NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 32. Kejadian

Tenagaku tak seberapa untuk melawan tenaganya, ditambah lagi aku terpancing karena cu***annya. Aku memejamkan mata mencoba menyadarkan pikiranku sendiri dari kegiatan ini, meski aku sudah ditalak, tapi aku belum bercerai secara resmi.

Ini salah, aku pun tidak ingin demikian.

“Mas, Mas… lepasin aku, Mas!” ucapku penuh penekanan dengan mendorong dadanya yang tanpa penghalang itu.

"Jangan dorong-dorong Mas, De. Mas bisa makin kasar, Cantik,” bisiknya di telingaku dan melu*** telingaku dengan bibir dan li***nya.

Aku membuka mataku, rasa ini semakin nyata. Napasku tak teratur, aku seperti tengah berlari menaiki bukit, hingga rasanya aku pun lelah sendiri melawan perasaan yang aku dapatkan ini.

"Mas…” Aku kehabisan tenaga karena keinginanku yang aku dapatkan darinya.

"Ah iya, Cantik. Baiknya kau lebih lepas neriakin nama Mas,” ujarnya dengan bubuhan giginya di leherku.

Aku pasrah.

Ia menyerangku di titik lemahku.

Perlahan, aku membiarkan aksinya sejauh mana. Hembusan napasnya yang menerpa kulit leherku, semakin membuatku lupa akan statusku yang belum jelas ini.

Aku membiarkan tangannya melepaskan penghalang di antara kami, dengan ia tetap memberiku rasa yang membuatku semakin tidak bisa untuk menolaknya. Ia memiringkan posisiku, aku menuruti apa yang ia inginkan agar ia mudah untuk melepaskan kain yang menghalangi tubuhku ini.

“Mas Barraq…” Suaraku tercekat di kerongkongan, ketika bibirnya sampai di tengkukku.

Aku merasa ini bukan perasaan yang pertama kalinya ia berikan, seperti hal yang pernah ia lakukan sebelumnya. Ah iya, aku ingat kejadian itu. Saat itu, aku memasuki apartemen yang berada di kota Jakarta dan ia ada di dalam sana tanpa menyalakan lampu ruangannya.

"Dea, kau bern**** betul, Sayang,” ujarnya di sela kegiatannya.

Aku ingin seseorang mengetuk pintu kamar ini, agar ia panik dan melepaskanku. Jika ia terus membiarkan dirinya berada di belakangku seperti ini, aku yakin akan terjadi hal-hal yang sudah aku bayangkan.

Percayalah, aku masih ingin situasi ini hancur dan aku terselamatkan.

"Mas Barraq, lepasin aku kali ini, Mas…” mohonku dengan sangat. Saat posisiku benar-benar menghadap kasur yang empuk ini, dengan dirinya yang menguasai punggungku dari atas.

Ia terkekeh kecil. “Kamu nggak benar-benar ingin dilepaskan, De. Mulut kau memohon berhenti, tapi bahasa tubuh kamu munafik betul, De," tukasnya dengan memberikan giginya lagi di sana.

Ia amat gemas saat menuruni punggungku rupanya.

“Mas…!” seruku lepas dengan suaraku yang sudah serak ini.

Ya Tuhan, bagaimana ini?

Ia menepuk bagian empukku cukup kencang, sehingga membuatku memberikan reaksi spontan mencengkram di sana.

"Ah, Dea… Mas makin nggak sabar,” ungkapnya sembari menekuk satu kakiku ke atas, sehingga di bagian sana terekspos jelas.

Ia merendah, kepalanya ada di sana. Di samping aku memiliki kekhawatiran dengan aromaku, aku pun menantikan sapuan lembutnya kembali di sana.

“Ya ampun, Mas… Mas, Mas Barraq…” Aku kehabisan kata-kata, aku tidak tahu ingin berkata apa.

Aku mendapatkan sapuan itu lagi, aku mendapatkan kreasi kreatifnya di sana. Aku mendapatkan perlakuan inisiatifnya juga karena tangannya tak mau diam.

"Uhmmm.” Ia terkekeh geli dan mencoba mengulanginya lagi dengan jemarinya di sana.

"Di luar hujan, di dalam sini banjir,” lanjutnya seperti meledekku.

“Mas, udah lah, Mas," rengekku malu, dengan mencoba meraih rambutnya.

Ia patuh, ia menyetarakan kepala kami lagi. Sayangnya, ia tetap berada di belakangku. Ia memelukku dari belakang dan menyerang tengkukku lagi.

Aku membiarkan tangannya memainkan gundukan serupa yang menambah rasa inginku padanya. Tidak mungkin aku memohon, sedangkan aku masih mengharapkan seseorang mengacaukan aktivitas kami.

"Mas udah nggak tahan, Dea,” ungkapnya begitu mesra dengan menahan kakiku untuk tetap menekuk satu.

Aku peka, ia tengah mengarah miliknya. Gerak-geriknya terbaca, tapi ia menahan tanganku saat aku mencoba menggenggamnya.

"Awww, Mas…” aku merasa kepala bawahnya berusaha menerobos yang katanya banjir di sana.

Napasnya berat sekali, ia sedikit bangkit dan memposisikan bagian tengahnya dengan benar. Bibirnya mendarat di lengan atasku, napasnya tercekat dan suaranya berat terdengar.

“Diem dulu, Mas. Besar sekali," akuku meringis menahan.

Penuh sekali di sana, aku baru merasakan yang seperti ini. Biarpun aku ingin, tapi aku sedikit kaget dengan rasa miliknya.

“Mas gemas betul, De. Kau enak betul, De.” Ia menopang bobot kepalanya dengan sikunya yang menempel di kasur, dengan satu tangannya memegangi bagian belakangku yang sering ia tepuk tanpa tahu waktu itu.

Benar-benar ia gemas padaku, ayunannya begitu mantap dan kasar. Raungannya membuktikan tentang apa yang ia rasakan sekarang, aku pun mulai menyesuaikan ukuran yang menurutku sedikit tidak umum ini.

Ia mengangkat satu kakiku, detik itu juga aku merasakan bahwa aku segera sampai di tujuanku. Meski aku menginginkan kegiatan ini kacau, tapi aku tidak ingin kegiatan ini cepat selesai dengan kekalahanku di awal. Aku pasti akan merasa tidak puas menikmatinya.

“Cabut, Mas! Cepet cabut!" Aku merem*** tangannya yang tengah menahan pahaku agar tetap terbuka sebelah.

Bukannya menurutiku, ia memelankan lajunya dengan signifikan. Aku mengatur napasku, berharap aku bisa menahannya lebih lama lagi.

Namun, hentakan mengagetkan aku dapatkan. Ia menggila dua kali lipat dari sebelumnya. Ia membalik posisiku tanpa melepaskan, kini tubuhnya yang gagah tengah menjadi pemandanganku.

"Perempuan yang dagunya naik terus itu sekarang lagi keenakan ya?” ledeknya kembali dengan kekehan renyahnya dan napasnya yang memburu.

Aku tidak meladeni ledekannya.

Aku sudah tak peduli dengan sekelilingku. Di sana sudah amat geli, bahkan aku mendengarkan suaranya pun sudah seperti air yang sengaja ditahan sesuatu yang penuh agar tidak keluar.

Sialnya, detik-detik aku mendapatkannya digantikan dengan rasa kehilangan yang tiba-tiba. Ia melepaskan yang tengah menyatu tanpa izin dan tanpa permisi.

"Mas!” Aku menegakkan kepalaku dengan sorot marahku.

Ia lihai memijat miliknya sendiri, senyumnya begitu licik dan ia pun memberikan kedipan genitnya. Ia bukan benar-benar bujangan yang belum pernah melakukan, ia sudah pandai mengemudikan lawannya.

Ia laki-laki brengsek, sayangnya aku tengah membutuhkan dirinya saat ini.

Ia memintaku untuk mendekatinya dengan telunjuknya. Bodohnya lagi, aku menurutinya dan langsung membingkai wajahnya.

Kedua tangannya ia tempatkan untuk menahan tubuhnya di belakang tubuhnya. Kedua kakinya terbuka dan aku duduk di atas tengah-tengahnya.

Aku sebentar lagi, aku buru-buru mengomandoinya agar masuk ke tempat yang semestinya. Kepalanya langsung terlempar ke belakang, menunjukkan jakunnya yang begitu kokoh dan menarik di mataku.

Ini benar-benar penuh, miliknya cukup spesial untukku. Aku mengincar jakunnya yang naik turun menggodaku itu dan menyesapi rasanya.

“Mas tau kau bisa lebih dari ini, Dea sayang. Kasih yang terbaik untuk Mas, De." Ia fokus pada bibirku, kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang setelah mencicipi rasa bibirku.

Ia pasrah di bawahku kali ini. Ia memberiku akses lebih atas tubuhnya.

Aku menguasainya.

1
Fitri Ristina
rer the best pokoknya...ga pernah bosan dengan cerita keluarga mamah dinda
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Rini qi: jgn anggap remeh dea...
total 1 replies
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
Christine
wahhh besar uhhh aku kok ikut nahan de..ya ampun de bagi2 atuh de
Christine
hahahahaha....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!