NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 21

***

Kereta kencana naga perak itu akhirnya berhenti di depan tangga marmer Istana Aethelgard yang megah. Badai salju yang mereka lalui di pegunungan kini mereda, menyisakan udara malam yang menusuk tulang. Pintu kereta dibuka oleh pengawal berseragam biru tua, dan aroma pinus serta dupa kerajaan menyambut mereka.

Arthur turun lebih dulu. Ia berdiri tegak, membetulkan letak jubah putih peraknya yang megah. Wajahnya kembali menjadi topeng marmer yang dingin, seolah-olah pria yang memeluk Lilianne dengan penuh ketakutan di dalam kereta tadi hanyalah ilusi. Ia mengulurkan tangannya yang bersarung tangan kulit hitam ke dalam kereta.

"Ingat, Lili," bisik Arthur, nyaris tak terdengar di sela desis angin. "Satu senyuman yang salah, dan kita berdua tidak akan pernah keluar dari sini hidup-hidup. Jadilah istri yang paling mencintaiku di dunia ini."

Lilianne menyambut tangan itu. Dengan susah payah ia turun, menahan rasa kaku di kakinya dan ketegangan di perutnya yang kian membesar. Ia mengenakan gaun sutra Eisenhardt berwarna biru malam yang dilapisi bulu cerpelai putih. Di bawah cahaya obor istana, rambut peraknya berkilau seperti benang rembulan. Ia tersenyum—sebuah senyum manis yang sempurna, meski di dalamnya tersimpan racun.

"Tenanglah, Yang Mulia," sahut Lilianne sambil melingkarkan tangannya mesra di lengan Arthur. "Saya sudah terbiasa hidup dalam kebohongan Anda. Menambahkan satu lagi bukanlah hal sulit."

Di puncak tangga, seorang pria dengan rambut pirang keemasan dan mata hijau yang licik menunggu mereka. Pangeran Julian. Ia melangkah maju dengan tawa yang terdengar terlalu dibuat-buat.

"Arthur! Sahabat lamaku dari Akademi!" seru Julian, merangkul bahu Arthur dengan akrab, namun matanya memindai Arthur dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Sudah berapa lama? sepuluh tahun? Kau tampak... berbeda. Lebih kaku dari Arthemus yang kukenal dulu."

Jantung Lilianne berdegup kencang. Julian sengaja menyebut nama Arthemus untuk memancing reaksi.

"Tugas kekaisaran dan perang di Selatan cenderung mengubah pria, Julian," jawab Arthur dengan suara rendah yang stabil. "Terima kasih atas sambutanmu."

Julian beralih ke Lilianne. Ia membungkuk dalam, mengambil tangan Lilianne dan menciumnya sedikit terlalu lama. "Dan ini pasti mawar dari Utara yang legendaris. Kecantikan Anda benar-benar membuat es di Aethelgard mencair, Putri Mahkota. Arthur, kau benar-benar menyembunyikan permata ini dengan sangat baik."

"Istriku sedang dalam kondisi yang rapuh, Julian. Kami menghargai keramahtamahanmu untuk segera memulai perjamuan," potong Arthur, tangannya mencengkeram lengan Lilianne sedikit lebih erat tanda ia mulai terganggu.

**

Perjamuan diadakan di aula besar yang dihiasi lilin-lilin kristal. Musik kecapi mengalun lembut, namun bagi Lilianne, suasana itu terasa lebih mencekam daripada medan perang. Mereka duduk di meja utama, dengan Julian yang berada tepat di seberang mereka.

Julian menyesap anggurnya, matanya tidak pernah lepas dari Arthur. "Kau tahu, Arthur, aku teringat saat kita di Akademi. Malam sebelum ujian pedang, kita menyelinap ke gudang anggur bawah tanah dan kau hampir saja tertangkap oleh instruktur karena tidak bisa berhenti tertawa. Kau ingat apa yang kau katakan saat kita bersembunyi di balik tong anggur?"

Suasana di meja itu membeku. Lilianne bisa merasakan otot lengan Arthur yang mengeras seperti baja di bawah kain seragamnya. Arthur terdiam ia tidak memiliki ingatan itu karena pria yang bersama Julian malam itu adalah Arthemus yang asli, bukan dia.

Arthur hendak membuka mulut, namun Lilianne lebih cepat. Ia tertawa kecil, suara denting yang merdu yang mengalihkan perhatian semua orang.

"Oh, Pangeran Julian," ujar Lilianne sambil menyentuh lembut jemari Arthur di atas meja. "Suami saya sering menceritakan kejadian itu. Katanya, saat itu dia tertawa karena Anda hampir saja mengompol saat mendengar langkah kaki instruktur. Benar begitu, Yang Mulia?" Lilianne menatap Arthur dengan tatapan penuh cinta.

Arthur menangkap umpan itu dengan cepat. "Ah, ya. Julian selalu menjadi pria yang paling berisik saat ketakutan."

Julian menyipitkan mata. Ia tertawa, meski tawanya tidak sampai ke mata. "Benarkah? Seingatku bukan itu yang terjadi. Tapi sudahlah, ingatan manusia memang bisa memudar seiring bertambahnya beban mahkota."

Julian tidak menyerah. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Lilianne. "Katakan padaku, Putri Lilianne. Bagaimana rasanya bersuamikan pria paling misterius di kekaisaran? Kudengar di Valerieth, Arthur sangat protektif... bahkan cenderung mengurung istrinya?"

Arthur meletakkan gelasnya dengan dentingan keras. Aura membunuh mulai terpancar dari tubuhnya. Goresan luka di punggungnya yang belum sembuh total terasa berdenyut, memicu amarahnya.

"Kurasa melindungi dan mengurung adalah dua hal yang berbeda di kamus Aethelgard, Julian," desis Arthur.

Julian tersenyum licik. Ia mengabaikan peringatan Arthur dan terus menatap Lilianne. "Anda tahu, Putri, jika Anda merasa bosan di istana timur yang dingin itu, Aethelgard selalu terbuka untuk tamu seanggun Anda. Saya bisa menunjukkan pada Anda apa artinya kebebasan yang sebenarnya."

Tangan Arthur bergerak menuju belati yang tersembunyi di balik jubahnya. Wajahnya pucat pasi karena amarah yang meledak-ledak—perpaduan antara harga dirinya yang diinjak dan obsesi gila untuk memiliki Lilianne.

Lilianne menyadari bahaya itu. Jika Arthur menghunus pedang sekarang, perang akan pecah dan identitas mereka akan hancur. Secara diam-diam, di bawah meja yang tertutup taplak beludru berat, Lilianne meraih tangan Arthur.

Ia menggenggam tangan kasar suaminya dengan sangat erat. Jemarinya yang lembut mengelus punggung tangan Arthur yang tegang, mencoba menyalurkan ketenangan.

"Pangeran Julian sangat lucu," ujar Lilianne dengan suara yang tenang dan berwibawa, meski jantungnya berpacu liar. "Tapi kebebasan saya adalah berada di samping suami saya. Tidak ada tempat lain di dunia ini yang lebih aman selain di bawah perlindungan suami saya. Benar kan, Sayang?"

Arthur menunduk, menatap Lilianne. Ia merasakan genggaman tangan istrinya genggaman yang sama yang merawat lukanya semalam. Amarahnya yang meluap perlahan mereda, digantikan oleh rasa ketergantungan yang aneh. Ia menarik napas panjang, melepaskan pegangan pada belatinya, dan membalas genggaman Lilianne di bawah meja.

"Istriku benar," ujar Arthur, suaranya kini kembali dingin namun terkendali. "Kebebasannya adalah hakku untuk menjaganya. Dan aku tidak suka berbagi apa yang menjadi milikku, Julian."

Julian terdiam melihat interaksi itu. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak biasa. Ia mengira Lilianne adalah tawanan yang membenci suaminya, namun melihat bagaimana Lilianne melindungi Arthur, ia menjadi ragu.

"Begitu rupanya," gumam Julian. "Cinta yang sangat... posesif. Sangat cocok untuk penguasa Valerieth."

Sepanjang sisa perjamuan, Julian terus mencoba memancing Arthur dengan pertanyaan-pertanyaan tentang masa lalu di Akademi, namun setiap kali Arthur berada di ambang kesalahan, Lilianne selalu menimpali dengan cerita-cerita yang cerdik, menutupi celah memori Arthur dengan kebohongan-kebohongan yang masuk akal.

Arthur, sang panglima perang yang tega membantai ribuan orang, kini benar-benar bergantung pada setiap kata yang keluar dari mulut gadis berusia lima belas tahun di sampingnya. Ia menyadari bahwa tanpa Lilianne, topengnya akan retak dalam hitungan menit.

Setelah perjamuan berakhir, mereka diantar menuju kamar tamu kerajaan yang mewah. Begitu pintu tertutup dan penjaga menjauh, Arthur melepaskan jubahnya dengan kasar. Ia terduduk di tepi ranjang, napasnya memburu.

Lilianne berdiri di depannya, mengelus perutnya yang terasa sangat kencang akibat ramuan dan stres malam ini.

"Kenapa kau melakukannya?" tanya Arthur tiba-tiba. Ia menatap Lilianne dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara rasa terima kasih dan kecurigaan. "Kau bisa saja membiarkanku salah bicara. Kau bisa saja membiarkan Julian membongkar siapa aku."

Lilianne menatap Arthur dengan dingin. "Jika Anda hancur di sini, Yang Mulia, maka saya dan bayi ini juga akan hancur. Julian bukan ingin membebaskan saya, dia hanya ingin menghancurkan Valerieth melalui Anda. Saya tidak menyelamatkan Anda karena cinta. Saya menyelamatkan nyawa saya sendiri."

Arthur bangkit, mendekati Lilianne. Ia meraih wajah Lilianne dengan kedua tangannya. Kali ini, sentuhannya tidak sekasar biasanya. "Kau sangat cerdik, Lili. Jauh lebih cerdik dari yang kubayangkan. Kau tahu bahwa sekarang aku membutuhkanmu lebih dari apa pun, bukan?"

Lilianne menatap mata biru gelap itu. "Ya. Saya tahu. Anda adalah monster yang berkuasa di Valerieth, tapi di sini... Anda hanyalah seorang penipu yang membutuhkan saya untuk menjaga nyawa Anda."

Arthur tertawa rendah, sebuah tawa yang mengandung pengakuan pahit. Ia menarik Lilianne ke dalam pelukannya, membiarkan wajahnya bersandar di bahu istrinya. "Maka tetaplah bersamaku dalam sandiwara ini, Putriku. Karena jika kau berhenti bicara, maka duniaku akan berakhir."

****

Bersambung....

1
Mei TResna Rahmatika
kasian banget arthur😭
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!