwin, dan tiba-tiba mengerti.
Secara umum, dengan adanya perubahan modal, manajemen senior kemungkinan akan mengalami perombakan. Ini juga alasan mengapa Dekan Edwin secara pribadi datang untuk menyampaikan perjanjian pengalihan saham, terutama untuk mengukur niatnya.
"Jangan khawatir, Dekan Edwin. Saya tidak tahu apa-apa tentang manajemen rumah sakit. Saya rasa Anda mengelolanya dengan sangat baik sebelumnya, jadi saya tidak akan membuat pengaturan lain untuk staf lama. Sebaliknya, semua gaji Anda akan dinaikkan sebesar 20%. Selain itu, saya telah memutuskan untuk membagikan 70% dari laba bersih rumah sakit sebagai bonus kepada staf medis. Anda akan menyusun rencana penghargaan yang spesifik, dan saya akan menandatanganinya."
"Sisanya yang 30% akan digunakan untuk mendirikan dana penelitian dan menyambut para dokter terbaik dari seluruh dunia untuk melakukan proyek medis di sini. Namun perlu diingat, prosedur medis harus sesuai hukum dan patuh hukum. Jika saya menemukan seseorang yang melanggar etika medis, mereka harus segera keluar."
Lusi tersenyum, langsung memberi Dekan Edwin kepastian, dan juga mengemukakan rencana yang sudah lama dipikirkannya.
Dia tidak berniat meraup untung dari rumah sakit ini. Memang, Rumah Sakit Internasional Permata Hatii bisa dibilang sebagai rumah sakit swasta terbaik di negara ini, dan laba tahunannya selalu besar.
Namun, dibandingkan dengan uang, dia lebih menghargai pengaruh yang bisa diberikan rumah sakit ini kepadanya.
Oleh karena itu, memperbesar rumah sakit adalah hal terpenting baginya. Mengenai uang, meskipun kedengarannya sangat Versailles, apakah dia kekurangan uang?
Mendengar perkataan Lusi, Dekan Edwin juga terkejut dan berbicara dengan sedikit gemetar.
"Apakah kamu serius?"
Lusi mengangguk.
Dekan Edwin sangat gembira dan segera berjanji bahwa dia tidak akan mengecewakan kepercayaannya.
Dia akan memantau setiap proses dengan saksama dan berusaha keras menjadikan Permata Hati yang terbaik di industri ini.
Lusi merasa sedikit tidak berdaya.
Mengapa orang-orang ini selalu membuat janji-janji yang serius? Apakah itu karena gen sumpah serapah yang terukir dalam DNA mereka?
Setelah basa-basi lagi, Dekan Edwin dan yang lainnya pamit. Sebelum pergi, dia kembali dari mobil dan memberikan laptop Apple kepadanya, mengatakan bahwa laptop itu berisi beberapa bukti perilaku tidak etis oleh beberapa dokter, yang sebelumnya telah disetujui secara diam-diam oleh pemegang saham lainnya.
Namun, setelah mendengar pidato Lusi tadi, dia merasa bahwa ini mungkin garis merahnya, jadi dia membawanya keluar untuk dilihatnya. Dekan Edwin dapat saja menanganinya sendiri, tetapi karena ini melibatkan privasi beberapa tokoh kuat, dia mungkin perlu meninjaunya sebelum memutuskan cara menanganinya.
Mata Lusi berbinar. Bukankah ini gosip legendaris tentang keluarga kaya? Siapa yang bisa menolak memakan melon ini?
Namun sayang, hari ini tepat beberapa menit lagi adalah janji temu Lusi dengan seorang untuk merekrut pekerja rumah.
Lusi harus menyimpan terlebih dahulu semua gosip-gosip ini, dan begitu dia selsai naik ke atas untuk menyimpan laptop. Bel pintu kemudian terdengar dari luar, Lusi segera turun dan membuka pintu.
Sesuai dugaan nya, mereka berasal dari Crown & Crest Staffing. Perusahaan yang bertugas merekrut, melatih, dan menempatkan staf rumah tangga kelas atas.
Seorang pria dengan jas formal dan rapi tampak berdiri paling depan, "Nona Lusi, saya Richo."
Lusi menjabat tangannya. "Halo tuan Richo" Kemudian mempersilahkan mereka masuk.
Tanpa di jelaskan pun dia sudah tahu jika hari ini Richo membawa pelayan-pelayan elite berpengalaman untuk Lusi wawancarai. Tanpa berlama-lama lagi, para pelayan yang di bawa Richo langsung berbaris menyamping-- menghadap Lusi dan Richo yang duduk di sampingnya.
Seorang pria tua tinggi dengan penampilan rapi khas kepala pelayan berjas hitam yang pertama memperkenalkan diri. "Saya Ma Gabriel, memiliki pengalaman tiga puluh tahun sebagai kepala pelayan bangsawan di Swedia. Orang-orang memanggil saya Pengurus Ma"
Lusi mengangguk, lalu mulai lanjut lagi pada orang-orang di samping nya. Total ada tujuh orang, satu Pengurus Ma yang memiliki pengalaman sebagai kepala pelayan. Satu orang tukang kebun laki-laki, dan lima orang pelayan yang memiliki pengalaman setidaknya sepuluh tahun ke atas.
Richo tersenyum lega saat melihat Lusi memiliki wajah baik yang berarti tidak ada masalah.
"Baik, aku terima semuanya."
Karena customer nya sudah deal menerima, maka Richo bisa kembali dengan tenang ke perusahaan dan para pelayan itu akan langsung pergi. Sebelum pergi Lusi memberikan amplop putih tebal kepadanya, itung-itung uang tips.
Dia kembali ke dalam ruangan dan mendapati mereka masih berdiri dengan sopan.
Lusi tidak lagi berbasa-basi. "Pengurus Ma, kamu akan menjadi kepala pelayan"
"Baik nona" Pengurus Ma membungkuk dengan sikap hormat penuh etiket.
"Berikan nomor mu" Pengurus Ma tanpa ragu langsung memberikan nomor nya.
"Baiklah pengurus Ma, anggaran setiap tahunnya ada 1 Miliar. Dan aku ingin kamu mengubah gaya rumah ini agar lebih hangat di pandang, dan halaman rumah agar terlihat lebih indah. Jika kekurangan pekerja, kamu bisa merekrut lagi beberapa orang. Dan segera rekrut seorang Koki."
Pengurus Ma mendengar kan ucapan tuan nya dengan serius dan mengangguk dengan hormat.
Baru setelah itu Lusi dengan bersemangat kembali ke kamar utama, membuka laptopnya, dan mulai memakan melon yang di anggur-in tadi.
"Hiss, orang tua ini sudah hampir berusia 70 tahun, dan dia masih bisa punya anak di usia tuanya?"
"Hah? Setelah pemeriksaan pranikah, dia tahu bahwa orang itu adalah anak haram kakeknya?"
Lusii memperhatikan dan mendesah bahwa orang kaya benar-benar tahu cara bersenang- senang. Namun saat dia menggulir ke bawah, dia melihat nama yang tidak asing.
Kylan Wiranta.
Kejutan besar!!!
***
Dukungan nya guys~
semangat terus ya~~~/Slight//Slight//Slight/
semangat terus ya~~~😋😋😋
semangat terus ya~~~/Grin//Grin//Grin/
semangat terus/Proud//Proud//Proud/