Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5
Cahaya lampu neon di ruang kantorku terasa terlalu terang hari ini. Aku, Kinanti, menatap layar komputer yang menampilkan spreadsheet penuh angka, namun pikiranku melayang jauh.
Enam tahun yang lalu.
Waktu yang terasa begitu cepat, namun jika diingat kembali, terasa seperti sebuah kehidupan yang dijalani oleh orang lain.
Aku teringat malam itu, malam yang seharusnya menjadi awal dari keabadian.
Pernikahanku dengan Arkan diadakan dengan sangat sederhana. Tidak ada pesta megah, tidak ada gaun pengantin yang menjuntai panjang menyapu lantai hotel bintang lima. Itu adalah permintaanku.
Bagiku, kemewahan hanya akan membuang uang yang seharusnya bisa kami simpan untuk masa depan. Arkan, dengan segala pengertiannya, menyetujui itu.
Aku masih ingat bagaimana dia menatapku di malam pertama kami. Matanya tidak hanya penuh gairah, tapi juga kekaguman yang membuatku merasa seperti wanita paling berharga di dunia.
"Sayang... akhirnya kamu menjadi milikku seutuhnya. Aku rasa sedang bermimpi bisa memiliki dirimu," bisiknya saat itu, suaranya berat dan tulus.
Aku membalasnya dengan senyum malu-malu, hatiku penuh dengan janji-janji manis yang kini terasa seperti racun. "Mas... aku juga rasanya sedang bermimpi. Karena aku sudah resmi menjadi istrimu saat ini."
"Aku berjanji akan membuat hari-harimu bahagia terus bersamaku," ucapnya kala itu, sebuah janji yang dulu kupahat dalam ingatan.
Bayangan masa lalu tentang percakapan telepon dengan Alana di malam pernikahan itu tiba-tiba berputar kembali di kepalaku, seolah-olah itu terjadi baru kemarin.
Saat itu, di tengah kebahagiaan yang baru saja kupupuk, ponselku berdering. Nama Alana tertera di sana.
"Lana... kamu jahat! Masa pesta pernikahanku kamu tidak hadir? Papa dan Mama pun tidak mau hadir," kataku saat itu, dengan nada protes yang manja. Aku benar-benar merindukannya malam itu.
Suara Alana di seberang telepon terdengar begitu lembut, bahkan terdengar sedikit sedih. "Kinantiku... jangan menangis. Aku, Papa, dan Mama sebenarnya pengen banget menghadiri pernikahanmu. Tapi kami sedang berduka. Nenek dari pihak Papa meninggal, dan kami semua harus terbang ke Batam hari ini."
Rasa bersalah langsung menghantamku. "Maaf, Lan. Aku benar-benar tidak tahu. Aku turut berduka cita, ya. Sampaikan salamku untuk Papa. Maaf juga aku tidak bisa hadir di sana."
"Tidak apa-apa, Kin. Papa pasti mengerti. Lagipula, mana mungkin pengantin baru meninggalkan suaminya di malam pertama ?" dia tertawa ringan. "Aku mengganggu malam pertamamu, tidak ?"
Itu adalah Alana, sahabat terbaikku, saudara yang selalu ada untukku. Dia tahu bagaimana cara bercanda, bagaimana cara membuatku tertawa bahkan saat aku merasa sangat canggung sebagai pengantin baru.
"Ngomong-ngomong, kirimkan foto pernikahanmu, ya !" pintanya.
"Besok, kalau filenya sudah aku dapatkan, ya."
"Bagaimana sih wajah suamimu? Mana yang lebih ganteng, dia atau Reno ?"
Aku ingat betapa aku tertawa saat itu. "Ganteng suamiku dong!"
"Wuih... aku jadi iri nih..."
Percakapan itu berlanjut dengan candaan-candaan nakal tentang malam pertama. Alana bahkan sempat melontarkan kalimat yang kini terasa sangat ironis.
"Tapi janji ya, jika kamu sudah melihatnya, jangan pernah naksir suamiku."
"Kalau aku juga naksir, gimana, Kin ?"
Dulu, aku menjawabnya dengan tawa, "Aku tak akan mau lagi mengenalmu, kita putuskan persahabatan kita!" dan dia membalasnya dengan tawa panjang.
Aku percaya sepenuhnya bahwa dia tak akan pernah melakukan itu. Dia adalah sahabat terbaikku. Tapi sekarang, saat aku duduk di kantor ini, setiap kata dalam percakapan itu terasa seperti ejekan.
Aku menghela napas panjang, menatap foto pernikahan yang kini tersimpan rapat di dalam laci meja kerjaku. Arkan yang dulu memandangku dengan kasih sayang, kini memandang Alana dengan tatapan yang sama, bahkan mungkin lebih dalam.
Aku ingat bagaimana Arkan pernah berbisik kepadaku sebelum kami tertidur malam itu, "Sayang... aku tak pernah mengira aku akan bisa mempersunting dirimu. Dengan susah payah aku meyakinkan Mama buat menerimamu. Sampai aku harus berdebat dan bertengkar dengannya. Sejak pertama melihatmu, aku sudah jatuh cinta. Aku takut kamu akan direbut orang lain."
Arkan yang dulu bertarung melawan restu ibunya demi menikahiku, kini justru bertarung melawan janjinya sendiri demi wanita lain.
"Kinanti? Kamu melamun lagi?"
Suara rekan kerjaku membuyarkan lamunanku. Aku segera menegakkan posisi duduk. "Oh, maaf. Hanya sedikit lelah."
Saat akan kembali fokus dengan pekerjaanku, tiba-tiba ponselku bergetar lagi. Bukan dari Alana, tapi dari Arkan.
"Malam ini kita makan malam bersama di rumah, ya. Alana ingin membicarakan rencana masa depan anak kami."
Aku mengetik balasan dengan jemari yang tenang. "Tentu. Aku akan pulang lebih awal. Kita memang perlu membicarakan banyak hal tentang masa depan itu."
Aku tersenyum tipis. Arkan tidak akan pernah menyangka bahwa masa depan yang akan kubicarakan nanti bukanlah masa depan yang indah.
Aku teringat kembali percakapan telepon dengan Alana di malam pernikahan enam tahun lalu.
Jika saja saat itu aku tahu bahwa suara lembut yang tertawa di seberang telepon adalah suara calon pengkhianatku, mungkin aku akan menutup telepon itu dan tidak pernah lagi mengenal sosok yang bernama Alana.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kini, saatnya aku yang memegang sendoknya, dan aku akan memastikan mereka berdua menelan rasa sakit dari setiap suapan yang mereka buat sendiri.
Aku bangkit dari kursi, merapikan blazerku. Aku merasa kuat. Aku merasa siap. Duri yang ditanam Alana di pelaminanku, kini sudah tumbuh menjadi belati yang siap kupakai untuk memotong akar kehidupan mereka.
Rumah itu milikku. Arkan mungkin suamiku secara hukum, tapi dia telah kehilangan hak atas kehormatanku. Dan Alana? Dia akan segera tahu bahwa menjadi ratu hanyalah awal dari kejatuhannya.
Aku berjalan keluar dari ruang kantor dengan langkah yang mantap. Hari ini, drama itu akan memasuki babak baru yang tidak akan pernah bisa mereka bayangkan.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.